--- In [EMAIL PROTECTED], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 

> Rekan2 sekalian,
> Sesungguhnya, privatisasi tidak berarti bahwa tarif akan murah.


Tarif harga ditentukan dengan supply and demand. Effisiensi
perusahaan yang kita harapkan didalam privatisasi itu. Untuk
mengkontrol supply, salah satu jalan open market kepada semua
investor untuk bisa masuk kesektor tertentu yang diperlukan. Dengan
cara ini supply akan dijamin dan hargapun terkontrol.


Justru
> sebaliknya banyak yang naik. Hal ini disebabkan swasta pasti ingin
untung.
> Tidak mungkin mereka mau kerja bakti untuk hal yang tidak
menguntungkan.


Swasta maupun BUMN pada prinsipnya harus untung, ini namanya
berdagang. Tidak ada seorang didunia ini mau kerja bakti, apalagi di
indonesia. Saya rasa pekerja BUMN juga tidak kerja bakti.


> Apalagi jika yang mengambil alih BUMN kita adalah perusahaan asing


Perusahaan asing atau lokal atau pemerintah, ini tergantung siapa
yang punya uang. Indonesia masih memerlukan banyak uang untuk
pembangunan, kita harus bersyukur bahwa perusahaan asing masih mau
membantu. Tidak perlu menjadikan mereka raja tapi harus dihormati.


> (mengingat konglomerat kita banyak yang kolaps dan berutang), maka
biaya
> operasional akan naik karena standar gaji mereka yang tinggi. Jika
pegawai
> lokal puas dgn gaji Rp 2 juta per bulan, untuk orang asing minimal
Rp 20
> juta. Apalagi jika karyawan expatnya banyak.


Gaji pada umumnya tergantung dari keahlian dan pengalaman seseorang.
Kalau kita menggaji 20 juta tapi bisa menghasilkan pekerjaan yang
bernilai 50 juta, ini artinya effisiensi.


> Oleh karena itu, agar tidak rugi, mereka akan menaikan tarif.


Sudah tentu konsumen yang harus tanggung, kan mereka yang beli
servicenya, tapi supply and demand yang akan mengkontrol tarif dan
ini semua akan dirasakan effeknya diseluruh jajaran perusahaan.


Selain itu,
> mereka juga bisa mengurangi jumlah pekerja, sehingga bisa
menimbulkan
> pengangguran.


Jumlah pekerja ini bisa dilihat dari berapa effisiennya satu
perusahaan. Kalu perusahaan perlunya cuma 10 pegawai, kenapa harus
mencari 40 pegawai.

Pengangguran bukan disebabkan oleh perusahaan, kalu tidak ada
perusahaan ya tidak ada pegawai.

Salah satu solusi pengangguran adalah pemerintah menyediakan suasana
yang kondusive untuk berinvestasi agar banyak investors yang mau
menanamkan modalnya, dan pengangguran pun akan menjadi berkurang.


>Ini menimbulkan masalah sosial tersendiri.


Masalah sosial ini mulainya harus dari pemerintah pusat.

Contoh contoh privatisasi yang menghasilkan kemakmuran untuk rakyat
juga banyak sekali. Amerika negara yang menjungjung tinggi
privatisation and competition bisa menjadi contoh. Sudah tentu setiap
ideologi berdagang gak akan bisa sempurna.


>
> Sesungguhnya BUMN pada dasarnya adalah milik Negara. Milik seluruh
rakyat
> Indonesia. Keuntungan BUMN, akan masuk ke APBN untuk
mensejahterakan rakyat.


Ini sudah membuat asumsi bahwa BUMN akan menguntungkan. In reality
banyak perusahaan yang dipimpin oleh negara malah jadi merugikan
negara itu sendiri. Contohnya Cina, mengapa Cina harus berpindah ke
privatisasi, karena perusahaan pemerintah ini belum ada yang
menguntungkan pemerintah satupun juga. Ini contoh yang paling reality.


>
> Ada pun jika diprivatisasi, entah dgn cara IPO/Go Public, maka
hanya akan
> dimiliki oleh segelintir spekulan pemilik modal.


Setiap perusahaan yang go public bisa dibeli sahamnya oleh seluruh
rakyat indonesia, ya sudah tentu harus punya uang untuk membeli.


Bukan oleh seluruh rakyat
> Indonesia. Keuntungannya hanya dinikmati oleh para pemegang saham.


Pemegang saham itu kan yang menaruh uangnya, mereka yang mengambil
resiko jika perusahaan itu rugi ya pemegang sahamnya juga rugi.
Apakah seluruh rakyat yang lain yang tidak memegang saham itu ada
haknya diperusahaan itu. Mereka tidak menaruh uang mereka, dan kalu
perusahaan rugi, mereka tidak akan rugi, mengapa mereka harus ada
haknya. Kalu semua perusahaan dibayar oleh pemegang saham tapi
dimiliki oleh seluruh rakyat, ya siapa yang mau menanamkan modalnya.


>
> Banyak kasus BUMN yang Go Public, ujung2nya dimiliki oleh Big
Company/asing.
> Contohnya Indosat dan Telkom yang sebagian sahamnya dimiliki oleh
asing.
> Bahkan Indosat 85% sahamnya dipegang oleh swasta/asing. Sementara
pemerintah
> hanya 15%. Preskom Indosat adalah orang Singapura.
>
> Ini tentu menyedihkan, karena Indosat dan Telkom adalah pemegang
monopoli
> satelit di Indonesia. Ini bukan cuma masalah ekonomi belaka, tapi
menyangkut
> kedaulatan negara. Karena wilayah "Frekuensi" untuk komunikasi di
Indonesia
> sudah dikuasai oleh asing. Stasiun TV, penerbangan, perhubungan
laut, Radio,
> telekomunikasi, semuga menggunakan satelit dan wilayah Frekuensi
tsb.


Pemegang saham telkom itu bukan bearti mereka memiliki wilayah
frekuensy di indonesia, tapi mereka mempunyai hak pakai. Dan hak hak
ini harus dibicarakan sebelumnya dengan pemerintah pusat. Kal;au
pemerintah pusat sudah menjual hak nya kepada investors asing ini, ya
siapa yang bodoh.

Saya bersyukur masih ada investors yang mau membeli telkom indonesia
ini, setahu saya telkom ini perusahaan yang hampir bankrut, bad
management, terlalu banyak orang bodoh yang mengatur perusahaan ini. 
Kalau telkom ini perusahaan Amerika, ini sudah dipailit
kan. Jadi harus dicek dulu donk bukunya mereka dan operational nya
mereka, baru tahu bagaimana mereka ini memimpin perusahaan besar ini.

Siapa yang masih ingat dengan transaksi ATT diindonesia. Kita sudah
untung ATT mau membeli asset asset yang termasuk sampah dari telkom
ini.


>
> Dengan dikuasainya Indosat oleh asing, maka segala hal tsb dikuasai
oleh
> asing. Mereka bisa mendengar percakapan telpon para pejabat kita
(bahkan
> presiden), serta melacak lokasinya jika mau. Inilah yang tidak
diperhatikan
> oleh para ekonom Neo Liberal.


Wah kok bisa begitu sih. Memiliki indosat bukan berarti bisa
mendengar pembicaraan presiden donk. Saya masih gak ngerti nih
relevennya.



>
> Saya setuju untuk sektor2 tertentu privatisasi diperlukan. Tapi
sektor yang
> berhubungan dgn hajat hidup orang banyak, keamanan dan kedaulatan
negara,
> Negara harus memegang kendali.


Ini cuma pendapat seseorang saja. Menurut pendapat saya,semuanya ada
aturan mainnya. Kalau anda seorang yang berbisnis, maka anda akan
mengerti apa artinya tawar menawar. Berbisbis dengan siapapun juga
bukan berarti keamanan dan kadaulatan negara di sacrifice. Kedaulatan
negara dan keamanan negara itu hanya bisa dijual oleh pejabat pejabat
itu sendiri, tidak ada orang lain lagi yang bisa



>
> HIDUP dengan mengontrak rumah bersama tiga rekan sopir lainnya,
pendapatan
> Rojikin memang tidak tetap. Saat penumpang ramai, dia bisa membawa
pulang Rp
> 50.000. Namun, begitu penumpang sepi, kerja 20 jam sejak subuh
hingga tengah
> malam, pendapatannya sehari setelah dipotong setoran, kadang hanya
untuk
> makan sehari itu saja.


Apa cerita ini harus ditanggung oleh perusahaan perusahaan atau
pemegang saham nya. Kan tidak ada yang bilang hidup ini harus
gampang, tapi kan yang penting jangan pesimis, harus optimis walaupun
hidup sederhana. Kemampuan seseorang kan berlainan.


>
> Padahal, istri dan dua anaknya yang berada di Tegal menanti kiriman
uangnya.
> "Semua mahal, ongkos mahal, di kampung saja, untuk kebutuhan sehari-
hari
> istri dan anak saya menghabiskan biaya hidup Rp 25.000 sehari,"
katanya.
>
> Membandingkan pendapatannya dengan harga beras yang kini ikut
melonjak,
> Rojikin mengatakan, pemerintah saat ini malah menindas rakyat dengan
> menaikkan harga. "Katanya reformasi, partai wong cilik,
kenyataannya kok
> gini," katanya geram.
>
> Seorang ibu yang menelepon ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI)
> hanya bisa menangis dan bicara sepotong-sepotong mengenai nasibnya.
> "Suaminya baru kehilangan pekerjaan. Kami tidak mampu membayar
listrik
> sehingga listrik dimatikan PLN. Anak yang masih SD dan SMP tidak
bisa
> belajar di malam hari, sementara siangnya harus membantu bekerja,"
kata
> Ketua YLKI Indah Suksmaningsih menirukan ibu tadi.


Maaf ya kalau listrik itu gratis memangnya nanti siapa yang bayar.
walaupun listrik itu dipegang BUMN atau permerintah, apa listrik itu
bisa dikasih gratis? Kan pegawai telkom itu sendiri juga punya family
dan anak, dan ongkos dan segala galanya, seperti yang diceritakan
disini.


Solusinya adalah pemerintah pusat harus membantu menciptakan lowongan
kerja dengan memberikan keamanan yang kondusive untuk para investors,
dan jangan dipakai sendiri uang untungnya, apalagi banyak rakyat yang
masih melarat hidupnya, ya bagi bagi lah.

Tidak ada seorangpun didunia ini yang berkerja keras untuk menolong
orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri, ini harus balance.
seharusnya orang orang yang menulis tentang cerita cerita melaratnya
rakyat indonesia itu menyumbangkan uangnya untuk mereka, apakah ini
akan terjadi?

Manusia itu biasanya paling hebat menuduh orang lain harus begini
harus begitu tapi sendirinya kalu dapat uang juga dikantongin
sendiri, ini cerita kasarnya loh.

Andy
www.Traderpick.com





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke