Mengamati Sepak Terjang Badan-badan Kekuasaan Global 

KORPORASI bukanlah manusia; mereka tidak punya
kesadaran. Meskipun tindakan korporasi dilakukan oleh
individu-individu dan mereka itu memiliki standar
moral yang tinggi, tindakan mereka di dalam korporat,
berada di luar kendali mereka, atau bahkan dalam
beberapa kasus, pengetahuan mereka.

ROBERT Monk dalam The Emperor�s Nightingale: Restoring
the Integrity of the Corporation in the Age of
Shareholder Activism (1998), lebih lanjut menulis:
"... dari perspektif manajemen korporasi saat ini,
keputusan untuk mematuhi hukum didasarkan hanya atas
perhitungan untung rugi. Korporasi bahkan
mempertanyakan apakah biaya ketidakpatuhan setara
dengan biaya kepatuhan. Dalam berbagai kasus, biaya
ketidakpatuhan lebih rendah daripada biaya kepatuhan,
maka banyak korporasi mendapatkan keuntungan dari
pelanggaran hukum."

Badan-badan kekuasaan global (corporate) seperti
inilah yang akan memerintah dunia. Sistem ekonomi yang
dipraktikkan saat ini akan membuat korporasi-korporasi
transnasional (TNCs) meraksasa, dan semakin mempunyai
akses untuk mengendalikan politik dunia. Karena itu,
seperti diingatkan anggota Dewan Pengurus
International Forum on Globalization (IFG), Maude
Barlow, penting untuk mencari alternatif-alternatif
dalam globalisasi ekonomi.

Banyak orang berpendapat, globalisasi ekonomi
merupakan proses jangka panjang yang tidak terelakkan.
Ia merupakan hasil dari kemajuan teknologi dan
kekuatan ekonomi yang berproses selama berabad-abad
sampai menemukan bentuknya yang sekarang. Mereka
mengatakan, kekuatan itu tidak bisa dikontrol karena
merupakan proses alamiah yang harus diterima. "There
Is No Alternatif" (TINA), kata Margaret Thatcher
ketika ia mulai berkuasa dan mempraktikkan revolusi
neoliberal di Inggris.

Para pendukung korporat global beranggapan,
privatisasi aset-aset publik dan membebaskan pasar
dari campur tangan pemerintah akan memberikan
kebebasan dan memajukan dunia, meningkatkan kualitas
hidup, serta menciptakan kekayaan material dan
finansial untuk menghapuskan kemiskinan dan memelihara
lingkungan hidup.

Karena itulah, aksi protes yang dilakukan sekitar
30.000 aktivis dalam pertemuan Organisasi Perdagangan
Dunia (WTO) di Seattle, November 1999, sangat
mengejutkan. Padahal, aksi itu merupakan puncak gunung
es dari gelombang aksi protes yang kemudian menyebar
ke berbagai kota di dunia, termasuk kota-kota di AS
dan Eropa. Kepasifan yang dibayangkan telah berakhir.

Mereka menentang praktik- praktik korporasi global
yang didukung oleh kebijakan yang lembek dari
pemerintah di negara-negara itu. Secara intensif sejak
10 tahun lalu, mereka melakukan aksi menolak World
Economic Forum (WEF) di Davos Swiss. WEF
diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 1971, untuk
memuluskan jalan bagi sistem ekonomi neoliberal.

Aksi-aksi protes tak jarang diwarnai bentrokan dengan
aparat. Tragedi terakhir, setelah pertemuan WTO di
Cancun, adalah di Korea Selatan, dalam aksi para
petani menentang persetujuan pemerintahnya atas
kebijakan WTO di bidang pertanian.

Media massa arus utama banyak menyumbang pandangan
keliru atas berbagai isu di balik aksi protes
tersebut. Kolumnis terkemuka the New York Times,
Thomas Friedman, mencirikan para pengunjuk rasa
sebagai "proteksionis bebal", yang tidak menawarkan
alternatif apa pun.

Banyak media juga berusaha mereduksi isu yang rumit
itu menjadi kontes yang simplistik antara
"proteksionisme" dan "keterbukaan", atau antara
"anarki" dan "proses demokrasi yang tertib". Di AS dan
Eropa, para pengunjuk rasa dianggap sebagai anak kecil
yang manja, mementingkan diri sendiri, yang tidak
punya pengetahuan, tetapi menentang perdagangan bebas
dan korporasi transnasional.

Pandangan yang keliru pun merebak. Para pengunjuk rasa
dituduh anti terhadap upaya-upaya penghapusan
kemiskinan. Padahal unjuk rasa terjadi di banyak
negara berkembang dan miskin, dan melibatkan
orang-orang yang termarjinalkan.

Mereka juga dituduh xenofobia, padahal resistensi
terhadap korporasi global terjadi secara global dan
merupakan kerja sama antarmasyarakat warga di dunia.
Mereka dituduh antiperdagangan. Padahal yang ditolak
adalah sistem perdagangan bebas yang eksploitatif,
melalui masuknya kepentingan korporasi global di dalam
perjanjian-perjanjian perdagangan internasional.

Para aktivis ini bukan tidak menyodorkan alternatif.
Sejak beberapa tahun lalu, sekelompok aktivis mencoba
melakukan moratorium atas perjanjian-perjanjian
perdagangan yang baru di dalam WTO. Laporan IFG
merinci alternatif-alternatif yang lebih ambisius
terhadap globalisasi ekonomi yang masif ini.

Selain itu, pada tahun 2001, 2002, dan 2003 puluhan
ribu orang berkumpul di Porto Alegre, Brazil, untuk
menghadiri World Social Forum I, II, dan III, sebuah
forum di mana organisasi masyarakat warga mulai
tingkat akar rumput di dunia berkumpul untuk meyakini
dan mengupayakan bahwa "Another (Better) World Is
Possible".

Kelompok ini meyakini bahwa globalisasi modern
bukanlah merupakan evolusi. Ia merupakan sesuatu yang
dirancang dan diciptakan oleh manusia dengan tujuan
tertentu, yakni memberikan nilai lebih tinggi pada
ekonomi daripada nilai-nilai lain. Nilai-nilai itu
kemudian secara agresif dijejalkan dan dikodifikasikan
secara global.

ERA globalisasi modern memiliki tempat dan tanggal
lahir: Bretton Woods, New Hampshire, Juli 1944. Di
situlah para tokoh dunia memutuskan perlunya sistem
ekonomi yang terpusat untuk mempromosikan pembangunan
ekonomi global. Ini, katanya, akan mencegah perang,
mengurangi kemiskinan dan membangun kembali dunia.

Dari pertemuan itu lahirlah Bank Dunia, yang semula
adalah Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan
Pembangunan (IBRD) dan Dana Moneter Internasional
(IMF). Kemudian muncul Perjanjian Umum mengenai Tarif
dan Perdagangan (GATT), yang melahirkan Organisasi
Perdagangan Dunia (WTO).

Lalu, lahirlah Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika
Utara (NAFTA), Perjanjian Maastricht untuk Uni Eropa,
Wilayah Perdagangan Bebas Amerika (FTAA), Perjanjian
Perdagangan Bebas Asia (AFTA), dan perjanjian serupa
di kawasan Asia Selatan. Instrumen-instrumen ini
secara bersama-sama membuat perencanaan sosial,
politik, dan ekonomi yang baru di dunia setelah
Revolusi Industri.

Dalam The Case Against Global Economy (2001), aktivis
dan ilmuwan Kanada, Tony Clarke, menulis, dari 100
pemain ekonomi dunia, 52 di antaranya adalah korporasi
multinasional dan transnasional (TNCs/MNCs). Sekitar
70 persen perdagangan global dikendalikan hanya oleh
sekitar 500 perusahaan. Setengah dari seluruh
investasi dunia dimiliki sahamnya oleh satu persen
TNCs dan 443 dari 500 perusahaan terkaya di dunia
berlokasi di Eropa (158), AS (185), dan Jepang (100).
Mereka inilah yang menjadi lokomotif sistem ekonomi
neoliberal.

TNCs bukanlah "makhluk" yang disukai. Sejarah gerakan
rakyat lahir antara lain akibat penindasan hidup
rakyat oleh praktik-praktik dari pabrik-pabrik milik
TNCs yang beroperasi di suatu negara dengan dukungan
pemerintah dan aparat keamanan setempat.

Dalam Pengadilan Internasional mengenai HAM Buruh
dalam Peoples Summit mengenai APEC di Vancouver,
Kanada, November 1997, seorang peneliti muda dari
Hongkong memberikan kesaksian mengenai terbakarnya
pabrik mainan Zhili di Shenzhen yang menewaskan 87
pekerja dan melukai 47 lainnya pada tahun 1993. Pabrik
yang memproduksi mainan "Chicco" itu tidak dilengkapi
alat pemadam kebakaran dan tertutup. Dalam kesaksian
itu disebutkan, tidak ada kompensasi bagi keluarga
pekerja yang tewas. Yang luka bakar pun tidak mendapat
pengobatan yang memadai.

Hal ini terulang pada tahun 1994 di Zuhai, yang
menewaskan 93 orang dan 49 lainnya mengalami luka
bakar serius. Tahun 1995, di Shunda, 32 orang tewas.
Sebagian besar adalah perempuan muda dari pedesaan. Di
pabrik pemasok mainan McDonald di Zuhai pernah terjadi
keracunan benzene. Tiga tewas. Tragedi serupa juga
terjadi di banyak negara berkembang lainnya.

Akuntabilitas dan tanggung jawab TNCs pun
dipertanyakan. Namun korporasi- korporasi itu tak
kalah cerdik. Mereka menggunakan strategi yang luar
biasa canggih melalui iklan-iklan layanan masyarakat
dengan mendompleng isu apa saja yang sedang hangat,
termasuk isu kekerasan terhadap perempuan dan hak
asasi manusia. Mereka juga melakukan praktik-praktik
memecah belah rakyat yang menentang operasi mereka.

Berbagai TNCs, seperti Rio Tinto dan Nike, yang
memiliki rekor buruk dalam pelanggaran hak-hak asasi
manusia dan pencemaran lingkungan, ikut menandatangani
sembilan pedoman sebagai pertanggungjawaban korporasi,
dalam program Global Compact Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2000.

Menurut pedoman itu, mereka diwajibkan mengirim
laporan kasus-kasus mereka setiap tahun ke PBB. Mereka
juga menyumbangkan sejumlah dana bagi program-program
PBB, sehingga Global Compact tampak lebih sebagai
sarana public relations dan menyebabkan turunnya
kredibilitas PBB.

ANCAMAN terbesar dari TNCs, selain praktik-praktik
predator dalam spekulasi modal, juga privatisasi
terhadap sumber daya milik bersama, seperti tanah,
air, benih, bahkan tradisi. Dalam Perjanjian Baru
mengenai Perdagangan Jasa (GATS), air dimasukkan ke
dalam kategori komoditas dan merupakan subyek untuk
diperdagangkan.

Di dalam peraturan WTO ada provisi khusus yang
melarang pengawasan atas ekspor air. Sementara di
dalam NAFTA terkandung klausul yang memberikan hak
pada perusahaan untuk menuntut pemerintah kalau suatu
perusahaan kehilangan keuntungan. Misalnya, kalau
pemerintah menghentikan ekspor air oleh perusahaan
itu.

Jadi, sekali air berhasil diprivatisasi dan masuk
sebagai komoditas di pasar terbuka, dampaknya akan
sangat luas. Protes keras terhadap upaya privatisasi
air terjadi di Bolivia, Afrika Selatan, Kanada dan
lain-lain. Di Cochabamba, Bolivia, misalnya, ratusan
ribu orang melakukan protes menolak Bechtel
Corporation, yang mendapat mandat dari pemerintah kota
untuk mengelola air bersih.

Warga marah karena harus membayar sampai 35 persen
dari upah mereka untuk membeli air. Berbagai insiden
berdarah memaksa Pemerintah Bolivia menunda perjanjian
dengan Bechtel. Korporasi itu menuntut pemerintah
Bolivia, sesuai yang tercantum perjanjian perdagangan
Bolivia, Belanda, yang mengadopsi peraturan NAFTA.
Kasus ini masih terkatung-katung sampai hari ini.

Pemaksaan memprivatisasi air dilakukan sangat halus
oleh lembaga-lembaga pemberi utang, seperti Bank
Dunia. Pengaruh Bank Dunia masuk melalui para
pengambil keputusan di dalam lembaga-lembaga eksekutif
dan legislatif untuk menggolkan berbagai rancangan
peraturan dan undang-undang yang kondusif terhadap
pasar.

Cara ini mengingatkan pada bagaimana Bank Dunia
melarang negara berkembang yang mendapat Pinjaman
Penyesuaian Struktural (SAL) memproduksi barang
substitusi ekspor. Selain itu, juga mengingatkan pada
berbagai prasyarat lain, seperti penjualan aset dari
badan-badan milik negara ke perusahaan asing, serta
pengurangan subsidi untuk kesejahteraan rakyat.

Modus seperti ini diuraikan dengan panjang lebar oleh
Walden Bello dan Shea Cunningham dalam buku Dark
Victory (1994). Jadi, utang adalah risiko paling besar
karena membuat negara tergadaikan kedaulatannya untuk
kepentingan sebuah sistem ekonomi yang menindas, dan
mengorbankan kesejahteraan rakyatnya. Padahal utang
negara berkembang dan miskin tidak pernah berkurang,
malah meningkat, dari 609 miliar dollar AS pada tahun
1980 menjadi 2,4 triliun tahun 2001, setelah 20 tahun
diterapkannya program penyesuaian struktural.

Ancaman lainnya adalah pematenan benih. Seperti
dikemukakan Andrew Kimbrell dari International Center
for Technology Assesment, korporasi-korporasi
multinasional saat ini menjelajahi dunia untuk mencari
gen tanaman, hewan dan manusia dan akan mengklaimnya
sebagai milik mereka.

Beberapa korporasi multinasional sangat aktif
menjalankan industri yang didasari oleh ilmu-ilmu
pengetahuan yang melibatkan makhluk hidup (life
sciences), dan mendapatkan keuntungan melalui
Perjanjian Perdagangan yang terkait dengan Hak Paten
Intelektual (TRIPs) dari WTO. Menurut Vandana Shiva
dari Research Foundation for Science, Technology and
Ecology, New Delhi, India, sekitar 80 persen pemilik
hak paten benih transgenik adalah Monsanto. Korporasi
lain yang bergerak di bidang ini adalah Novartis
(dibentuk oleh Ciba Ceigy dan Sandoz) DuPont, Pioneer,
dan lain-lain.

Dampak dari semua ini merusak seluruh sendi kehidupan
manusia.

Bisa diamati bagaimana korporasi internasional di
bidang farmasi menolak peraturan WTO mengenai
perjanjian TRIPs di Afrika Selatan yang mengizinkan
produksi lokal obat-obatan untuk pengidap AIDS, supaya
lebih murah dan bisa diakses banyak orang. Setelah
protes yang meluas, baru pemilik paten mengizinkannya.
Namun, peraturan TRIPs tetap dipaksakan di berbagai
kasus lain.

Untuk semua inilah, kelompok masyarakat warga
berkumpul dalam WSF IV di Mumbai, India, berinteraksi
dan menyusun strategi bersama sebagai alternatif untuk
menolak imperialisme baru bernama badan-badan
kekuasaan global. (mh)
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0401/16/sorotan/803740.htm

=====
Visit my daughter's homepage at:
http://www.geocities.com/hana_hanifah7


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke