Lho mas, hati nurani saya termaktub dalam kalimat romo Magnis dibawah ini:
 
>>>>Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi rendah hati dan 
>>>>berhenti membenci......"<<<<<

Saya kira, Yassir tak membenci siapa2, dia adalah politician. Perjanjian Camp David 
menunjukkan, kebencian bukanlah suatu hal yang patut diikuti nurani, namun nalar.
 
Saya juga condong untuk tak terlalu mudah memakai kata "teroris", sebab muatan kata 
ini sudah amburadul. Tak ada kriterium hukum yang jelas. Bagi A, B adalah teroris, 
bagi B, A adalah teroris. Mungkin kita lebih baik mencari kata lain. 
 
Salam
 
RM D Hadinoto


dicky riyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Yasser Arafat berhenti mebenci..., tetapi anak-anak Palestine dihujani mesiu...

Hamas hanya mau tanahnya saja... tanahnya sendiri.... tapi mereka dirudal dan 
dibuldozer...

haruskah kita berdiam diri dan menyatakan seakan semuanya hanya ilusi?

mereka betul-betul sdg ditindas dan dianiaya...

lalu dimana nurani Anda, Pak Danardono?

Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
------>   "Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari kekerasan hati dan dari 
kemunafikan yang menganggap diri lebih baik daripada orang lain. Agar kita berhak 
mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti 
membenci......"


SUARA PEMBARUAN DAILY 
---------------------------------
Akar-akar Terorisme

Franz Magnis-Suseno SJ 
DUA minggu sesudah bom bunuh diri di depan Kedutaan Australia rasanya seperti kembali 
ke mimpi buruk. Betapa kasihan para korban, sembilan saudara-saudara yang mati, lebih 
dari 150 cedera. 
Para kurban itu rakyat biasa? Di antara mereka yang mati ada seorang Satpam, ada ibu 
yang mengurus visa anaknya berumur lima tahun yang luka parah, di Singapura, belum 
tahu ibunya sudah tidak ada, empat penumpang dari dua sepeda motor yang kebetulan 
lewat dengan urusan masing-masing. Mengapa orang-orang itu harus mati, harus 
luka-luka? 
Yang jelas, mereka orang yang tidak peduli. Orang-orang yang hatinya sudah gelap 
karena rasa marah, dendam, benci. Ada korban, korban banyak, penderitaan, kehancuran 
banyak. Mereka tidak peduli. Collateral damage! dalam bahasa perang. Rasa kemanusiaan 
biasa saja, kesadaran yang dimiliki setiap orang biasa dari suku, golongan dan umat 
mana pun tentang apa yang baik dan apa yang jahat sudah mati di hati mereka menjadi 
keras, tidak manusiawi, sombong. 
Sombong, karena Anda mengangkat diri menjadi hakim atas hidup mati orang lain. Sombong 
karena Anda mengangkat diri menjadi algojo Tuhan! Ngeri kalau manusia sampai berani 
begitu! Apakah Tuhan pernah manyatakan perlu algojo? Apakah Tuhan pernah mengangkat 
Anda? Tidak takutkah Anda terhadap Allah! 
Dan dua kali Pfuil terhadap para pembina teroris-teroris pembunuh diri itu. Para 
pembina yang duduk di belakang meja dan menghasut orang lain, sering anak muda yang 
masih mudah dipengaruhi, bersedia membuang hidup yang hanya Tuhanlah yang boleh 
merenggutnya-demi melakukan kejahatan. Setan mengindoktrinasi anak muda menjadi setan 
juga, lalu dikirim ke kematiannya. 
Tentu kita semua mengharapkan dari presiden terpilih agar ia mempergunakan segala 
upaya untuk melindungi masyarakat, ya kita, untuk menumpas rawa yang melahirkan 
terorisme itu. 

Harus Bertanya 
Tetapi kita tidak boleh melemparkan tanggung jawab hanya pada pihak lain. Kita juga 
harus bertanya bagaimana mungkin ada orang-orang bisa sedemikian tersesat, sedemikian 
teracuni hatinya sehingga melakukan tindakan-tindakan teror yang sekarang sudah 
menjadi gejala global. 
Kaum teroris sendiri adalah urusan polisi. Umum-nya mereka sudah tidak bisa dibantu 
kemungkinannya, wawasan mereka adalah menyempit, kemanusiaan di hati sudah mati dan 
kesombongan membuat mereka tidak bisa sadar kembali. 
Tetapi bagaimana lingkungan asal mereka? Para simpatisan? Yang pernah menjadi kawan 
secita-cita dengan mereka yang kemudian ''menyeberang''? Apa dalam cita -cita bersama 
itu dulu yang bisa menjadi pijakan orang kehilangan segala naluri kemanusiaan? Adakah 
lingkungan-lingkunan yang sedemikian diliputi rasa marah, benci, dendam sehingga ada 
yang akhirnya erossing the line? 
Tentu saja, alasan untuk menjadi marah, untuk mau balas dendam, barangkali disertai 
perasaan tidak berdaya, tidak diperhatikan, berlimpah. Tetapi bagaimana kita menangani 
perasaan-perasaan itu? Apa kita boleh larut di dalamnya? 
Apalagi kalau kita orang beragama: Kita percaya bahwa Allah, Penguasa sejarah yang 
dari perhatianNya tak ada kejahatan apa pun, tak ada tangisan orang terhina dan 
tertindas di mana pun, bisa luput. Justru kalau begitu, kita seharusnya rendah hati, 
seharusnya tidak menyerahkan hati kita kepada perasaan-perasaan gelap. Bukankah yang 
menjamin bahwa keadilan dan kebaikan akan menang adalah Allah! Kalau kita sendiri mau 
memajukan keadilan dan kebaikan dengan melakukan kejahatan, itu sebuah perversi 
tragis. 
Orang beragama mesti tahu bahwa rasa dendam tidak pernah dapat dibenarkan melainkan 
merupakan racun paling berbahaya kalau kita memberi ruang kepadanya. Orang beragama, 
pun pula dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan dengan gigih, harus tetap rendah 
hati. Ia tak pernah akan lupa bahwa di hadapan Allah ia belum tentu lebih baik 
daripada mereka yang dikutuknya. 

Mulai dari Diri 
Maka melawan terorisme kita juga harus mulai pada diri kita sendiri. Terorisme mulai 
di hati kita. Setiap kali kita memberi ruang kepada kebencian dan rasa dendam, atau 
merasa diri satu-satunya yang benar, benih-benih terorisme sudah timbul. Yang berat, 
tetapi perlu adalah: Memperjuangkan kebenaran dan keadilan tanpa memakai rasa benci, 
tanpa merasa diri sendiri lebih baik. Kekerasan dan kesombongan hati akan merusak 
perjuangan demi keadilan dari dalam. 
Di sini orang beragama berada dalam bahaya kemunafikan lebih besar daripada orang 
tidak beragama. Terlalu mudah ia mengatasnamakan Tuhan, lalu mengangkat diri menjadi 
hakim. Dosa para agamawan adalah eksklusivisme mereka: Mereka begitu gampang 
''mengirim orang lain ke dalam neraka''! 
Dan itu suatu dosa. Sebagai contoh saja saya mau mengacu kepada Yesus: tak pernah Ia 
mengatakan bahwa ada orang tertentu masuk ke dalam neraka. Yang terus diperingatkan 
Yesus adalah: Apabila kalian tidak berubah - metanoeite - kalian tidak bisa masuk ke 
dalam kerajaan Allah! Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari kekerasan 
hati dan dari kemunafikan yang menganggap diri lebih baik daripada orang lain. Agar 
kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti 
membenci. 

Harus Bersatu 
Berhadapan dengan terorisme kita, --melintas semua golongan dan umat--, harus bersatu 
dan menarik sebuah garis tegas. Apa pun masalah yang kita hadapi, apa pun perselisihan 
dan konflik yang memang sudah biasa selalu akan muncul, kita akan memecahkannya 
bersama, secara beradab, dan tidak pernah memakai kekerasan. 
Rasanya bahwa masyarakat sangat siap untuk bersatu dalam sikap positif beradab itu. 
Kami mengharapkan bahwa pemerintah baru sepenuhnya akan mendukung usaha ini. 

Penulis adalah rohaniawan, guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

                
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke