Ancaman Pangkalan Militer AS
Oleh: Denny Kodrat
Publikasi 23/09/2004

hayatulislam.net - Di saat rakyat dan elite Indonesia tengah larut dalam euforia 
demokrasi dan sibuk memperbincangkan suksesi kepemimpinan, Amerika Serikat (AS), di 
saat yang sama, berencana membangun pangkalan militernya di kawasan Selat Malaka. 
Sebagaimana diberitakan oleh banyak media dalam dua bulan terakhir, AS boleh dikata 
sangat berambisi menggolkan keinginannya itu. Ia berdalih, tujuan kehadiran militernya 
di selat yang membatasi Pulau Sumatra dan Malaysia ini adalah dalam rangka membantu 
memerangi para teroris Islam yang sering mengganggu negara-negara di kawasan jalur 
pelayaran internasional itu.

Rencana tersebut terungkap setelah Komandan Pasukan AS di Pasifik, Laksamana Thomas B. 
Fargo, mengusulkan kepada kongres AS untuk menempatkan pasukannya di Selat Malaka. AS 
mengaku sangat khawatir dan prihatin atas maraknya pembajakan dan perompakan yang 
terjadi di perairan tersebut. Pasalnya, hal itu dapat membuka peluang terjadinya 
serangan-serangan teroris, khususnya terhadap kapal-kapal perdagangan dan kepentingan 
AS. Terlebih lagi, posisi Selat Malaka sangat strategis dan termasuk selat yang 
tersibuk di dunia. Atas dasar inilah, AS meminta dilibatkan dalam patroli keamanan 
bersama pasukan Indonesia dan Malaysia yang memang memiliki otoritas dan tanggung 
jawab atas keamanan di kawasan itu.


Fakta Perompakan

Menurut International Maritime Bureau (IMB), kegiatan bajak laut (pirate) paling ramai 
terjadi di Selat Malaka. Frekuensinya terus meningkat, dari 335 kasus di tahun 2001 
hingga 370 kasus di tahun 2002. Tahun lalu saja, jumlah kasus perompakan telah 
mencapai hampir seperempat dari jumlah kasus perompakan di seluruh dunia. Maka, 
tidaklah mengherankan apabila IMB menyatakan bahwa Selat Malaka merupakan perairan 
yang paling berbahaya di dunia.

Namun laporan IMB tersebut �yang belakangan dijadikan pembenaran AS untuk menempatkan 
armadanya di sana� dibantah keras oleh KSAL Laks. Bernard Kent Sondakh. Ia mengatakan, 
�Memang, sejauh ini ada aksi perompakan atau tindakan perampasan di perairan tersebut, 
tetapi jumlahnya tidak sebanyak seperti dilaporkan IMB yang berada di Kuala Lumpur 
itu.� Menurutnya, selama setahun, di wilayah itu hanya terjadi empat kali kasus 
perompakan. Hingga April 2004 ini bahkan baru terdapat dua kali kasus yang sama. 
Tindakan itu dilakukan pelaku dari kalangan GAM yang sedang melarikan diri dari 
kejaran TNI. Kalaupun ada kejahatan lain, masih menurut Bernard, hanyalah dilakukan 
bajing loncat atau lebih dikenal sebagai copet, bukan sebagai bentuk tindakan 
terorisme (16/05/04).

Yang menarik di sini adalah pernyataan dari Departmen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI. 
Pihaknya mengakui bahwa sejak lama aksi pembajakan kapal yang kerap terjadi di 
perairan Selat Malaka ini didalangi oleh mafia yang berbasis di Singapura. Dirjen 
Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan DKP, Busran Kadri, menyatakan, 
�Berdasarkan pengalaman saya selama ini, saya yakin sekali aksi-aksi pembajakan kapal 
besar yang sering terjadi melibatkan mafia luar negeri terutama Singapura. Itu pasti, 
karena mereka punya dana besar dan kemampuan untuk melakukan itu semua,� ujar Busran 
yakin. Pada sisi lain, yang meminta AS untuk berpatroli di Selat Malaka justru datang 
dari Singapura, melalui Goh Tjok Tong, bukan dari pemerintah Indonesia atau Malaysia.

Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI AL Laks. Muda TNI Djoko Sumaryono, juga 
menegaskan hal yang sama, bahwa data dari IMB sering bertentangan dengan temuan TNI 
AL. Contohnya, cukup sering ada laporan melalui radio dan radiogram IMB bahwa di 
perairan Selat Malaka ada kapal yang dibajak. Setelah didekati, ternyata kapal itu 
hanya mati lampu-lampu navigasinya, dan personelnya masih lengkap.

Satu hal yang menarik adalah IMB sendiri dari sisi pendanaan di-support oleh IMF yang 
sudah jelas keberpihakannya kepada AS. Berdasarkan hal ini tampak bahwa melalui IMB 
dan Singapura, AS membuat dalih agar keinginannya membuat pangkalan di Selat Malaka 
berlangsung mulus.


Ambisi Dan Motif AS

Jika dicermati, ambisi AS untuk membuka pangkalan militernya di perairan itu jelas 
terkait erat dengan kebijakan globalnya pasca peristiwa 11 September silam, yakni 
perang melawan terorisme (war against terrorism), yang semua itu demi kepentingan 
nasionalnya. Bulan lalu (April 2004) di hadapan Komisi Penyelidik Serangan 11 
September, Presiden George W. Bush menyatakan akan mempertahankan kebijakan 
pemerintahannya dalam rangka meng�akhiri aksi-aksi terorisme. Karena itu, menjelang 
akhir masa tugasnya, Bush meminta pada komisi tersebut untuk memfokuskan kerjanya pada 
agenda perang melawan terorisme. Komisi dukungan dua partai itu (Republik dan 
Demokrat) bertemu secara pribadi dengan Bush dan Wapres Dick Cheney, selama lebih dari 
3 jam Kamis lalu di Gedung Oval Kongres AS. Mereka membahas topik yang oleh para staf 
ahli kepresidenan AS dikatakan baru pertama kali ini terjadi (Eramuslim, 4/5/04).

Langkah-langkah AS di atas, terutama yang berkaitan dengan rencananya untuk membuka 
pangkalan militer di Selat Malaka, paling tidak, harus juga dikaitkan dengan sebuah 
komisi untuk kebijakan kelautan yang dibentuk dua tahun lalu. Komisi ini bernama US 
Commission on Ocean Policy yang beranggotakan 16 orang; empat di antara dipilih 
kongres dan 12 lainnya langsung ditunjuk presiden. Komisi ini telah bekerja sejak 
September 2001. Mereka telah melakukan 15 pertemuan terbuka, mengunjungi 17 tempat 
serta mewawancarai ratusan orang, mulai dari Great Lakes, Alaska, Teluk Meksiko, 
Pantai Atlantik dan Pasifik serta negara-negara kepulauan di seluruh Indonesia, 
termasuk Indonesia.

Dari pertemuan-pertemuan tersebut, komisi ini menyimpulkan, AS harus menjadi leader di 
berbagai kegiatan yang menyangkut kelautan dan pesisir pantai. Hal ini tertuang antara 
lain dalam salah satu alinea laporan komisi tersebut, �...mempertahankan peran AS 
sebagai satu-satunya pemimpin dalam berbagai kegiatan kelautan dan pesisir pantai.� 
Untuk dapat mencapai tujuan ini maka komisi merekomendasikan pemerintah AS untuk 
menekan PBB guna segera meratifikasi konvensi PBB mengenai hukum laut (UNCLOS).

Presiden Bush, pada tanggal 23 Maret 2004 lalu, mendukung upaya ratifikasi konvensi 
PBB ini. Tinggal Kongres AS yang harus bersidang untuk memutuskan perlu tidaknya 
ratifikasi UNCLOS. Dan tampaknya, Kongres pun akan memuluskan keinginan Presiden Bush. 
Itulah di antara motif AS sesungguhnya yakni mencengkeramkan hegemoni di sektor 
kelautan, termasuk di kawasan ASEAN melalui Selat Malaka. Walhasil, alasan untuk ikut 
serta menjaga keamanan di selat ini hanyalah strategi untuk mencapai tujuan sebenarnya.

Membaca langkah rencana dan keinginan AS ini, sejatinya ada sejumlah motif yang 
menjadi pemicu strategis rencana ini. Pertama, motif ekonomi. Sebagaimana diketahui, 
kawasan Selat Malaka adalah urat nadi perekonomian Asia Tenggara sehingga memegang 
nilai stretegis yang besar dari sisi ekonomi. Selat ini merupakan selat tersibuk di 
dunia dan merupakan kunci menuju Asia dan Eropa. Diperkirakan lebih dari seperempat 
nilai perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur ini. Maka tidak heran apabila AS 
sangat berkeinginan �menguasai� selat ini. 

Kedua, motif politik. Upaya-upaya AS untuk menghadirkan militernya adalah bagian dari 
grand strategy negara tersebut untuk mencengkeram kawasan Asia Tenggara. Sebagaimana 
dikatakan Sayed Abdullah, ahli di bidang militer regional pada Islam Online (IOL). Ia 
menyatakan, �Malaysia dan Indonesia adalah negara Muslim. Kedua negara tersebut selama 
ini mengontrol penuh Selat Malaka, kawasan yang sekarang menjadi objek ambisi AS. 
Jelas, AS mati-matian akan membangun pangkalan militernya di Asia Tenggara. Tujuannya 
adalah agar mereka bisa langsung mengontrol dan mengakses cepat negara-negara Muslim 
di sini.�

Terlebih, sebelumnya AS telah melakukan kerja sama militer yang kuat dengan Filipina 
dan Thailand. AS disebut-sebut sebagai pelindung Singapura dalam kasus konflik negara 
itu dengan negara tetangganya, Malaysia. AS tampaknya akan menggunakan Singapura 
sebagai corong untuk menyuarakan ambisinya seperti saat menuding Indonesia sebagai 
negara sarang teroris. Awal Mei lalu, Singapura �negara pantai ketiga di kawasan selat 
ini� resmi mendesak AS untuk memainkan peran militernya di sana. Pemerintah Singapura 
sebelumnya juga pernah mendekati Indonesia agar mau mengizinkan kehadiran militer AS 
membantu meningkatkan patroli keamanan di Selat Malaka, alasannya aktivitas terorisme 
semakin meningkat.

Jika Indonesia mengabulkan permintaan Singapura ini, maka sudah barang tentu militer 
AS dapat bercokol di sana. Dan tampaknya AS akan sangat leluasa mengakses dan 
mengontrol tensi politik dalam dan luar negeri Indonesia, apalagi pusat aktivitas 
politik ada di Jakarta yang sangat mudah diakses dari selat tersebut. 

Ketiga, motif militer. Tawaran Angkatan Bersenjata AS untuk membantu mengamankan Selat 
Malaka bisa berujung pada tindakan militer, sebagaimana yang terjadi dalam kasus 
serangan ke Afganistan dan Irak. AS dapat dengan mudah meluluhlantakkan dua negara 
yang tidak disenanginya itu setelah negara-negara tetangga seperti Pakistan, Kuwait, 
Arab Saudi, Yordania memberi izin kepada AS untuk memakai kawasannya sebagai basis 
militer.

Mudah diprediksi, Selat Malaka dapat berfungsi sebagai basis militer untuk menyerang 
negara di Asia Tenggara yang pemimpinnya tidak mau mengikuti kehendak dan kebijakan 
AS. Tentu saja kekhawatiran ini bermuara ke Indonesia mengingat publik di sini cukup 
keras kritikannya kepada tingkah laku dan arogansi yang ditunjukkan AS. Bukan tidak 
mungkin, RI-1 nanti pun memiliki keberanian yang kuat untuk melawan segala bentuk 
kezaliman yang ditampilkan negara adidaya ini. Namun pertanyaannya sekarang adalah 
sudahkah terpikir oleh para calon pemimpin di negeri ini akan ancaman di balik rencana 
hadirnya pangkalan militer di Selat Malaka? Wallahu a�lam bishawab. [Pikiran Rakyat 
Edisi Cetak] 
Posted by: Redaksi on 23, Sep 04 | 11:18 am
Comment Archives
Return to : WEBLOG

http://hayatulislam.net/



Untuk mendapatkan artikel-artikel seputar Islam, silahkan kunjungi Hayatul Islam.Net - 
Menuju Islam Kaffah http://hayatulislam.net



---------------------------------
Find local movie times and trailers on Yahoo! Movies.


[Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke