Mewujudkan Mimpi "Another World is Possible" 

HARAPAN sebuah dunia baru bisa dibangun dengan lebih
baik, membuat pertemuan para tokoh negara- negara
Barat pada bulan Juli 1944 di Bretton Woods, New
Hampshire, Amerika Serikat, disambut antusias. Saat
itu sebenarnya Perang Dunia II baru menjelang berakhir
meski dampaknya sudah terasa di mana-mana. Berbagai
kota hancur infrastrukturnya dan menimbulkan kesulitan
pada rakyat untuk membangun ekonomi kembali.

Hasilnya adalah perjanjian umum tentang tarif dan
perdagangan (GATT) dengan turunan berikutnya berupa
organisasi perdagangan dunia. Dari sinilah kemudian
muncul NAFTA (wilayah perdagangan bebas Amerika
Utara), AFTA (wilayah perdagangan bebas Asia), FTAA
(wilayah perdagangan bebas Amerika), dan juga
perjanjian Maastrich untuk perdagangan bebas Uni
Eropa.

Namun, setengah abad kemudian mimpi dunia baru yang
lebih baik ternyata tidak terwujud sepenuhnya. Sistem
kapitalistik yang merupakan perwujudan ekonomi global
hanya memacu perkembangan pesat di negara-negara
Barat, sementara di Asia, Afrika, bahkan juga Amerika
Latin, kemiskinan bahkan semakin akut. Penduduk India
tetap kesulitan mengakses air, negara-negara Afrika
kekurangan pangan, dan krisis ekonomi melanda Amerika
Latin dan Asia. Kemiskinan absolut tidak bergerak dari
angka 1,2 miliar penduduk, dan utang negara berkembang
dan negara miskin malah naik hampir dua kalinya pada
tahun 2002 dibanding tahun 1980.

Menurut Dana PBB untuk Anak (Unicef), pada akhir tahun
1990-an satu miliar anak masih hidup dalam kemiskinan.
Di 21 negara, jumlah orang yang menderita kelaparan
meningkat selama 10 tahun terakhir. Data dari Bank
Dunia menyebutkan, 54 negara malah menjadi lebih
miskin dibanding 10 tahun lalu. Sebaliknya, pendapatan
per kapita masyarakat Barat meningkat signifikan dan
melahirkan orang-orang terkaya di dunia yang aset
kekayaannya jauh lebih besar dibanding negara-negara
paling miskin yang dikombinasikan dengan 600 juta
penduduknya.

Wajah kapitalisasi mulai terlihat aslinya, karena
negara- negara Barat memberlakukan standar ganda
dengan subsidi yang berlebihan untuk melanggengkan
kekuatan dan keuntungan mereka. Di Amerika Serikat
(AS) dan Uni Eropa misalnya, petani mendapat subsidi
2,7 dollar AS per hari untuk setiap ekor sapi yang
dipelihara. Jumlah ini lebih dari pendapatan harian
dari separuh penduduk dunia saat ini. Subsidi untuk
petani kapas di AS jauh lebih tinggi dari total
bantuan AS untuk Afrika, padahal 10 juta petani kapas
di Afrika Barat miskin dan kelaparan.

Bahkan, tujuan pembangunan ekonomi global yang semula
untuk mencegah perang antarnegara sekarang menjadi
menghalalkan perang agar kapitalisme bisa meluaskan
jaringannya. Invasi AS ke Afganistan dan Irak-dan kini
AS mengancam Iran dan Korea Utara dengan alasan
serupa-adalah contoh nyata wajah kapitalisme yang
telah dibalut dengan imperialisme. Perdagangan bebas
dan globalisasi telah digunakan untuk meningkatkan
eksploitasi di negara-negara miskin.

DIAWALI dengan pertemuan di Seattle, AS, pada bulan
November 1999, orang-orang yang menyadari kegagalan
sistem kapitalis global dan berupaya untuk mengubahnya
secara intensif, terus mengasah pemikiran dan
menggalang solidaritas. Maka pertemuan Seattle
dilanjutkan secara maraton di Washington (AS, April
2003), Praha (Ceko, September 2000), dan Nice (Italia,
Desember 2000).

Pertemuan-pertemuan itu akhirnya melahirkan Forum
Sosial Dunia (FSD) I yang berlangsung di Porto Alegre,
Januari 2001, dihadiri oleh orang-orang yang percaya
bahwa masa depan harus dipusatkan pada manusia itu
sendiri dan kemajuan-kemajuan yang lebih bersifat
swadaya daripada globalisasi imperialisme.

Dengan sengaja, saat penyelenggaraan dipilih bersamaan
dengan Forum Ekonomi Dunia (FED) yang menjadi anak
ekonomi global di Davos, Swiss. Dalam FSD I itulah
berlangsung diskusi berbagai alternatif, pertukaran
pengalaman, serta upaya penguatan koalisi dan aliansi.
Pertemuan ini pula yang melahirkan 14 Prinsip FSD yang
diadopsi semua individu dan kelompok pendukung FSD,
semboyan "Another World is Possible", sekaligus
kesepakatan untuk kembali bertemu setiap tahunnya agar
impian membangun dunia baru yang lebih berkeadilan
bisa diwujudkan.

Pertemuan-pertemuan FSD berikutnya-II dan III masih di
Porto Alegre-ternyata diikuti peserta dengan jumlah
semakin besar. Kalau FSD I hanya dihadiri 20.000
peserta, maka dalam FSD II jumlah peserta sudah lebih
dari dua kali lipatnya (50.000 orang) dan FSD III
(100.000 orang). Peserta yang hadir dalam FSD IV di
Mumbay, India, jumlahnya kurang lebih sama. Bisa
dikatakan, FSD menjadi semacam pembalikan dogma
ekonomi yang ditawarkan oleh FED. FSD menjadi simbol
penguatan berbagai pihak untuk menolak globalisasi,
eksklusi, diskriminasi, dan juga perang.

"Anak-anak FSD" adalah berbagai gerakan resistensi.
Seperti yang diungkapkan Committee for a Workers�
Internasional (CWI), di India sebanyak 50 juta buruh
berpartisipasi dalam pemogokan umum melawan
privatisasi dan reformasi buruh pada 21 Mei 2003. Dari
berbagai penjuru dunia, sebanyak 30 juta orang
berunjuk rasa menentang invasi Bush dan Blair ke Irak
pada 15 Februari 2003. Belum lagi gerakan massa yang
berlangsung di Bolivia, Ekuador, dan Argentina untuk
mengganti pemerintahan yang pro neoliberal.

Di Mumbay, spirit yang dibawa dari ranah Amerika Latin
yang dinamis seolah mendapat pencerahan semangat
ahimsa dan swadesi Mahatma Gandhi yang sukses membawa
rakyat India keluar dari penjajahan. Hasil kajian
ilmiah dan diskusi dalam tiga tahun terakhir
diimplementasikan dengan lebih nyata: resistensi
terhadap produk-produk korporasi multinasional dan
ruang yang lebih besar bagi suku-suku asli yang
termarginalkan, pengidap HIV/AIDS, dan juga para
penyandang cacat.

FSD IV di Mumbay memang diharapkan mampu membangun
dialog untuk memformulasikan cetak biru untuk
membangun dunia lain yang lebih menghargai masyarakat
plural atau keberagaman, dan bertanggung jawab
terhadap satu dunia yang dimiliki bersama dengan
kehormatan yang setara dan berkeadilan. Inilah yang
kemudian diwujudkan dalam berbagai diskusi, lokakarya,
penggalangan solidaritas, maupun rally dan pertunjukan
kesenian, dengan fokus terhadap dampak globalisasi
neo-liberal dan alternatif untuk mengatasinya.

APAKAH dialog dan cetak biru tercapai setelah FSD IV
yang setiap hari menggelar satu pertemuan publik, 12
konferensi dan testimoni, serta 300 seminar dan
lokakarya?

Seperti yang dikemukakan Candido Grzybowski, sosiolog
dan Direktur Ibaze-Brasil serta anggota Komite
Internasional FSD, pengalaman luar biasa dalam
berpartisipasi di FSD adalah perasaan bahwa masih ada
ruang untuk berpikir, berbicara, dan didengar, serta
mengusulkan sesuatu dan dihargai. "Sesuatu yang bisa
dikembangkan di tempat tinggal masing-masing dan
menimbulkan perasaan bahwa kita pun merupakan bagian
dari dunia yang ikut menentukan keberlangsungannya,"
katanya.

Namun, ia mengakui bahwa FSD sebenarnya juga berada di
persimpangan jalan. Kekuatan FSD berupa pendapat yang
beragam, kurangnya konsensus, dan pemersatuan cara
pandang, menjadi kelemahan FSD ketika harus
bernegosiasi dengan kekuatan-kekuatan yang lebih
besar. "Maka tantangannya sekarang adalah bagaimana
FSD bergerak dalam kerangka Piagam Prinsip untuk
mendapatkan legitimasi dan mengimplementasikan
dasar-dasar untuk membangun dunia baru yang adil dan
mengakomodasi kepentingan semua pihak," paparnya.

Beberapa pembicara dalam berbagai diskusi panel selama
penyelenggaraan FSD IV, sebenarnya telah menyebutkan
berbagai alternatif yang bisa dilakukan untuk
membangun dunia baru yang diimpikan. Michael Albert,
aktivis pengelola Znet dari AS misalnya, menggagas
ekonomi partisipatif sebagai salah satu alternatif
dari ekonomi globalisasi. Model ekonomi dengan empat
pilar-solidaritas, keberagaman, kesetaraan, dan
kemandirian-menurut Albert bisa lebih efisien dan
demokratis dibanding yang sekarang ini berlangsung.

Atau yang diungkapkan George Monbiot, aktivis dari
Inggris, yang mengingatkan perlunya tindakan global
agar apa yang dilakukan secara lokal menjadi bermakna.
Artinya, keberanian untuk menolak produk dan jasa dari
korporasi internasional terutama yang bermasalah,
menjadi kreatif dan produktif, serta membangun
perekonomian komunitas efektif dan berkelanjutan
sebagai bagian dari tindakan lokal, perlu digemakan
dalam ruang global melalui lobi, membangun jaringan,
dan berbagai moratorium terhadap perjanjian
perdagangan internasional yang tidak adil dan berbasis
keuntungan semata.

Sayangnya, seperti yang menjadi keprihatinan banyak
orang, upaya mewujudkan apa yang disebut sebagai
alternatif ini tidaklah mudah. Walden Bello, aktivis
dari Filipina, tidak sepakat dengan usulan Monbiot dan
memilih menolak IMF, Bank Dunia, maupun WTO. Sementara
pemenang Ekonomi Nobel Joseph Stiglitz justru mengajak
untuk mendekati lembaga-lembaga yang dilahirkan oleh
ekonomi globalisasi itu agar bisa melakukan reformasi
serta membuatnya lebih inklusif dan demokratis. Pakar
lainnya mengusulkan penguatan pada organisasi regional
maupun pembentukan parlemen dunia yang bisa mengoreksi
ketidakseimbangan kekuatan dunia.

Maka seperti yang dikatakan peserta dari Afrika, "Kami
tahu bahwa kami dirugikan oleh lembaga yang namanya
IMF. Tetapi, itu saja tidak cukup. Masih ada tantangan
untuk tidak hanya merasa rugi tetapi mencari cara agar
apa yang disebut another world is possible bisa
terwujud."

Jalan panjang tampaknya harus ditapaki untuk
mewujudkan mimpi, apalagi yang dihadapi adalah suatu
sistem yang sudah mapan dan berlangsung lama.

Mungkin yang paling realistis dari FSD sekarang adalah
menciptakan ruang. Ruang untuk sesaat keluar dari
kepengapan dan mengumpulkan kembali energi dalam
menghadapi kenyataan sehari-hari. (nes/mh)
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0401/26/sorotan/819039.htm

=====
Visit my daughter's homepage at:
http://www.geocities.com/hana_hanifah7


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke