----- Original Message ----- 
From: Jalal 
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Saturday, August 28, 2004 7:05 AM
Subject: [sosiologi_ui] Kwik Kian Gie: Kembalikan Harga Diri


Isinya menarik. Tapi karena yang mengemukakan itu Kwik, mungkin banyak orang akan 
berpikir bahwa dia sedang berpolitik.

Jalal


----- Original Message ----- 
From: Yusuf H. Alkaff 
To: A-Pasar Buku 
Sent: Wednesday, August 25, 2004 7:32 PM
Subject: [PasarBuku] [M_S] Kembalikan Harga Diri



Kembalikan Harga Diri
  
Oleh: Kwik Kian Gie, Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas
  
Untuk memahami bagaimana Indonesia selalu jadi incaran negara-negara lain, mari kita 
kutip hasil penelitian Brad Sampson, mahasiswa yang meraih PhD dari Northwestern 
University dengan penelitian tentang Indonesia. Promotornya,  Prof Jeffrey Winters, 
memberikan uraian yang dikutip oleh John Pilger dalam bukunya berjudul The New Rulers 
of the World.
  
Saya akan mengutip yang penting-penting saja. Di halaman 37 digambarkan sebagai 
berikut: "Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya 'hadiah terbesar', hasil 
tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di 
Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya 
meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang -orang seperti David 
Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan 
bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American 
Tobacco, American Express, Siemens,  Goodyear, The International Paper Corporation, US 
Steel.
  
Di seberang meja adalah orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller disebut 
"ekonom-ekonom Indonesia yang top".
  
"Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan 'the Berkeley Mafia' karena beberapa 
di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar 
di Universitas California di Berkeley. Mereka datang  sebagai peminta-minta yang 
menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir- 
butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Tim  ekonomi Indonesia menawarkan : buruh 
murah yang melimpah, cadangan besar dari sumber daya alam, pasar yang besar."
  
Di halaman 39 ditulis: "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi 
sektor." 'Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler' kata Jeffry Winters, guru besar 
pada  Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya sedang bekerja untuk 
gelar doktornya, Brad Sampson telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. "Mereka 
membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, 
industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang 
dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan 
kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para  investor lainnya. Kita 
saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang 
lain, mengatakan: Ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya 
merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah 
mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil 
dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat 
masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri."
  
Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger 
duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan nikel Papua Barat. Sang 
raksasa  Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok 
perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang, dan Prancis mendapatkan hutan-hutan tropis di 
Sumatera, Papua Barat, dan Kalimantan.
  
Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan 
kepada Soeharto membuat perampokan itu bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata, 
tapi secara rahasia, kendali ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on 
Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Kanada, Eropa, 
Australia, serta,yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia."
  
Dari fakta itu, kiranya jelas bahwa nasionalisme, patriotisme, yang orientasinya 
selalu membela kepentingan bangsa sendiri di tengah-tengah pergaulan internasional, 
masih sangat relevan. Dengan kondisi Indonesia yang demikian  terpuruk dan ironisnya 
setelah 59 tahun lamanya merdeka, kita  ahkan mempunyai kebutuhan untuk menggelorakan 
Gerakan Kemerdekaan dan Kemandirian, yang sekarang harus ditambah dengan membangkitkan 
kemampuan teknokratik untuk memakmurkan  bangsa kita secara mandiri.
  
Kita juga harus membebaskan diri dari utang luar negeri yang  dijadikan instrumen 
terpenting untuk menjerat dan mencekik leher kita untuk selalu menuruti kemauan 
kekuatan-kekuatan asing itu.
  
Sebenarnya, banyak ahli dan pemikir yang sangat berbobot telah mengemukakan bahwa 
sampai zaman kapan pun, nasionalisme dan patriotisme tidak pernah tidak krusial kalau 
suatu bangsa tidak mau menjadi kuli bangsa lain.
  
Saya akan mengemukakan pikiran-pikiran dan hasil penelitian Prof Robert Reich, guru 
besar dari Harvard University yang pernah menjabat menteri perburuhan pemerintahan 
Presiden Clinton. Dia menulis buku yang berjudul The Works of Nations. 

Intisari bukunya mengatakan bahwa dalam dunia yang dikatakan  sudah tanpa batas atau 
sudah merupakan the borderless world,  memang ada yang menikmati dan menjadi sangat 
kaya raya. Tetapi, mereka merupakan super minority. Oleh Robert Reich, mereka 
diistilahkan dengan "the symbol analyst". Mereka elite yang dapat melihat 
simbol-simbol abstrak yang merupakan sinyal adanya peluang untuk memperoleh pasar 
dunia  yang kurang lebihnya memang borderless.
  
Kelompok ini relatif tidak membutuhkan negara karena mereka kosmopolit. Bahkan, 
jasa-jasa yang biasa disediakan oleh negara dapat mereka adakan sendiri untuk dirinya, 
seperti pasukan pengamanan, sumber air, pembangkit listrik mini kalau perlu. Mereka 
juga mempunyai organisasi yang terkadang  lebih besar daripada negara berkembang atau 
negara miskin. Istilahnya, mereka mempunyai corporate state sendiri sehingga tidak 
membutuhkan nation state. Seperti dikatakan tadi, jumlahnya sangat teramat sedikit.
  
Kemudian, elite yang berpendidikan tinggi yang jumlahnya sudah lebih banyak, tetapi 
masih sangat sedikit di setiap bangsa. Mereka adalah kaum profesional lulusan 
universitas. Mereka ini adalah akuntan, dokter, notaris, advokat, dan sejenisnya. Oleh 
Reich, mereka disebut in person servers.
 
Pekerjaannya melayani atau memberikan jasa kepada orang per orang. Karena ilmunya yang 
terikat dengan kebudayaan di negaranya, seperti hukum, kebudayaan yang diemban oleh 
kaum buruh, dan sejenisnya, mereka sudah tidak mobil. Mereka sudah terpaku pada 
negaranya sehingga -mau tidak mau- harus membela kepentingan dirinya yang jatuh 
bersamaan dengan kepentingan negaranya. Mereka sudah tidak dapat menghindarkan diri 
dari nasionalisme dan patriotisme.
  
Kelompok lainnya adalah kaum buruh kasar, petani, nelayan, pengusaha eceran, yang oleh 
Reich disebut routine workers. Jumlahnya kelompok ini sangat besar dan praktis sama 
sekali terpaku pada negaranya. Kelompok ini sangat nasionalistis dan patriotis dalam 
arti akan mati-matian membela kepentingan bangsa dan negaranya seandainya mempunyai 
kesempatan untuk itu.
  
Kesimpulan Reich, kelompok yang paling kosmopolit, ke mana pun mereka akan bermukim, 
harus memperhitungkan dua kelompok  lainnya yang secara alamiah harus nasionalistis. 
Sebab, dua  kelompok ini sewaktu-waktu dapat meledak dalam bentuk revolusi kalau lapar 
dan merasa ditindas oleh globalisasi.
  
Maka, nasionalisme dan patriotisme -tidak dapat tidak- ada sampai kapan pun. Kondisi 
Indonesia sudah "termakan" dan " terisap" sangat jauh oleh kelompok system analyst. Di 
Indonesia, kondisi itu ditambah dengan kroni-kroni, pesuruh- pesuruh, dan 
komprador-komprador system analyst asing yang secara natural mengisap Indonesia. 
Seperti yang saya uraikan tadi, Indonesia sudah terisap habis-habisan.
  
Kalau tidak ada tindakan korektif menghentikannya, menurut saya, Indonesia sudah di 
ambang revolusi gerakan nasionalisme, patriotisme, mengembalikan rasa harga diri, 
merebut kembali kemandirian.
  
Jadi, globalisasi oke. Kita tidak menolak. Tetapi, itu sama sekali tidak berarti bahwa 
membela dan mempertahankan kepentingan diri sendiri adalah picik bagaikan katak dalam 
tempurung. Kita mempunyai hak sepenuhnya untuk menolak menjadi een natie van koelies 
en een koelie onder de naties (Bung Karno) atau bangsa yang terdiri atas kuli-kuli 
bagi sekelompok kecil elite global di negerinya sendiri dan bangsa yang menjadi kuli 
bagi bangsa-bangsa asing dalam percaturan dan interaksi antarbangsa.
  
Cara menolaknya tidak asal menolak, tetapi meraih kembali rasa harga diri dan semua 
kemampuan untuk bersaing di mana pun, tetapi terutama di negeri sendiri. Artinya, kita 
harus membuang jauh-jauh perasaan bahwa kita tidak mampu mengurus diri sendiri tanpa 
didampingi oleh para ahli dan lembaga-lembaga asing. (habis)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke