>>>>>>Bicara soal Islam ialah bicara soal pemahaman
keislaman masyarakat secara umum. Kalau melihat fakta dari kelompok 
penentang gagasan besar Cak Nur yang hanya menghasilkan kekuatan 
kecil, maka kesimpulan yang kita buat sementara ini ialah: Islam 
moderat lebih tersebar di tengah masyarakat ketimbang Islam galak. 
<<<<<<

Alhamdulillah, mas, alhamdulillah. saya yakin, kebanyakan anggauta 
milis ini, juga Islam moderat, bukan Islam galak2an, yang mau menyapu 
bersih semua yang Non Islam. Nanti Sampit2an lagi kan mas?

Gimana nak Lenny, nak Listy, mas Yustam, Mas Hizam?

Salam

RM D Hadinoto




--- In [EMAIL PROTECTED], djunaedi sahrawi 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=365 
> Eep Saefulloh Fatah:
> Kepada saya, Islam Diajarkan secara Keliru
> Tanggal dimuat: 6/7/2003
> 
> 
> Sosialisasi agama pada taraf yang sangat sederhana selalu 
menekankan etika ketakutan (ethics of fear) ketimbang etika harapan 
(ethics of hope). Ketundukan dibangun di atas pondasi ketakutan 
seorang hamba kepada Khaliqnya. Seolah kebesaran Tuhan ditentukan 
oleh semakin kecilnya manusia dan semakin horornya kosmos metafisik 
yang mengitari Tuhan.
> 
>  
> 
> Berikut wawancara dengan Eep Saefulloh Fatah, pengamat politik dari 
Universitas Indonesia yang kini sedang menempuh studi di Ohio State 
University (OSU), Amerika. Kebetulan Eep sekarang sedang "mudik" 
selama 2 bulan. Dalam perbincangan dengan Ulil Abshar-Abdalla pada 3 
Juli 2003, Eep juga memaparkan kontribusi Islam terhadap konsolidasi 
demokrasi di Indonesia.
> 
> ULIL ABSHAR-ABDALLA: Kang Eep, Pemilu sebentar lagi dan anda sudah 
lama belajar mengamati politik negara kita. Apakah Anda melihat 
adanya keganjilan dalam hubungan antara agama dan politik, khususnya 
pasca reformasi?
> 
> EEP SYAUFULLOH FATAH: Masa reformasi ini nampaknya membangkitkan 
kembali harapan sebagian kecil penganut agama (Islam) untuk 
menghubungkan secara sangat rapat antara agama dan politik, khususnya 
antara Islam dan negara. Saya melihat, dalam batas tertentu ini 
adalah setback atau langkah mundur dari agenda reformasi. Untungnya, 
lima tahun reformasi membuktikan bahwa mereka yang mendorong langkah 
mundur itu sebetulnya tidak signifikan kekuatannya, baik dari segi 
jumlah maupun dari sisi kemampuan mengartikulasikan gagasan mereka.
> 
> ULIL: Bagaimana dengan agenda yang diperjuangkan partai-partai 
Islam?
> 
> Menurut saya, ketika kita menyebut "partai Islam", ada ruang 
perdebatan di situ; tentang benda apa ini gerangan. Yang saya tidak 
setuju adalah partai-partai yang berorientasi untuk mendirikan negara 
Islam. Bahwa kemudian kalangan tertentu membuat partai dan karena 
ketidakmampuan mendefinisikan diri sendiri, lalu menggunakan nama 
Islam tanpa orientasi, sebetulnya itu masih bisa ditolerir.
> 
> ULIL: Secara kategoris, anda seorang santri. Bagaimana 
menghubungkan antara kesantrian dengan cita-cita sosial politik yang 
Anda anggap sesuai dengan tuntutan ideal agama?
> 
> Saya merasa bersyukur tumbuh dan besar dalam sebuah keluarga yang 
memahami agama tidak secara kaku; sebagai satu-satunya perlengkapan 
untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini rumusan yang saya 
buat sendiri. Saya tahu, ibu dan bapak saya tidak pernah mengatakan 
itu. Saya bisa mengatakan begitu karena agama yang diajarkan di rumah 
sebetulnya lebih banyak mengajarkan perihal etika, manual tingkah 
laku, dan semacam basis moralitas ketika kita harus memosisikan 
dengan diri sendiri dan masyarakat. Dengan begitu, saya tidak merasa 
pernah diajarkan untuk melakukan formalisasi agama. Buat saya itu 
sesuatu yang patut saya syukuri di kemudian hari.
> 
> ULIL: Sebenarnya bagaimana sih "perkenalan" pertama kali Anda 
dengan agama?
> 
> Perkenalan saya dengan agama dimulai sangat dini, sejak menginjak 
usia dua setengah tahun. Saat itulah saya dikhitan. Dengan begitu, 
saya mendapat tambahan kewajiban yang diberitakan oleh keluarga di 
sekitar saya. Tapi perkenalan saya lebih kongkrit dengan agama, 
terjadi beberapa tahun setelah itu. Yaitu ketika saya mulai diajak 
ayah untuk salat Jum'at berjamaah. Sebelum itu, saya juga pernah 
diajak, tapi masih agak enggan.
> 
> Nah, mulailah saya berkenalan dengan agama sebagai sebuah otoritas 
baru yang cukup mengejutkan. Representasinya adalah sebuah masjid 
yang belum pernah saya masuki, kecuali bermain di pelatarannya saja. 
Saya duduk di saf yang depan, berhadapan langsung dengan mimbar, 
dengan karpet warna hijau dan khatib yang memegang tombak dengan 
gagah. Tombak yang di pegang khatib masih dalam bentuk aslinya, tidak 
berganti sejak masjid itu didirikan tahun 1937. Yang masih tersisa 
dari ingatan saya soal itu adalah adanya sesuatu yang sakral yang 
sedang diperkenalkan pada saya.
> 
> ULIL: Apakah sekarang Anda punya evaluasi atas cara mengenalkan 
Islam yang dulu Anda pernah alami?
> 
> Saya merasa, Islam diajarkan kepada saya �jangan-jangan juga kepada 
orang lain� secara keliru. Kekeliruan itu bisa jadi bertumpuk-tumpuk. 
Misalnya, Islam diajarkan hanya sesuai dengan apa yang dipahami oleh 
mereka yang merasa punya otoritas untuk mengajar saya ketika itu. 
Saya ingat, di saat salat Jum'at, para khatib selalu menyampaikan hal-
hal yang bernada ancaman atas siapapun; bahwa hidup di dunia ini 
sebentar, dan setelah itu kita akan berhadapan dengan dua pilihan: 
entah menjadi penghuni surga atau neraka! Kepada kami disampaikan 
ancaman, jika kita keliru menjalankan hidup yang amat pendek ini, 
kita akan menjadi penghuni neraka.
> 
> ULIL: Ada pengalaman traumatis dari perkenalan Anda dengan agama 
saat itu?
> 
> Komik! Pada waktu kecil, mulai berkembang komik-komik yang 
menggambarkan bagaimana keadaan surga dan neraka. Ketika itu dada 
saya terasa sesak dan ketakutan karena membaca dan melihat gambar-
gambar komik itu. Komik itulah yang menggambarkan betapa biadabnya 
siksaan yang akan kita terima di neraka kelak.
> 
> Komik itu sudah populer pada akhir tahun 1970-an. Ketika saya 
menjalani masa kanak-kanak, komik-komik dalam bentuk yang sangat 
sederhana itu sudah beredar di toko-toko. Dan itu menjadi bahan yang 
seolah-olah menggiurkan untuk dibaca.
> 
> Komik-komik ini menimbulkan horor dalam ingatan dalam konteks 
beragama. Memori saya, kalau mengingat itu kembali akan terteror. 
Penggambaran di komik itu membuat jiwa kanak-kanak saya menjadi 
sangat kecil, lalu berhadapan dengan Tuhan dengan rasa takut yang 
sangat maksimal. Jadi, agama dan Tuhan dalam ingatan saya waktu 
kecil, diajarkan sebagai suatu medium yang mengerikan. Karena rasa 
takut itu, ketundukan harus dipelihara.
> 
> ULIL: Selain komik dan masjid, Adakah institusi lain yang justru 
merapatkan Anda dengan agama?
> 
> Ada. Bukan hanya institusi masjid dan peribadatan saja bentuk 
pengalaman saya dengan agama. Sejumlah institusi lain seperti sekolah 
di SD dan madrasah juga. Pagi hari saya di SD dan sore di Ibtidaiyah. 
Ketika itu, saya juga belajar mengaji selepas Maghrib. Seusai Subuh, 
saya juga sempat mengaji kitab kuning dari seorang ustadz. Itu semua 
terjadi, masih di Cibarusah, kampung saya.
> 
> Ketika berkenalan dengan sekolah, tidak ada perubahan mendasar 
dalam pengalaman agama yang saya temukan di kelas-kelas. Perubahan 
mulai terasa ketika saya mulai menduduki bangku SMP. Ketika itu saya 
semakin terdesak untuk menolak banyak hal tentang pengajaran agama. 
Buat saya, apapun perihal agama mesti dijelaskan secara tuntas. 
Sehingga, ketika saya melakukan suatu hal, saya menjadi yakin, karena 
ada alasan di balik perilaku itu. Tidak semua aspek, tentu. 
> 
> Nah, saat itu saya bertanya tentang kiblat; soal boleh-tidaknya 
saya salat menghadap arah kebalikan dari kiblat. Sebab, kalau bumi 
itu bulat tetap saja saya akan menghadap ke Ka'bah kalaupun mesti 
menghadap ke timur saat salat. Guru agama di SMP saya tidak bisa 
menjawab argumen saya. Dia bilang, "harus ke barat, tidak boleh ke 
timur!"
> 
> ULIL: Setelah kuliah, refleksi keagamaan Anda tentu berkembang. 
Padahal tahun 1980-an, kampus-kampus "sekuler" disemarakkan oleh 
gerakan-gerakan keislaman (usrah). Apakah Anda juga ikut terlibat?
> 
> Ya, saya ikut terlibat dalam semaraknya kegiatan Islam di kampus. 
Secara tak sengaja saya masuk dalam suatu organisasi. Tapi kemudian 
justru saya menjadi ketua umum Forum Studi Islam (FSI) yang pertama 
di FISIP UI. Itupun sebetulnya hasil pergulatan saya sebelumnya.
> 
> Ketika saya masuk UI tahun 1987, kegiatan keislaman sangat semarak. 
Ketika itulah orang sedang bangga-bangganya menempelkan stiker di 
mobil atau motor untuk menampilkan identitas mereka. Kegiatan 
pengajian skala kecil, kultum di musalla juga semarak. Situasi ini 
menciptakan "konflik" yang agak menggelikan. Yaitu antara mereka yang 
aktif dalam usrah dengan kelompok yang berdiri di seberangnya dan 
menganggap usrah sebagai perusak tatanan kehidupan kampus yang sudah 
dibangun dalam tradisi yang panjang.
> 
> ULIL: "Konflik" itu ikut mempengaruhi kecenderungan Anda selaku 
aktivis kampus?
> 
> Oh, ya. Di kelompok A, saya dianggap kelompok B, dan di kelompok B, 
saya justru diidentifikasi sebagai kelompok A. Namun identifikasi 
diri saya yang paling menonjol adalah sebagai "orang hijau". Ketika 
konflik semakin memuncak, saya justru menjadi semacam jalan keluar. 
Ketika itu, terjadi kebuntuan antarkedua kelompok yang menginginkan 
terbentuknya sebuah organisasi baru yang bisa mengorganisir kegiatan 
keislaman. Tapi, organisasi tersebut harus dipimpin orang yang bisa 
berkomunikasi dengan dua pihak sekaligus.
> 
> ULIL: Menarik sekali pengalaman Anda. Sekarang saya bertanya pada 
hal yang besar lagi, bagaimana Anda melihat Islam di Indonesia? 
Apakah Islam punya kontribusi dalam menguatkan demokratisasi?
> 
> Ada bentuk-bentuk sumbangan Islam bagi demokratisasi, lebih-lebih 
kalau kita mendengarkan disertasi kawan kita, Saiful Mujani (Ph.D di 
Ohio State University dengan tajuk Religious Democrats: Democratic 
Culture and Muslim Participation in Post Suharto Era: 2003, Red). Dia 
menemukan, pada kalangan umat Islam di Indonesia, ternyata ada 
semacam kebudayaan politik yang sebetulnya potensial menjadi basis 
persemaian demokrasi. Ada modal sosial (social capital) yang 
disiapkan Islam. Memang hanya sebatas itu saja. Jadi, ada peran 
agama, sebagaimana peran variabel-variabel lain yang ikut membentuk 
budaya politik di masyarakat kita agar masyarakat siap untuk masuk 
dalam dunia demokrasi.
> 
> ULIL: Nah, budaya politik macam apa yang telah disumbangkan Islam, 
terutama dalam konteks Islam di Indonesia?
> 
> Lagi-lagi saya dipengaruhi oleh Saiful Mujani untuk menjawab ini. 
Saya baru saja membaca sebagian hasil risetnya. Misalnya saja, krisis 
yang dipandang sedang berlangsung di Amerika sekarang adalah krisis 
paguyuban; orang tidak lagi merasa menjadi bagian dari orang lain; 
orang semakin menyendiri, dan ikatan-ikatan sosial semakin melemah. 
Ternyata, krisis itu tidak terjadi di Indonesia. Menurut Saiful, 
nilai-nilai paguyuban di Indonesia ditanggulangi pemeliharaannya oleh 
agama. Ada banyak perilaku sosial dalam masyarakat kita yang dibantu 
oleh Islam agar masyarakat ikut merasa memilikinya. Jadi ada semacam 
ikatan sosial yang terpelihara oleh agama.
> 
> ULIL: Artinya bila ikatan sosial itu terpelihara, proses 
demokratisasi menjadi lebih dimudahkan?
> 
> Bukan. Hasilnya bisa menjadi dua kemungkinan yang berbeda. Saya 
ambil contoh. Di Cibarusah hingga hari ini masih terpelihara bentuk-
bentuk paguyuban yang berbasis agama. Di sana ada organisasi kematian 
untuk menangani orang mati yang dalam Islam disebut sebagai kewajiban 
kolektif (fardlu kifayah). Ada juga kegiatan pengajian yang terus-
menerus, rutin dan berpuluh-puluh tahun tetap memelihara ikatan 
sosial dalam masyarakat. Tapi persoalannya adalah: ketika identitas 
kelompok terbentuk, dia bisa potensial menjadi positif dan negatif 
sekaligus. Sumbangannya untuk demokrasi akan penting kalau ternyata 
identitas yang ditanam dalam kelompok itu adalah identitas Islam yang 
mengajarkan sikap toleran, hanif, inklusif dan lain-lain. Sebaliknya, 
jika nilai-nilai Islam yang disebarkan berbasis pada eklusivitas, 
intoleransi dan sejenisnya, maka akan kontraproduktif bagi demokrasi.
> 
> ULIL: Nampaknya, Anda cukup akrab dengan istilah-istilah hanif, 
kalimatun sawa' dan inklusif. Apakah Anda seorang pembaca Cak Nur 
yang intensif?
> 
> Saya bukan pembaca Cak Nur yang intensif. Tapi sebagian besar saya 
merasa terwadahi oleh gagasan Cak Nur. Menurut saya, seperti itulah 
mestinya Islam yang berkembang di Indonesia ke depan.
> 
> Tapi sekarang ada gejala pembentukan opini publik soal Islam yang 
cenderung berbeda dengan gagasan Cak Nur. Bicara soal Islam ialah 
bicara soal pemahaman keislaman masyarakat secara umum. Kalau melihat 
fakta dari kelompok penentang gagasan besar Cak Nur yang hanya 
menghasilkan kekuatan kecil, maka kesimpulan yang kita buat sementara 
ini ialah: Islam moderat lebih tersebar di tengah masyarakat 
ketimbang Islam galak. []
> 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke