Memang, menganggap Indonesia itu selalu gagal, dan negara "tempe", adalah ngawur. Indonesia telah berhasil mengatasi prahara. Kalau kita masih tetap ter-seok2, itu karena masalah yang kita hadapi adalah begitu besar dan multidimensi.
Kita bayangkan saja, republik Austria yang makmur ini. Pemimpinnya hampir semua akademisi, juga sebagian besar dari golongan menengah. kapital tersedia dari tabungan ber-abad2, juga know how yang sudah mereka kembangkan ratusan tahun. Negara ini bertumpu pada pengalaman dan ilmu pengetahuan sejak abad ke VII (di Indonesia Majapahit saja belum ada. Universitas Vienna umurnya 500 tahun! Tetapi, memerintah Austria adalah jauh lebih mudah daripada memerintah Indonesia. Penduduk negeri hanya 7 juta, tak lebih dari Jakarta. PM Austria tak sepusing gubernur DKI! Seorang "biasa" Austria mengembara ke Amerika, dan berhasil menjadi gubernur Kalifornia. Namanya Arnold Schwarzenegger. Disini dia disebutkan sebagai gubernur sebuah negara bagian. Padahal, negara bagian itu, Kalifornia, ber-lipat2 kali lebih besar daripada Austria, dengan permasalahannya yang memumetkan kepala. Jadi si Arnold, sebagai "hanya" gubernur, lebih ditantang dalam menjalankan tugasnya daripada Perdana Menteri Austria. Kembali ke Indonesia. Kita tak perlu menganggap pempimpin2 kita selalu bodoh. Of course, kita buat banyak sekali kesalahan2. Generasi bung Karno membawa kemerdekaan. Generasi Suharto membawa pembangunan ekonomi dan kerangka makro yang OK lah. Mega memungkin pemilihan presiden yang relatif jurdil. Tinggal kini diteruskan. Kita belum merdeka? ya ampun,negara mana sihh yang merdeka seratus persen, not even Germany! Membenci negara adidaya, negara asing, akan mengucilkan kita, macam Albania dibawah Enver Hodscha, kini rakyatnya melarat setengah mati, juga Kuba dibawah Castro. Lihat saja, RRT yang dahulu sangat fanatik membenci negara2 barat, kini menjadi mitra. Juga Libya, kini membuka pintu untuk berkooperasi dengan negara2 manapun, juga barat. Yang penting, jangan sampai kita menjadi budak negara lain. Dan jangan selalu menyalahkan negara lain untuk kegagalan kita. Misalnya, kita sekarang kaya akan kapal2 perang rongsok ex kapal perang AL Jerman Timur. Kapal2 ini konon khabarnya tak layak perang, karena mungkin tak ada hujan tak ada angin akan tenggelam. Mesinnya keberatan kata panglima Sondakh. Nah, Jermankah yang akan kita salahkan? Bukankah kita sendiri yang memutuskannya? Pinjaman IMF. Pinjaman itu sebenarnya OK. Bahwa syarat2 pengembalian kredit itu selalu ketat, kita tahu semua. Bukan barang baru. Tetapi kita sendiri yang me-mark up sedemikian rupa proyek2, hingga jumlah kredit yang dibutihkan menggelembung gak karu2an. Nah, kini kita semua yang harus bayar kembali. Pusyinnngg tujuh keliling. Kalau kita mengizinkan perusahaan asing mendirikan pabrik di Indonesia, karena mereka mau pindahkan mesin2 usang mereka kemari, lalu memproduk barang2 yang mereka sendiri sudah tak gunakan, ya salah kita sendiri. Kalau kita izinkan perusahaan asing mendirikan pabrik yang membebani limbah kita, ya salah kita sendiri. Kalau kita lebih suka ex pat asing yang muahaall, padahal anak2 kita sendiri banyak yang mampu menjadi manager, ya salah kita sendiri. Salam RM D Hadinoto --- In [EMAIL PROTECTED], "jksutan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > saya sangat heran dgn pernyataan2 Revrisond, karena selalu dari > sudut pandang negatif dan mencoba menarik simpati masyarakat dgn > membela kaum yg lemah. > > sifat penulisan ini ada pada Kwik Kian Gie, contohnya ketika dia > menulis white paper yg bercerita ttg mimpi jadi konglomerat atau > ketika dia mengatakan Indonesia bisa hidup tanpa IMF. > bedanya Kwik mampu berbicara dalam konteks yg lebih applicable tanpa > ada rasa benci yg berlebihan terhadap institusi asing. > > sedangkan Revrisond selalu memusuhi yg besar dan yg asing, contohnya > rekomendasi dia utk membubarkan Kementerian BUMN. > Tidak ada tanggapan dari pemerintah maupun pihak lain2, bahkan dari > dunia akademis cuma dianggap artikel kuning. > > sekarang dia nulis lagi dgn konteks kita belum merdeka, berharap > target reader menjadi terpicu utk membenci pihak asing! > > "pihak asing berusaha menyetir bangsa kita" ini adalah pernyataan yg > sangat tendensius yg menganggap dirinya pinter sendiri dan > pemerintahan kita dari tahun 45 sampai sekarang bodoooooooooooooooo > semua!!!! > > padahal Indonesia telah berprestasi secara ekonomi di regional > berkali2, kalau sekarang lagi bangkit dari krisis, bukan berarti > kita belum merdeka!!! > > revrisond... jangan coba2 menjadi pahlawan kesiangan dgn konsep2 > anda yg mentah. > anda jauh dari kapasitas mampu! belum sebanding dgn anggito! kawan > sealumni anda. > > berhenti merengek, jadilah analis perekonomian yg benar! yg > menggunakan kepintaran dan kata hati utk kemajuan bangsa dgn > rekomendasi2 cemerlang bukan dgn mencoba berpihak pada rakyat kecil > dgn cara menimbulkan kebencian pada pemerintah atau pihak negara > lain. > > baca koran! tulis berapa investasi luar negeri di negara ini dari > tahun ke tahun, dan akan anda sadari bahwa kita juga berhutang budi > pada negara2 lain!! > > sadar mas, sadar!! > > --- In [EMAIL PROTECTED], "Ikranagara" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > dari Republika On Line > > Kamis, 14 Oktober 2004 18:50:00 > > > > Revrisond Baswir: Secara Ekonomi Kita Tidak Merdeka > > > > > > Jakarta-RoL -- "Bila dilihat dari segi keberhasilan ekonomi, bisa > > dikatakan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia belum merdeka," kata > > pakar ekonomi kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Revrisond > > Baswir, usai dialog acara Kerangka Kebersamaan Minimal (KBM), di > > Jakarta, Kamis. > > > > Menurut dia, hal tersebut disebabkan oleh banyaknya kepentingan > > pihak internasional yang berusaha "menyetir" kegiatan perekonomian > > Indonesia. > > > > Selain itu, ketidakmandirian Indonesia dalam bidang ekonomi > tersebut > > juga mengakibatkan terjadinya penyelewengan terhadap Undang- Undang > > Dasar (UUD) 1945, terutama pasal-pasal yang mengatur pelaksanaan > > demokrasi ekonomi. > > > > Demokrasi ekonomi berarti produksi dikerjakan oleh semua, untuk > > semua dan di bawah pimpinan anggota masyarakat. > > > > "Jika mengacu pada arti demokrasi ekonomi, di Indonesia tidak > boleh > > ada pengangguran sesuai isi pasal 27 UUD 1945, serta menjamin > warga > > negara sebagai subyek yang didukung syarat-syarat kapital dan > > intelektual," katanya. > > > > Ia juga mengatakan bahwa banyak pihak yang belum mengerti akan > arti > > yang sebenarnya dari demokrasi ekonomi, yaitu ekonomi > > kerakyatan. "Ekonomi kerakyatan bukan berarti ekonomi kaki lima, > > tapi justru ekonomi yang mengacu pada kedaulatan rakyat, dan > > merupakan sistem ekonomi yang paling baik untuk diterapkan di > > Indonesia," katanya. > > > > Sementara itu, pengamat ekonomi, Rizal Ramli, juga mengatakan > bahwa > > perekonomian Indonesia sebaiknya jangan diserahkan kepada pihak > > asing, tetapi ditetapkan sendiri oleh bangsa Indonesia. > > > > "Jika pemerintahan sekarang (SBY-JK) menyerahkan perekonomian > kepada > > pihak asing, maka dalam waktu dekat banyak rakyat yang akan merasa > > kecewa," katanya dalam kesempatan yang sama. > > > > Menurut Rizal, penyerahan perekonomian pada pihak asing hanya akan > > membahagiakan pihak kreditor dan sebaliknya justru akan > > menyengsarakan rakyat. "Hal itulah yang menyebabkan Megawati kalah > > dalam pilpres, karena isu yang dilemparkan tidak menarik perhatian > > rakyat banyak," katanya. > > > > Secara pribadi, Revrisond yang akrab dipanggil Sony mengatakan > bahwa > > ia tidak sepakat dengan sistem pelaksanaan otonomi daerah (otda) > > yang berlangsung saat ini. > > > > "Meski secara politis tidak ada lagi sentralisasi kebijakan yang > > menyangkut kepentingan daerah, tetapi secara ekonomi daerah masih > > tergantung pada pusat, dalam hal ini Jakarta," ujarnya. > > > > Sony melihat bahwa perputaran uang di Indonesia hampir 80 persen > > berada di Jakarta, dan sisanya di daerah-daerah di seluruh > Indonesia. > > > > "Kondisi itu, menyebabkan pendapatan pajak terbesar ada di > Jakarta, > > sebesar 65 persen. Sebagai contoh, penggalian bahan tambang yang > > dilakukan di Papua, pajaknya dikenakan di Jakarta karena kantor > > pusat perusahaan yang bersangkutan ada di Jakarta. Mengapa kantor > > pusatnya tidak di Papua saja?," kata salah satu staf pengajar di > UGM. > > > > Ia menyarankan adanya perimbangan keuangan antara pemerintah > daerah > > dan pusat, sehingga perputaran uang bisa lebih merata dan dapat > > mendorong pertumbuhan ekonomi. "Jadi tidak ada lagi orang yang > > berlomba-lomba ke Jakarta untuk mencari penghasilan," katanya. > > > > Ketika disinggung tentang pemerintahan baru yang akan dipimpin > oleh > > SBY-Jk, Revrisond berharap agar pasangan tersebut melakukan dua > hal > > pada 100 hari pertama, yaitu mengumumkan jumlah dana non-budgeter > > pada semua departemen dan melunasi utang kepada IMF sebesar 3 > miliar > > dollar. > > > > "Jika dihitung, seluruh dana non-budgeter tersebut berjumlah > sekitar > > Rp400 triliun dan cadangan devisa Indonesia 34 miliar dollar, > tentu > > cukup untuk melunasi utang tersebut," katanya. > > > > Namun, Sony juga mengatakan bahwa hal tersebut dapat terlaksana > jika > > pemerintahan baru memiliki cukup keberanian.ant/aih ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

