Tunggu aja dulu, kasih kesempatan memerintah 5 tahun, kan belum mulai 
apa2? Kita kaum demokrat kan selalu mampu menghormati apapun pilihan 
rakyat, kan vox populi vox dei? ya kan?

Apa dia militeristik ya kita lihat lahh. Yang penting kehidupan 
rakyat jelata makin membaik, pendidikan meningkat, kefanatikan akibat 
kekurangan pengetahuan berkurang, dan bom boman lenyap. Ya kan?

Hiduplah berdampingan secara damai dan demokratis, semua agama, semua 
suku. ya kan? Jangan agungkan agama sendiri, jangan dakwah2qan, 
jangan wahyu2an, ntar berantem lagi, ujung2nya kepala nggelinding 
kayak di Sampit lagi.. atawa di Poso atawa Ambon, buat apalahh?




--- In [EMAIL PROTECTED], Satrio Arismunandar 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya bukan orang LMND. Saya cuma memforward pernyataan
> pers mereka ke milis ini.
> 
> Sekadar mengingatkan, para anggota senior LMND yang
> anda sebut "keblinger" ini dulu ikut dalam aksi-aksi
> menjatuhkan rezim Soeharto 1998.
> 
> Satrio Arismunandar
> Mantan Sekjen AJI 1995-1997
> 
> 
> --- thelastmohicann <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > 
> > ini salah satu contoh kongAlisi menungsa2
> > keblinger...
> > ngomong ngalor ngidul, tolak ini tolak itu..
> > campur aduk neo liberalisme amfe RUU amfe pendidikan
> > wahahaha
> > rumangsa nyang faling bener sendiri...
> > mendingan kuliah nyang bener daripada jadi sontoloyo
> > spt ini..
> > 
> > 
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED], Satrio Arismunandar
> > 
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > LIGA MAHASISWA NASIONAL untuk DEMOKRASI
> > > Eksekutif Nasional
> > > Jl. Tebet Timur III D No. 17, Jakarta Selatan
> > 12820
> > > Telp/Fax. : +62 21 8295656; 08159207267;
> > 08155140472
> > > Email : [EMAIL PROTECTED]
> > > 
> > > TTPKO DEPDAGRI No. INVENTARISASI : 150/DI/XI/2002
> > > 
> > > Nomor          :13 /State/Eks/Pub/IX/2004
> > > Hal               :Sikap Politik Pemilu Presiden
> > 2004
> > > Lampiran       : - 
> > > 
> > > BUKAN MEGA ATAU SBY, TAPI PERSATUAN RAKYAT UNTUK
> > > BERKUASA!!
> > > 
> > > Pemerintah Mega, demikian juga SBY � Kalla adalah
> > > selama ini telah terbukti menjadi agen-agen setia
> > dari
> > > kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik kaum
> > > imperialis neoliberal. Demi
> > kepentingan-kepentingan
> > > bagi dominasi eksploitasi ekonomi dalam negeri
> > kita
> > > oleh kaum imperialisme neoliberal,
> > > kepentingan-kepentingan rakyat telah di korbankan.
> > > Kenaikan harga BBM, listrik, telpon, air, pupuk,
> > > pengesahan UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, 
> > > pengesahan UU No 2/2004 tentang PPHI, privatisasi,
> > > pencabutan subsidi, komersialisasi pendidikan,
> > > liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi,
> > yang
> > > berakibat semakin banyaknya PHK � PHK Massal,
> > > berkurangnya upah real, semakin maraknya sistem
> > kerja
> > > kontrak dan semakin rendahnya akses kaum buruh,
> > kaum
> > > tani & kaum miskin perkotaan terhadap pendidikan
> > dan
> > > kesehatan adalah harga yang harus ditanggung
> > rakyat
> > > akibat pengkhianatan oleh Pemerintah Mega,  dan
> > oleh
> > > Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) � Kalla. 
> > > 
> > > Seperti persoalan pendidikan: dalam setiap
> > pergantian
> > > tahun ajaran, setiap tahun itu pula bertambah
> > beban
> > > orang tua-orang tua miskin di Indonesia. Dari
> > mulai
> > > masuk TK hingga Perguruan Tinggi, dari sekolah
> > negeri
> > > sampai yang swasta, semuanya semakin bertambah
> > MAHAL.
> > > KOMERSIALISASI PENDIDIKAN menjadi kebijakan
> > > besar-besaran dari Pemerintah Mega-Hamzah. Para
> > > mahasiswa di Universitas Indonesia sudah bergolak
> > > menolak pembayaran uang pangkal bagi mahasiswa
> > baru
> > > yang jumlahnya�walau dikatakan sebagai subsidi
> > > silang�sama sekali tak masuk akal (Rp. 5-25 juta),
> > dan
> > > akan menyusul penolakan dari Universitas negeri
> > > lainnya yang juga menerapkan aturan serupa; UNPAD,
> > > ITB, dan UGM. Komersialisasi pendidikan adalah
> > salah
> > > satu paket, satu ekses logis dari PRIVATISASI
> > > (OTONOMI) KAMPUS menjadi PTBH. Saat ini sekolah
> > > menjadi miliknya orang-orang kaya saja dan untuk
> > > kepentingan para pemilik modal saja, miliknya
> > > anak-anak anggota DPR, MPR, pejabat elit,
> > konglomerat
> > > hitam, jenderal dan direktur-direktur perusahaan.
> > > Pendidikan bukan lagi untuk anak-anak buruh, kaum
> > > miskin perkotaan, pegawai negeri rendahan, dan
> > > anak-anak tentara miskin berpangkat rendah, yang
> > > gajinya/UMR nya tak lebih dari Rp. 700.000,
> > apalagi
> > > bagi jutaan kaum tani yang hanya memiliki
> > sejengkal
> > > tanah. Tak akan terjangkau anak-anaknya untuk
> > kuliah
> > > di UI yang harus membayar uang pangkal Rp. 5-Rp 25
> > > juta, atau di Unpad atau di ITB, di UNS, di UGM
> > dan
> > > kampus-kampus negeri lainnya, apalagi di kampus
> > > swasta, yang uang pangkalnya, SPPnya berjuta-juta
> > itu.
> > > 
> > > Komersialisasi pendidikan di Indonesia bersumber
> > pada
> > > penerapan kebijakan neoliberalisme (penjajahan
> > ekonomi
> > > oleh kapital asing melalui World Bank/IMF/TNC/MNC)
> > > yang menjadi syarat-syarat bagi pinjaman atau
> > > pemberian hutangnya. Sama halnya dengan
> > komersialisasi
> > > kesehatan dan perumahan saat ini. Lewat kebijakan
> > > neoliberalisme maka semua subsidi yang menjadi
> > > tanggung jawab negara untuk mensejahterakan rakyat
> > > dicabut. Ini sudah dimulai di masa Soeharto dan
> > > dilanjutkan sepenuh-penuhnya oleh Megawati. Ia
> > cabut
> > > subsidi pendidikan, ia otonomkan kampus dari
> > fungsi
> > > sosial menjadi fungsi profit layaknya pabrik untuk
> > > memproduksi sarjana yang diabdikan bagi kebutuhan
> > > pasar industri sesuai kepentingan para pemodal.
> > > Pementah Mega-Hamzah menghambur-hamburkan uang
> > untuk
> > > anggaran militer�untuk beli peralatan tempur untuk
> > > memerangi rakyatnya di Aceh dan Papua, untuk
> > membiayai
> > > struktur teritorial tentara yang tak berguna itu,
> > dan
> > > tentu saja untuk korupsi-korupsi
> > jenderal-jenderalnya�
> > > daripada memperbesar alokasi anggaran untuk
> > pendidikan
> > > yang hanya 2-3% dari total anggaran. Pemerintah
> > > membairkan korupsi merajalela, dan hanya diam saja
> > > saat sekolah-sekolah negeri digusur oleh
> > pemerintah
> > > daerahnya, dibiarkannya ribuan gedung-gedung
> > sekolah
> > > ambruk atau mengalami kerusakan-kerusakan yang
> > parah,
> > > dan tak ada solusi programtik agar biaya
> > pendidikan
> > > menjadi murah atau selayaknya gratis bagi rakyat.
> > Ini
> > > semua adalah persoalan mendasar pendidikan kita,
> > yang
> > > ternyata dijawab oleh Pemerintahan Megawati dan
> > DPR
> > > dengan hanya memberikan UU Sisdiknas yang justru
> > > menghambat demokratisasi pendidikan yang sama
> > sekali
> > > tidak menjawab problem mendasar dunia pendidikan
> > kita.
> > > 
> > > Oleh karena itu imperialisme neoliberal dan
> > agen-agen
> > > imperialis neoliberal adalah musuh-musuh mendesak
> > dari
> > > perjuangan rakyat. 
> > > 
> > > Dengan diajukannya RUU TNI oleh Pemerintahan
> > > Mega�Hamzah, dengan disahkannya UU KKR (Komisi
> > > Kebenaran dan Rekonsilisasi) oleh pemerintah dan
> > DPR
> > > maka militerisme semakin menjadi bahaya nyata bagi
> > > demokrasi. RUU TNI jelas memberi basis ideologis,
> > > yuridis, struktur politis dan ekonomis bagi
> > > kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi
> > militer.
> > > Sementara UU KKR memberi basis kekebalan hukum
> > bagi
> > > para pelaku pelanggaran ham di masa lalu maupun
> > masa
> > > yang akan datang. Padahal jelas bagi kita bahwa
> > > pelanggaran�pelanggaran HAM oleh negara merupakan
> > > ekses langsung dari tindakan militerisme oleh
> > negara. 
> > > 
> > > Dalam situasi tanpa solusi seperti ini selalu
> > > Pemerintahan menggunakan pola-pola militeristik
> > dalam
> > > menangani protes-proets yang muncul. Kalau dimasa
> > > Soeharto menggunakan NKK/BKK dan Resimen
> > Mahasiswa,
> > > maka kini tak jauh berbeda�walau dengan bungkus
> > baru.
> > > Misalnya melakukan intimidasi, teror sampai
> > > DO/skorsing terhadap siswa ataupun guru yang
> > bersikap
> > > kritis. Ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan
> > kita
> > > semakin berwatak militeristik. Peristiwa 2
> > mahasiswa
> > > yang terkena DO/skorsing di Pekanbaru karena
> > menolak
> > > kampanye dari cawapres militeris Yusuf Kalla yang
> > 
> === message truncated ===
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke