----- Original Message ----- 
From: tossi20 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, August 27, 2004 11:26 PM
Subject: [nasional-list] SBY DAN MEGA TERJEBAK KOALISI, KAPITULASI DAN POPULISME


SBY DAN MEGA TERJEBAK KOALISI, KAPITULASI DAN 
POPULISME                                        



Koalisi seolah-olah sudah menjadi semacam obat mujarab (panacea) 
untuk mencegah guncangnya pemerintahan pasca-pemilu, jadi, untuk 
mengiming-iming rakyat dengan prospek stabilitas jika capres ybs 
menjadi pres kelak. 
Maka tampillah apa yang disebut "Koalisi Kebangsaan" yang mengaku 
telah menjalin koalisi empat partai, Partai Golkar, PDI-P, PPP dan 
PDS untuk mendukung Capres Megawati. Lantas, giliran Capres yang 
lain, SBY, Susilo Bambang Yudhoyono, tampil dengan janji koalisi, 
yang disebutnya "Koalisi Rakyat", meski, katanya pula, sifatnya 
koalisi terbatas.


Melihat judulnya, "Koalisi Kebangsaan", semula saya kira ini akan 
dikibarkan oleh partai nasionalis seperti PDI-P. Ternyata, gagasan 
dan peran menonjol justru dipegang Partai Golkar, bahkan koalisi itu 
dipimpin oleh Ketua Golkar Akbar Tanjung. Seolah-olah tiga mitra 
yang lain ikut saja, padahal Capresnya bukan tokoh Golkar, tapi 
justru calonnya PDIP. Bahkan, jika Mega menang, Golkar dijanjikan 
dapat kursi menteri lebih banyak (Golkar 7, PDIP 6). Selain 
itu, "Koalisi Kebangsaan" ini berpretensi akan menjadi koalisi 
permanen. Lucu, tak masuk akal.


Artinya, PDI-P amat memerlukan dukungan Golkar, meski hati kecil 
PDIP mungkin tak ingin menjadi sejoli, padanan kental, dari Golkar. 
Sebaliknya, Golkar yang kehilangan peluang kursi presiden gara gara 
kalahnya jendral yang indekos di Golkar (pasangan Wir-Salah), tak 
punya pilihan lain, selain menggandeng Mega. 


Golkar dan tentara hampir sinonim dengan Orde Baru. Bagi Golkar, 
menggandeng SBY yang asal tentara seperti menonjolkan dua sosok yang 
secara simbolis mewakili Orde Baru. Selain itu, menggandeng SBY 
berarti ikut membesarkan SBY dan Partai Demokrat. Ketimbang membuat 
kucing jadi harimau di kandangnya sendiri, bagi Golkar lebih aman 
menggaet Mega. Lagi pula, Mega tidak bisa lagi menjadi Capres tahun 
2009. Kubu Mega tentu menyadari bahwa citra Orde Baru dari Golkar 
itu bakal merugikan pretensi pembaruan dan sebagian pendukungnya 
yang reformis, tetapi bagi PDI-P, juga tak ada alternatif. 
Maklumlah, PDI-P tak punya daya imajinasi -- kecuali berkapitulasi 
pada kodrat menerima pelukan maut Golkar. 


Jadi, inilah "kiss of death", alias ciuman maut, dari Golkar kepada 
Megawati. Mungkin juga, di balik layar, ada harapan dari kubu SBY 
agar PDI-P berseru kepada Golkar: "Buru Buru Cium Gue!". Dan, 
persis, itulah yang dilakukan Golkar kepada Mega. 


Sosok Golkar menjadi dilema besar bagi PDIP. Jika dirangkul, PDIP 
akan berbau Orde Baru, tapi dibuang, berarti bunuh diri. PDIP musti 
pinter pinter menaruh Golkar di ketiak Mega dan mengiming-iming 
pemerintahan baru yang kuat, dengan DPR di tangan PDIP dan Golkar, 
supaya rezim baru terkesan bakal stabil. 


Akan tetapi, melihat prakarsa, kepemimpinan Golkar dan pola bagi-
kursi dalam Koalisi Kebangsaan ini, maka jelas, Golkar-lah, bukan 
Mega atau PDIP yang memegang kendali. Coup Akbar berhasil. Walhasil, 
kebalikan Napoleon, PDIP sudah tiba di Lapangan Waterloo sebelum 
bertempur. "Koalisi Kebangsaan" sudah kapitulasi, tekuk-lutut, pada 
titisan Orde Baru...


Sebaliknya, harus diakui, kubu SBY dengan "Koalisi Kerakyatan"-nya 
lebih jeli. SBY sebagai bekas tentara, tidak pusing simbol Orde Baru 
atau bukan, sebab simbolisme ketentaraan itu toh tak bisa 
dihapusnya, malah bisa menguntungkan. Dia justru mengandalkan 
citranya selaku pemimpin baru, selaku mantan jenderal, dan selaku 
intelektual. Dengan begitu, dia mengandalkan semua itu untuk 
mengiming-iming pemilih dengan harapan perlunya seorang pemimpin 
baru yang kuat dan profesional. 


Tidakkah SBY akan repot dengan parlemen yang dikuasai oleh "Koalisi 
Kebangsaan"? Mungkin sekali. Namun SBY rupanya menyiapkan diri untuk 
bertahan secara konstitusional. Dia akan berargumen, ini kabinet 
presidensiil, jadi, parlemen tidak boleh, dan tidak mungkin, 
menjatuhkannya atas dasar perbandingan suara. Tetapi MPR yang 
sebagian besar berisi DPR bisa menjatuhkannya jika menemukan alasan 
keselamatan negara. Nah, di sinilah SBY dapat mengandalkan jaringan 
dan gerbong gerbong tentara. Selaku Panglima Tertinggi, dia harus 
mampu mengerahkan dan, sebagai mantan jendral, mampu mengatur agar 
tentara bersatu dan menjaga agar kondisi tidak mendekati krisis.


Tapi, ini bisa menjadi bumerang, jika parlemen membelot 
berkepanjangan membuat presiden berang, lantas mengancam parlemen 
dengan dekrit. Soekarno mengalaminya pada 1959, tapi dia selamat. 
Gus Dur juga mengalami Juli 2001, tapi dia gagal dan jatuh. Soekarno 
waktu itu didukung Jenderal Nasution, sedangkan Gus Dur digertak 
oleh moncong meriamnya Jendral Ryamirzad, yang ujung akhirnya 
menelorkan "moncong putih"nya Megawati.


SBY mungkin telah siap dengan mimpi buruk seperti itu. Di tingkat 
retorika politik, dia akan maju dengan alasan konstitusional bahwa 
parlemen tak berhak menjatuhkan kabinet presidensiil - meski pada 
2001 SBY diam diam setuju dengan DPR, lalu mundur dari kabinet, dan 
membiarkan Gus Dur jatuh. 


Kedua, SBY akan menyiapkan dukungan partai dan opini publik untuk 
membendung pembelotan DPR, dan untuk itulah, dia menggalang koalisi. 
Dengan PKS, SBY berhasil, dengan PBR, gagal, dan PAN bimbang (kapan 
tidak begitu?), meski sebenarnya cenderung ke SBY. Tapi, yang 
terpenting: PKB. Di sini SBY berhasil, meski bos NU dan PKB yaitu 
Gus Dur diam dan mengaku Golput. Kursi menteri Agama sudah 
ditawarkan kepada NU. Melihat peran Yeni, putri si Gus yang 
mengantar SBY ke pesantren pesantren Jawa Timur, tampaknya SBY sudah 
mengantongi NU-PKB. Jawa Timur, sarangnya NU dan Golkar, sudah di 
saku SBY. 


Tapi, bagaimana kalau pembelotan parlemen kelak membuat SBY terancam 
krisis? Tak ada jalan lain kecuali jaringan militer, gerbong 
pensiunan dan keluarga TNI itulah yang harus mendesak jajaran TNI 
aktif, agar menjaga kondisi. Dengan kata lain, SBY akhirnya 
berpulang juga kepada tentara, jadi, berpotensi terjebak permainan 
Orde Baru pula.


Walhasil, kalau Mega dengan "Koalisi Kebangsaan" yang diatur Akbar-
Golkar sudah berkapitulasi pada Orde Baru, SBY pun memiliki risiko 
yang serupa. 


Lebih dari itu, SBY, seperti Mega-Akbar, juga terjebak permainan 
populistis, yang menganggap seolah-olah rakyat itu satu, bulat dan 
berwarna tunggal. Secara esensi, populisme adalah suatu negasi 
terhadap eksistensi dan dinamika kelas-kelas sosial. 


Satu contoh. "Koalisi Kebangsaan" Mega-Akbar menganggap dirinya 
didukung blok politik yang kuat, padahal blok ini merupakan sangkar 
politik lama dan politik KKN. Jadi, kubu Mega berasumsi, rakyat akan 
mendukung mereka membersihkan KKN dengan melawan kekuatan kekuatan 
di dalam koalisinya sendiri. Idem ditto "Koalisi Kerakyatan"-nya SBY 
yang menganggap rakyat bersatu di belakang kepemimpinannya sehingga 
akan mampu menangkal krisis presiden versus parlemen. 


Kalau Mega tak punya warna, SBY cenderung sinkretis alias menampung 
segalanya -- persis seperti Soekarno, yang sinkretis, dengan 
menampung Nasakom. Kedua tendensi itu rentan terhadap populisme. 
Perang kata soal oligarki - istilah ini persis kebalikan makna 
populis - memperlihatkan betapa populistis kedua kubu tsb.


Di atas semua itu, populisme cenderung memandang rakyat sebagai 
massa yang "bodoh". Dalam hal populisme, koalisinya Mega mau pun 
koalisinya SBY mengingkari kecenderungan kuat yang terbukti dalam 
Pilpres Juli lalu, yaitu bahwa pola aliran makin lemah. De-
aliranisasi (seperti diramalkan dalam analisis Lance Castles) 
berarti makin banyak pemilih akan memilih berdasarkan nurani dan 
rasionalitas perorangan - tidak lagi berpanut pada mesin partai atau 
pun ikatan primordial. Elektorat berpikir dalam kategori-
kategori "pemimpin lama versus pemimpin baru", "stabilitas versus 
keguncangan", "KKN versus bersih" dan "citra gagah, aktif versus 
citra lemah, pasif". Capres akan dipilih lebih banyak berdasarkan 
pemikiran klasifikatoris seperti itu (yang jelas menguntungkan SBY 
ketimbang Mega). 


Tapi, bukankah pilihan politik bercermin pada kepentingan diri, 
bukan sekedar ikatan kelompok? Ya, tapi itu kan cerita pemilu 5 
April yang dapat menjanjikan pos pos kepentingan-mapan (vested-
interests) bagi banyak elit daerah dan pusat, sedangkan pilpres 
putaran kedua cuma menjanjikan kue besar buat seorang mantan 
jenderal atau seorang mbakyu yang gagal. Jadi, koalisi-koalisi-an 
zaman sekarang utamanya adalah permainan elitisme yang menegasikan 
aspirasi masyarakat.


Last but not least, jangan lupa bahwa populisme, apalagi dalam 
konfigurasi yang serasi dengan pemimpin kuat yang kharismatis, 
secara historis (lihat Hitler) adalah ladang subur buat fasisme. 
Soekarno hampir terjebak di situ, begitu juga pemimpin Ghana Kwame 
Nkrumah. Dr Tjipto Mangunkusumo, kemudian Soekarno dalam persepsi 
rakyat pernah dipandang sebagai Mesiah (Imam Mahdi). Seorang analis 
baru baru ini juga mencatat potensi mesianistik yang dicitrakan pada 
diri SBY, capres yang mencuat sebagian besar dengan bertumpu pada 
citra-diri. Kedua kubu bersemangat populistis dengan cara 
mengandalkan blok kuat di parlemen yang mengaku mewakili rakyat, 
atau dengan bertumpu pada popularitas diri dan dengan koalisi yang 
mengaku menyatu dengan rakyat. Saya tidak bermaksud menuduh Mega 
atau pun SBY bak fasis, namun layak kita catat bahwa, teoretis, 
keduanya -- seperti Soekarno (dengan populisme dan dengan merintis 
Sekber Golkar) -- berpotensi membuka jalan ke sana. 


Melihat trend kuat SBY, maka gelagatnya, saya kira mantan jenderal 
ini akan menang. Ironisnya, kalau tak mau dikatakan "lucu", 
barangkali, adalah bahwa segenap kaum anti Orba, anti militer, kaum 
kanan, kaum kiri, di dalam negeri mau pun yang (maaf) "klayaban", 
kecuali sebagian PRD, semuanya mendukung Mega ketika kubu Mega sudah 
berkapitulasi kepada Orba. 


"Koalisi Kebangsaan"-nya Akbar-Mega juga menyumbang pada suburnya 
ladang otoriterisme dan elitisme tadi dengan cara lain. Akbar dan 
beberapa petinggi Golkar berpretensi "Koalisi Kebangsaan" 
adalah "koalisi yang permanen". Seperti dikatakan di atas, ini tak 
masuk akal -- kecuali dalam perspektif jika Golkar ingin membangun 
kekuasaan berkurun-panjang berdasarkan blok koalisi di parlemen. 
Dalam kasus terbaik, ini berarti membangun koalisi semacam Barisan 
Nasional di Malaysia atau Partai Konggres di India (dulu, dan 
sekarang bangkit lagi), dan, dalam kasus terburuk, ini seperti 
memimpikan semacam Partai Revolusioner (yang tidak revolusioner) 
yang berkuasa di Meksiko selama 70 tahun sampai beberapa tahun 
silam. Ini berarti "Koalisi Kebangsaan" akan berhadapan dengan 
argumen sistim presidensiil yang diandalkan koalisinya SBY. Untuk 
itu, akhirnya, kedua kubu tsb, mau tak mau, bakal terjebak untuk 
menggali lagi senjata Orde Baru: "Massa Mengambang" (elitisme 
ekstrim) versus "Pendekatan Keamanan" (militerisme terselubung).


Singkat kata, koalisi-koalisi yang mengaku "kebangsaan" mau pun 
yang "kerakyatan" itu, akhirnya terjebak titisan dan permainan Orde 
Baru, dan berpotensi menjadi Ancient Regime, alias suatu Orde Tua 
yang akan berhadapan dengan 30an juta Golput. Jadi, janji-janji 
perubahan dan stabilitas lewat koalisi-koalisi itu sebenarnya 
ditujukan untuk menghadapi potensi meningkatnya kerusuhan di jalan.


Walhasil, koalisi, bukanlah suatu obat yang akan mengobati, tapi 
malah menciptakan pusing kepala -- kepala saya, kepala Anda, kepala 
rakyat, dan kepala capres capres itu sendiri .


Semoga analisis saya ini keliru.

Selamat coblos, atau tak mencoblos!


Amsterdam, 28 Agustus 2004

Tossi AS


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke