Ngomong2 soal iman, nih ada bacaan menarik yang boleh kita simak, terutama buat adik2 yang masih muda, dibawah kepala 3.
Salam nasional! RM D Hadinoto Se (l-k) uler Goenawan Mohamad Seseorang pernah berkata, ada hubungan erat antara telepon seluler dan pemikiran sekuler. Teknologi modern, katanya, tak bisa diciptakan, disebarkan dan dinikmati, seandainya manusia tak pernah lepas dari ketakutan kepada Tuhan. Kemal Attaturk akan memimpin Turki yang kalah perang seandainya ia mengikuti fatwa ulama bahwa mortir dan mitraliyur adalah senjata yang `haram', benda orang `kafir'. Memang aneh bila Tuhan dibayangkan mengatur mortir. Hari ini dunia pengalaman telah mekar dan manusia membuka aneka laku dan kerja. Agaknya itulah yang dimaksudkan Iqbal, ketika ia bicara di depan Tuhan: Kau ciptakan malam, tapi kubuat lampu, Kau ciptakan lempung, tapi kubentuk cupu Kau ciptakan gurun, hutan dan gunung, Kuhasilkan taman, sawah dan kebun Membuat lampu, membentuk cupu, mengolah kebun -- di situlah teknologi ditemukan, dan untuk itu akal dikerahkan.. Di depan Tuhan, Iqbal ingin menunjukkan bahwa imannya tak mendorongnya tenggelam ke dalam rasa gentar yang kronis. Meskipun ia bukan Attaturk, dengan mantap ia pisahkan mana yang wilayah Tuhan (malam, lempung, dst.) dan mana yang wilayah manusia (lampu, cawan, dst.). Ia akui daya kreatif Yang Suci, tapi ia tampilkan penciptaan yang terlepas dari yang sakral. Buahnya adalah benda-benda peradaban yang independen, sebuah dunia sekuler dalam sejarah. Tentu, Iqbal tak menggunakan kata `sekuler', tapi sajaknya, seperti terungkap dalam Asrar-e khudi yang menggaris- bawahi kemerdekaan `ego insani', mengandung iman yang mengakui kebesaran Tuhan tapi menegaskan otonomi manusia. Di situlah `sekuler' tak sama dengan `murtad'. Tentu saja `murtad' atau `bid'ah' pada akhirnya keputusan manusia juga � yang karena satu dan lain hal menganggap diri penjaga akidah. Tapi kita tahu tiap keputusannya diambil dengan Hakim yang in absentia. Tuhan tak hadir dalam sidang. Hanya para penjaga akidah sering tak sadar bahwa atas Nama-Nya pun mereka bisa keliru. Seabad lebih sebelum sekularisme diberlakukan dengan sengit oleh Revolusi Prancis, di Italia sudah ada kecemasan besar bahwa wilayah Tuhan akan direbut wilayah manusia. Pada musim gugur 1624, dalam kuliah pembukaan di Collegio Romano, Pater Spinola, padri Jesuit dari Genoa, mengutarakan dengan fasih pendirian ordonya, yang saat itu tengah menghadapi polemik yang ditembakkan seorang ilmuwan yang tak begitu patuh, Galileo. Suasana memang panas. Setahun sebelumnya di Roma terbit Il Saggiatore, sebuah kombinasi yang asyik antara teori fisika dan cemooh ke kaum Jesuit. Dalam Galileo Heretico, sebuah buku yang secara mendalam menguraikan konflik Galileo dengan Gereja, Pietro Redondi menunjukkan bahwa di hari-hari itu Il Saggiatore, tulisan Galileo � yang bermula dengan sebuah teori tentang cahaya -- dijadikan penyambung suara yang menuntut kebebasan intelektuil: agar pemikiran manusia bertolak dari `bobot akal budi', dan bukan dari `otoritas'. Tapi Gereja berdiri tegak: ia Sang Otoritas. Sejak theologi Thomas Aquinas, otoritas agama dikukuhkan di atas apapun, dan bagi kaum Jesuit di Collegio Romano, iman adalah panglima bagi akal. Kata-kata Pater Spinola tegas: `Satu-satunya hal yang penting bagi filosof, agar mengetahui kebenaran yang satu dan sederhana, adalah untuk menentang apa saja yang melawan Iman dan menerima apa yang termaktub dalam Iman'. Dengan kata lain, di zaman itu filsafat tak boleh berada di wilayah yang mandiri. Iman menguasai hidup. Filsafat, buah pikiran manusia, bukan untuk menjelaskan segalanya. Hari itu seakan-akan bergema sebuah argumen yang menghabisi peran filsafat dalam kehidupan beragama, bahkan ketika filsafat itu mencoba menjelaskan Tuhan � gema dari Tah�fut al-Fal�sifah Al Ghazali di abad ke-11, suara yang kemudian melumpuhkan pemikiran di dunia Timur. Tapi dalam bentuk apa Tuhan hadir, selain dalam tafsir? Dan bukankah tafsir kukuh karena kekuasaan? Sebelum terbit Il Saggiatore, di awal 1616 Vatikan telah memaklumkan bahwa teori Kopernikus adalah bid'ah. Galileo, seorang pengikut Kopernikus, waktu itu telah jadi sasaran, meskipun baru 17 tahun kemudian ia jadi korban. Ia dianggap menafsirkan Injil dengan gagasan yang sesat bahwa `bumi bergerak dan langit berhenti'. Ketika Kardinal Bellarmino menyampaikan keputusan itu, ilmuwan itu tahu apa yang mengancam dirinya. Empatbelas tahun sebelum hari itu Bellarmino membungkam Giordano Bruno dengan ganas. Pembangkang itu dihukum bakar. `Dengan kekuatan telah kutaklukkan otak mereka yang angkuh' � itulah epigraf yang tertulis di makam sang Kardinal. Galileo pun merunduk. Tapi kekuatan tak menyelesaikan segala-galanya. Pada 1992, tiga setengah abad setelah Galileo dihukum, Vatikan mengakui bahwa Tahta Suci telah salah memutuskan. Betapa terlambat, betapa percuma. Selama itu orang toh bergerak dengan teori Kopernikus, Uni Soviet yang tak ber-Tuhan meluncurkan Sputnik, dan Neil Armstrong mendarat di bulan tanpa kitab suci.Yang `sekuler' meluas. Tapi lebih dari itu, ia membentuk kesadaran kita tentang yang baik dan yang buruk. Nilai- nilai tak dikonfirmasikan lagi kepada Yang Suci, melainkan dengan hakim dan polisi. Anda mungkin cemas akan tendensi itu, tapi lihatlah: bahkan di abad ke-20 `sekularisasi' itu ditiru, dengan arah terbalik, oleh para penjaga akidah. Arab Saudi, contohnya. Ketika keimanan diatur oleh undang-undang dan dijaga polisi, Yang Suci akhirnya diwakili oleh sebuah birokrasi. Ketika dosa diperlakukan sama seperti tindak kriminil, Yang Suci pun kehilangan aura, seperti pemilik toko yang dirampok. Ia jadi rutin, banal, tanpa keagungan. Akhirnya Negara berjela jadi berhala, dan Tuhan dipasang di fotokopi. Goenawan Mohamad --- In [EMAIL PROTECTED], "himawan sutanto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ----- Original Message ----- > From: "djunaedi sahrawi" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Monday, September 20, 2004 5:56 AM > Subject: [ppiindia] Eep Saefulloh Fatah: Kepada saya, Islam Diajarkan secara > Keliru > > > http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=365 > Eep Saefulloh Fatah: > Kepada saya, Islam Diajarkan secara Keliru > Tanggal dimuat: 6/7/2003 > > > Sosialisasi agama pada taraf yang sangat sederhana selalu menekankan etika > ketakutan (ethics of fear) ketimbang etika harapan (ethics of hope). > Ketundukan dibangun di atas pondasi ketakutan seorang hamba kepada > Khaliqnya. Seolah kebesaran Tuhan ditentukan oleh semakin kecilnya manusia > dan semakin horornya kosmos metafisik yang mengitari Tuhan. > ========================================== > HS: ya betul implikasi itu akan terwujud jika yg diterapkan adalah selain > ajaran islam buktinya ketika dulu gereja menjadi setara dengan penguasa maka > gereja tidak lain hanyalah kantong uang yang memeras rakyat dengan dalil > menebus dosa > > > Berikut wawancara dengan Eep Saefulloh Fatah, pengamat politik dari > Universitas Indonesia yang kini sedang menempuh studi di Ohio State > University (OSU), Amerika. Kebetulan Eep sekarang sedang "mudik" selama 2 > bulan. Dalam perbincangan dengan Ulil Abshar-Abdalla pada 3 Juli 2003, Eep > juga memaparkan kontribusi Islam terhadap konsolidasi demokrasi di > Indonesia. > =============================================== > > HS: kontribusi demokrasi terhadap islam yaitu hub.yang saling menghancurkan > buktinya demokrasi telah menjauhkan umat dari ajarannya yg agung > > > ULIL ABSHAR-ABDALLA: Kang Eep, Pemilu sebentar lagi dan anda sudah lama > belajar mengamati politik negara kita. Apakah Anda melihat adanya keganjilan > dalam hubungan antara agama dan politik, khususnya pasca reformasi? > > EEP SYAUFULLOH FATAH: Masa reformasi ini nampaknya membangkitkan kembali > harapan sebagian kecil penganut agama (Islam) untuk menghubungkan secara > sangat rapat antara agama dan politik, khususnya antara Islam dan negara. > Saya melihat, dalam batas tertentu ini adalah setback atau langkah mundur > dari agenda reformasi. Untungnya, lima tahun reformasi membuktikan bahwa > mereka yang mendorong langkah mundur itu sebetulnya tidak signifikan > kekuatannya, baik dari segi jumlah maupun dari sisi kemampuan > mengartikulasikan gagasan mereka. > =============================================== > HS: ingat bahwa langkah mundur yg sebenarnya adalah sekularisme itu sendiri > justru karena ulah sekulerisme maka daulah khilafah terfragmentasi dalam > sekat-sekat nasionalisme yang telah mengakibatkan perang saudara, ini > jelas-jelas bencana akibat sekularisme > -------------------------------------------------------------------- -------- > - > ULIL: Bagaimana dengan agenda yang diperjuangkan partai-partai Islam? > > Menurut saya, ketika kita menyebut "partai Islam", ada ruang perdebatan di > situ; tentang benda apa ini gerangan. Yang saya tidak setuju adalah > partai-partai yang berorientasi untuk mendirikan negara Islam. Bahwa > kemudian kalangan tertentu membuat partai dan karena ketidakmampuan > mendefinisikan diri sendiri, lalu menggunakan nama Islam tanpa orientasi, > sebetulnya itu masih bisa ditolerir. > ================================================= > HS: ketidak setujuan Eep disebabkan karena dia tidak mampu menyerap > nilai-nilai wahyu secara kulli dia hanya bertolak dari pandangan sosiologis > belaka > -------------------------------------------------------------------- -------- > -- > ULIL: Secara kategoris, anda seorang santri. Bagaimana menghubungkan antara > kesantrian dengan cita-cita sosial politik yang Anda anggap sesuai dengan > tuntutan ideal agama? > > Saya merasa bersyukur tumbuh dan besar dalam sebuah keluarga yang memahami > agama tidak secara kaku; sebagai satu-satunya perlengkapan untuk mencapai > kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini rumusan yang saya buat sendiri. Saya > tahu, ibu dan bapak saya tidak pernah mengatakan itu. Saya bisa mengatakan > begitu karena agama yang diajarkan di rumah sebetulnya lebih banyak > mengajarkan perihal etika, manual tingkah laku, dan semacam basis moralitas > ketika kita harus memosisikan dengan diri sendiri dan masyarakat. Dengan > begitu, saya tidak merasa pernah diajarkan untuk melakukan formalisasi > agama. Buat saya itu sesuatu yang patut saya syukuri di kemudian hari. > =============================================== > HS: menolak formalisasi agama berarti memang tidak memahami islam secara > utuh dan tidak sepatutnya ini disyukuri karena justru hal ini berarti > kepicikan dalam memahami wahyu karena itulah yg dikehendaki oleh sistem yang > kufur yaitu menciptakan keluarga yg sekuler > -------------------------------------------------------------------- ---- > ULIL: Sebenarnya bagaimana sih "perkenalan" pertama kali Anda dengan agama? > > Perkenalan saya dengan agama dimulai sangat dini, sejak menginjak usia dua > setengah tahun. Saat itulah saya dikhitan. Dengan begitu, saya mendapat > tambahan kewajiban yang diberitakan oleh keluarga di sekitar saya. Tapi > perkenalan saya lebih kongkrit dengan agama, terjadi beberapa tahun setelah > itu. Yaitu ketika saya mulai diajak ayah untuk salat Jum'at berjamaah. > Sebelum itu, saya juga pernah diajak, tapi masih agak enggan. > > Nah, mulailah saya berkenalan dengan agama sebagai sebuah otoritas baru yang > cukup mengejutkan. Representasinya adalah sebuah masjid yang belum pernah > saya masuki, kecuali bermain di pelatarannya saja. Saya duduk di saf yang > depan, berhadapan langsung dengan mimbar, dengan karpet warna hijau dan > khatib yang memegang tombak dengan gagah. Tombak yang di pegang khatib masih > dalam bentuk aslinya, tidak berganti sejak masjid itu didirikan tahun 1937. > Yang masih tersisa dari ingatan saya soal itu adalah adanya sesuatu yang > sakral yang sedang diperkenalkan pada saya. > =============================================== > HS: cobalah memahami islam secara rinci coba pelajari dalil-dalil dalam > sumber syariah jangan hanya bertumpa pada akal semata yang dikedepankan > sehingga melampaui kandungan2 wahyu, inilah yang disebut kebathilan > -------------------------------------------------------------------- -------- > ------------------ > ULIL: Apakah sekarang Anda punya evaluasi atas cara mengenalkan Islam yang > dulu Anda pernah alami? > > Saya merasa, Islam diajarkan kepada saya -jangan-jangan juga kepada orang > lain- secara keliru. Kekeliruan itu bisa jadi bertumpuk-tumpuk. Misalnya, > Islam diajarkan hanya sesuai dengan apa yang dipahami oleh mereka yang > merasa punya otoritas untuk mengajar saya ketika itu. Saya ingat, di saat > salat Jum'at, para khatib selalu menyampaikan hal-hal yang bernada ancaman > atas siapapun; bahwa hidup di dunia ini sebentar, dan setelah itu kita akan > berhadapan dengan dua pilihan: entah menjadi penghuni surga atau neraka! > Kepada kami disampaikan ancaman, jika kita keliru menjalankan hidup yang > amat pendek ini, kita akan menjadi penghuni neraka. > ============================================================ > HS: itu bukan ancaman manusia/ulama tetapi memang itu adalah ancaman al > Khalik jadi simaklah baik-baik ayat-ayat Allah jangan hanya dijadikan hiasan > belaka, dalam negara sekuler memang islam diajarkan secara keliru yaitu > mereka hanya mengenal islam berupa simbol-simbol ritual yang tidak mampu > mengatasi gejolak sosial kemasyarakatan > ------------------------------------------------- > ULIL: Ada pengalaman traumatis dari perkenalan Anda dengan agama saat itu? > > Komik! Pada waktu kecil, mulai berkembang komik-komik yang menggambarkan > bagaimana keadaan surga dan neraka. Ketika itu dada saya terasa sesak dan > ketakutan karena membaca dan melihat gambar-gambar komik itu. Komik itulah > yang menggambarkan betapa biadabnya siksaan yang akan kita terima di neraka > kelak. > > Komik itu sudah populer pada akhir tahun 1970-an. Ketika saya menjalani masa > kanak-kanak, komik-komik dalam bentuk yang sangat sederhana itu sudah > beredar di toko-toko. Dan itu menjadi bahan yang seolah-olah menggiurkan > untuk dibaca. > > Komik-komik ini menimbulkan horor dalam ingatan dalam konteks beragama. > Memori saya, kalau mengingat itu kembali akan terteror. Penggambaran di > komik itu membuat jiwa kanak-kanak saya menjadi sangat kecil, lalu > berhadapan dengan Tuhan dengan rasa takut yang sangat maksimal. Jadi, agama > dan Tuhan dalam ingatan saya waktu kecil, diajarkan sebagai suatu medium > yang mengerikan. Karena rasa takut itu, ketundukan harus dipelihara. > =================================================== > HS: disamping ancaman dalam quran juga berisi janji terhadap surga jadi > wajar saja jika kita merasa ngeri karena kitapun patut bertanya apakah kita > sudah benar2 beriman kpd al quran > ----------------------------------------------------------------- > ULIL: Selain komik dan masjid, Adakah institusi lain yang justru merapatkan > Anda dengan agama? > > Ada. Bukan hanya institusi masjid dan peribadatan saja bentuk pengalaman > saya dengan agama. Sejumlah institusi lain seperti sekolah di SD dan > madrasah juga. Pagi hari saya di SD dan sore di Ibtidaiyah. Ketika itu, saya > juga belajar mengaji selepas Maghrib. Seusai Subuh, saya juga sempat mengaji > kitab kuning dari seorang ustadz. Itu semua terjadi, masih di Cibarusah, > kampung saya. > > Ketika berkenalan dengan sekolah, tidak ada perubahan mendasar dalam > pengalaman agama yang saya temukan di kelas-kelas. Perubahan mulai terasa > ketika saya mulai menduduki bangku SMP. Ketika itu saya semakin terdesak > untuk menolak banyak hal tentang pengajaran agama. Buat saya, apapun perihal > agama mesti dijelaskan secara tuntas. Sehingga, ketika saya melakukan suatu > hal, saya menjadi yakin, karena ada alasan di balik perilaku itu. Tidak > semua aspek, tentu. > > Nah, saat itu saya bertanya tentang kiblat; soal boleh-tidaknya saya salat > menghadap arah kebalikan dari kiblat. Sebab, kalau bumi itu bulat tetap saja > saya akan menghadap ke Ka'bah kalaupun mesti menghadap ke timur saat salat. > Guru agama di SMP saya tidak bisa menjawab argumen saya. Dia bilang, "harus > ke barat, tidak boleh ke timur!" > ================================================ > HS: ini artinya eep menjadikan fakta sebagai argumen padahal jika dia mau > jujur maka dia harus kembali kpd nilai-nilai wahyu karena manusia tidak > lepas dari rasa khilaf > > ULIL: Setelah kuliah, refleksi keagamaan Anda tentu berkembang. Padahal > tahun 1980-an, kampus-kampus "sekuler" disemarakkan oleh gerakan- gerakan > keislaman (usrah). Apakah Anda juga ikut terlibat? > > Ya, saya ikut terlibat dalam semaraknya kegiatan Islam di kampus. Secara tak > sengaja saya masuk dalam suatu organisasi. Tapi kemudian justru saya menjadi > ketua umum Forum Studi Islam (FSI) yang pertama di FISIP UI. Itupun > sebetulnya hasil pergulatan saya sebelumnya. > > Ketika saya masuk UI tahun 1987, kegiatan keislaman sangat semarak. Ketika > itulah orang sedang bangga-bangganya menempelkan stiker di mobil atau motor > untuk menampilkan identitas mereka. Kegiatan pengajian skala kecil, kultum > di musalla juga semarak. Situasi ini menciptakan "konflik" yang agak > menggelikan. Yaitu antara mereka yang aktif dalam usrah dengan kelompok yang > berdiri di seberangnya dan menganggap usrah sebagai perusak tatanan > kehidupan kampus yang sudah dibangun dalam tradisi yang panjang. > ================================================ > HS: yang hak dan bathil memang tidak akan pernah bercampur oleh karena > itulah yg terjadi jika pola pikir sekuler telah menjerat otak umat > > ULIL: "Konflik" itu ikut mempengaruhi kecenderungan Anda selaku aktivis > kampus? > > Oh, ya. Di kelompok A, saya dianggap kelompok B, dan di kelompok B, saya > justru diidentifikasi sebagai kelompok A. Namun identifikasi diri saya yang > paling menonjol adalah sebagai "orang hijau". Ketika konflik semakin > memuncak, saya justru menjadi semacam jalan keluar. Ketika itu, terjadi > kebuntuan antarkedua kelompok yang menginginkan terbentuknya sebuah > organisasi baru yang bisa mengorganisir kegiatan keislaman. Tapi, organisasi > tersebut harus dipimpin orang yang bisa berkomunikasi dengan dua pihak > sekaligus. > ================================================ > HS: solusi yang hakiki adalah Islam terbukti bahwa islam mampu merespons > berbagai gejala kehidupan karena hanya Allah yang berhak berdaulat > > ULIL: Menarik sekali pengalaman Anda. Sekarang saya bertanya pada hal yang > besar lagi, bagaimana Anda melihat Islam di Indonesia? Apakah Islam punya > kontribusi dalam menguatkan demokratisasi? > > Ada bentuk-bentuk sumbangan Islam bagi demokratisasi, lebih-lebih kalau kita > mendengarkan disertasi kawan kita, Saiful Mujani (Ph.D di Ohio State > University dengan tajuk Religious Democrats: Democratic Culture and Muslim > Participation in Post Suharto Era: 2003, Red). Dia menemukan, pada kalangan > umat Islam di Indonesia, ternyata ada semacam kebudayaan politik yang > sebetulnya potensial menjadi basis persemaian demokrasi. Ada modal sosial > (social capital) yang disiapkan Islam. Memang hanya sebatas itu saja. Jadi, > ada peran agama, sebagaimana peran variabel-variabel lain yang ikut > membentuk budaya politik di masyarakat kita agar masyarakat siap untuk masuk > dalam dunia demokrasi. > ========================================== > HS: dunia demokrasi tidak menjanjikan apa-apa kecuali memang kengerian yang > disitir oleh eep ketika islam diperkenalkan dengan horor padahal > kenyataannya horor dan pertumpahan darah dinegeri kaum muslimin adalah > akibat demokrasi yang dijajakan barat > > ULIL: Nah, budaya politik macam apa yang telah disumbangkan Islam, terutama > dalam konteks Islam di Indonesia? > > Lagi-lagi saya dipengaruhi oleh Saiful Mujani untuk menjawab ini. Saya baru > saja membaca sebagian hasil risetnya. Misalnya saja, krisis yang dipandang > sedang berlangsung di Amerika sekarang adalah krisis paguyuban; orang tidak > lagi merasa menjadi bagian dari orang lain; orang semakin menyendiri, dan > ikatan-ikatan sosial semakin melemah. Ternyata, krisis itu tidak terjadi di > Indonesia. Menurut Saiful, nilai-nilai paguyuban di Indonesia ditanggulangi > pemeliharaannya oleh agama. Ada banyak perilaku sosial dalam masyarakat kita > yang dibantu oleh Islam agar masyarakat ikut merasa memilikinya. Jadi ada > semacam ikatan sosial yang terpelihara oleh agama. > ================================================ > HS: akan lebih baik lagi jika islam bukan hanya dipahami sebagai mainstream > ruhiy tapi juga sebagai sistem/ideologi yang akan memelihara akal, > kehormatan, keturunan dan jiwa, inilah rahmatan lil alamin yg inheren dengan > islam > > ULIL: Artinya bila ikatan sosial itu terpelihara, proses demokratisasi > menjadi lebih dimudahkan? > > Bukan. Hasilnya bisa menjadi dua kemungkinan yang berbeda. Saya ambil > contoh. Di Cibarusah hingga hari ini masih terpelihara bentuk-bentuk > paguyuban yang berbasis agama. Di sana ada organisasi kematian untuk > menangani orang mati yang dalam Islam disebut sebagai kewajiban kolektif > (fardlu kifayah). Ada juga kegiatan pengajian yang terus-menerus, rutin dan > berpuluh-puluh tahun tetap memelihara ikatan sosial dalam masyarakat. Tapi > persoalannya adalah: ketika identitas kelompok terbentuk, dia bisa potensial > menjadi positif dan negatif sekaligus. Sumbangannya untuk demokrasi akan > penting kalau ternyata identitas yang ditanam dalam kelompok itu adalah > identitas Islam yang mengajarkan sikap toleran, hanif, inklusif dan > lain-lain. Sebaliknya, jika nilai-nilai Islam yang disebarkan berbasis pada > eklusivitas, intoleransi dan sejenisnya, maka akan kontraproduktif bagi > demokrasi. > ======================================================= > HS: akan menjadi negatif jika sekulerisme menjadi jiwa dari sebuah kutlah > karena sekuler berarti menerima islam namun dipihak lain juga melakukan > upaya resistensi > > ULIL: Nampaknya, Anda cukup akrab dengan istilah-istilah hanif, kalimatun > sawa' dan inklusif. Apakah Anda seorang pembaca Cak Nur yang intensif? > > Saya bukan pembaca Cak Nur yang intensif. Tapi sebagian besar saya merasa > terwadahi oleh gagasan Cak Nur. Menurut saya, seperti itulah mestinya Islam > yang berkembang di Indonesia ke depan. > ======================================================== > HS: untuk memahami istilah tersebut tidak perlu mengambil referensi cak nur > yang sekuler tetapi referensi yg diambil adalah yang memang mampu menyerap > dan mengaplikasikan nilai rasa al quran bukan yang bertumpu pada ar ra'yu > sehingga menganggap bahwa sekuler=islam, dan jika dikembalikan kepada diktum > wahyu secara orisinil tanpa adanya intervensi sekuler ternyata gagasan cak > nur juga merupakan gagasan yg tidak laku buktinya dibeberapa daerah mereka > semakin rindu dengan syariah juga bagaimana ketika gusdur ingin menghapuskan > ucapan salam dengan selamat pagi justru ucapan salam semakin membumi, > kalaupun syariah belum membumi justru itulah kita mengajak seluruh umat > untuk memahami islam secara benar dan baik dan kita sangat yakin jika kita > menolong agamaNya maka pasti Allah pun akan menolong kita > > Tapi sekarang ada gejala pembentukan opini publik soal Islam yang cenderung > berbeda dengan gagasan Cak Nur. Bicara soal Islam ialah bicara soal > pemahaman keislaman masyarakat secara umum. Kalau melihat fakta dari > kelompok penentang gagasan besar Cak Nur yang hanya menghasilkan kekuatan > kecil, maka kesimpulan yang kita buat sementara ini ialah: Islam moderat > lebih tersebar di tengah masyarakat ketimbang Islam galak. > ======================================================== > HS: islam galak? islam moderat? ini menunjukan kekeliruan JIL, karena > sesuatu tidak dapat dilihat dari realitas semata tapi harus dikembalikan > kepada sumber-sumber normatif dan ternyata islam galak dan islam > moderat/sekuler keduanya tidak pernah diakui oleh nash syariah, sekali lagi > memang tinjauan sosiologis yang membangun kaidah hanya dari fakta- fakta > ternyata hanya menghasilkan ketumpulan dalam memahami berfikir yang > menelurkan produk sesat yang bernama sekulerisme yang telah merusak, > menghancurkan dan menenggelamkan aqidah umat. islam galak jelas bertentangan > dengan nash yg banyak mengajak menyeru kepada kebaikan dengan kaidah-kaidah > diplomatis bukan anarkis, sedangkan islam sekuler berarti mereka ingin > memadukan antara yg hak dan bathil karena sesungguhnya ide ini lahir akibat > keputusasaan barat dalam memerangi islam dan memang islam tidak akan pernah > mengenal kalah ini tentunya bisa dibedakan dengan kekalahan umatnya yg telah > menunduk patuh dalam kerangka wilayah sekulerisme, maka jalan satu- satunya > adalah menerapkan islam secara kaffah. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

