Ngomong2 soal iman, nih ada bacaan menarik yang boleh kita simak, 
terutama buat adik2 yang masih muda, dibawah kepala 3.

Salam nasional!

RM D Hadinoto




Se (l-k) uler

Goenawan Mohamad

 

Seseorang pernah berkata, ada hubungan erat antara telepon seluler 
dan pemikiran sekuler. Teknologi modern, katanya, tak bisa 
diciptakan, disebarkan dan dinikmati, seandainya manusia tak pernah 
lepas dari ketakutan kepada Tuhan. Kemal Attaturk akan memimpin Turki 
yang kalah perang seandainya ia mengikuti fatwa ulama bahwa mortir 
dan mitraliyur  adalah senjata yang `haram',  benda orang `kafir'.

Memang aneh bila Tuhan dibayangkan mengatur mortir. Hari ini dunia 
pengalaman telah mekar dan manusia membuka aneka laku dan kerja. 
Agaknya itulah yang dimaksudkan Iqbal, ketika ia bicara di depan 
Tuhan: 

Kau ciptakan malam, tapi kubuat lampu,

Kau ciptakan lempung, tapi kubentuk  cupu 

Kau ciptakan gurun, hutan dan gunung,

Kuhasilkan taman, sawah dan kebun 

Membuat lampu, membentuk cupu, mengolah kebun -- di situlah teknologi 
ditemukan, dan untuk itu akal dikerahkan.. Di depan Tuhan, Iqbal 
ingin menunjukkan bahwa imannya tak mendorongnya tenggelam ke dalam 
rasa gentar yang kronis. Meskipun ia bukan Attaturk, dengan mantap ia 
pisahkan mana yang wilayah Tuhan (malam, lempung, dst.) dan mana yang 
wilayah manusia (lampu, cawan, dst.).  Ia akui daya kreatif Yang 
Suci, tapi ia tampilkan penciptaan yang terlepas dari yang sakral.  
Buahnya adalah benda-benda peradaban yang independen, sebuah dunia 
sekuler dalam sejarah. Tentu, Iqbal tak menggunakan kata `sekuler', 
tapi sajaknya, seperti terungkap dalam Asrar-e khudi yang menggaris-
bawahi kemerdekaan `ego insani',  mengandung iman yang mengakui 
kebesaran Tuhan tapi menegaskan otonomi manusia.  

Di situlah `sekuler' tak sama dengan `murtad'. Tentu saja `murtad' 
atau `bid'ah' pada akhirnya keputusan manusia juga � yang karena satu 
dan lain hal menganggap diri penjaga akidah. Tapi kita tahu tiap 
keputusannya diambil dengan Hakim yang in absentia. Tuhan tak hadir 
dalam sidang. Hanya para penjaga akidah sering tak sadar bahwa atas 
Nama-Nya pun mereka bisa keliru.

Seabad lebih sebelum sekularisme diberlakukan dengan sengit oleh 
Revolusi Prancis, di Italia sudah ada kecemasan besar bahwa wilayah 
Tuhan akan direbut wilayah manusia. Pada musim gugur 1624, dalam 
kuliah pembukaan di Collegio Romano, Pater Spinola, padri Jesuit dari 
Genoa, mengutarakan dengan fasih pendirian ordonya, yang saat itu 
tengah  menghadapi polemik yang ditembakkan seorang ilmuwan yang tak 
begitu patuh, Galileo. Suasana memang panas. Setahun sebelumnya di 
Roma terbit Il Saggiatore, sebuah  kombinasi yang asyik antara teori 
fisika dan cemooh ke kaum Jesuit. Dalam Galileo Heretico, sebuah buku 
yang secara mendalam menguraikan konflik Galileo dengan Gereja, 
Pietro Redondi menunjukkan bahwa di hari-hari itu Il Saggiatore, 
tulisan Galileo � yang bermula dengan sebuah teori tentang cahaya -- 
dijadikan penyambung suara yang menuntut kebebasan intelektuil: agar 
pemikiran manusia bertolak dari `bobot akal budi', dan bukan 
dari `otoritas'.

Tapi Gereja berdiri tegak: ia Sang Otoritas. Sejak theologi Thomas 
Aquinas, otoritas agama dikukuhkan di atas apapun, dan bagi kaum 
Jesuit di Collegio Romano, iman adalah panglima bagi akal. Kata-kata 
Pater Spinola tegas: `Satu-satunya hal yang penting bagi filosof, 
agar mengetahui kebenaran yang satu dan sederhana, adalah untuk 
menentang apa saja yang melawan Iman dan menerima apa yang termaktub 
dalam Iman'. 

Dengan kata lain, di zaman itu filsafat tak boleh berada di wilayah 
yang mandiri. Iman menguasai hidup. Filsafat, buah pikiran manusia, 
bukan untuk menjelaskan segalanya.  Hari itu seakan-akan bergema 
sebuah argumen yang menghabisi peran filsafat dalam kehidupan 
beragama, bahkan ketika filsafat itu mencoba menjelaskan Tuhan � gema 
dari Tah�fut al-Fal�sifah Al Ghazali di abad ke-11, suara yang 
kemudian melumpuhkan pemikiran di dunia Timur. 

Tapi dalam bentuk apa Tuhan hadir, selain dalam tafsir?  Dan bukankah 
tafsir kukuh karena kekuasaan? Sebelum terbit Il Saggiatore, di awal 
1616 Vatikan telah memaklumkan bahwa teori Kopernikus adalah bid'ah. 
Galileo, seorang pengikut Kopernikus, waktu itu telah jadi sasaran, 
meskipun baru 17 tahun kemudian ia jadi korban. Ia dianggap 
menafsirkan Injil dengan gagasan yang sesat bahwa `bumi bergerak dan 
langit berhenti'.  

Ketika Kardinal Bellarmino menyampaikan keputusan itu, ilmuwan itu 
tahu apa yang mengancam dirinya. Empatbelas tahun sebelum hari itu 
Bellarmino membungkam Giordano Bruno dengan ganas. Pembangkang itu 
dihukum bakar. `Dengan kekuatan telah kutaklukkan otak mereka yang 
angkuh' � itulah epigraf yang tertulis di makam sang Kardinal. 
Galileo pun merunduk. 

Tapi kekuatan tak menyelesaikan segala-galanya. Pada 1992, tiga 
setengah abad setelah Galileo dihukum, Vatikan mengakui bahwa Tahta 
Suci telah salah memutuskan. Betapa terlambat, betapa percuma. Selama 
itu orang toh bergerak dengan teori Kopernikus, Uni Soviet yang tak 
ber-Tuhan meluncurkan Sputnik, dan Neil Armstrong mendarat di bulan 
tanpa kitab suci.Yang `sekuler' meluas. Tapi lebih dari itu, ia 
membentuk kesadaran kita tentang yang baik dan yang buruk. Nilai-
nilai tak dikonfirmasikan lagi kepada Yang Suci, melainkan dengan 
hakim dan polisi.

Anda mungkin cemas akan tendensi itu, tapi lihatlah: bahkan di abad 
ke-20 `sekularisasi' itu ditiru, dengan arah terbalik, oleh para 
penjaga akidah.  Arab Saudi, contohnya. Ketika keimanan diatur oleh 
undang-undang dan dijaga polisi, Yang Suci akhirnya diwakili oleh 
sebuah birokrasi. Ketika dosa diperlakukan sama seperti tindak 
kriminil, Yang Suci pun kehilangan aura, seperti pemilik toko yang 
dirampok. Ia jadi rutin, banal, tanpa keagungan. Akhirnya Negara 
berjela jadi berhala, dan Tuhan dipasang di fotokopi.      

 

Goenawan Mohamad




--- In [EMAIL PROTECTED], "himawan sutanto" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> ----- Original Message -----
> From: "djunaedi sahrawi" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, September 20, 2004 5:56 AM
> Subject: [ppiindia] Eep Saefulloh Fatah: Kepada saya, Islam 
Diajarkan secara
> Keliru
> 
> 
> http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=365
> Eep Saefulloh Fatah:
> Kepada saya, Islam Diajarkan secara Keliru
> Tanggal dimuat: 6/7/2003
> 
> 
> Sosialisasi agama pada taraf yang sangat sederhana selalu 
menekankan etika
> ketakutan (ethics of fear) ketimbang etika harapan (ethics of hope).
> Ketundukan dibangun di atas pondasi ketakutan seorang hamba kepada
> Khaliqnya. Seolah kebesaran Tuhan ditentukan oleh semakin kecilnya 
manusia
> dan semakin horornya kosmos metafisik yang mengitari Tuhan.
> ==========================================
> HS: ya betul implikasi itu akan terwujud jika yg diterapkan adalah 
selain
> ajaran islam buktinya ketika dulu gereja menjadi setara dengan 
penguasa maka
> gereja tidak lain hanyalah kantong uang yang memeras rakyat dengan 
dalil
> menebus dosa
> 
> 
> Berikut wawancara dengan Eep Saefulloh Fatah, pengamat politik dari
> Universitas Indonesia yang kini sedang menempuh studi di Ohio State
> University (OSU), Amerika. Kebetulan Eep sekarang sedang "mudik" 
selama 2
> bulan. Dalam perbincangan dengan Ulil Abshar-Abdalla pada 3 Juli 
2003, Eep
> juga memaparkan kontribusi Islam terhadap konsolidasi demokrasi di
> Indonesia.
> ===============================================
> 
> HS: kontribusi demokrasi terhadap islam yaitu hub.yang saling 
menghancurkan
> buktinya demokrasi telah menjauhkan umat dari ajarannya yg agung
> 
> 
> ULIL ABSHAR-ABDALLA: Kang Eep, Pemilu sebentar lagi dan anda sudah 
lama
> belajar mengamati politik negara kita. Apakah Anda melihat adanya 
keganjilan
> dalam hubungan antara agama dan politik, khususnya pasca reformasi?
> 
> EEP SYAUFULLOH FATAH: Masa reformasi ini nampaknya membangkitkan 
kembali
> harapan sebagian kecil penganut agama (Islam) untuk menghubungkan 
secara
> sangat rapat antara agama dan politik, khususnya antara Islam dan 
negara.
> Saya melihat, dalam batas tertentu ini adalah setback atau langkah 
mundur
> dari agenda reformasi. Untungnya, lima tahun reformasi membuktikan 
bahwa
> mereka yang mendorong langkah mundur itu sebetulnya tidak signifikan
> kekuatannya, baik dari segi jumlah maupun dari sisi kemampuan
> mengartikulasikan gagasan mereka.
> ===============================================
> HS: ingat bahwa langkah mundur yg sebenarnya adalah sekularisme itu 
sendiri
> justru karena ulah sekulerisme maka daulah khilafah terfragmentasi 
dalam
> sekat-sekat nasionalisme yang telah mengakibatkan perang saudara, 
ini
> jelas-jelas bencana akibat sekularisme
> --------------------------------------------------------------------
--------
> -
> ULIL: Bagaimana dengan agenda yang diperjuangkan partai-partai 
Islam?
> 
> Menurut saya, ketika kita menyebut "partai Islam", ada ruang 
perdebatan di
> situ; tentang benda apa ini gerangan. Yang saya tidak setuju adalah
> partai-partai yang berorientasi untuk mendirikan negara Islam. Bahwa
> kemudian kalangan tertentu membuat partai dan karena ketidakmampuan
> mendefinisikan diri sendiri, lalu menggunakan nama Islam tanpa 
orientasi,
> sebetulnya itu masih bisa ditolerir.
> =================================================
> HS: ketidak setujuan Eep disebabkan karena dia tidak mampu menyerap
> nilai-nilai wahyu secara kulli dia hanya bertolak dari pandangan 
sosiologis
> belaka
> --------------------------------------------------------------------
--------
> --
> ULIL: Secara kategoris, anda seorang santri. Bagaimana 
menghubungkan antara
> kesantrian dengan cita-cita sosial politik yang Anda anggap sesuai 
dengan
> tuntutan ideal agama?
> 
> Saya merasa bersyukur tumbuh dan besar dalam sebuah keluarga yang 
memahami
> agama tidak secara kaku; sebagai satu-satunya perlengkapan untuk 
mencapai
> kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini rumusan yang saya buat sendiri. 
Saya
> tahu, ibu dan bapak saya tidak pernah mengatakan itu. Saya bisa 
mengatakan
> begitu karena agama yang diajarkan di rumah sebetulnya lebih banyak
> mengajarkan perihal etika, manual tingkah laku, dan semacam basis 
moralitas
> ketika kita harus memosisikan dengan diri sendiri dan masyarakat. 
Dengan
> begitu, saya tidak merasa pernah diajarkan untuk melakukan 
formalisasi
> agama. Buat saya itu sesuatu yang patut saya syukuri di kemudian 
hari.
> ===============================================
> HS: menolak formalisasi agama berarti memang tidak memahami islam 
secara
> utuh dan tidak sepatutnya ini disyukuri karena justru hal ini 
berarti
> kepicikan dalam memahami wahyu karena itulah yg dikehendaki oleh 
sistem yang
> kufur yaitu menciptakan keluarga yg sekuler
> --------------------------------------------------------------------
----
> ULIL: Sebenarnya bagaimana sih "perkenalan" pertama kali Anda 
dengan agama?
> 
> Perkenalan saya dengan agama dimulai sangat dini, sejak menginjak 
usia dua
> setengah tahun. Saat itulah saya dikhitan. Dengan begitu, saya 
mendapat
> tambahan kewajiban yang diberitakan oleh keluarga di sekitar saya. 
Tapi
> perkenalan saya lebih kongkrit dengan agama, terjadi beberapa tahun 
setelah
> itu. Yaitu ketika saya mulai diajak ayah untuk salat Jum'at 
berjamaah.
> Sebelum itu, saya juga pernah diajak, tapi masih agak enggan.
> 
> Nah, mulailah saya berkenalan dengan agama sebagai sebuah otoritas 
baru yang
> cukup mengejutkan. Representasinya adalah sebuah masjid yang belum 
pernah
> saya masuki, kecuali bermain di pelatarannya saja. Saya duduk di 
saf yang
> depan, berhadapan langsung dengan mimbar, dengan karpet warna hijau 
dan
> khatib yang memegang tombak dengan gagah. Tombak yang di pegang 
khatib masih
> dalam bentuk aslinya, tidak berganti sejak masjid itu didirikan 
tahun 1937.
> Yang masih tersisa dari ingatan saya soal itu adalah adanya sesuatu 
yang
> sakral yang sedang diperkenalkan pada saya.
> ===============================================
> HS: cobalah memahami islam secara rinci coba pelajari dalil-dalil 
dalam
> sumber syariah jangan hanya bertumpa pada akal semata yang 
dikedepankan
> sehingga melampaui kandungan2 wahyu, inilah yang disebut kebathilan
> --------------------------------------------------------------------
--------
> ------------------
> ULIL: Apakah sekarang Anda punya evaluasi atas cara mengenalkan 
Islam yang
> dulu Anda pernah alami?
> 
> Saya merasa, Islam diajarkan kepada saya -jangan-jangan juga kepada 
orang
> lain- secara keliru. Kekeliruan itu bisa jadi bertumpuk-tumpuk. 
Misalnya,
> Islam diajarkan hanya sesuai dengan apa yang dipahami oleh mereka 
yang
> merasa punya otoritas untuk mengajar saya ketika itu. Saya ingat, 
di saat
> salat Jum'at, para khatib selalu menyampaikan hal-hal yang bernada 
ancaman
> atas siapapun; bahwa hidup di dunia ini sebentar, dan setelah itu 
kita akan
> berhadapan dengan dua pilihan: entah menjadi penghuni surga atau 
neraka!
> Kepada kami disampaikan ancaman, jika kita keliru menjalankan hidup 
yang
> amat pendek ini, kita akan menjadi penghuni neraka.
> ============================================================
> HS: itu bukan ancaman manusia/ulama tetapi memang itu adalah 
ancaman al
> Khalik jadi simaklah baik-baik ayat-ayat Allah jangan hanya 
dijadikan hiasan
> belaka, dalam negara sekuler memang islam diajarkan secara keliru 
yaitu
> mereka hanya mengenal islam berupa simbol-simbol ritual yang tidak 
mampu
> mengatasi gejolak sosial kemasyarakatan
> -------------------------------------------------
> ULIL: Ada pengalaman traumatis dari perkenalan Anda dengan agama 
saat itu?
> 
> Komik! Pada waktu kecil, mulai berkembang komik-komik yang 
menggambarkan
> bagaimana keadaan surga dan neraka. Ketika itu dada saya terasa 
sesak dan
> ketakutan karena membaca dan melihat gambar-gambar komik itu. Komik 
itulah
> yang menggambarkan betapa biadabnya siksaan yang akan kita terima 
di neraka
> kelak.
> 
> Komik itu sudah populer pada akhir tahun 1970-an. Ketika saya 
menjalani masa
> kanak-kanak, komik-komik dalam bentuk yang sangat sederhana itu 
sudah
> beredar di toko-toko. Dan itu menjadi bahan yang seolah-olah 
menggiurkan
> untuk dibaca.
> 
> Komik-komik ini menimbulkan horor dalam ingatan dalam konteks 
beragama.
> Memori saya, kalau mengingat itu kembali akan terteror. 
Penggambaran di
> komik itu membuat jiwa kanak-kanak saya menjadi sangat kecil, lalu
> berhadapan dengan Tuhan dengan rasa takut yang sangat maksimal. 
Jadi, agama
> dan Tuhan dalam ingatan saya waktu kecil, diajarkan sebagai suatu 
medium
> yang mengerikan. Karena rasa takut itu, ketundukan harus dipelihara.
> ===================================================
> HS: disamping ancaman dalam quran juga berisi janji terhadap surga 
jadi
> wajar saja jika kita merasa ngeri karena kitapun patut bertanya 
apakah kita
> sudah benar2 beriman kpd al quran
> -----------------------------------------------------------------
> ULIL: Selain komik dan masjid, Adakah institusi lain yang justru 
merapatkan
> Anda dengan agama?
> 
> Ada. Bukan hanya institusi masjid dan peribadatan saja bentuk 
pengalaman
> saya dengan agama. Sejumlah institusi lain seperti sekolah di SD dan
> madrasah juga. Pagi hari saya di SD dan sore di Ibtidaiyah. Ketika 
itu, saya
> juga belajar mengaji selepas Maghrib. Seusai Subuh, saya juga 
sempat mengaji
> kitab kuning dari seorang ustadz. Itu semua terjadi, masih di 
Cibarusah,
> kampung saya.
> 
> Ketika berkenalan dengan sekolah, tidak ada perubahan mendasar dalam
> pengalaman agama yang saya temukan di kelas-kelas. Perubahan mulai 
terasa
> ketika saya mulai menduduki bangku SMP. Ketika itu saya semakin 
terdesak
> untuk menolak banyak hal tentang pengajaran agama. Buat saya, 
apapun perihal
> agama mesti dijelaskan secara tuntas. Sehingga, ketika saya 
melakukan suatu
> hal, saya menjadi yakin, karena ada alasan di balik perilaku itu. 
Tidak
> semua aspek, tentu.
> 
> Nah, saat itu saya bertanya tentang kiblat; soal boleh-tidaknya 
saya salat
> menghadap arah kebalikan dari kiblat. Sebab, kalau bumi itu bulat 
tetap saja
> saya akan menghadap ke Ka'bah kalaupun mesti menghadap ke timur 
saat salat.
> Guru agama di SMP saya tidak bisa menjawab argumen saya. Dia 
bilang, "harus
> ke barat, tidak boleh ke timur!"
> ================================================
> HS: ini artinya eep menjadikan fakta sebagai argumen padahal jika 
dia mau
> jujur maka dia harus kembali kpd nilai-nilai wahyu karena manusia 
tidak
> lepas dari rasa khilaf
> 
> ULIL: Setelah kuliah, refleksi keagamaan Anda tentu berkembang. 
Padahal
> tahun 1980-an, kampus-kampus "sekuler" disemarakkan oleh gerakan-
gerakan
> keislaman (usrah). Apakah Anda juga ikut terlibat?
> 
> Ya, saya ikut terlibat dalam semaraknya kegiatan Islam di kampus. 
Secara tak
> sengaja saya masuk dalam suatu organisasi. Tapi kemudian justru 
saya menjadi
> ketua umum Forum Studi Islam (FSI) yang pertama di FISIP UI. Itupun
> sebetulnya hasil pergulatan saya sebelumnya.
> 
> Ketika saya masuk UI tahun 1987, kegiatan keislaman sangat semarak. 
Ketika
> itulah orang sedang bangga-bangganya menempelkan stiker di mobil 
atau motor
> untuk menampilkan identitas mereka. Kegiatan pengajian skala kecil, 
kultum
> di musalla juga semarak. Situasi ini menciptakan "konflik" yang agak
> menggelikan. Yaitu antara mereka yang aktif dalam usrah dengan 
kelompok yang
> berdiri di seberangnya dan menganggap usrah sebagai perusak tatanan
> kehidupan kampus yang sudah dibangun dalam tradisi yang panjang.
> ================================================
> HS: yang hak dan bathil memang tidak akan pernah bercampur oleh 
karena
> itulah yg terjadi jika pola pikir sekuler telah menjerat otak umat
> 
> ULIL: "Konflik" itu ikut mempengaruhi kecenderungan Anda selaku 
aktivis
> kampus?
> 
> Oh, ya. Di kelompok A, saya dianggap kelompok B, dan di kelompok B, 
saya
> justru diidentifikasi sebagai kelompok A. Namun identifikasi diri 
saya yang
> paling menonjol adalah sebagai "orang hijau". Ketika konflik semakin
> memuncak, saya justru menjadi semacam jalan keluar. Ketika itu, 
terjadi
> kebuntuan antarkedua kelompok yang menginginkan terbentuknya sebuah
> organisasi baru yang bisa mengorganisir kegiatan keislaman. Tapi, 
organisasi
> tersebut harus dipimpin orang yang bisa berkomunikasi dengan dua 
pihak
> sekaligus.
> ================================================
> HS: solusi yang hakiki adalah Islam terbukti bahwa islam mampu 
merespons
> berbagai gejala kehidupan karena hanya Allah yang berhak berdaulat
> 
> ULIL: Menarik sekali pengalaman Anda. Sekarang saya bertanya pada 
hal yang
> besar lagi, bagaimana Anda melihat Islam di Indonesia? Apakah Islam 
punya
> kontribusi dalam menguatkan demokratisasi?
> 
> Ada bentuk-bentuk sumbangan Islam bagi demokratisasi, lebih-lebih 
kalau kita
> mendengarkan disertasi kawan kita, Saiful Mujani (Ph.D di Ohio State
> University dengan tajuk Religious Democrats: Democratic Culture and 
Muslim
> Participation in Post Suharto Era: 2003, Red). Dia menemukan, pada 
kalangan
> umat Islam di Indonesia, ternyata ada semacam kebudayaan politik 
yang
> sebetulnya potensial menjadi basis persemaian demokrasi. Ada modal 
sosial
> (social capital) yang disiapkan Islam. Memang hanya sebatas itu 
saja. Jadi,
> ada peran agama, sebagaimana peran variabel-variabel lain yang ikut
> membentuk budaya politik di masyarakat kita agar masyarakat siap 
untuk masuk
> dalam dunia demokrasi.
> ==========================================
> HS: dunia demokrasi tidak menjanjikan apa-apa kecuali memang 
kengerian yang
> disitir oleh eep ketika islam diperkenalkan dengan horor padahal
> kenyataannya horor dan pertumpahan darah dinegeri kaum muslimin 
adalah
> akibat demokrasi yang dijajakan barat
> 
> ULIL: Nah, budaya politik macam apa yang telah disumbangkan Islam, 
terutama
> dalam konteks Islam di Indonesia?
> 
> Lagi-lagi saya dipengaruhi oleh Saiful Mujani untuk menjawab ini. 
Saya baru
> saja membaca sebagian hasil risetnya. Misalnya saja, krisis yang 
dipandang
> sedang berlangsung di Amerika sekarang adalah krisis paguyuban; 
orang tidak
> lagi merasa menjadi bagian dari orang lain; orang semakin 
menyendiri, dan
> ikatan-ikatan sosial semakin melemah. Ternyata, krisis itu tidak 
terjadi di
> Indonesia. Menurut Saiful, nilai-nilai paguyuban di Indonesia 
ditanggulangi
> pemeliharaannya oleh agama. Ada banyak perilaku sosial dalam 
masyarakat kita
> yang dibantu oleh Islam agar masyarakat ikut merasa memilikinya. 
Jadi ada
> semacam ikatan sosial yang terpelihara oleh agama.
> ================================================
> HS: akan lebih baik lagi jika islam bukan hanya dipahami sebagai 
mainstream
> ruhiy tapi juga sebagai sistem/ideologi yang akan memelihara akal,
> kehormatan, keturunan dan jiwa, inilah rahmatan lil alamin yg 
inheren dengan
> islam
> 
> ULIL: Artinya bila ikatan sosial itu terpelihara, proses 
demokratisasi
> menjadi lebih dimudahkan?
> 
> Bukan. Hasilnya bisa menjadi dua kemungkinan yang berbeda. Saya 
ambil
> contoh. Di Cibarusah hingga hari ini masih terpelihara bentuk-bentuk
> paguyuban yang berbasis agama. Di sana ada organisasi kematian untuk
> menangani orang mati yang dalam Islam disebut sebagai kewajiban 
kolektif
> (fardlu kifayah). Ada juga kegiatan pengajian yang terus-menerus, 
rutin dan
> berpuluh-puluh tahun tetap memelihara ikatan sosial dalam 
masyarakat. Tapi
> persoalannya adalah: ketika identitas kelompok terbentuk, dia bisa 
potensial
> menjadi positif dan negatif sekaligus. Sumbangannya untuk demokrasi 
akan
> penting kalau ternyata identitas yang ditanam dalam kelompok itu 
adalah
> identitas Islam yang mengajarkan sikap toleran, hanif, inklusif dan
> lain-lain. Sebaliknya, jika nilai-nilai Islam yang disebarkan 
berbasis pada
> eklusivitas, intoleransi dan sejenisnya, maka akan kontraproduktif 
bagi
> demokrasi.
> =======================================================
> HS: akan menjadi negatif jika sekulerisme menjadi jiwa dari sebuah 
kutlah
> karena sekuler berarti menerima islam namun dipihak lain juga 
melakukan
> upaya resistensi
> 
> ULIL: Nampaknya, Anda cukup akrab dengan istilah-istilah hanif, 
kalimatun
> sawa' dan inklusif. Apakah Anda seorang pembaca Cak Nur yang 
intensif?
> 
> Saya bukan pembaca Cak Nur yang intensif. Tapi sebagian besar saya 
merasa
> terwadahi oleh gagasan Cak Nur. Menurut saya, seperti itulah 
mestinya Islam
> yang berkembang di Indonesia ke depan.
> ========================================================
> HS: untuk memahami istilah tersebut tidak perlu mengambil referensi 
cak nur
> yang sekuler tetapi referensi yg diambil adalah yang memang mampu 
menyerap
> dan mengaplikasikan nilai rasa al quran bukan yang bertumpu pada ar 
ra'yu
> sehingga menganggap bahwa sekuler=islam, dan jika dikembalikan 
kepada diktum
> wahyu secara orisinil tanpa adanya intervensi sekuler ternyata 
gagasan cak
> nur juga merupakan gagasan yg tidak laku buktinya dibeberapa daerah 
mereka
> semakin rindu dengan syariah juga bagaimana ketika gusdur ingin 
menghapuskan
> ucapan salam dengan selamat pagi justru ucapan salam semakin 
membumi,
> kalaupun syariah belum membumi justru itulah kita mengajak seluruh 
umat
> untuk memahami islam secara benar dan baik dan kita sangat yakin 
jika kita
> menolong agamaNya maka pasti Allah pun akan menolong kita
> 
> Tapi sekarang ada gejala pembentukan opini publik soal Islam yang 
cenderung
> berbeda dengan gagasan Cak Nur. Bicara soal Islam ialah bicara soal
> pemahaman keislaman masyarakat secara umum. Kalau melihat fakta dari
> kelompok penentang gagasan besar Cak Nur yang hanya menghasilkan 
kekuatan
> kecil, maka kesimpulan yang kita buat sementara ini ialah: Islam 
moderat
> lebih tersebar di tengah masyarakat ketimbang Islam galak.
> ========================================================
> HS: islam galak? islam moderat? ini menunjukan kekeliruan JIL, 
karena
> sesuatu tidak dapat dilihat dari realitas semata tapi harus 
dikembalikan
> kepada sumber-sumber normatif dan ternyata islam galak dan islam
> moderat/sekuler keduanya tidak pernah diakui oleh nash syariah, 
sekali lagi
> memang tinjauan sosiologis yang membangun kaidah hanya dari fakta-
fakta
> ternyata hanya menghasilkan ketumpulan dalam memahami berfikir yang
> menelurkan produk sesat yang bernama sekulerisme yang telah merusak,
> menghancurkan dan menenggelamkan aqidah umat. islam galak jelas 
bertentangan
> dengan nash yg banyak mengajak menyeru kepada kebaikan dengan 
kaidah-kaidah
> diplomatis bukan anarkis, sedangkan islam sekuler berarti mereka 
ingin
> memadukan antara yg hak dan bathil karena sesungguhnya ide ini 
lahir akibat
> keputusasaan barat dalam memerangi islam dan memang islam tidak 
akan pernah
> mengenal kalah ini tentunya bisa dibedakan dengan kekalahan umatnya 
yg telah
> menunduk patuh dalam kerangka wilayah sekulerisme, maka jalan satu-
satunya
> adalah menerapkan islam secara kaffah.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke