Saya bukan orang LMND. Saya cuma memforward pernyataan
pers mereka ke milis ini.

Sekadar mengingatkan, para anggota senior LMND yang
anda sebut "keblinger" ini dulu ikut dalam aksi-aksi
menjatuhkan rezim Soeharto 1998.

Satrio Arismunandar
Mantan Sekjen AJI 1995-1997


--- thelastmohicann <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> ini salah satu contoh kongAlisi menungsa2
> keblinger...
> ngomong ngalor ngidul, tolak ini tolak itu..
> campur aduk neo liberalisme amfe RUU amfe pendidikan
> wahahaha
> rumangsa nyang faling bener sendiri...
> mendingan kuliah nyang bener daripada jadi sontoloyo
> spt ini..
> 
> 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], Satrio Arismunandar
> 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > LIGA MAHASISWA NASIONAL untuk DEMOKRASI
> > Eksekutif Nasional
> > Jl. Tebet Timur III D No. 17, Jakarta Selatan
> 12820
> > Telp/Fax. : +62 21 8295656; 08159207267;
> 08155140472
> > Email : [EMAIL PROTECTED]
> > 
> > TTPKO DEPDAGRI No. INVENTARISASI : 150/DI/XI/2002
> > 
> > Nomor          :13 /State/Eks/Pub/IX/2004
> > Hal               :Sikap Politik Pemilu Presiden
> 2004
> > Lampiran       : - 
> > 
> > BUKAN MEGA ATAU SBY, TAPI PERSATUAN RAKYAT UNTUK
> > BERKUASA!!
> > 
> > Pemerintah Mega, demikian juga SBY � Kalla adalah
> > selama ini telah terbukti menjadi agen-agen setia
> dari
> > kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik kaum
> > imperialis neoliberal. Demi
> kepentingan-kepentingan
> > bagi dominasi eksploitasi ekonomi dalam negeri
> kita
> > oleh kaum imperialisme neoliberal,
> > kepentingan-kepentingan rakyat telah di korbankan.
> > Kenaikan harga BBM, listrik, telpon, air, pupuk,
> > pengesahan UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, 
> > pengesahan UU No 2/2004 tentang PPHI, privatisasi,
> > pencabutan subsidi, komersialisasi pendidikan,
> > liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi,
> yang
> > berakibat semakin banyaknya PHK � PHK Massal,
> > berkurangnya upah real, semakin maraknya sistem
> kerja
> > kontrak dan semakin rendahnya akses kaum buruh,
> kaum
> > tani & kaum miskin perkotaan terhadap pendidikan
> dan
> > kesehatan adalah harga yang harus ditanggung
> rakyat
> > akibat pengkhianatan oleh Pemerintah Mega,  dan
> oleh
> > Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) � Kalla. 
> > 
> > Seperti persoalan pendidikan: dalam setiap
> pergantian
> > tahun ajaran, setiap tahun itu pula bertambah
> beban
> > orang tua-orang tua miskin di Indonesia. Dari
> mulai
> > masuk TK hingga Perguruan Tinggi, dari sekolah
> negeri
> > sampai yang swasta, semuanya semakin bertambah
> MAHAL.
> > KOMERSIALISASI PENDIDIKAN menjadi kebijakan
> > besar-besaran dari Pemerintah Mega-Hamzah. Para
> > mahasiswa di Universitas Indonesia sudah bergolak
> > menolak pembayaran uang pangkal bagi mahasiswa
> baru
> > yang jumlahnya�walau dikatakan sebagai subsidi
> > silang�sama sekali tak masuk akal (Rp. 5-25 juta),
> dan
> > akan menyusul penolakan dari Universitas negeri
> > lainnya yang juga menerapkan aturan serupa; UNPAD,
> > ITB, dan UGM. Komersialisasi pendidikan adalah
> salah
> > satu paket, satu ekses logis dari PRIVATISASI
> > (OTONOMI) KAMPUS menjadi PTBH. Saat ini sekolah
> > menjadi miliknya orang-orang kaya saja dan untuk
> > kepentingan para pemilik modal saja, miliknya
> > anak-anak anggota DPR, MPR, pejabat elit,
> konglomerat
> > hitam, jenderal dan direktur-direktur perusahaan.
> > Pendidikan bukan lagi untuk anak-anak buruh, kaum
> > miskin perkotaan, pegawai negeri rendahan, dan
> > anak-anak tentara miskin berpangkat rendah, yang
> > gajinya/UMR nya tak lebih dari Rp. 700.000,
> apalagi
> > bagi jutaan kaum tani yang hanya memiliki
> sejengkal
> > tanah. Tak akan terjangkau anak-anaknya untuk
> kuliah
> > di UI yang harus membayar uang pangkal Rp. 5-Rp 25
> > juta, atau di Unpad atau di ITB, di UNS, di UGM
> dan
> > kampus-kampus negeri lainnya, apalagi di kampus
> > swasta, yang uang pangkalnya, SPPnya berjuta-juta
> itu.
> > 
> > Komersialisasi pendidikan di Indonesia bersumber
> pada
> > penerapan kebijakan neoliberalisme (penjajahan
> ekonomi
> > oleh kapital asing melalui World Bank/IMF/TNC/MNC)
> > yang menjadi syarat-syarat bagi pinjaman atau
> > pemberian hutangnya. Sama halnya dengan
> komersialisasi
> > kesehatan dan perumahan saat ini. Lewat kebijakan
> > neoliberalisme maka semua subsidi yang menjadi
> > tanggung jawab negara untuk mensejahterakan rakyat
> > dicabut. Ini sudah dimulai di masa Soeharto dan
> > dilanjutkan sepenuh-penuhnya oleh Megawati. Ia
> cabut
> > subsidi pendidikan, ia otonomkan kampus dari
> fungsi
> > sosial menjadi fungsi profit layaknya pabrik untuk
> > memproduksi sarjana yang diabdikan bagi kebutuhan
> > pasar industri sesuai kepentingan para pemodal.
> > Pementah Mega-Hamzah menghambur-hamburkan uang
> untuk
> > anggaran militer�untuk beli peralatan tempur untuk
> > memerangi rakyatnya di Aceh dan Papua, untuk
> membiayai
> > struktur teritorial tentara yang tak berguna itu,
> dan
> > tentu saja untuk korupsi-korupsi
> jenderal-jenderalnya�
> > daripada memperbesar alokasi anggaran untuk
> pendidikan
> > yang hanya 2-3% dari total anggaran. Pemerintah
> > membairkan korupsi merajalela, dan hanya diam saja
> > saat sekolah-sekolah negeri digusur oleh
> pemerintah
> > daerahnya, dibiarkannya ribuan gedung-gedung
> sekolah
> > ambruk atau mengalami kerusakan-kerusakan yang
> parah,
> > dan tak ada solusi programtik agar biaya
> pendidikan
> > menjadi murah atau selayaknya gratis bagi rakyat.
> Ini
> > semua adalah persoalan mendasar pendidikan kita,
> yang
> > ternyata dijawab oleh Pemerintahan Megawati dan
> DPR
> > dengan hanya memberikan UU Sisdiknas yang justru
> > menghambat demokratisasi pendidikan yang sama
> sekali
> > tidak menjawab problem mendasar dunia pendidikan
> kita.
> > 
> > Oleh karena itu imperialisme neoliberal dan
> agen-agen
> > imperialis neoliberal adalah musuh-musuh mendesak
> dari
> > perjuangan rakyat. 
> > 
> > Dengan diajukannya RUU TNI oleh Pemerintahan
> > Mega�Hamzah, dengan disahkannya UU KKR (Komisi
> > Kebenaran dan Rekonsilisasi) oleh pemerintah dan
> DPR
> > maka militerisme semakin menjadi bahaya nyata bagi
> > demokrasi. RUU TNI jelas memberi basis ideologis,
> > yuridis, struktur politis dan ekonomis bagi
> > kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi
> militer.
> > Sementara UU KKR memberi basis kekebalan hukum
> bagi
> > para pelaku pelanggaran ham di masa lalu maupun
> masa
> > yang akan datang. Padahal jelas bagi kita bahwa
> > pelanggaran�pelanggaran HAM oleh negara merupakan
> > ekses langsung dari tindakan militerisme oleh
> negara. 
> > 
> > Dalam situasi tanpa solusi seperti ini selalu
> > Pemerintahan menggunakan pola-pola militeristik
> dalam
> > menangani protes-proets yang muncul. Kalau dimasa
> > Soeharto menggunakan NKK/BKK dan Resimen
> Mahasiswa,
> > maka kini tak jauh berbeda�walau dengan bungkus
> baru.
> > Misalnya melakukan intimidasi, teror sampai
> > DO/skorsing terhadap siswa ataupun guru yang
> bersikap
> > kritis. Ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan
> kita
> > semakin berwatak militeristik. Peristiwa 2
> mahasiswa
> > yang terkena DO/skorsing di Pekanbaru karena
> menolak
> > kampanye dari cawapres militeris Yusuf Kalla yang
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke