You're welcome, Sir. Only brotherhood among all Indonesians with no regards to religion and/or ethnic groups will strengthen our beloved country, Indonesia Raya.
Let us live our religion among our friends and family, and we will find peace in our heart. As John Keat says: " He is the happiest, be he a king or a peasant, someone who finds peace in his home". Our home is Indonesia. Salam damai RM D Hadinoto --- In [EMAIL PROTECTED], "jeppst" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Thank you for sending a good article. If all the religious leaders > understand the root of terrorism like that, I am sure Indonesia will > be great. Unfortunately, so many religous leaders are so fond of > making a foolish statements about terrorism, as if to protect their > own community. But, in fact, on the contrary, they are revealing > their guilt. Every religious person should start to aware of their > seeds of terrorism in themselves. Whatever religion they have, they > are still fragile to enter into trap of violence. > > Violence is like spiral. Once they start to take a means of violence, > they provoke another violence. It will be very difficult to stop it. > Violence is also addictive. A man who uses violence, will be more > fragile to use it again. He will be thirsty of making another > violence. > > But, mostly, violence is like desease. It can be easily contaging > others in the community and society. That is why, we need a radical > action to heal it. > > To fight terrorism, the nation must be united under the same concern. > It means, under the state ideology of Pancasila, Indonesia can be > united, not under the religious law such as Syari'a Law. The muslim > communities should reconsider again their intention to formalize the > Syari'a Law in Indonesia. Syari'a Law will not be able to counter > terrorism. I am afraid it will even make terrorism growing stronger > and religioun can be easily used as the hiding place of terrorists. > > Let's start to heal the desease of terrorism within ourselves first, > then together we fight them and clean them up from the Indonesian > soil. > > God bless Indonesia. > > Jepp > > > > --- In [EMAIL PROTECTED], Danardono HADINOTO > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ------> "Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari > kekerasan hati dan dari kemunafikan yang menganggap diri lebih baik > daripada orang lain. Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita > sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti membenci......" > > > > > > SUARA PEMBARUAN DAILY > > --------------------------------- > > Akar-akar Terorisme > > > > Franz Magnis-Suseno SJ > > DUA minggu sesudah bom bunuh diri di depan Kedutaan Australia > rasanya seperti kembali ke mimpi buruk. Betapa kasihan para korban, > sembilan saudara-saudara yang mati, lebih dari 150 cedera. > > Para kurban itu rakyat biasa? Di antara mereka yang mati ada > seorang Satpam, ada ibu yang mengurus visa anaknya berumur lima tahun > yang luka parah, di Singapura, belum tahu ibunya sudah tidak ada, > empat penumpang dari dua sepeda motor yang kebetulan lewat dengan > urusan masing-masing. Mengapa orang-orang itu harus mati, harus luka- > luka? > > Yang jelas, mereka orang yang tidak peduli. Orang-orang yang > hatinya sudah gelap karena rasa marah, dendam, benci. Ada korban, > korban banyak, penderitaan, kehancuran banyak. Mereka tidak peduli. > Collateral damage! dalam bahasa perang. Rasa kemanusiaan biasa saja, > kesadaran yang dimiliki setiap orang biasa dari suku, golongan dan > umat mana pun tentang apa yang baik dan apa yang jahat sudah mati di > hati mereka menjadi keras, tidak manusiawi, sombong. > > Sombong, karena Anda mengangkat diri menjadi hakim atas hidup mati > orang lain. Sombong karena Anda mengangkat diri menjadi algojo Tuhan! > Ngeri kalau manusia sampai berani begitu! Apakah Tuhan pernah > manyatakan perlu algojo? Apakah Tuhan pernah mengangkat Anda? Tidak > takutkah Anda terhadap Allah! > > Dan dua kali Pfuil terhadap para pembina teroris-teroris pembunuh > diri itu. Para pembina yang duduk di belakang meja dan menghasut > orang lain, sering anak muda yang masih mudah dipengaruhi, bersedia > membuang hidup yang hanya Tuhanlah yang boleh merenggutnya-demi > melakukan kejahatan. Setan mengindoktrinasi anak muda menjadi setan > juga, lalu dikirim ke kematiannya. > > Tentu kita semua mengharapkan dari presiden terpilih agar ia > mempergunakan segala upaya untuk melindungi masyarakat, ya kita, > untuk menumpas rawa yang melahirkan terorisme itu. > > > > Harus Bertanya > > Tetapi kita tidak boleh melemparkan tanggung jawab hanya pada pihak > lain. Kita juga harus bertanya bagaimana mungkin ada orang-orang bisa > sedemikian tersesat, sedemikian teracuni hatinya sehingga melakukan > tindakan-tindakan teror yang sekarang sudah menjadi gejala global. > > Kaum teroris sendiri adalah urusan polisi. Umum-nya mereka sudah > tidak bisa dibantu kemungkinannya, wawasan mereka adalah menyempit, > kemanusiaan di hati sudah mati dan kesombongan membuat mereka tidak > bisa sadar kembali. > > Tetapi bagaimana lingkungan asal mereka? Para simpatisan? Yang > pernah menjadi kawan secita-cita dengan mereka yang > kemudian ''menyeberang''? Apa dalam cita -cita bersama itu dulu yang > bisa menjadi pijakan orang kehilangan segala naluri kemanusiaan? > Adakah lingkungan-lingkunan yang sedemikian diliputi rasa marah, > benci, dendam sehingga ada yang akhirnya erossing the line? > > Tentu saja, alasan untuk menjadi marah, untuk mau balas dendam, > barangkali disertai perasaan tidak berdaya, tidak diperhatikan, > berlimpah. Tetapi bagaimana kita menangani perasaan-perasaan itu? Apa > kita boleh larut di dalamnya? > > Apalagi kalau kita orang beragama: Kita percaya bahwa Allah, > Penguasa sejarah yang dari perhatianNya tak ada kejahatan apa pun, > tak ada tangisan orang terhina dan tertindas di mana pun, bisa luput. > Justru kalau begitu, kita seharusnya rendah hati, seharusnya tidak > menyerahkan hati kita kepada perasaan-perasaan gelap. Bukankah yang > menjamin bahwa keadilan dan kebaikan akan menang adalah Allah! Kalau > kita sendiri mau memajukan keadilan dan kebaikan dengan melakukan > kejahatan, itu sebuah perversi tragis. > > Orang beragama mesti tahu bahwa rasa dendam tidak pernah dapat > dibenarkan melainkan merupakan racun paling berbahaya kalau kita > memberi ruang kepadanya. Orang beragama, pun pula dalam > memperjuangkan kebenaran dan keadilan dengan gigih, harus tetap > rendah hati. Ia tak pernah akan lupa bahwa di hadapan Allah ia belum > tentu lebih baik daripada mereka yang dikutuknya. > > > > Mulai dari Diri > > Maka melawan terorisme kita juga harus mulai pada diri kita > sendiri. Terorisme mulai di hati kita. Setiap kali kita memberi ruang > kepada kebencian dan rasa dendam, atau merasa diri satu-satunya yang > benar, benih-benih terorisme sudah timbul. Yang berat, tetapi perlu > adalah: Memperjuangkan kebenaran dan keadilan tanpa memakai rasa > benci, tanpa merasa diri sendiri lebih baik. Kekerasan dan > kesombongan hati akan merusak perjuangan demi keadilan dari dalam. > > Di sini orang beragama berada dalam bahaya kemunafikan lebih besar > daripada orang tidak beragama. Terlalu mudah ia mengatasnamakan > Tuhan, lalu mengangkat diri menjadi hakim. Dosa para agamawan adalah > eksklusivisme mereka: Mereka begitu gampang ''mengirim orang lain ke > dalam neraka''! > > Dan itu suatu dosa. Sebagai contoh saja saya mau mengacu kepada > Yesus: tak pernah Ia mengatakan bahwa ada orang tertentu masuk ke > dalam neraka. Yang terus diperingatkan Yesus adalah: Apabila kalian > tidak berubah - metanoeite - kalian tidak bisa masuk ke dalam > kerajaan Allah! Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari > kekerasan hati dan dari kemunafikan yang menganggap diri lebih baik > daripada orang lain. Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita > sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti membenci. > > > > Harus Bersatu > > Berhadapan dengan terorisme kita, --melintas semua golongan dan > umat--, harus bersatu dan menarik sebuah garis tegas. Apa pun masalah > yang kita hadapi, apa pun perselisihan dan konflik yang memang sudah > biasa selalu akan muncul, kita akan memecahkannya bersama, secara > beradab, dan tidak pernah memakai kekerasan. > > Rasanya bahwa masyarakat sangat siap untuk bersatu dalam sikap > positif beradab itu. Kami mengharapkan bahwa pemerintah baru > sepenuhnya akan mendukung usaha ini. > > > > Penulis adalah rohaniawan, guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat > Driyarkara, Jakarta > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

