�Sabtu, 04 September 2004  
 
 http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0409/04/fokus/1247996.htm
 

Pendidikan di India
Pusat Keunggulan Menuju Negara Maju 


"Berpikir adalah kemajuan. Tidak berpikir merupakan stagnasi bagi individu, 
organisasi, dan negara. Berpikir mengarahkan pada tindakan. Pengetahuan tanpa tindakan 
tidak ada gunanya dan tidak relevan. Pengetahuan dengan tindakan mengubah kesengsaraan 
menjadi kesejahteraan." Dr Abdul Kalam, Pakar Aeronautika yang Presiden India

SEPANJANG perjalanan kereta api dari New Delhi ke Agra nyaris tidak ada yang menarik 
dipandang. Hujan baru saja turun, tetapi tidak membuat ramah tanah kering dan tandus 
yang terhampar di kawasan pabrik-pabrik di selatan New Delhi. Kampung-kampung yang 
kotor, areal permukiman kumuh dengan ratusan orang di bawah tenda plastik, orang-orang 
miskin yang buang hajat sembarangan, sambung-menyambung di sepanjang perjalanan. 
Sungguh pemandangan yang sangat menyesakkan mata dan hati.

Duduk di depan kami tiga bapak berpenampilan seperti layaknya orang-orang kampung. 
Seorang di antaranya membawa kopor kecil berbahan formika yang pernah populer di 
kalangan pegawai kantor dan anak SD di Indonesia pada tahun 1970-an. Seorang yang lain 
menjinjing kardus berisi setrika listrik tanpa pembungkus. Listrik ternyata masih 
barang mewah bagi kalangan bawah India.

Beberapa saat kami mengobrol dengan seorang bapak yang membawa tas jinjing. Omong 
punya omong, anak perempuan bapak bernama Shubuss itu kini di Jerman, mendapat 
beasiswa untuk studi PhD dalam bioteknologi. Anak keduanya, laki-laki, masih duduk di 
kelas 10, di Indonesia setingkat kelas 1 SMA. Dua tahun lagi kemungkinan akan 
meneruskan ke sekolah kedokteran. Kedokteran merupakan salah satu sekolah yang 
bergengsi di India. Sekolah kedokteran India telah memiliki reputasi internasional. 
Sekitar 30 persen dokter di Amerika Serikat (AS) berasal dari India.

Tak jauh dari tempat kami duduk, seorang pemuda tengah asyik membaca majalah berbahasa 
Hindi yang dicetak dalam kertas koran. Penampilannya sama tidak meyakinkan. Ia hanya 
mengenakan kaus dan celana pendek kolor. Ternyata ia mahasiswa tahun terakhir di 
jurusan ilmu komputer Universitas Delhi. Anak pegawai kereta api itu berencana 
melanjutkan studi master. Untuk program PhD ia akan melanjutkan ke California, AS. 
Adiknya yang lebih dahulu lulus dari Indian Institute of Technology (IIT) Kanpur saat 
ini bekerja di sebuah perusahaan komputer di AS. Ia membayar uang kuliah 10.000 rupee 
(sekitar Rp 2 juta) per tahun. Jumlah itu setara dengan gaji sebulan guru SD di India.

"Untuk ukuran keluarga saya, biaya sekolah di perguruan tinggi tidak mahal, tetapi 
juga tidak murah. Sedang-sedang saja," kata Jitendra Kimas (22).

Shubuss bercerita tentang pendidikan di India yang murah dan banyak perguruan tinggi 
yang bagus-bagus. Melalui pendidikan itu pula, dari anak desa ia menempuh karier 
menjadi guru SD hingga pensiun sebagai kepala sebuah kolese di Hyderabad.

"Industri kami pernah hancur, pertanian pernah gagal, pemerintahan jatuh bangun, 
tetapi kami tetap bertahan. Itu karena kami punya otak," kata Shubuss berapi-api. 
"Pendidikan India mungkin paling murah di dunia. India punya otak yang terbaik."

INDIA merupakan sebuah paradoks. Negara itu kaya akan sumber daya alam, tetapi lebih 
dari 40 persen penduduknya hidup di bawah 1 dollar AS per hari. India memiliki begitu 
banyak ahli bidang teknik. Sejumlah 30 persen dokter di AS dan para pekerja teknologi 
informasi serta ahli teknik menguasai perusahaan-perusahaan penting di AS. Banyak 
orang India menduduki posisi bagus di organisasi internasional. Namun, hampir 40 
persen atau lebih dari 350 juta orang dewasa di India buta huruf, hampir 40 persen 
anak putus sekolah setelah kelas lima, dan lebih dari 55 persen putus sekolah setelah 
kelas delapan. Indeks Pembangunan Manusia India berada di peringkat 127, jauh di bawah 
Indonesia yang berada di peringkat 111.

Kemajuan India dalam ilmu pengetahuan dan teknologi telah diakui dunia. Negara itu 
telah melahirkan sejumlah pemenang Nobel: Amartya Sen (ekonomi), Subrawanian 
Chandrashekar dan Chandrashekar Venkataraman (fisika), Hargobind Khorana (kedokteran). 
Dua warga India lainnya, Bunda Theresa memenangi Nobel Perdamaian dan Rabindranath 
Tagore di bidang sastra.

Di tengah persoalan kemiskinan yang membayangi India dari masa ke masa, Pemerintah 
India konsisten mengembangkan pusat-pusat keunggulan di tingkat universitas sejak awal 
kemerdekaan. Tiga tahun setelah kemerdekaannya, pada tahun 1951, parlemen India 
menetapkan Institut Teknologi India di Karagpur sebagai pusat keunggulan nasional. 
Semua dana pembangunan dan operasional sepenuhnya disokong oleh pemerintah pusat. 
Institut teknik yang sama dibentuk di lima kota lain yang tersebar di sejumlah 
wilayah, dari utara sampai selatan negeri itu. Pada tahun 2001 Universitas Roorkee 
yang berada di bawah urusan pemerintah Negara Bagian Uttar Pradesh diangkat statusnya 
oleh parlemen menjadi salah satu pusat unggulan nasional. Namanya berubah menjadi IIT 
Roorkie, menyejajarkan diri dengan enam IIT yang sudah ada.

Keberadaan IIT yang didukung penuh secara finansial oleh pemerintah pusat itu sangat 
besar peranannya menciptakan kumpulan besar teknisi dan pakar teknologi di India. 
Selain IIT, sejumlah universitas juga memiliki fakultas bidang sains dan teknik yang 
cukup bagus dan lulusannya diperhitungkan di pasar kerja tingkat dunia. Kumpulan para 
profesional di bidang teknik, khususnya teknologi informasi, menyerbu AS. Sekitar 30 
persen pekerja perusahaan perangkat lunak raksasa Microsoft di AS berasal dari India, 
meski Bill Gates hanya menyebut angka sekitar 20 persen. Tidak sedikit pula ahli sains 
dan teknologi dari India menjadi pengajar di universitas top AS. Para profesional 
teknik dari India diperhitungkan di tingkat dunia.

Semula kepergian orang- orang pintar India ke AS itu dikeluhkan dan dirisaukan 
menjadikan India mengalami brain drain. Orang-orang India yang menyerbu kesempatan 
bekerja di negara-negara maju itu tidak hanya menyumbang devisa yang tidak sedikit 
bagi India. Sebagian dari mereka kembali ke India dengan modal uang dan keahlian yang 
dimiliki. Mereka membentuk perusahaan-perusahaan perangkat lunak komputer di 
Bangalore, kawasan selatan India, yang dijuluki sebagai lembah silikon India, 
mengingatkan kita pada lembah silikon di Amerika Serikat. Keberhasilan itu makin 
memacu minat anak-anak muda India berlomba masuk universitas teknik yang makin membuka 
lebar pintu ambisi negara itu menjadi raksasa dunia dalam industri perangkat lunak.

Industri piranti lunak di India berkontribusi besar bagi perekonomian India. Pada 
tahun 2002 industri piranti lunak di India menghasilkan 10 miliar dollar AS, dengan 
pasar domestik 2 miliar dollar AS, masih memberikan sumbangan 16 persen dari total 
ekspor dari negara itu.

Bukan hanya pendidikan tinggi teknik keunggulan negara miskin itu. Sekolah-sekolah 
kedokteran di India diselenggarakan dengan standar internasional sehingga lulusannya 
pun bisa memperoleh pekerjaan di luar India. Sekitar 30 persen dokter di AS adalah 
orang India. Sekolah bisnis dan manajemen di India juga mulai diperhitungkan. Menyusul 
ketenaran IIT, enam Institut Manajemen India telah mencapai reputasi internasional 
dalam beberapa tahun belakangan. Institut Manajemen India Ahmedabad disejajarkan 
dengan lulusan sekolah bisnis Harvard (salah satu terbaik di dunia) dan lulusan 
terbaiknya diperebutkan perusahaan multinasional dengan gaji sangat tinggi.

Pendidikan tinggi di India tidak banyak meninggalkan masalah. Meskipun, menurut Dekan 
Fakultas Pendidikan Universitas Jamia Millia Islamia Prof Mohammad Miyan, pendidikan 
tinggi di India masih harus lebih banyak diarahkan untuk menghasilkan profesional di 
bidang teknik bukan sarjana-sarjana ilmu sosial. Pendapat senada dikemukakan profesor 
bidang matematika Jamia Millia Islamia Ny Kum Kum Dewan. Sejauh menyangkut pendidikan 
tinggi, kata Dewan, pendidikan di India tidak masalah. Masalah besar pendidikan di 
India adalah pendidikan untuk masyarakat di tingkat rakyat jelata.

"Angka putus sekolah di India masih sangat besar. Bila anak putus sekolah di kelas 
empat atau kelas lima, apa yang bisa diperbuat untuk masa depannya?" kata Dewan.

KEMAJUAN dalam sains dan teknologi yang dicapai oleh India itu memberikan inspirasi 
bagi pakar aeronautika India Dr Abdul Salam memunculkan gagasan Visi India 2020: Visi 
untuk Milenium Baru yang bukunya terbit pada tahun 1998. India, kata Kalam, akan 
menjadi negara maju pada tahun 2020. Pemikiran Kalam cukup provokatif. Sumber daya 
alam India cukup menjanjikan, segudang pakar dan profesional teknik tersedia di India, 
negara itu juga sudah mencapai kemajuan dalam pengembangan program ruang angkasanya, 
tetapi indeks pembangunan manusia masih tergolong buruk. Sekitar 25 persen penduduknya 
masih hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal berserakan di tenda-tenda kotor tanpa 
air bersih; angka buta huruf tinggi dan pendidikan dasar belum menjangkau semua orang. 
Dalam banyak hal, India lebih parah dari Indonesia.

Meski masih menghadapi berbagai persoalan besar, Abdul Kalam pada tahun 1998 
mengemukakan bahwa sangat mungkin India menjadi negara maju dalam 15 sampai 20 tahun 
ke depan. India, kata Kalam, bisa mentransformasikan perekonomiannya menjadi satu dari 
lima terbesar di dunia. Pada saat itu India akan menjadi negara maju di mana 
masyarakatnya hidup jauh di atas garis kemiskinan, standar kesehatan dan pendidikannya 
tinggi, keamanan nasional terjamin, dan kompetensi di sejumlah bidang tercapai 
sehingga bisa menghasilkan produk berkualitas.

Apa yang diperlukan untuk mencapai itu semua? "Kekuatan teknologi bangsa ini yang 
menjadi kunci untuk mencapai status negara maju. Perhatian yang memadai perlu 
diberikan untuk membangun kader-kader sumber daya manusia khusus di negara ini," kata 
Kalam dalam sebuah bukunya.

Pada tahun 1999 ia masuk menjadi salah satu anggota kabinet dan terpilih menjadi 
presiden India ke-11, Juli 2002. Kalam merupakan pemimpin inspiratif yang mencoba 
mentransformasikan India dari negara sedang berkembang menjadi negara maju pada tahun 
2020. Dalam berbagai kesempatan Kalam memberi penekanan pada pengembangan teknologi 
dan perhatian yang lebih besar pada pendidikan di India.

Saat berpidato di peringatan Hari Kemerdekaan India 14 Agustus lalu, Kalam memberikan 
penekanan khusus pada ihwal pendidikan. Lebih dari 75 persen waktunya dipergunakan 
untuk berbicara tentang pendidikan. Berbagai masalah seperti hubungan luar negeri, 
pertahanan, dan ekonomi, hanya disinggung di satu alinea dalam pidato kenegaraannya, 
tetapi pendidikan dibicarakan tidak kurang dari 17 alinea. Dalam pidatonya Kalam 
mendorong peningkatan anggaran pendidikan di India dari empat persen produk domestik 
bruto menjadi tujuh sampai delapan persen untuk memberantas buta huruf, putus sekolah, 
dan pendidikan dasar bagi semua.

Visi pendidikan yang kuat juga mewarnai lembaga peradilan di India. Baru-baru ini 
Mahkamah Agung India mengabulkan gugatan sejumlah warga masyarakat dan memerintahkan 
sekolah-sekolah swasta di New Delhi mengalokasikan 25 persen bangku sekolah untuk 
kalangan jelata secara cuma-cuma. Keputusan ini cukup kontroversial, tetapi mulai 
tahun ajaran baru ini pemerintah dan sekolah-sekolah swasta tunduk mengikuti perintah 
pengadilan.

Apakah India akan berhasil mengatasi kemiskinan dan meningkatkan pendidikan di 
kalangan masyarakat bawah dan akan menjadi negara maju pada tahun 2020? Terlepas ya 
atau tidak, visi yang disampaikan Kalam dan para negarawan di India mempertajam arah 
ke mana India dibawa ke depan. Teknologi dan pendidikan menjadi kunci utama bagi 
transformasi negara itu dari negara sedang berkembang menjadi negara maju.

Celakanya, Indonesia tak punya presiden atau calon presiden yang memiliki visi kuat 
dalam pendidikan. Tidak heran bila pendidikan di Indonesia seperti angsa patah sebelah 
sayapnya. Tidak bisa terbang. Di tengah kolam ia hanya bisa berputar-putar tanpa 
beranjak di tempat yang sama. (P BAMBANG WISUDO)
 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke