----- Original Message -----
From: "djunaedi sahrawi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, September 20, 2004 5:56 AM
Subject: [ppiindia] Eep Saefulloh Fatah: Kepada saya, Islam Diajarkan secara
Keliru


http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=365
Eep Saefulloh Fatah:
Kepada saya, Islam Diajarkan secara Keliru
Tanggal dimuat: 6/7/2003


Sosialisasi agama pada taraf yang sangat sederhana selalu menekankan etika
ketakutan (ethics of fear) ketimbang etika harapan (ethics of hope).
Ketundukan dibangun di atas pondasi ketakutan seorang hamba kepada
Khaliqnya. Seolah kebesaran Tuhan ditentukan oleh semakin kecilnya manusia
dan semakin horornya kosmos metafisik yang mengitari Tuhan.
==========================================
HS: ya betul implikasi itu akan terwujud jika yg diterapkan adalah selain
ajaran islam buktinya ketika dulu gereja menjadi setara dengan penguasa maka
gereja tidak lain hanyalah kantong uang yang memeras rakyat dengan dalil
menebus dosa


Berikut wawancara dengan Eep Saefulloh Fatah, pengamat politik dari
Universitas Indonesia yang kini sedang menempuh studi di Ohio State
University (OSU), Amerika. Kebetulan Eep sekarang sedang "mudik" selama 2
bulan. Dalam perbincangan dengan Ulil Abshar-Abdalla pada 3 Juli 2003, Eep
juga memaparkan kontribusi Islam terhadap konsolidasi demokrasi di
Indonesia.
===============================================

HS: kontribusi demokrasi terhadap islam yaitu hub.yang saling menghancurkan
buktinya demokrasi telah menjauhkan umat dari ajarannya yg agung


ULIL ABSHAR-ABDALLA: Kang Eep, Pemilu sebentar lagi dan anda sudah lama
belajar mengamati politik negara kita. Apakah Anda melihat adanya keganjilan
dalam hubungan antara agama dan politik, khususnya pasca reformasi?

EEP SYAUFULLOH FATAH: Masa reformasi ini nampaknya membangkitkan kembali
harapan sebagian kecil penganut agama (Islam) untuk menghubungkan secara
sangat rapat antara agama dan politik, khususnya antara Islam dan negara.
Saya melihat, dalam batas tertentu ini adalah setback atau langkah mundur
dari agenda reformasi. Untungnya, lima tahun reformasi membuktikan bahwa
mereka yang mendorong langkah mundur itu sebetulnya tidak signifikan
kekuatannya, baik dari segi jumlah maupun dari sisi kemampuan
mengartikulasikan gagasan mereka.
===============================================
HS: ingat bahwa langkah mundur yg sebenarnya adalah sekularisme itu sendiri
justru karena ulah sekulerisme maka daulah khilafah terfragmentasi dalam
sekat-sekat nasionalisme yang telah mengakibatkan perang saudara, ini
jelas-jelas bencana akibat sekularisme
----------------------------------------------------------------------------
-
ULIL: Bagaimana dengan agenda yang diperjuangkan partai-partai Islam?

Menurut saya, ketika kita menyebut "partai Islam", ada ruang perdebatan di
situ; tentang benda apa ini gerangan. Yang saya tidak setuju adalah
partai-partai yang berorientasi untuk mendirikan negara Islam. Bahwa
kemudian kalangan tertentu membuat partai dan karena ketidakmampuan
mendefinisikan diri sendiri, lalu menggunakan nama Islam tanpa orientasi,
sebetulnya itu masih bisa ditolerir.
=================================================
HS: ketidak setujuan Eep disebabkan karena dia tidak mampu menyerap
nilai-nilai wahyu secara kulli dia hanya bertolak dari pandangan sosiologis
belaka
----------------------------------------------------------------------------
--
ULIL: Secara kategoris, anda seorang santri. Bagaimana menghubungkan antara
kesantrian dengan cita-cita sosial politik yang Anda anggap sesuai dengan
tuntutan ideal agama?

Saya merasa bersyukur tumbuh dan besar dalam sebuah keluarga yang memahami
agama tidak secara kaku; sebagai satu-satunya perlengkapan untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini rumusan yang saya buat sendiri. Saya
tahu, ibu dan bapak saya tidak pernah mengatakan itu. Saya bisa mengatakan
begitu karena agama yang diajarkan di rumah sebetulnya lebih banyak
mengajarkan perihal etika, manual tingkah laku, dan semacam basis moralitas
ketika kita harus memosisikan dengan diri sendiri dan masyarakat. Dengan
begitu, saya tidak merasa pernah diajarkan untuk melakukan formalisasi
agama. Buat saya itu sesuatu yang patut saya syukuri di kemudian hari.
===============================================
HS: menolak formalisasi agama berarti memang tidak memahami islam secara
utuh dan tidak sepatutnya ini disyukuri karena justru hal ini berarti
kepicikan dalam memahami wahyu karena itulah yg dikehendaki oleh sistem yang
kufur yaitu menciptakan keluarga yg sekuler
------------------------------------------------------------------------
ULIL: Sebenarnya bagaimana sih "perkenalan" pertama kali Anda dengan agama?

Perkenalan saya dengan agama dimulai sangat dini, sejak menginjak usia dua
setengah tahun. Saat itulah saya dikhitan. Dengan begitu, saya mendapat
tambahan kewajiban yang diberitakan oleh keluarga di sekitar saya. Tapi
perkenalan saya lebih kongkrit dengan agama, terjadi beberapa tahun setelah
itu. Yaitu ketika saya mulai diajak ayah untuk salat Jum'at berjamaah.
Sebelum itu, saya juga pernah diajak, tapi masih agak enggan.

Nah, mulailah saya berkenalan dengan agama sebagai sebuah otoritas baru yang
cukup mengejutkan. Representasinya adalah sebuah masjid yang belum pernah
saya masuki, kecuali bermain di pelatarannya saja. Saya duduk di saf yang
depan, berhadapan langsung dengan mimbar, dengan karpet warna hijau dan
khatib yang memegang tombak dengan gagah. Tombak yang di pegang khatib masih
dalam bentuk aslinya, tidak berganti sejak masjid itu didirikan tahun 1937.
Yang masih tersisa dari ingatan saya soal itu adalah adanya sesuatu yang
sakral yang sedang diperkenalkan pada saya.
===============================================
HS: cobalah memahami islam secara rinci coba pelajari dalil-dalil dalam
sumber syariah jangan hanya bertumpa pada akal semata yang dikedepankan
sehingga melampaui kandungan2 wahyu, inilah yang disebut kebathilan
----------------------------------------------------------------------------
------------------
ULIL: Apakah sekarang Anda punya evaluasi atas cara mengenalkan Islam yang
dulu Anda pernah alami?

Saya merasa, Islam diajarkan kepada saya -jangan-jangan juga kepada orang
lain- secara keliru. Kekeliruan itu bisa jadi bertumpuk-tumpuk. Misalnya,
Islam diajarkan hanya sesuai dengan apa yang dipahami oleh mereka yang
merasa punya otoritas untuk mengajar saya ketika itu. Saya ingat, di saat
salat Jum'at, para khatib selalu menyampaikan hal-hal yang bernada ancaman
atas siapapun; bahwa hidup di dunia ini sebentar, dan setelah itu kita akan
berhadapan dengan dua pilihan: entah menjadi penghuni surga atau neraka!
Kepada kami disampaikan ancaman, jika kita keliru menjalankan hidup yang
amat pendek ini, kita akan menjadi penghuni neraka.
============================================================
HS: itu bukan ancaman manusia/ulama tetapi memang itu adalah ancaman al
Khalik jadi simaklah baik-baik ayat-ayat Allah jangan hanya dijadikan hiasan
belaka, dalam negara sekuler memang islam diajarkan secara keliru yaitu
mereka hanya mengenal islam berupa simbol-simbol ritual yang tidak mampu
mengatasi gejolak sosial kemasyarakatan
-------------------------------------------------
ULIL: Ada pengalaman traumatis dari perkenalan Anda dengan agama saat itu?

Komik! Pada waktu kecil, mulai berkembang komik-komik yang menggambarkan
bagaimana keadaan surga dan neraka. Ketika itu dada saya terasa sesak dan
ketakutan karena membaca dan melihat gambar-gambar komik itu. Komik itulah
yang menggambarkan betapa biadabnya siksaan yang akan kita terima di neraka
kelak.

Komik itu sudah populer pada akhir tahun 1970-an. Ketika saya menjalani masa
kanak-kanak, komik-komik dalam bentuk yang sangat sederhana itu sudah
beredar di toko-toko. Dan itu menjadi bahan yang seolah-olah menggiurkan
untuk dibaca.

Komik-komik ini menimbulkan horor dalam ingatan dalam konteks beragama.
Memori saya, kalau mengingat itu kembali akan terteror. Penggambaran di
komik itu membuat jiwa kanak-kanak saya menjadi sangat kecil, lalu
berhadapan dengan Tuhan dengan rasa takut yang sangat maksimal. Jadi, agama
dan Tuhan dalam ingatan saya waktu kecil, diajarkan sebagai suatu medium
yang mengerikan. Karena rasa takut itu, ketundukan harus dipelihara.
===================================================
HS: disamping ancaman dalam quran juga berisi janji terhadap surga jadi
wajar saja jika kita merasa ngeri karena kitapun patut bertanya apakah kita
sudah benar2 beriman kpd al quran
-----------------------------------------------------------------
ULIL: Selain komik dan masjid, Adakah institusi lain yang justru merapatkan
Anda dengan agama?

Ada. Bukan hanya institusi masjid dan peribadatan saja bentuk pengalaman
saya dengan agama. Sejumlah institusi lain seperti sekolah di SD dan
madrasah juga. Pagi hari saya di SD dan sore di Ibtidaiyah. Ketika itu, saya
juga belajar mengaji selepas Maghrib. Seusai Subuh, saya juga sempat mengaji
kitab kuning dari seorang ustadz. Itu semua terjadi, masih di Cibarusah,
kampung saya.

Ketika berkenalan dengan sekolah, tidak ada perubahan mendasar dalam
pengalaman agama yang saya temukan di kelas-kelas. Perubahan mulai terasa
ketika saya mulai menduduki bangku SMP. Ketika itu saya semakin terdesak
untuk menolak banyak hal tentang pengajaran agama. Buat saya, apapun perihal
agama mesti dijelaskan secara tuntas. Sehingga, ketika saya melakukan suatu
hal, saya menjadi yakin, karena ada alasan di balik perilaku itu. Tidak
semua aspek, tentu.

Nah, saat itu saya bertanya tentang kiblat; soal boleh-tidaknya saya salat
menghadap arah kebalikan dari kiblat. Sebab, kalau bumi itu bulat tetap saja
saya akan menghadap ke Ka'bah kalaupun mesti menghadap ke timur saat salat.
Guru agama di SMP saya tidak bisa menjawab argumen saya. Dia bilang, "harus
ke barat, tidak boleh ke timur!"
================================================
HS: ini artinya eep menjadikan fakta sebagai argumen padahal jika dia mau
jujur maka dia harus kembali kpd nilai-nilai wahyu karena manusia tidak
lepas dari rasa khilaf

ULIL: Setelah kuliah, refleksi keagamaan Anda tentu berkembang. Padahal
tahun 1980-an, kampus-kampus "sekuler" disemarakkan oleh gerakan-gerakan
keislaman (usrah). Apakah Anda juga ikut terlibat?

Ya, saya ikut terlibat dalam semaraknya kegiatan Islam di kampus. Secara tak
sengaja saya masuk dalam suatu organisasi. Tapi kemudian justru saya menjadi
ketua umum Forum Studi Islam (FSI) yang pertama di FISIP UI. Itupun
sebetulnya hasil pergulatan saya sebelumnya.

Ketika saya masuk UI tahun 1987, kegiatan keislaman sangat semarak. Ketika
itulah orang sedang bangga-bangganya menempelkan stiker di mobil atau motor
untuk menampilkan identitas mereka. Kegiatan pengajian skala kecil, kultum
di musalla juga semarak. Situasi ini menciptakan "konflik" yang agak
menggelikan. Yaitu antara mereka yang aktif dalam usrah dengan kelompok yang
berdiri di seberangnya dan menganggap usrah sebagai perusak tatanan
kehidupan kampus yang sudah dibangun dalam tradisi yang panjang.
================================================
HS: yang hak dan bathil memang tidak akan pernah bercampur oleh karena
itulah yg terjadi jika pola pikir sekuler telah menjerat otak umat

ULIL: "Konflik" itu ikut mempengaruhi kecenderungan Anda selaku aktivis
kampus?

Oh, ya. Di kelompok A, saya dianggap kelompok B, dan di kelompok B, saya
justru diidentifikasi sebagai kelompok A. Namun identifikasi diri saya yang
paling menonjol adalah sebagai "orang hijau". Ketika konflik semakin
memuncak, saya justru menjadi semacam jalan keluar. Ketika itu, terjadi
kebuntuan antarkedua kelompok yang menginginkan terbentuknya sebuah
organisasi baru yang bisa mengorganisir kegiatan keislaman. Tapi, organisasi
tersebut harus dipimpin orang yang bisa berkomunikasi dengan dua pihak
sekaligus.
================================================
HS: solusi yang hakiki adalah Islam terbukti bahwa islam mampu merespons
berbagai gejala kehidupan karena hanya Allah yang berhak berdaulat

ULIL: Menarik sekali pengalaman Anda. Sekarang saya bertanya pada hal yang
besar lagi, bagaimana Anda melihat Islam di Indonesia? Apakah Islam punya
kontribusi dalam menguatkan demokratisasi?

Ada bentuk-bentuk sumbangan Islam bagi demokratisasi, lebih-lebih kalau kita
mendengarkan disertasi kawan kita, Saiful Mujani (Ph.D di Ohio State
University dengan tajuk Religious Democrats: Democratic Culture and Muslim
Participation in Post Suharto Era: 2003, Red). Dia menemukan, pada kalangan
umat Islam di Indonesia, ternyata ada semacam kebudayaan politik yang
sebetulnya potensial menjadi basis persemaian demokrasi. Ada modal sosial
(social capital) yang disiapkan Islam. Memang hanya sebatas itu saja. Jadi,
ada peran agama, sebagaimana peran variabel-variabel lain yang ikut
membentuk budaya politik di masyarakat kita agar masyarakat siap untuk masuk
dalam dunia demokrasi.
==========================================
HS: dunia demokrasi tidak menjanjikan apa-apa kecuali memang kengerian yang
disitir oleh eep ketika islam diperkenalkan dengan horor padahal
kenyataannya horor dan pertumpahan darah dinegeri kaum muslimin adalah
akibat demokrasi yang dijajakan barat

ULIL: Nah, budaya politik macam apa yang telah disumbangkan Islam, terutama
dalam konteks Islam di Indonesia?

Lagi-lagi saya dipengaruhi oleh Saiful Mujani untuk menjawab ini. Saya baru
saja membaca sebagian hasil risetnya. Misalnya saja, krisis yang dipandang
sedang berlangsung di Amerika sekarang adalah krisis paguyuban; orang tidak
lagi merasa menjadi bagian dari orang lain; orang semakin menyendiri, dan
ikatan-ikatan sosial semakin melemah. Ternyata, krisis itu tidak terjadi di
Indonesia. Menurut Saiful, nilai-nilai paguyuban di Indonesia ditanggulangi
pemeliharaannya oleh agama. Ada banyak perilaku sosial dalam masyarakat kita
yang dibantu oleh Islam agar masyarakat ikut merasa memilikinya. Jadi ada
semacam ikatan sosial yang terpelihara oleh agama.
================================================
HS: akan lebih baik lagi jika islam bukan hanya dipahami sebagai mainstream
ruhiy tapi juga sebagai sistem/ideologi yang akan memelihara akal,
kehormatan, keturunan dan jiwa, inilah rahmatan lil alamin yg inheren dengan
islam

ULIL: Artinya bila ikatan sosial itu terpelihara, proses demokratisasi
menjadi lebih dimudahkan?

Bukan. Hasilnya bisa menjadi dua kemungkinan yang berbeda. Saya ambil
contoh. Di Cibarusah hingga hari ini masih terpelihara bentuk-bentuk
paguyuban yang berbasis agama. Di sana ada organisasi kematian untuk
menangani orang mati yang dalam Islam disebut sebagai kewajiban kolektif
(fardlu kifayah). Ada juga kegiatan pengajian yang terus-menerus, rutin dan
berpuluh-puluh tahun tetap memelihara ikatan sosial dalam masyarakat. Tapi
persoalannya adalah: ketika identitas kelompok terbentuk, dia bisa potensial
menjadi positif dan negatif sekaligus. Sumbangannya untuk demokrasi akan
penting kalau ternyata identitas yang ditanam dalam kelompok itu adalah
identitas Islam yang mengajarkan sikap toleran, hanif, inklusif dan
lain-lain. Sebaliknya, jika nilai-nilai Islam yang disebarkan berbasis pada
eklusivitas, intoleransi dan sejenisnya, maka akan kontraproduktif bagi
demokrasi.
=======================================================
HS: akan menjadi negatif jika sekulerisme menjadi jiwa dari sebuah kutlah
karena sekuler berarti menerima islam namun dipihak lain juga melakukan
upaya resistensi

ULIL: Nampaknya, Anda cukup akrab dengan istilah-istilah hanif, kalimatun
sawa' dan inklusif. Apakah Anda seorang pembaca Cak Nur yang intensif?

Saya bukan pembaca Cak Nur yang intensif. Tapi sebagian besar saya merasa
terwadahi oleh gagasan Cak Nur. Menurut saya, seperti itulah mestinya Islam
yang berkembang di Indonesia ke depan.
========================================================
HS: untuk memahami istilah tersebut tidak perlu mengambil referensi cak nur
yang sekuler tetapi referensi yg diambil adalah yang memang mampu menyerap
dan mengaplikasikan nilai rasa al quran bukan yang bertumpu pada ar ra'yu
sehingga menganggap bahwa sekuler=islam, dan jika dikembalikan kepada diktum
wahyu secara orisinil tanpa adanya intervensi sekuler ternyata gagasan cak
nur juga merupakan gagasan yg tidak laku buktinya dibeberapa daerah mereka
semakin rindu dengan syariah juga bagaimana ketika gusdur ingin menghapuskan
ucapan salam dengan selamat pagi justru ucapan salam semakin membumi,
kalaupun syariah belum membumi justru itulah kita mengajak seluruh umat
untuk memahami islam secara benar dan baik dan kita sangat yakin jika kita
menolong agamaNya maka pasti Allah pun akan menolong kita

Tapi sekarang ada gejala pembentukan opini publik soal Islam yang cenderung
berbeda dengan gagasan Cak Nur. Bicara soal Islam ialah bicara soal
pemahaman keislaman masyarakat secara umum. Kalau melihat fakta dari
kelompok penentang gagasan besar Cak Nur yang hanya menghasilkan kekuatan
kecil, maka kesimpulan yang kita buat sementara ini ialah: Islam moderat
lebih tersebar di tengah masyarakat ketimbang Islam galak.
========================================================
HS: islam galak? islam moderat? ini menunjukan kekeliruan JIL, karena
sesuatu tidak dapat dilihat dari realitas semata tapi harus dikembalikan
kepada sumber-sumber normatif dan ternyata islam galak dan islam
moderat/sekuler keduanya tidak pernah diakui oleh nash syariah, sekali lagi
memang tinjauan sosiologis yang membangun kaidah hanya dari fakta-fakta
ternyata hanya menghasilkan ketumpulan dalam memahami berfikir yang
menelurkan produk sesat yang bernama sekulerisme yang telah merusak,
menghancurkan dan menenggelamkan aqidah umat. islam galak jelas bertentangan
dengan nash yg banyak mengajak menyeru kepada kebaikan dengan kaidah-kaidah
diplomatis bukan anarkis, sedangkan islam sekuler berarti mereka ingin
memadukan antara yg hak dan bathil karena sesungguhnya ide ini lahir akibat
keputusasaan barat dalam memerangi islam dan memang islam tidak akan pernah
mengenal kalah ini tentunya bisa dibedakan dengan kekalahan umatnya yg telah
menunduk patuh dalam kerangka wilayah sekulerisme, maka jalan satu-satunya
adalah menerapkan islam secara kaffah.







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke