DI BALIK 'BOM KUNINGAN'

                  Buletin Al-Islam Edisi 222

                   

                  Bom meledak lagi! Tanggal 9 September 2004 lalu bom meledak di 
kawasan Kuningan, Jakarta. Peledakan terjadi di depan Kedutaan Besar Australia. 




                  Islam Menolak Terorisme

                  Kita semua sepakat kalau aksi-aksi yang mengarah pada tindakan 
anarkis, menakut-nakuti masyarakat, dan berujung pada kesengsaraan rakyat adalah 
tindakan keliru dan harus sama-sama kita tentang dan cegah; termasuk di dalamnya 
adalah aksi terorisme. Jika aksi terorisme adalah tindakan yang berujung pada 
penderitaan, kenestapaan, dan kesengsaraan rakyat maka kita harus melakukan tindakan 
kolektif dan mengerahkan seluruh kemampuan yang ada untuk menumpasnya. Siapapun 
orangnya, darimana asal-muasal keturunannya, apapun latar belakang agamanya�apakah dia 
berkulit hitam, coklat ataupun putih, semua wajib dihukum dengan setimpal. Gangguan 
keamanan tidak boleh dipandang main-main. Sebab keamanan adalah kebutuhan darurat 
manusia. Dan manusia tidak bisa hidup wajar dalam suasana ketakutan. Oleh karena itu, 
Islam mensyariatkan hukum yang tegas yang akan mencegah orang yang hendak berpikir 
untuk menyerang orang lain. Islam memberikan sanksi hukum kepada pembegal jalanan 
dengan hukuman buang, dipotong tangan dan kaki, dibunuh dan disalib. Allah SWT 
berfirman: 

                  ]�������� ������� ��������� ������������ ����� ����������� 
������������ ��� ��������� �������� ���� ����������� ���� ����������� ���� ��������� 
����������� �������������� ���� ������� ���� ��������� ���� ��������� ������ ������ 
������ ��� ���������� �������� ��� ���������� ������� �������[

                  Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah 
dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau 
disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang 
dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk 
mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. Al-M�idah [5]: 
32)



                  Beberapa Keganjilan

                  Jelaslah, secara i�tiq�di, Allah SWT melarang siapapun melakukan 
tindakan teror dan kekerasan seperti itu. Persoalannya, apakah tidak mungkin justru 
dalang semua itu adalah pihak asing. Ada beberapa keganjilan yang patut diperhatikan 
berkaitan dengan peristiwa 'Bom Kuningan' tersebut. 

                  Pertama, pertemuan antara Kepala Satuan Tugas Antiteror Polri Gories 
Mere�mantan ketua Tim Penyidik Kasus 'Bom Bali'�dengan terpidana 'Bom Bali' Ali Imron 
di Caf� Starbuck�s pada tanggal 1 September 2004. Pertemuan Gories Mere�yang pernah 
menerima penghargaan "Honorary Award in Order of Australia (HAOA)" dari Pemerintah 
Australia pada 10 Oktober 2003�itu dengan Ali Imron mengagetkan banyak pihak, termasuk 
pihak kepolisian sendiri. Ada apa? 

                  Kedua, setiap sebelum terjadi peledakan baik di Bali, Marriot, 
maupun Kuningan selalu pihak asing mengeluarkan travel warning.  Pada awal September 
2004, Pemerintah AS kembali mengingatkan warganya di Indonesia agar lebih berhati-hati 
dalam soal keamanan serta siap menghadapi kemungkinan terjadinya lagi serangan 
teroris. Hotel berbau Barat, pusat perbelanjaan, rumah warga asing, dan semacamnya 
dikatakan menjadi sasaran teroris. Pada waktu yang hampir bersamaan, Australia juga 
mengingatkan warganya di Indonesia akan ancaman serangan terhadap hotel-hotel asing di 
Jakarta dan karenanya mengimbau warganya untuk tidak mengunjungi Indonesia jika tidak 
diperlukan. Pemerintah Howard, seperti dikutip kantor berita Antara, telah 
memperingatkan warga negara Australia untuk menghindari bepergian ke Indonesia karena 
"ancaman serangan oleh kelompok garis keras dan jaringan Al-Qaida". Kok tahu-tahunya?

                                                                          Ketiga, 
sesaat setelah terjadi ledakan, penelitian pun belum dilakukan, pihak Australia 
melalui Menlu Alexander Downer langsung menuduh Jamaah Islamiyah yang dikatakan 
memiliki hubungan dengan Al-Qaida sebagai pelakunya. Kapolri Jenderal (Pol) Da�i 
Bachtiar mengatakan, karena modusnya sama dengan 'Bom Bali' dan 'Bom Marriott', dugaan 
mengarah kepada kelompok Dr. Azahari. Nama terakhir tersebut selalu 'nyaris tertangkap 
namun hingga kini tetap lolos'. Aneh!

                  Keempat, dalam konferensi pers pada 10 September 2004, Menlu 
Australia, Alexander Downer menyebutkan bahwa 45 menit sebelum ledakan, polisi 
menerima SMS tentang akan adanya ledakan tersebut. Informasi tersebut diperolehnya 
dari pejabat Polri. Beberapa kalangan menyebut pejabat tersebut adalah Brigjen Gories 
Mere. Sebaliknya, Kapolri menyatakan belum mendapat laporan dari yang bersangkutan. 
Sungguh aneh!

                          Dari beberapa keganjilan tersebut muncul pertanyaan, seperti 
dalam beberapa ledakan sebelumnya, mengapa pihak asing tampak dominan dalam opini? 
Tidak mungkinkah pelakunya adalah anasir asing atau, setidak-tidaknya, terkait dengan 
pihak asing? 

                  Semestinya upaya untuk menghentikan tindakan terorisme tersebut 
didudukkan secara adil. Artinya, bukan hanya warga negara Indonesia atau kalangan 
Islam yang langsung dituduh, melainkan pihak asing juga bisa dituduh sebagai 
pelakunya, atau bahkan sebagai dalangnya. Jika hal ini yang dilakukan maka akan tampak 
siapa sebenarnya yang ada di balik tindak kekerasan tersebut. Namun, apabila 
pengertian terorisme dipahami dengan apa yang dipersepsikan AS sebagai 
pihak-pihak�khususnya kalangan Islam�yang tidak mendukung AS maka �perang melawan 
terorisme� hanya merupakan alat politik penjajah asing. Yang rugi dan menjadi korban 
adalah umat Islam secara keseluruhan. Sebagaimana dalam kasus-kasus serupa, dalam 
kasus 'Bom Kuningan', cara pandang tersebut juga tetap dipakai. Salah satu 
indikasinya, 7 orang WNI ditangkap oleh kepolisian Victoria dengan tuduhan terlibat 
dalam peledakan 9/9 tersebut (Metro TV, 14/09/2004).

                   

                  Waspadai Stigmatisasi

                          Satu hal yang perlu diwaspadai dari berbagai peristiwa 
peledakan tersebut adalah upaya stigmatisasi dari pihak asing seolah pelaku teror 
selalu kalangan Islam. Kalangan Islam seyogyanya tidak terjebak pada sikap seperti 
itu. Sebab hal itu menimbulkan persoalan-persoalan baru, antara lain:

                  Pertama, menuding sikap yang berpegang pada nash (teks) al-Quran dan 
as-Sunnah  sebagai dasar dari tindak kekerasan. Tudingan ini sangatlah berbahaya. 
Sebab, betapa banyak kaum Muslim yang benar-benar berpegang pada nash (teks) al-Quran 
dan as-Sunnah menolak kekerasan, termasuk dalam memperjuangkan Islam. Faktanya, 
Rasulullah saw. mencontohkan perjuangan untuk mengubah sistem kufur yang penuh dengan 
kezaliman dan ketidakadilan melalui jalan pemikiran (fikriyyah), politik (siy�siyyah), 
dan tanpa kekerasan (l� m�ddiyah). Hembusan opini ini hanya akan semakin menjauhkan 
umat dari Islam dan Islam dari umatnya. Jika ini terjadi, yang menang adalah kaum 
kafir penjajah; yang terpuruk adalah umat Islam secara keseluruhan.

                  Kedua, ketika peledakan di Kuningan terjadi, pihak intelijen 
mengisyaratkan untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai 'Islam radikal'. 
Padahal, 'Islam radikal' itu apa, sangatlah fleksibel, tergantung keperluan. Sekarang, 
kalangan kaum Muslim yang hendak mengubah kezaliman dan kegelapan menjadi cahaya 
Islam, meskipun dengan cara tanpa kekerasan, disebut sebagai �Islam radikal�.

                  Ketiga, dugaan pihak asing�yang sering seolah-olah dianggap  sebagai 
sebuah kebenaran�bahwa Jamaah Islamiah (JI) adalah dalang di balik berbagai peristiwa 
peledakan di Indonesia (walaupun sering tanpa didasarkan pada bukti)�akan dijadikan 
legitimasi bagi pihak asing, khususnya AS, untuk melakukan intervensi langsung atas 
Indonesia, karena JI sudah dimasukkan oleh PBB sebagai organisasi teroris; meskipun 
keberadaan dan struktur JI seperti apa juga sampai sekarang tidak jelas.

                  Keempat, beberapa peristiwa ledakan akan menciptakan opini tentang 
pentingnya pembentukan Detasemen 88 Antiteror dan pengesahan RUU Intelijen, setelah 
sebelumnya disahkan UU Antiterorisme. Ketika baru ada satu UU Antiterorisme, 
penangkapan dan penculikan aktivis Islam terjadi. Apalagi dengan sinyalemen berkaitan 
dengan �Islam radikal�. Karenanya, kekhawatiran pengesahan RUU Intelijen akan 
menyebabkan �teror psikologis� sangatlah beralasan. Kita tentu khawatir, apabila 
terorisme yang dimaksud seperti yang dipersepsikan AS, maka akan terjadi penangkapan 
besar-besaran. Jika hal ini terjadi, maka opini bahwa kelompok-kelompok Islam sebagai 
pihak yang harus �diwaspadai dan dicurigai� muncul kembali. Islam kembali dicap dan 
identik dengan terorisme. Mereka yang menuntut agar Piagam Jakarta dikembalikan ke UUD 
1945 bisa dicap sebagai teroris. Bahkan nanti orang yang membaca Al-Quran atau ber-KTP 
Islam pun akan dicap teroris!

                   

                  Tipudaya Musuh Islam Akan Hancur 

                  Dakwah selalu menghadapi rintangan. Setiap perjuangan menegakkan 
Islam selalu ada halangannya. Dulu, Rasulullah saw. dihadapkan pada berbagai makar 
kaum kafir yang membenci Islam.

                  Siapapun yang menghayati sirah Rasul akan menemukan bahwa beliau 
menghadapi berbagai tantangan dalam memperjuangkan Islam. Bentuknya banyak. Pertama, 
berupa bujuk rayu. Rasulullah saw. pernah ditawari kekuasaan, harta, dan wanita, 
dengan syarat, menghentikan dakwah Islamnya. Namun, beliau menolaknya mentah-mentah. 
Beliau memilih meneruskan upaya menegakkan hukum Allah SWT.

                  Kedua, berupa intimidasi. Beliau dituduh gila dan tukang syair yang 
ahli berkata-kata. Tujuannya agar orang-orang tidak menerima Islam sebagai sistem 
kehidupan. Allah SWT mengabadikan hal ini:

                   

                  ]��������� ����������� ������� ������� �������� ��������� ������� 
�����������[

                  Mereka berkata, �Wahai orang yang diturunkan kepadanya (Muhammad) 
adz-Dzikr (al-Quran), sungguh engkau benar-benar gila.� (QS al-Hijr [15]: 6).

                   

                  Menghadapi hal ini, Nabi saw. tidak gentar. Perjuangan terus 
dilanjutkan.

                  Ketiga, ancaman fisik. Rasulullah saw. diancam untuk diculik, 
dipenjarakan, bahkan dibunuh. Al-Quran mengabadikan hal ini:

                   

                  ]������ �������� ���� ��������� �������� ������������� ���� 
����������� ���� ����������� ������������� ���������� ����� ������� ������ 
�������������[

                  (Ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya-upaya 
terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. 
Mereka memikirkan tipudaya dan Allah menggagalkan tipudaya itu. Allah sebaik-baik 
Pembalas tipudaya. (QS al-Anfal [8]: 30).

                   

                  Lagi-lagi, hal ini tidak menggoyahkan keyakinan beliau akan 
kemenangan. Beliau yakin bahwa tipudaya musuh Islam itu akan hancur dengan sendirinya. 

                  Jelas sekali, Rasulullah saw. dihadapkan pada berbagai tipu daya 
orang-orang kafir. Namun, kemenangan ada di tangan beliau. Itulah janji Allah SWT 
kepadanya. Janji itu juga pasti akan diberikan kepada umat Islam jika�dan hanya 
jika�mereka mengikuti sikap Nabi saw. 

                   

                  Khatimah

                  Oleh sebab itu, menyerukan kepada seluruh komponen umat: pimpinan 
partai dan ormas Islam, para ulama, cendekiawan, wartawan, buruh dan karyawan, pemuda, 
pelajar dan mahasiswa, pimpinan pondok pesantren, pengurus DKM dan Majelis Ta�lim, 
juga para pejabat sipil maupun militer, mari kita tolak terorisme dan gembongnya 
teroris! Tetaplah menerapkan Islam dan berjuang menegakkan Islam melalui pemikiran, 
aktivitas politik, dan tanpa kekerasan. All�hu akbar! []

                   

                  KOMENTAR:

                  RI Serukan Anggota PBB Berbagi Informasi Soal Terorisme (Republika, 
14/9/2004).

                   

                  Serukan juga untuk berbagi informasi soal terorisme AS, sang 
'gembong teroris'.




                 
           



      Artikel dari Hizbut Tahrir Indonesia
      http://www.hizbut-tahrir.or.id

      URL:
      http://www.hizbut-tahrir.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=260  

      Yahoo! Groups Sponsor 
            ADVERTISEMENT
           
     
     




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke