Pilih konserpatif atau Kapitalis?

----- Original Message -----
From: "Budhisatwati KUSNI" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "kmnu2000" <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; "ppiindia" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, August 28, 2004 8:05 AM
Subject: [ppiindia] Fw: [nasional-list] SBY DAN MEGA TERJEBAK KOALISI,
KAPITULASI DAN POPULISME


> ----- Original Message -----
> From: tossi20
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, August 27, 2004 11:26 PM
> Subject: [nasional-list] SBY DAN MEGA TERJEBAK KOALISI, KAPITULASI DAN
POPULISME
>
>
> SBY DAN MEGA TERJEBAK KOALISI, KAPITULASI DAN
> POPULISME
>
>
>
> Koalisi seolah-olah sudah menjadi semacam obat mujarab (panacea)
> untuk mencegah guncangnya pemerintahan pasca-pemilu, jadi, untuk
> mengiming-iming rakyat dengan prospek stabilitas jika capres ybs
> menjadi pres kelak.
> Maka tampillah apa yang disebut "Koalisi Kebangsaan" yang mengaku
> telah menjalin koalisi empat partai, Partai Golkar, PDI-P, PPP dan
> PDS untuk mendukung Capres Megawati. Lantas, giliran Capres yang
> lain, SBY, Susilo Bambang Yudhoyono, tampil dengan janji koalisi,
> yang disebutnya "Koalisi Rakyat", meski, katanya pula, sifatnya
> koalisi terbatas.
>
>
> Melihat judulnya, "Koalisi Kebangsaan", semula saya kira ini akan
> dikibarkan oleh partai nasionalis seperti PDI-P. Ternyata, gagasan
> dan peran menonjol justru dipegang Partai Golkar, bahkan koalisi itu
> dipimpin oleh Ketua Golkar Akbar Tanjung. Seolah-olah tiga mitra
> yang lain ikut saja, padahal Capresnya bukan tokoh Golkar, tapi
> justru calonnya PDIP. Bahkan, jika Mega menang, Golkar dijanjikan
> dapat kursi menteri lebih banyak (Golkar 7, PDIP 6). Selain
> itu, "Koalisi Kebangsaan" ini berpretensi akan menjadi koalisi
> permanen. Lucu, tak masuk akal.
>
>
> Artinya, PDI-P amat memerlukan dukungan Golkar, meski hati kecil
> PDIP mungkin tak ingin menjadi sejoli, padanan kental, dari Golkar.
> Sebaliknya, Golkar yang kehilangan peluang kursi presiden gara gara
> kalahnya jendral yang indekos di Golkar (pasangan Wir-Salah), tak
> punya pilihan lain, selain menggandeng Mega.
>
>
> Golkar dan tentara hampir sinonim dengan Orde Baru. Bagi Golkar,
> menggandeng SBY yang asal tentara seperti menonjolkan dua sosok yang
> secara simbolis mewakili Orde Baru. Selain itu, menggandeng SBY
> berarti ikut membesarkan SBY dan Partai Demokrat. Ketimbang membuat
> kucing jadi harimau di kandangnya sendiri, bagi Golkar lebih aman
> menggaet Mega. Lagi pula, Mega tidak bisa lagi menjadi Capres tahun
> 2009. Kubu Mega tentu menyadari bahwa citra Orde Baru dari Golkar
> itu bakal merugikan pretensi pembaruan dan sebagian pendukungnya
> yang reformis, tetapi bagi PDI-P, juga tak ada alternatif.
> Maklumlah, PDI-P tak punya daya imajinasi -- kecuali berkapitulasi
> pada kodrat menerima pelukan maut Golkar.
>
>
> Jadi, inilah "kiss of death", alias ciuman maut, dari Golkar kepada
> Megawati. Mungkin juga, di balik layar, ada harapan dari kubu SBY
> agar PDI-P berseru kepada Golkar: "Buru Buru Cium Gue!". Dan,
> persis, itulah yang dilakukan Golkar kepada Mega.
>
>
> Sosok Golkar menjadi dilema besar bagi PDIP. Jika dirangkul, PDIP
> akan berbau Orde Baru, tapi dibuang, berarti bunuh diri. PDIP musti
> pinter pinter menaruh Golkar di ketiak Mega dan mengiming-iming
> pemerintahan baru yang kuat, dengan DPR di tangan PDIP dan Golkar,
> supaya rezim baru terkesan bakal stabil.
>
>
> Akan tetapi, melihat prakarsa, kepemimpinan Golkar dan pola bagi-
> kursi dalam Koalisi Kebangsaan ini, maka jelas, Golkar-lah, bukan
> Mega atau PDIP yang memegang kendali. Coup Akbar berhasil. Walhasil,
> kebalikan Napoleon, PDIP sudah tiba di Lapangan Waterloo sebelum
> bertempur. "Koalisi Kebangsaan" sudah kapitulasi, tekuk-lutut, pada
> titisan Orde Baru...
>
>
> Sebaliknya, harus diakui, kubu SBY dengan "Koalisi Kerakyatan"-nya
> lebih jeli. SBY sebagai bekas tentara, tidak pusing simbol Orde Baru
> atau bukan, sebab simbolisme ketentaraan itu toh tak bisa
> dihapusnya, malah bisa menguntungkan. Dia justru mengandalkan
> citranya selaku pemimpin baru, selaku mantan jenderal, dan selaku
> intelektual. Dengan begitu, dia mengandalkan semua itu untuk
> mengiming-iming pemilih dengan harapan perlunya seorang pemimpin
> baru yang kuat dan profesional.
>
>
> Tidakkah SBY akan repot dengan parlemen yang dikuasai oleh "Koalisi
> Kebangsaan"? Mungkin sekali. Namun SBY rupanya menyiapkan diri untuk
> bertahan secara konstitusional. Dia akan berargumen, ini kabinet
> presidensiil, jadi, parlemen tidak boleh, dan tidak mungkin,
> menjatuhkannya atas dasar perbandingan suara. Tetapi MPR yang
> sebagian besar berisi DPR bisa menjatuhkannya jika menemukan alasan
> keselamatan negara. Nah, di sinilah SBY dapat mengandalkan jaringan
> dan gerbong gerbong tentara. Selaku Panglima Tertinggi, dia harus
> mampu mengerahkan dan, sebagai mantan jendral, mampu mengatur agar
> tentara bersatu dan menjaga agar kondisi tidak mendekati krisis.
>
>
> Tapi, ini bisa menjadi bumerang, jika parlemen membelot
> berkepanjangan membuat presiden berang, lantas mengancam parlemen
> dengan dekrit. Soekarno mengalaminya pada 1959, tapi dia selamat.
> Gus Dur juga mengalami Juli 2001, tapi dia gagal dan jatuh. Soekarno
> waktu itu didukung Jenderal Nasution, sedangkan Gus Dur digertak
> oleh moncong meriamnya Jendral Ryamirzad, yang ujung akhirnya
> menelorkan "moncong putih"nya Megawati.
>
>
> SBY mungkin telah siap dengan mimpi buruk seperti itu. Di tingkat
> retorika politik, dia akan maju dengan alasan konstitusional bahwa
> parlemen tak berhak menjatuhkan kabinet presidensiil - meski pada
> 2001 SBY diam diam setuju dengan DPR, lalu mundur dari kabinet, dan
> membiarkan Gus Dur jatuh.
>
>
> Kedua, SBY akan menyiapkan dukungan partai dan opini publik untuk
> membendung pembelotan DPR, dan untuk itulah, dia menggalang koalisi.
> Dengan PKS, SBY berhasil, dengan PBR, gagal, dan PAN bimbang (kapan
> tidak begitu?), meski sebenarnya cenderung ke SBY. Tapi, yang
> terpenting: PKB. Di sini SBY berhasil, meski bos NU dan PKB yaitu
> Gus Dur diam dan mengaku Golput. Kursi menteri Agama sudah
> ditawarkan kepada NU. Melihat peran Yeni, putri si Gus yang
> mengantar SBY ke pesantren pesantren Jawa Timur, tampaknya SBY sudah
> mengantongi NU-PKB. Jawa Timur, sarangnya NU dan Golkar, sudah di
> saku SBY.
>
>
> Tapi, bagaimana kalau pembelotan parlemen kelak membuat SBY terancam
> krisis? Tak ada jalan lain kecuali jaringan militer, gerbong
> pensiunan dan keluarga TNI itulah yang harus mendesak jajaran TNI
> aktif, agar menjaga kondisi. Dengan kata lain, SBY akhirnya
> berpulang juga kepada tentara, jadi, berpotensi terjebak permainan
> Orde Baru pula.
>
>
> Walhasil, kalau Mega dengan "Koalisi Kebangsaan" yang diatur Akbar-
> Golkar sudah berkapitulasi pada Orde Baru, SBY pun memiliki risiko
> yang serupa.
>
>
> Lebih dari itu, SBY, seperti Mega-Akbar, juga terjebak permainan
> populistis, yang menganggap seolah-olah rakyat itu satu, bulat dan
> berwarna tunggal. Secara esensi, populisme adalah suatu negasi
> terhadap eksistensi dan dinamika kelas-kelas sosial.
>
>
> Satu contoh. "Koalisi Kebangsaan" Mega-Akbar menganggap dirinya
> didukung blok politik yang kuat, padahal blok ini merupakan sangkar
> politik lama dan politik KKN. Jadi, kubu Mega berasumsi, rakyat akan
> mendukung mereka membersihkan KKN dengan melawan kekuatan kekuatan
> di dalam koalisinya sendiri. Idem ditto "Koalisi Kerakyatan"-nya SBY
> yang menganggap rakyat bersatu di belakang kepemimpinannya sehingga
> akan mampu menangkal krisis presiden versus parlemen.
>
>
> Kalau Mega tak punya warna, SBY cenderung sinkretis alias menampung
> segalanya -- persis seperti Soekarno, yang sinkretis, dengan
> menampung Nasakom. Kedua tendensi itu rentan terhadap populisme.
> Perang kata soal oligarki - istilah ini persis kebalikan makna
> populis - memperlihatkan betapa populistis kedua kubu tsb.
>
>
> Di atas semua itu, populisme cenderung memandang rakyat sebagai
> massa yang "bodoh". Dalam hal populisme, koalisinya Mega mau pun
> koalisinya SBY mengingkari kecenderungan kuat yang terbukti dalam
> Pilpres Juli lalu, yaitu bahwa pola aliran makin lemah. De-
> aliranisasi (seperti diramalkan dalam analisis Lance Castles)
> berarti makin banyak pemilih akan memilih berdasarkan nurani dan
> rasionalitas perorangan - tidak lagi berpanut pada mesin partai atau
> pun ikatan primordial. Elektorat berpikir dalam kategori-
> kategori "pemimpin lama versus pemimpin baru", "stabilitas versus
> keguncangan", "KKN versus bersih" dan "citra gagah, aktif versus
> citra lemah, pasif". Capres akan dipilih lebih banyak berdasarkan
> pemikiran klasifikatoris seperti itu (yang jelas menguntungkan SBY
> ketimbang Mega).
>
>
> Tapi, bukankah pilihan politik bercermin pada kepentingan diri,
> bukan sekedar ikatan kelompok? Ya, tapi itu kan cerita pemilu 5
> April yang dapat menjanjikan pos pos kepentingan-mapan (vested-
> interests) bagi banyak elit daerah dan pusat, sedangkan pilpres
> putaran kedua cuma menjanjikan kue besar buat seorang mantan
> jenderal atau seorang mbakyu yang gagal. Jadi, koalisi-koalisi-an
> zaman sekarang utamanya adalah permainan elitisme yang menegasikan
> aspirasi masyarakat.
>
>
> Last but not least, jangan lupa bahwa populisme, apalagi dalam
> konfigurasi yang serasi dengan pemimpin kuat yang kharismatis,
> secara historis (lihat Hitler) adalah ladang subur buat fasisme.
> Soekarno hampir terjebak di situ, begitu juga pemimpin Ghana Kwame
> Nkrumah. Dr Tjipto Mangunkusumo, kemudian Soekarno dalam persepsi
> rakyat pernah dipandang sebagai Mesiah (Imam Mahdi). Seorang analis
> baru baru ini juga mencatat potensi mesianistik yang dicitrakan pada
> diri SBY, capres yang mencuat sebagian besar dengan bertumpu pada
> citra-diri. Kedua kubu bersemangat populistis dengan cara
> mengandalkan blok kuat di parlemen yang mengaku mewakili rakyat,
> atau dengan bertumpu pada popularitas diri dan dengan koalisi yang
> mengaku menyatu dengan rakyat. Saya tidak bermaksud menuduh Mega
> atau pun SBY bak fasis, namun layak kita catat bahwa, teoretis,
> keduanya -- seperti Soekarno (dengan populisme dan dengan merintis
> Sekber Golkar) -- berpotensi membuka jalan ke sana.
>
>
> Melihat trend kuat SBY, maka gelagatnya, saya kira mantan jenderal
> ini akan menang. Ironisnya, kalau tak mau dikatakan "lucu",
> barangkali, adalah bahwa segenap kaum anti Orba, anti militer, kaum
> kanan, kaum kiri, di dalam negeri mau pun yang (maaf) "klayaban",
> kecuali sebagian PRD, semuanya mendukung Mega ketika kubu Mega sudah
> berkapitulasi kepada Orba.
>
>
> "Koalisi Kebangsaan"-nya Akbar-Mega juga menyumbang pada suburnya
> ladang otoriterisme dan elitisme tadi dengan cara lain. Akbar dan
> beberapa petinggi Golkar berpretensi "Koalisi Kebangsaan"
> adalah "koalisi yang permanen". Seperti dikatakan di atas, ini tak
> masuk akal -- kecuali dalam perspektif jika Golkar ingin membangun
> kekuasaan berkurun-panjang berdasarkan blok koalisi di parlemen.
> Dalam kasus terbaik, ini berarti membangun koalisi semacam Barisan
> Nasional di Malaysia atau Partai Konggres di India (dulu, dan
> sekarang bangkit lagi), dan, dalam kasus terburuk, ini seperti
> memimpikan semacam Partai Revolusioner (yang tidak revolusioner)
> yang berkuasa di Meksiko selama 70 tahun sampai beberapa tahun
> silam. Ini berarti "Koalisi Kebangsaan" akan berhadapan dengan
> argumen sistim presidensiil yang diandalkan koalisinya SBY. Untuk
> itu, akhirnya, kedua kubu tsb, mau tak mau, bakal terjebak untuk
> menggali lagi senjata Orde Baru: "Massa Mengambang" (elitisme
> ekstrim) versus "Pendekatan Keamanan" (militerisme terselubung).
>
>
> Singkat kata, koalisi-koalisi yang mengaku "kebangsaan" mau pun
> yang "kerakyatan" itu, akhirnya terjebak titisan dan permainan Orde
> Baru, dan berpotensi menjadi Ancient Regime, alias suatu Orde Tua
> yang akan berhadapan dengan 30an juta Golput. Jadi, janji-janji
> perubahan dan stabilitas lewat koalisi-koalisi itu sebenarnya
> ditujukan untuk menghadapi potensi meningkatnya kerusuhan di jalan.
>
>
> Walhasil, koalisi, bukanlah suatu obat yang akan mengobati, tapi
> malah menciptakan pusing kepala -- kepala saya, kepala Anda, kepala
> rakyat, dan kepala capres capres itu sendiri .
>
>
> Semoga analisis saya ini keliru.
>
> Selamat coblos, atau tak mencoblos!
>
>
> Amsterdam, 28 Agustus 2004
>
> Tossi AS
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke