".......... sekarang berhala itu bermetamorfosis menjadi nama lain yaitu demokrasi salah satunya."
Yang bener!!! Kalau begitu anda tidak mau suara anda mempunyai andil di dalam kehidupan bernegara (itu kan demorasi)? Anda akan nrimo apa yang dikatakan penguasa, tidak perduli apa yg dikatakan penguasa itu betul atau salah, baik atau benar? Anda akan nrimo saja jika penguasa menunjukkan kawannya, saudaranya, kakeknya, cucunya, konconya, untuk memegang jabatan di pemerintahan? Anda akan nrimo saja jika pemerintah menunjukkan dimana anda harus bekerja? (Ini terjadi di RCC dulu, nggak tahu sekarang. Saya tahu betul sebab ada tetangga saya yang kembali ke RCC jaman baheula, dan sesudah lulus dari sekolah, ia dan suaminya di tempatkan di dua tempat yang berlainan, yang jaraknya ribuan mil). Berkembang pesatnya teknologi adalah salah satu hasil dari pada demokrasi. Dan tempat2 dimana teknologi maju dengan sangat pesatnya adalah di negara demokrasi yang bersistim kapitalis. Kalau tidak ada sistim seperti ini, maka salah satu hasil dari demokrasi tsb. pasti belum ada saat ini, yaitu sistim internet, yang anda pakai sekarang ini. amartien --- On Tue 08/31, himawan sutanto < [EMAIL PROTECTED] > wrote: From: himawan sutanto [mailto: [EMAIL PROTECTED] To: [EMAIL PROTECTED] Date: Tue, 31 Aug 2004 12:04:26 +0800 Subject: Re: [ppiindia] Survei Kebebasan Beragama, Memang Bebas ass.wr.wb<br><br>jika rasul SAW silam memerangi berhala latta,uzza, manath, hubal dsb maka<br>sekarang berhala itu bermetamorfosis menjadi nama lain yaitu demokrasi salah<br>satunya.<br><br>wass.wr.wb<br><br>----- Original Message -----<br>From: "Temie Iswanto" <[EMAIL PROTECTED]><br>To: "ppiindia (E-mail)" <[EMAIL PROTECTED]><br>Sent: Monday, August 30, 2004 10:12 AM<br>Subject: Re: [ppiindia] Survei Kebebasan Beragama, Memang Bebas<br><br><br>Date: Sat, 28 Aug 2004 10:11:08 +0200 (CEST)<br>From: dicky riyadi <[EMAIL PROTECTED]><br>Subject: Re: Survei Kebebasan Beragama, Memang Bebas<br><br>tidak beragama tidak apa-apa, pura-pura beragama juga tidak apa-apa, tetapi<br>jangan mengganggu dan menghambat orang lain yg taat beragama. Misalnya<br>mendesain acara pada saat orang harus menunaikan ibadah, menolah time break<br>untuk ibadah, mendesain acara pada saat hari jumat pas jumatan, atau<br>mendesain acara pas genting-gentingya harus ibadah magrib...<br><br>Tuhan juga tidak pernah memaksa manusia untuk beragama, hanya menjelaskan<br>bahwa setiap pilihan ada konsekuensinya.... ada harga yg harus dibayar<br>meskipun manusia tidak ngerti.... kapan Hari Pembayaran<br>itu...........................<br><br>himawan sutanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:<br>dalam negara demokrasi tidak beragamapun merupakan sesuatu yang legal karena<br>agama hanya berlaku untuk pribadi tidak dalam ruang publik<br><br><br>----- Original Message -----<br>From: "Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]><br>To: <[EMAIL PROTECTED]><br>Sent: Friday, August 27, 2004 8:13 PM<br>Subject: [ppiindia] Survei Kebebasan Beragama<br><br>><br>> Sebuah tulisan dari Sukidi Mulyadi Kader Muhammadiyah; Alumnus Ohio<br>University; dan Mahasiswa Teologi di Harvard Divinity School, Harvard<br>University, Cambridge, Amerika<br>><br>> Survei Kebebasan Beragama<br>><br>> TEMA penting yang luput dari perhatian kita, terutama pasangan capres dan<br>cawapres, adalah bagaimana menyajikan model cetak biru tentang format<br>kebebasan beragama dan usaha merajut kerukunan beragama di tengah kenyataan<br>pluralisme agama dewasa ini.<br>><br>> Pada awal 1990-an kita sempat menerima pujian dari sarjana dan pemimpin<br>agama tentang terbentuknya model jalan tengah kerukunan beragama di<br>Indonesia. Namun, tidak lebih dari satu dekade kemudian, model itu ternyata<br>berwatak semu dan rapuh seketika. Konflik memuncak di Ambon di mana variabel<br>agama bertemu dengan struktur sosial-ekonomi dan politik yang timpang.<br>><br>> Relatif minimnya perhatian pemimpin agama dan politik terhadap penembakan<br>Pendeta Susianti Tinulele di Palu pada saat menyampaikan misi profetik<br>keagamaan di Gereja Efatha, justru semakin menegaskan bahwa kita bukan saja<br>miskin cetak biru kebebasan beragama, tapi juga sudah kehilangan rasa<br>kepekaan kemanusiaan kita terhadap pelanggaran hak asasi manusia, terutama<br>hak asasi dalam ekspresi keberagamaan.<br>><br>> Padahal, jika sepenuhnya kita sadari, masa depan kita sebagai bangsa yang<br>plural, lebih-lebih dari segi agama, antara lain akan sangat ditentukan oleh<br>sejauh mana kita bersikap bijak dan tepat dalam mengelola kebebasan dan<br>kerukunan beragama secara demokratis. Hanya saja, selama ini kita belum<br>mendapatkan gambaran besar yang utuh tentang sejauh manakah peringkat<br>kebebasan beragama di Indonesia dibandingkan, misalnya, dengan dunia Islam<br>dan negara-negara Eropa dan Amerika. Sejauh manakah, misalnya juga, korelasi<br>antara penganut agama di suatu negara dengan peringkat kebebasan beragama.<br>><br>> SEJAUH kita belum memiliki indeks peringkat kebebasan beragama yang<br>kredibel, maka, suka tak suka, kita hanya bisa merujuk pada data Freedom<br>House yang dikenal memiliki reputasi internasional dalam menyurvei peringkat<br>demokrasi negara-negara di dunia. Freedom House memiliki divisi Center for<br>Religious Freedom yang bertugas, salah satunya, menyurvei peringkat<br>kebebasan beragama negara-negara di dunia. Iran, Arab Saudi, dan Sudan,<br>misalnya, menempati peringkat "tidak bebas" (unfree) dalam ha l kebebasan<br>beragama. Indonesia, berdampingan dengan Turki dan Mesir, sedikit lebih baik<br>dengan menduduki posisi "bebas sebagian" (partly free). Dua negara<br>Skandinavia, Norwegia, dan Finlandia, bersama Amerika dan negara-negara<br>Eropa seperti Belanda, Inggris, Jerman, dan seterusnya, menempati peringkat<br>"bebas" (free) dalam hal kebebasan beragama.<br>><br>> Data Freedom House melalui Center for Religious Freedom menunjukkan, dunia<br>Islam secara umum masih relatif rendah peringkat kebebasan beragama; jauh<br>tertinggal dengan negara Amerika, Eropa, dan Skandinavia yang "bebas" dalam<br>indeks kebebasan beragama. Negara-negara ini umumnya didominasi oleh<br>Protestan dan Katolik. Secara akademis, bisa diajukan pertanyaan; apakah<br>nilai-nilai dan kultur Protestan dan Katolik memiliki pengaruh signifikan<br>terhadap kultur toleransi, kebebasan, dan demokrasi ketimbang kultur Islam?<br>><br>> Jika kultur toleransi dan kebebasan diletakkan dalam kerangka turunan dari<br>nilai-nilai demokrasi, maka nilai-nilai Protestan dan Katolik memang<br>memiliki kontribusi signifikan terhadap indeks kebebasan beragama. Studi<br>klasik Alexis de Tocqueville (1969) tentang demokrasi di Amerika abad ke-19<br>secara jelas menunjukkan bahwa Kristen, baik dari segi nilai-nilai dan<br>asosiasi-asosiasi sosial-keagamaannya memiliki peran signifikan dalam<br>pengembangan kultur toleransi dan demokrasi di Amerika. Ketika warga negara<br>menjadi individu yang otonom dan aktif, maka gereja berperan sebagai<br>asosiasi-asosiasi sipil yang menjadi wadah kolektif keterlibatan sipil<br>(civic engagement) dalam isu-isu publik. Gereja perlahan-lahan mensinergikan<br>ritus-ritus keagamaan dengan isu-isu publik secara terpadu.<br>><br>> Pengalaman saya dalam panel diskusi di the King Church di Ohio, 13 Mei<br>2003, bersama sejumlah aktivis gereja dan sosial sekaligus, malah sudah<br>bergerak jauh mentransendensikan iman untuk aksi toleransi, pluralisme, dan<br>kemanusiaan. Meski George W Bush begitu beringas menyerbu Irak, tapi pada<br>kutub lain aktivis gereja melakukan aksi kemanusiaan dan perdamaian secara<br>masif. Agama berubah menjadi identitas sosial, dan gereja, dengan demikian,<br>menjadi wadah asosiasi sosial yang berdampak positif terhadap pengembangan<br>kultur toleransi, kebebasan, dan demokrasi.<br>><br>> Ketika Harvey Cox menulis The Secular City tahun 1965, dia memang mulai<br>merekam bahwa kota sekuler menjadi medium perayaan makna kebebasan sipil.<br>Institusi-institusi pendidikan perlahan-lahan terbebas dari intervensi<br>lembaga keagamaan; peradaban kota mulai bangkit bersamaan dengan kematian<br>agama-agama tradisional; dan nilai-nilai manusia mengalami relativisme<br>akibat sekularisasi yang berjalan masif. Namun, dua dekade kemudian,<br>tepatnya 1985, Harvey Cox buru-buru merevisi tesisnya dengan menulis<br>"risalah revisionis" sejarah kebangkitan agama justru di dunia sekuler,<br>Religion in the Secular City, (1985).<br>><br>> Kematian agama di era sekuler memang terlampau prematur diumumkan. Agama,<br>institusi, dan elitenya justru menjadi kampiun konsolidasi demokratisasi di<br>berbagai belahan dunia; Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur. Dalam<br>studinya yang sangat berpengaruh, The Third Wave: Democratization in the<br>Late Twentieth Century (1991), Samuel P Huntington mendokumentasikan bahwa<br>di antara 30 negara yang bertransisi menuju demokrasi antara tahun 1974 dan<br>1990, sekitar tiga perempat justru didominasi Katolik. Dan Katolik kemudian<br>mencatat tinta emas dalam menempati peringkat "bebas" dalam indeks kebebasan<br>beragama. Ini memang pola umum dalam membaca Katolik dalam kaitannya dengan<br>indeks kebebasan beragama dan demokratisasi.<br>><br>> Tentu saja, ada studi-studi kecil yang tak terekam dan atau sengaja<br>dikesampingkan. Misalnya, riset ilmuwan politik Putnam di Italia<br>berkesimpulan bahwa Katolik mempunyai pengaruh negatif terhadap penampilan<br>demokrasi.<br>><br>><br>><br>> MEMANG, Freedom House, dalam hal ini Center for Religious Freedom,<br>mengakui adanya sejumlah kritik dalam surveinya, terutama menyangkut soal<br>metodologi, standar dan isi pertanyaan, dan bias imperialistik terhadap<br>dunia Islam. Survei ini dituduh sebagai modus terbaru cara bekerjanya<br>pengetahuan dan kekuasaan Barat dalam pencitraan dunia Islam. Rendahnya<br>indeks kebebasan beragama di dunia Islam, dengan menggunakan logika ini,<br>dipakai Barat sebagai "instrumen ilmiah" untuk melakukan stereotyping<br>terhadap dunia Islam sebagai tidak toleran dari segi kebebasan beragama dan<br>relatif absen dalam sumbangsih terhadap demokratisasi.<br>><br>> Tesis Edward Said tentang orientalisme sejak 1978 seolah masih berlaku dan<br>malah benar adanya bahwa orientalis adalah agen dan instrumen imperialisme,<br>dan ketertarikannya terhadap pengetahuan, terutama dunia Timur dan Islam,<br>dipakai sebagai sumber kekuasaan untuk memberikan stereotip negatif dan<br>kemudian menjajahnya, entah dalam bentuk kolonialisme, imperialisme, maupun<br>globalisasi. Karena itu, apa yang disebut Said (2003: 316) sebagai "skandal<br>kesarjanaan" sebenarnya merujuk pada perselingkuhan intelektual, terutama di<br>Perancis, Inggris, dan Amerika, yang mengabdikan pengetahuannya kepada<br>penguasa untuk melakukan kolonialisme dan imperialisme di Timur Tengah sejak<br>akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-20.<br>><br>> Namun, jika kita mau lebih adil, kritik itu muncul juga tak terlepas dari<br>tingkat rendahnya peringkat kebebasan beragama di dunia Islam. Terlepas dari<br>adanya bias imperialistik terhadap dunia Islam, tapi akal sehat kita akan<br>berkata yes bahwa Norwegia mempunyai kebebasan beragama yang jauh lebih baik<br>dibandingkan dengan, misalnya, Sudan, Arab Saudi, dan bahkan Indonesia<br>sekalipun. Karena itu, kita sebaiknya memosisikan survei itu sebagai bahan<br>introspeksi ke dalam bahwa ada sesuatu yang sangat mendasar, terkait dengan<br>toleransi dan kebebasan beragama yang harus segera kita benahi bersama-sama.<br>><br>><br>><br>> ---------------------------------<br>> Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher<br>><br>> [Non-text portions of this message have been removed]<br>><br>><br><br><br><br>[Non-text portions of this message have been removed]<br><br><br><br><br>***************************************************************************<br>Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg<br>Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com<br>***************************************************************************<br>__________________________________________________________________________<br>Mohon Perhatian:<br><br>1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)<br>2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.<br>3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;<br>4. Posting: [EMAIL PROTECTED]<br>5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]<br>6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]<br>7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]<br><br>Yahoo! Groups Links<br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br>------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <br>$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.<br>http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM<br>--------------------------------------------------------------------~-> <br><br>***************************************************************************<br>Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com<br>***************************************************************************<br>__________________________________________________________________________<br>Mohon Perhatian:<br><br>1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)<br>2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.<br>3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; <br>4. Posting: [EMAIL PROTECTED]<br>5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]<br>6. No-email _______________________________________________ No banners. No pop-ups. No kidding. Make My Way your home on the Web - http://www.myway.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

