Khilafah Di Mata Para 'Ulama
      Oleh: Syamsuddin Ramadhan al-Nawiy

      hayatulislam.net - Menegakkan Kembali Khilafah Islamiyyah

      Menegakkan kembali khilafah Islamiyyah merupakan kewajiban syar'iy bagi seluruh 
kaum muslim. Alasan-alasan mengapa kaum muslim wajib berjuang menegakkan kembali 
khilafah Islam adalah sebagai berikut.

      1. Perintah untuk mentaati pemimpin. Al-Qur'an di banyak ayat telah mewajibkan 
kaum muslim untuk mentaati seorang pemimpin (ulil amriy). Allah swt berfirman:

      "Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah RasulNya dan ulil 
amri (pemimpin) diantara kamu." (Qs. An-Nisaa' [4]: 59).

      Ibnu 'Athiyyah menyatakan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk taat kepada 
Allah, RasulNya dan para penguasa. Pendapat ini dipegang oleh jumhur para 'ulama: Abu 
Hurairah, Ibnu 'Abbas, Ibnu Zaid dan lain sebagainya (Ibnu 'Athiyyah, al-Muharrir 
al-Wajiiz, juz 4/hal. 158). Yang dimaksud dengan penguasa di sini adalah khalifah atau 
imam.
      Ali Ash-Shabuni menyatakan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk mentaati 
penguasa (khalifah) mukmin yang selalu berpegang teguh kepada syariat Allah swt. 
Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiyat kepada Allah swt (Ali 
Ash-Shabuniy, Shafwaat al-Tafaasir, juz I/285).

      Meskipun manthuq ayat ini berisikan perintah untuk mentaati pemimpin, namun ayat 
di atas menyiratkan dengan jelas kewajiban untuk mengangkat seorang pemimpin 
(khalifah). Pengertian semacam ini bisa dipahami dengan memperhatikan dalalah iltizam 
yang melekat pada ayat tersebut (Lihat Taqiyyuddin Al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah 
al-Islamiyyah, juz III/173-176; bandingkan pula dengan Imam Syaukani, Irsyadul Fuhul 
ila Tahqiiq al-Haq min 'Ilm Al-Ushul; al-Amidiy, Al-Ihkaam fi Ushul al-Ahkaam). 
Perintah untuk taat kepada penguasa sekaligus merupakan perintah untuk mengangkat 
seorang pemimpin. Sebab, Allah swt tidak mungkin memerintahkan untuk mentaati pemimpin 
sementara itu pemimpinnya tidak ada atau belum diangkat. Atas dasar itu, ayat ini 
merupakan dalil wajibnya kaum muslim mengangkat seorang pemimpin (khalifah), agar 
mereka bisa memberikan ketaatan kepada ulil amri. Tanpa mengangkat khalifah (ulil 
amri) mustahil mereka bisa memberikan ketaatan.

      2. Perintah untuk berhukum dengan aturan-aturan Allah swt secara menyeluruh dan 
sempurna. Allah swt telah berfirman, artinya:

      "Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Iislam secara menyeluruh. 
Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang 
nyata bagi kamu." (Qs. Al-Baqarah [2]: 208).

      Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: "Allah swt telah 
memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi 
system keyakinan Islam ('aqidah) dan syari'at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya 
dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu." (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu 
Katsir, I/247). 

      Imam al-Nasafiy menyatakan bahwa, ayat ini merupakan perintah untuk senantiasa 
berserah diri dan taat kepada Allah swt atau Islam (Imam al-Nasafiy, Madaarik 
al-Tanzil wa Haqaaiq al-Ta'wiil, I/112).

      Imam Qurthubiy menjelaskan bahwa, lafadz "kaaffah" merupakan "haal" dari dlamiir 
"mu'miniin". Makna "kaaffah" adalah "jamii'an" (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, 
III/18). 

      Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa'labah, 
'Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan kepada 
Rasulullah saw agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka. 
Selanjutnya, permintaan ini dijawab oleh ayat tersebut di atas. 

      Imam Thabariy menyatakan: "Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang 
beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syari'at Islam 
secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satupun hukum yang merupakan bagian dari 
hukum Islam." (Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337). 

      Penerapan syariat Islam hanya akan sempurna dengan adanya institusi Khilafah 
Islamiyyah. Atas dasar itu, eksistensi Khilafah Islamiyyah merupakan keniscayaan bagi 
sempurnanya penerapan hukum-hukum Islam. Tanpa Khilafah, syariat Islam tidak akan 
pernah bisa diterapkan secara sempurna. Dari sini pula kita bisa menyimpulkan bahwa 
hukum menegakkan kembali syariat Islam adalah wajib. 

      3. Persatuan dan kesatuan kaum muslim (Mauqif Bani al-Marjah, Shahwah al-Rajul 
al-Mariidl, hal. 376). Islam mewajibkan kesatuan dan persatuan kaum muslim dan 
melarang keterpecah-belahan (tafarruq). Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab sahihnya: 
Utsman bin Abi Syaibah telah bercerita kepada kami bahwa Yunus bin Abi Ya'fur telah 
bercerita kepada kami dari bapaknya dari Arfajah berkata: Aku mendengar Rasulullah saw 
bersabda: Siapa saja yang datang kepada kamu sekalian --sedangkan urusan kalian berada 
di tangan seorang (khalifah)-- kemudian dia hendak memecah-belah kesatuan jamaah 
kalian, maka bunuhlah dia."

      Dalam hadits ini dituturkan dengan sangat jelas, bahwa kesatuan kaum muslim 
(jama'ah muslim) dikaitkan dengan khalifah. Artinya, kesatuan kaum muslim hanya akan 
tertegak jika telah dibai'at seorang khalifah yang akan memimpin seluruh kaum muslim. 
Bahkan, Rasulullah saw mengancam siapa saja yang hendak memecah belah kesatuan kaum 
muslim dengan hukuman bunuh.

      4. Khilafah adalah instrumen yang akan menyelesaikan persengketaan yang terjadi 
di tengah-tengah masyarakat. Persengketaan dan perselisihan diantara kaum muslim dalam 
masalah apapun akan bisa dituntaskan jika ada pihak yang memutuskan perselisihan 
tersebut. Khalifah adalah pihak yang secara syar'iy akan menyelesaikan seluruh 
persengketaan dan perselisihan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Dalam sebuah 
kaedah ushul fiqh disebutkan "Amrul imaam yarfa'u al-khilafah (perintah imam 
[khalifah] dapat menyelesaikan persengketaan)". (ibid, hal. 376).

      5. Banyak riwayat yang menyiratkan wajibnya kaum muslim mengangkat seorang 
khalifah yang akan mengatur urusan mereka. 

      Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab sahihnya: Zahir bin Harb dan Ishaq bin 
Ibrahim telah bercerita kepada kami, Ishaq berkata telah memberi khabar kepada kami 
dan Zahir berkata telah bercerita kepada kami Jarir dari A'masy dari Zaid bin Wahab 
dari Abdurrahman bin Abdu Rabil Ka'bah berkata: Aku masuk dalam masjid, dan ketika 
Abdullah bin Amru bin 'Ash duduk di naungan Ka'bah dan manusia mengelilinginya, aku 
menghampirinya lalu aku duduk di hadapannya, kemudian dia berkata: Kami pernah bersama 
Nabi saw dalam suatu perjalanan, kemudian kami singgah di suatu tempat 
persinggahan,......ketika seseorang menyeru untuk shalat berjamaah, kami kemudian 
berkumpul di sekeliling Rasulullah saw. Lalu Rasul bersabda: Sesungguhnya tiada 
seorang Nabi sebelumku kecuali mereka memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan 
umatnya kepada kebaikan, dan mengingatkan dari keburukan dari apa diketahuinya bagi 
mereka. Sampai kemudian Nabi bersabda : Siapa saja yang telah membai'at seorang Imam 
lalu memberikan uluran tangan dan buah hatinya, maka hendaknya ia mentaatinya. Jika 
datang orang lain hendak mengambil alih kekuasaannya, maka penggallah leher orang itu."

      Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab sahihnya, berkata Imam Muslim: Muhammad bin 
Basyar telah bercerita kepada kami bahwa Muhammad bin Ja'far telah bercerita kepada 
kami bahwa Syu'bah telah bercerita kepada kami dari Faratul Qazaz dari Abi Hazm 
berkata: Aku telah mengikuti majelis Abu Hurairah selama lima tahun, dan suatu saat 
aku pernah mendengarnya menyampaikan sebuah hadits dari Nabi saw telah bersabda: Dulu 
Bani Israil selalu diurusi oleh para Nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, segera 
digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada lagi Nabi sesudahku, 
(tetapi) nanti akan muncul banyak khalifah. Para shahabat bertanya, apakah yang engkau 
perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: Penuhilah bai'at yang pertama dan yang 
pertama itu saja."

      6. Ijma' shahabat ra juga menunjukkan dengan jelas kewajiban untuk mengangkat 
seorang imam (khalifah) bagi kaum muslim (Ibnu Ishaq meriwayatkan, "Ketika Rasulullah 
saw wafat, kaum Anshor berpihak kepada Sa'ad bin Ubadah di saqifah Banio Sa'idah, 
sedangkan Ali bin Abi Thalib bersama Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah 
menyendiri di rumah Fathimah. Sedangkan kaumMuhajirin berkubu kepada Abu Bakar, Umar 
dan Usaid bin Hudlair di Bani Abdul Asyhal. Tiba-tiba seseorang mendatangi Abu Bakar 
dan Umar bin Khaththab dan berkata, "Sesungguhnya kaum Anshor telah berpihak kepada 
Sa'ad bin Ubadah di saqifah Bani Sa'idah. Jika kalian ada keperluan dengan mereka, 
segeralah pergi ke tempat mereka, sebelum perkara ini semakin membesar. "Saat itu, 
jenazah Rasulullah saw belum diurus dan pintu rumah beliau ditutup keluarga beliau." 
[Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu Hisyam]).

      Perhatian generasi awal Islam terhadap urusan khilafah dan pengangkatan seorang 
khalifah sangatlah besar. Sampai-sampai, mereka mendahulukan urusan pengangkatan 
seorang khalifah dan menunda penguburan jenazah Rasulullah saw. Sebagian besar 
diantara mereka menyibukkan diri untuk mengangkat seorang khalifah yang akan memimpin 
seluruh kaum muslim. Sedangkan shahabat-shahabat lain yang bertugas mengurusi jenazah 
Rasulullah saw (Ibnu Ishaq berkata, "Setelah Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah, kaum 
muslim mulai mengurus jenazah Rasulullah saw pada hari Selasa. Para shahabat yang 
memandikan jenazah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, Al-'Abbas bin Abdul 
Muthalib, al-Fadl bin 'Abbas bin Abdul Muthalib, Qutsam bin al-'Abbas, Usamah bin Zaid 
bin Haritsah, dan Syuqran mantan budak Rasulullah saw." [Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu 
Hisyam]). Namun demikian shahabat yang mengurusi jenazah Rasulullah saw menunda 
penyemayaman hingga para shahabat yang ada di Saqifah Bani Sa'idah menyelesaikan 
urusan mereka (mengangkat seorang khalifah).

      Pada saat di saqifah Bani Sa'idah, kaum Muhajirin dan Anshor saling 
berargumentasi menunjukkan kelebihan mereka. Masing-masing berusaha menyakinkan pihak 
yang lain bahwa dirinya adalah orang yang lebih berhak menduduki jabatan kekhilafahan. 
Akhirnya, setelah melalui perdebatan yang sangat lama dan alot akhirnya pertemuan 
Saqifah berhasil mengangkat (membai'at) Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah 
pengganti Rasulullah saw. Setelah selesai melakukan pemilihan Khalifah, mereka segera 
kembali ke kediaman Rasulullah dan segera menyelenggarakan jenazah beliau saw. Waktu 
itu, jenazah Raulullah saw baru disemayamkan setelah 2 hari tiga malam, yakni setelah 
pemilihan di Saqifah selesai (Lihat Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu Hisyam. Bandingkan juga 
dengan Taqiyyuddin al-Nabhani, diperluas oleh 'Abdul Qadim Zallum, Nidzaam al-Hukmi fi 
Al-Islaam, hal 75-78).

      Fragmen sejarah di atas telah menunjukkan kepada kita betapa besar perhatian 
para shahabat terhadap khilafah dan pengangkatan seorang Khalifah. Ijma' shahabat ini 
membuktikan bahwa kaum muslim benar-benar diwajibkan untuk mengangkat seorang imam 
atau Khalifah.

      Seluruh argumentasi di atas telah menyakinkan diri kita bahwa kewajiban 
menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah merupakan puncak tertinggi pengabdian seorang 
muslim kepada Rabbnya. Sebab, dengan tertegaknya khilafah Islamiyyah hukum Islam bisa 
diterapkan secara sempurna di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, Khilafah 
Islamiyyah merupakan jaminan bagi tersebarnya risalah Islam ke seluruh penjuru dunia, 
terbidasnya seluruh kedzaliman dan kebodohan, serta terwujudnya kesatuan kaum muslim 
dalam bentuk ummatan wahidah. 
      Atas dasar itu, seorang muslim diharamkan mengabaikan persoalan yang sangat 
penting ini. Mengabaikan, menganggap remeh, dan menelantarkan kewajiban menegakkan 
kembali khilafah Islamiyyah bisa dianggap sebagai kejahatan terbesar yang akan 
diganjar siksa pedih. 


      Pendapat Ulama Tentang Kewajiban Menegakkan Khilafah Islamiyyah
      a. Ulama-Ulama Salaf

      Ulama-ulama generasi awal Islam yang hidup di kurun terbaik telah memberi 
perhatian yang sangat besar terhadap urusan kekhilafahan. Shahabat-shahabat besar 
seperti Abu Bakar, Umar, 'Utsman, 'Ali ra dan shahabat-shahabat besar lainnya bergegas 
mengangkat seorang khalifah tatkala khalifah sebelumnya mangkat atau karena ada 
sebab-sebab syar'iy lainnya (Lihat Imam Thabariy, Tarikh al-Umam wa al-Muluuk).

      Mereka juga banyak meriwayatkan hadits-hadits yang berbicara tentang Khilafah 
dan Khalifah. Perhatikan riwayat-riwayat berikut ini.

      "Sesungguhnya tidak ada Nabi setelah aku, dan akan ada para khalifah, dan banyak 
(jumlahnya)." Para shahabat bertanya, "Apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Nabi 
saw menjawab, "Penuhilah bai'at yang pertama, dan yang pertama. Dan Allah akan 
bertanya kepada mereka apa-apa yang mereka pimpin." [HR. Muslim].

      Para shahabat juga selalu menjaga eksistensi Khilafah Islamiyyah sepanjang hidup 
mereka. Jika seorang khalifah mangkat, kaum muslim harus segera mengangkat khalifah 
baru, sebagai bentuk manifestasi dari sabda Rasulullah saw, artinya, "Barangsiapa mati 
tanpa seorang imam, maka matinya, mati jahiliyyah." [HR. Ahmad].

      Mereka juga menuturkan sabda Rasulullah, "Jika kalian menyaksikan seorang 
khalifah, hendaklah kalian taat, walaupun (ia) memukul punggungmu. Sesungguhnya jika 
tidak ada khalifah, maka akan terjadi kekacauan." [HR. Thabaraniy].

      'Umar bin Khaththab ra sendiri bahkan memilih sekelompok pemuda yang 
dipersenjatai dengan pedang untuk mengawasi tim formatur pemilihan Khalifah yang 
dipimpin oleh 'Abdurrahman bin 'Auf. Beliau ra berpesan kepada pemuda-pemuda tersebut 
untuk memenggal tim formatur jika dalam jangka 2 hari tiga malam mereka tidak berhasil 
mengangkat seorang khalifah. Padahal, anggota tim formatur tersebut adalah 
shahabat-shahabat yang telah dijamin masuk surga. Namun demikian, tak satupun shahabat 
mengingkari keputusan 'Umar ini. Ini menunjukkan bahwa para shahabat rela 
mempertaruhkan segenap jiwanya untuk mengangkat seorang Imam atau Khalifah ('Abdul 
Qadim Zallum, Nidzaam al-Hukm fi al-Islaam, hal. 81-82).

      Sebagian shahabat-shahabat setelah periode khulafaur rasyidin memilih untuk 
tidak melepaskan dirinya dari penguasa-penguasa fasiq dan dzalim demi menjaga keutuhan 
dan kemashlahatan kaum muslim. Ini menunjukkan betapa mereka sangat memperhatikan 
urusan kekhilafahan dan berusaha menjaganya dengan sepenuh jiwa dan keyakinan. Dalam 
sebuat riwayat dituturkan bahwa Ibnu 'Umar ra dan mayoritas ahlul bait termasuk 
orang-orang yang tidak menolak untuk membaiat Yazid bin Mua'awiyyah dan mereka tidak 
pernah membaiat seorangpun setelah mereka menyerahkan ketaatan kepada Yazid (Riwayat 
ini dituturkan oleh Imam Ahmad. Imam Ahmad menyatakan, "Telah meriwayatkan kepada kami 
Ismail bin Aliyah; telah meriwayatkan kepada saya Shakhr bin Juwairiyyah, dari Nafi', 
ia berkata, "Ketika orang-orang berlepas diri dari Yazid bin Muawiyyah, Ibnu 'Umar 
mengumpulkan anak-anak dan sanak keluarganya, kemudian ia berkata, "Saya membaiat 
lelaki ini (Yazid) atas dasar baiat kepada Allah dan RasulNya." Riwayat ini juga 
dituturkan oleh Imam Muslim dan Tirmidziy. Imam Tirmidziy menshahihkan hadits ini). 
Pendapat semacam ini juga dipegang oleh Mohammad bin Hanafiyyah.

      Generasi kedua memiliki sikap yang sama dengan generasi-generasi sebelumnya. 
Banyak riwayat menunjukkan betapa besar perhatian mereka terhadap Khilafah Islamiyyah. 
Perhatian yang sangat besar terhadap urusan pemerintahan ini telah mendorong mereka 
untuk selalu menjaga eksistensi dan kelanggengannya. Mereka tetap taat kepada para 
khalifah yang telah dibaiat oleh umat dan selama mereka memerintah dengan hukum-hukum 
Allah Swt, meskipun kepribadian para Khalifah tersebut buruk dan merusak. 

      Generasi kedua, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Mohammad bin Ismail, Mohammad bin 
Idris, Ahmad bin Nuh, Ishaq bin Raahawiyah, dan lain-lain memberikan perhatian yang 
sangat besar atas kelangsungan pemerintahan Islam. Mereka memahami bahwa tanpa 
khalifah, agama ini tidak akan sempurna. Untuk itu, mereka lebih memilih untuk 
memberikan ketaatan kepada Khalifah fajir, semampang mereka masih menerapkan 
hukum-hukum Allah Swt (Al-Dararu al-Sunniyah fi al-Ajwabah al-Najdiyah, juz 7/hal. 
177-178). Sebab, tatkala para Khalifah masih menerapkan hukum Islam, maka 
kemashlahatannya adalah untuk dirinya dan kaum muslim. Sedangkan kefasikannya hanya 
membahayakan dirinya sendiri (Thabaqaat al-Hanaabilah, juz 2/36).

      Imam Hasan al-Bashriy dalam kitab al-Sunnah mengatakan, "Siapa saja yang diberi 
kewenangan untuk menduduki jabatan Khilafah berdasarkan kesepakatan dari umat (ijma'), 
dan umat telah ridlo kepada dirinya, maka ia adalah pemimpin atas kaum mukmin. Tak 
seorangpun boleh berdiam diri -meskipun semalam saja--, sementara itu ia tidak 
mengenal imamnya, baik pemimpinnya itu berperilaku baik maupun buruk.. Pendapat 
semacam ini juga dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal." (Imam Ahmad menyatakan, 
"...Siapa saja yang berhasil mengalahkan seorang wali dengan perang (pedang), hingga 
dirinya diangkat menjadi seorang khalifah dan diberi gelar amirul mukminin, maka tak 
seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, boleh berdiam diri meskipun 
semalam, sementara itu ia tidak tahu bahwa orang tersebut adalah seorang Imam, baik 
orang tersebut baik maupun fajir..." Abu Ya'la, al-Ahkaam al-Sulthaaniyyah, hal.23. 
Keyakinan semacam ini telah dipegang oleh para ulama salaf. Lihat juga Abu Ya'la, 
Thabaqaat al-Hanaabilah, juz I/ 241-242).

      Dalam kesempatan yang lain, Imam Hasan al-Bashriy berkomentar mengenai 
penguasa-penguasa, "Mereka adalah pihak yang akan menjalankan lima urusan kita; 
menyelenggarakan sholat Jum'at, jama'ah, sholat Ied, menjaga tapal batas negara, dan 
memberlakukan hudud. Demi Allah, agama ini tidak akan sempurna tanpa mereka 
(penguasa), meskipun mereka suka berbuat dosa dan dzalim." (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, 
Adab al-Hasan al-Bashriy, hal. 121. Lihat pula Jaami' al-'Uluum wa al-Hikam, juz 
2/117).


      b. Ulama-ulama Khalaf Dan Mutaakhirin

      Imam Abu Ya'la Mohammad al-Husain Al-Firaiy al-Hanbaliy menyatakan, "Mengangkat 
khalifah merupakan kewajiban." (Imam Abu Ya'la Mohammad al-Husain Al-Firaiy 
al-Hanbaliy, Al-Ahkaam al-Sulthaaniyyah, hal. 19). 

      Imam Ahmad berkata, "Akan ada fitnah yang sangat besar jika tidak ada imam yang 
mengurusi urusan masyarakat." (Ibid, hal. 19. Keterangan Imam Ahmad ini terdapat di 
dalam riwayat Mohammad bin 'Auf bin Sofyan al-Himashiy).

      Imam Ibnu Taimiyyah berkata, "Harus dipahami bahwa wilayat al-naas (mengurus 
urusan masyarakat -tertegaknya Khilafah Islamiyyah) merupakan kewajiban teragung 
diantara kewajiban-kewajiban agama yang lain, bahkan agama ini tidak akan tegak tanpa 
adanya khilafah Islamiyyah." (Imam Ibnu Taimiyyah, al-Siyaasat al-Syar'iyyah. Lihat 
pada Mauqif Bani al-Marjah, Shahwah al-Rajul al-Maridl, hal. 375).

      Imam Mawardiy menyatakan, "Khilafah berkedudukan sebagai wakil nubuwwah..ia juga 
bertugas menjaga agama dan kehidupan dunia...ia adalah sistem pemerintahan yang harus 
ditegakkan berdasarkan ijma'..mengangkat seorang khalifah hukumnya adalah wajib atas 
jama'ah al-Islamiyyah." (Abu al-A'laa al-Maududiy, Al-Hukumah al-Islamiyyah, 
al-Mukhtaar al-Islamiy, cet-I, tahun 1977, diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh Ahmad 
Idris).

      Imam Al-Ghazaliy berkata, "Kita tidak mungkin bisa menetapkan sesuatu perkara 
ketika negara tidak lagi memiliki imam dan peradilan telah rusak." (Imam Al-Ghazali, 
Ihyaa' 'Uluum al-Diin, lihat juga syarahnya oleh Al-Zabidiy, juz 2/233).

      Pendapat-pendapat senada juga diketengahkan oleh 'ulama-'ulama besar lain 
semisal, Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim, Tirmidziy, Thabaraniy dan ashhab al-sunan 
lainnya; Imam al-Zujaj, Abu Ya'la al-Firaiy, al-Baghawiy, Zamakhsyariy, Ibnu Katsir, 
Imam al-Baidlawiy, Imam Nawawiy, al-Thabariy, Qurthubiy, Ibnu Khaldun, Imam 
al-Qalqasyandiy, dan lain-lain (Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-'Arab, hal. 26; Imam 
Qalqasyandiy, Maatsirul al-Inafah fi Ma'aalim al-Khilafah, juz I/16; Imam 
Zamakhsyariy, Tafsir al-Kasysyaaf, juz 1/hal.209; Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quraan 
al-'Adzim, juz 1/hal. 70; Imam al-Baidlawiy, Anwaar al-Tanziil wa Asraar al-Ta`wiil, 
hal. 602; Imam Thabariy, Tharikhal-Umam wa al-Muluuk, juz 3/277; Imam Ibnu Taimiyyah, 
Minhaaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, juz 1/137-138; Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, 
juz 2/519; Ibnu 'Abd al-Barr, al-Isti'aab fi Ma'rifat al-Ashhaab juz 3/1150 dan 
Taarikh al-Khulafaa' hal.137-138, dan lain-lain).

      Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, "Menegakkan khilafah Islamiyyah berhukum fardlu 
kifayah atas kaum muslim di seluruh dunia Islam..Menegakkan khilafah tak ubahnya 
dengan kewajiban-kewajiban lain yang difardlukan oleh Allah swt...mengabaikan 
kewajiban ini adalah kemaksiyatan terbesar yang akan diganjar dengan adzab yang sangat 
pedih." (Taqiyyuddin al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz II, hal. 15).

      Pendapat-pendapat senada juga diketengahkan oleh 'ulama-ulama mutaakhirin yang 
lain, semisal al-Maududiy, Abdul Qadim Zallum, Sayyid Quthub, dan lain sebagainya 
(Bandingkan dengan Mauqif Bani al-Marjah, Shahwah al-Rajul al-Maridl).

      Hampir-hampir tidak ada satupun ulama mukhlish yang mengingkari kewajiban untuk 
menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah, meskipun mereka berbeda pendapat dalam 
menetapkan posisi Khalifah dan metode perjuangan untuk menegakkan kembali khilafah 
Islamiyyah. Para ulama sejak generasi awal Islam hingga mutaakhirin tidak pernah 
berselisih pendapat mengenai kewajiban untuk mengangkat seorang Khalifah atau Imam.

      Hanya 'ulama-ulama fajir dan fasiq yang menghambakan dirinya kepada orang-orang 
kafir yang terus berusaha memalingkan umat Islam dari upaya menegakkan Khilafah 
Islamiyyah, semisal, Ali 'Abdul Raziq, Syarif Husain, serta orang-orang yang 
menyebarkan pemikiran-pemikiran kafir barat atas nama Islam. 'Ulama-ulama semacam ini 
menyebarkan pemikiran-pemikiran rusak yang meracuni kejernihan ajaran Islam.

      Dalam lintasan sejarah Islam tidak ada satupun masa dimana kaum muslim tidak 
diperintah oleh seorang khalifah. Mereka selalu berusaha mengangkat khalifah, 
seandainya Khalifah sebelumnya telah mangkat atau karena terkena sebab-sebab syar'iy 
lainnya. Tradisi semacam ini tidak pernah terhenti hingga kebodohan melanda sebagian 
besar kaum muslim. Dalam sejarah umat Islam kaum muslim tidak pernah tidak diperintah 
oleh seorang Khalifah dalam waktu yang lama, kecuali sejak tahun 1924 hingga sekarang 
ini. Padahal, kesempurnaan dan kelangsungan Islam sangat bergantung kepada sistem 
pemerintahan yang agung ini. 


      Apakah Khilafah Islamiyyah Hanya Berumur 30 Tahun dan Selebihnya Kerajaan?

      Sebagian kaum muslim ada yang berpendapat bahwa masa kekhilafahan hanya berumur 
30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Mereka mengetengahkan hadits-hadits yang 
diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan ulama-ulama lainnya. 

      Rasulullah saw bersabda, "Setelah aku, khilafah yang ada pada umatku hanya 
berumur 30 tahun, setelah itu adalah kerajaan." [HR. Imam Ahmad, Tirmidziy, dan Abu 
Ya'la dengan isnad hasan].

      "Khilafah itu hanya berumur 30 tahun dan setelah itu adalah raja-raja, sedangkan 
para khalifah dan raja-raja berjumlah 12." [HR. Ibnu Hibban].

      "Sesungguhnya awal adari agama ini adalah nubuwwah dan rahmat, setelah itu akan 
tiba masa khilafah dan rahmat, setelah itu akan datang masa raja-raja dan para 
diktator. Keduanya akan membuat kerusakan di tengah-tengah umat. Mereka telah 
menghalalkan sutr, khamer, dan kefasidan. Mereka selalu mendapatkan pertolongan dalam 
mengerjakan hal-hal tersebu; mereka juga mendapatkan rejeki selama-selamanya, sampai 
menghadap kepada Allah swt." [HR. Abu Ya'la dan Al-Bazar dengan isnad hasan].

      Hadits-hadits inilah yang dijadikan dalil bahwa masa kekhilafahan itu hanya 30 
tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Lebih dari itu, mereka juga menyatakan bahwa 
perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyyah hanyalah perjuangan kosong dan khayalan. 
Sebab, Rasulullah saw telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa masa kekhilafahan itu 
hanya berumur 30 tahun. Walhasil, kekhilafahan tidak mungkin berdiri meskipun 
diperjuangkan oleh gerakan-gerakan Islam. Kalau pun pemerintahan Islam berdiri 
bentuknya tidak khilafah akan tetapi kerajaan.

      Lalu, apakah benar bahwa hadits-hadits di atas dalalahnya menunjukkan bahwa umur 
khilafah Islamiyyah itu hanya 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan?

      Untuk menjawab pendapat-pendapat ini kita harus menjelaskan satu persatu maksud 
dari hadits-hadits di atas. 


      Hadits Pertama

      Kata khilafah yang tercantum dalam hadits pertama maknanya adalah khilafah 
nubuwwah, bukan khilafah secara mutlak. 

      Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bariy berkata, "Yang dimaksud dengan khilafah 
pada hadits ini adalah khilafah al-Nubuwwah (khilafah yang berjalan sesuai dengan 
prinsip-prinsip nubuwwah), sedangkan Mu'awiyyah dan khalifah-khalifah setelahnya 
menjalankan pemerintahan layaknya raja-raja. Akan tetapi mereka tetap dinamakan 
sebagai khalifah." Pengertian semacam ini diperkuat oleh sebuah riwayat yang 
dituturkan oleh Imam Abu Dawud, "Khilafah Nubuwwah itu berumur 30 tahun." [HR. Abu 
Dawud dalam Sunan Abu Dawud no.4646, 4647].

      Yang dimaksud khilafah Nubuwwah di sini adalah empat khulafaur Rasyidin; Abu 
Bakar, 'Umar , 'Utsman, dan Ali Bin Thalib. Mereka adalah para khalifah yang 
menjalankan roda pemerintahan seperti Rasulullah saw. Mereka tidak hanya berkedudukan 
sebagai penguasa, akan tetapi secara langsung benar-benar seperti Rasulullah saw dalam 
mengatur urusan pemerintahan. Sedangkan kebanyakan khalifah-khalifah dari dinasti 
Umayyah, 'Abbasiyyah dan 'Utsmaniyyah banyak yang tidak menjalankan roda pemerintahan 
seperti halnya Rasulullah saw, namun demikian mereka tetap disebut sebagai amirul 
mukminin atau khalifah.

      Ada diantara mereka yang dikategorikan sebagai khulafaur rasyidin, yakni Umar 
bin 'Abdul 'Aziz yang dibaiat pada bulan Shafar tahun 99 H. Diantara mereka yang 
menjalankan roda pemerintahan hampir-hampir dekat dengan apa yang dilakukan oleh Nabi 
saw, misalnya Al-Dzahir bi Amrillah yang dibaiat pada tahun 622 H. Ibnu Atsir 
menuturkan, "Ketika Al-Dzahir diangkat menjadi khalifah, keadilan dan kebaikan telah 
tampak di mana-mana seperti pada masa khalifah dua Umar (Umar bin Khaththab dan Ibnu 
Umar). Seandainya dikatakan, "Dirinya tidak ubahnya dengan khalifah Umar bin Abdul 
Aziz, maka ini adalah perkataan yang baik."

      Para Khalifah pada masa-masa berikutnya meskipun tak ubahnya seorang raja, akan 
tetapi mereka tetap menjalankan roda pemerintahan berdasarkan sistem pemerintahan 
Islam, yakni Khilafah Islamiyyah. Mereka tidak pernah menggunakan sistem kerajaan, 
kesultanan maupun sistem lainnyan. Walaupun kaum muslim berada pada masa-masa 
kemunduran dan keterpurukan, namun mereka tetap menjalankan roda pemerintahan dalam 
koridor sistem kekhilafahan bukan dengan sistem pemerintahan yang lain. Walhasil, 
tidak benar jika dinyatakan bahwa umur Khilafah Islamiyyah itu hanya 30 tahun. Yang 
benar adalah, sistem kekhilafahan tetap ditegakkan oleh penguasa-penguasa Islam hingga 
tahun 1924 M.


      Hadits Kedua & Ketiga

      Kata "al-muluuk"(raja-raja) dalam hadits di atas bermakna adalah, "Sebagian 
tingkah laku dari para khalifah itu tidak ubahnya dengan raja-raja." Hadits di atas 
sama sekali tidak memberikan arti bahwa mereka adalah raja secara mutlak, akan tetapi 
hanya menunjukkan bahwa para khalifah itu dalam hal-hal tertentu bertingkah laku 
seperti seorang raja. Fakta sejarah telah menunjukkan pengertian semacam ini. Sebab, 
para khalifah dinasti 'Abbasiyyah, Umayyah, dan 'Utsmaniyyah tidak pernah berusaha 
menghancurkan sistem kekhilafahan, atau menggantinya dengan sistem kerajaan. Mereka 
tetap berpegang teguh dengan sistem kekhilafahan, meskipun sebagian perilaku mereka 
seperti seorang raja. 

      Meskipun kebanyakan khalifah pada masa dinasti 'Abbasiyyah, Umayyah, dan 
'Utsmaniyyah ditunjuk selagi khalifah sebelumnya masih hidup dan memerintah, akan 
tetapi proses pengangkatan sang khalifah tetap dilakukan dengan cara baiat oleh 
seluruh kaum muslim; bukan dengan putra mahkota (wilayat al-'ahdi).

      Makna yang ditunjuk oleh frasa "dan setelah itu adalah raja-raja" adalah makna 
bahasa, bukan makna istilah. Dengan kata lain, arti dari frasa tersebut adalah "raja 
dan sultan" bukan sistem kerajaan dan kesultanan. Atas dasar itu, dalam hadits-hadits 
yang lain dinyatakan bahwa mereka adalah seorang penguasa (khalifah) yang memerintah 
kaum muslim dengan sistem khilafah. Dituturkan oleh Ibnu Hibban, Rasulullah saw 
bersabda, "Setelah aku akan ada para khalifah yang berbuat sebagaimana yang mereka 
ketahui dan mengerjakan sesuatu yang diperintahkan kepada mereka. Setelah mereka 
berlalu, akan ada para khalifah yang berbuat tidak atas dasar apa yang diketahuinya 
dan mengerjakan sesuatu tidak atas apa yang diperintahkan kepada mereka. Siapa saja 
yang ingkar maka ia terbebas dari dosa, dan barangsiapa berlepas diri maka ia akan 
selamat. Akan tetapi, siapa saja yang ridlo dan mengikuti mereka maka ia berdosa."

      Penjelasan di atas sudah cukup untuk menggugurkan pendapat yang menyatakan bahwa 
sistem khilafah Islamiyyah hanya berumur 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. 
Hadits-hadits yang mereka ketengahkan sama sekali tidak menunjukkan makna tersebut. 
Sistem khilafah Islamiyyah tetap berlangsung dan terus dipertahankan di sepanjang 
sejarah Islam, hingga tahun 1924 M. Meskipun sebagian besar khalifah dinasti 
'Abbasiyyah, Umayyah, dan 'Utsmaniyyah bertingkah laku tak ubahnya seorang raja, namun 
mereka tetap konsisten dengan sistem pemerintahan yang telah digariskan oleh 
Rasulullah saw, yakni khilafah Islamiyyah. 

      Tugas kita sekarang adalah berjuang untuk menegakkan kembali khilafah Islamiyyah 
sesuai dengan manhaj Rasulullah saw. Sebab, tertegaknya khilafah merupakan prasyarat 
bagi tersempurnanya agama Islam. Tidak ada Islam tanpa syariah, dan tidak ada syariah 
tanpa khilafah Islamiyyah. 
     




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke