Indonesia seeks release of women hostages in Iraq

1 hour, 5 minutes
 
 
 Mideast - 
AFPhttp://story.news.yahoo.com/news?tmpl=story&cid=1514&e=24&u=/afp/20041001/wl_mideast_afp/iraq_indonesia_hostage

JAKARTA (AFP) - Jakarta was preparing a team to try to free two Indonesian women whose 
capture by militants in Iraq (news - web sites) has caused surprise and consternation 
in the world's largest Muslim-populated country. 

AFP Photo 

Reuters Slideshow: Iraq
 
The women, pictured in Islamic headscarves in a video shot by the militants and aired 
on Arabic television, were seized while working for a British firm by a group calling 
itself the Islamic Army in Iraq, officials said. 

Foreign ministry spokesman Marty Natalegawa said the group holding the women, named as 
Rosidah binti Anom and Rafikan binti Amin, appeared to be linked to a group which has 
been holding two French journalists since August. 

It has not made any ransom or political demands to Indonesia, he said. 

"There is a possibility for a ransom ... we will not foreclose such possibilities and 
we will make a decision when that demand is made," he told a press conference. 

"There are matters that need to be synchronised between our intention to release these 
hostages and our principal stance. We do not want to give an impression that we are 
willing to make deals with irresponsible groups. 

The women, employed by British electronics company G-Bell, were being held "most 
likely" because of their employer and not because of Indonesia's political stance or 
role in the Iraq conflict, Natalegawa said. 

"We do not have troops in Iraq and our political position on Iraq has been known for 
some time in expressing our concerns about developments there and in denouncing and 
condemning the aggression against Iraq," he said. 

"The government of Indonesia is deeply concerned with this development. We would 
expect the hostage takers to release our nationals immediately. 

"They have absolutely no relevance or relations whatsoever with political matters. 
They are there as Indonesians making an honest living in Iraq," he said, adding that 
the capacity of the women's status in the firm was unknown. 

The Indonesian women were captured alongside six Iraqis and two Lebanese working for 
an electrical equipment firm, Al-Jazeera television said. 

Four of the presumed captives, all men, were shown in the video, with the captors 
pointing machine-guns at them. The channel later aired more footage showing the two 
women. 

Many of the insurgents fighting US-led forces who have taken foreigners hostage in 
Iraq in the past few months have demanded that their employers stop operating in the 
country. Ransoms were paid in some cases to secure releases. 

Natalegawa said the government was trying to locate relatives of the women to ask them 
to "make a public appeal to the hostage takers so that they (the women) be released 
immediately." 

Indonesia's manpower minister, Jacob Nuwa Wea, said the women had apparently sought 
work in Iraq without government consent. 

"We have forbidden our workers from working there because it's difficult for us to 
give them protection," he said. 

In August engineer Fahmi Ahmad, 27, became the first Indonesian killed in Iraq since 
the start last year of the US-led invasion. He was attacked in the northern town of 
Mosul while working for a London-based contractor. 
 


Natalegawa said then that only 13 Indonesians were known to be still in Iraq, 
including eight students and two embassy employees married to Iraqis. 

rm_danardono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
BTW teroris, ini ada berita menarik:

Kompas Jumat, 01 Oktober 2004




2 Perempuan Indonesia Disandera di Irak

Doha, Kamis - Dua perempuan warga negara Indonesia, Kamis (30/9),
dilaporkan menjadi korban penyanderaan kelompok bersenjata di Irak. 
Menteri Luar
Negeri Hassan Wirajuda membenarkan adanya peristiwa tersebut. Kedua 
perempuan
itu dalam rekaman video yang disampaikan kepada stasiun televisi Al-
Jazeera,
Qatar, dengan berbahasa Indonesia mengaku bernama Rosidah binti Anam 
dan Rafikan
binti Anim. Belum ada tuntutan menyangkut penyanderaan mereka.

Menteri Luar Negeri (Menlu) kepada Kompas mengatakan, RI mendesak 
siapa
pun pihak yang menculik dua perempuan Indonesia itu segera 
membebaskan mereka.
Alasannya, kata Hassan, Indonesia tidak terlibat apa pun dengan pihak 
pendudukan
di Irak yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Indonesia juga tidak 
mengirim
pasukan ke Irak. Bahkan, RI mengutuk invasi AS ke Irak.

Menurut Hassan, Indonesia akan mencari jalur atau kontak dengan pihak
ketiga, terutama Qatar, yang mungkin memahami dan tahu keberadaan dua 
sandera
warga negara Indonesia (WNI) itu.

Departemen Luar Negeri (Deplu), lanjutnya, juga sudah meminta langsung
kepada semua perwakilan RI di sekitar Teluk untuk mengurus masalah 
penyanderaan
itu, seperti Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Qatar, di 
Dubai, dan
lainnya di sekitar Teluk.

Bahkan, kata Hassani, KBRI Qatar langsung mendatangi kantor televisi
Al-Jazeera yang menginformasikan pertama kali tentang penyanderaan 
itu.

Menurut Menlu, KBRI Qatar bahkan diberi kesempatan oleh pihak Al-
Jazeera
untuk mendengarkan kembali dialog antara penculik dan sandera 
Indonesia. Pada
rekaman gambar Al-Jazeera itu terlihat dan terdengar dialog dilakukan 
dalam
bahasa Indonesia.

Hal itu diketahui ketika penculik menanyakan, "Nama saudari siapa?" 
Lalu
dua wanita yang menjadi sandera itu mengatakan bernama Rosidah binti 
Anam dan
Rafikan binti Anim.

Hassan mengatakan, kedua WNI itu sebelumnya mengaku bekerja di 
perusahaan
elektronik di Irak. Namun, tidak tertutup kemungkinan kedua perempuan 
itu adalah
pembantu rumah tangga di Irak.

Hassan mempertanyakan kepentingan penculik menyandera kedua orang 
tersebut
karena RI tidak terlibat invasi ke Irak. "Kita berharap telah terjadi 
aksi
penculikan yang salah karena kita tidak punya kepentingan dengan 
invasi ke
Irak," kata Hassan lagi.

Dia kembali mengingatkan agar seluruh WNI tidak masuk atau berada di 
Irak.
Kepada WNI yang sekarang sudah berada di Irak, Pemerintah RI 
mengimbau agar
segera keluar dari negeri itu. "Karena penyanderaan ini menunjukkan 
bahwa
situasi keamanan di Irak belum terjamin."

Bersama warga Lebanon

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Deplu Ferry 
Adamhar
menambahkan, belum diketahui kapan pastinya kedua WNI itu diculik, 
dan dari mana
mereka diculik. Namun, dari video yang dikirimkan ke Al-Jazeera 
disebutkan bahwa
kedua WNI itu disandera bersama dua warga Lebanon dan enam warga Irak.

Ferry menambahkan, seorang staf lokal KBRI di Irak yang kebetulan 
sedang
berada di Amman pun segera ditugaskan untuk berangkat ke Irak melalui 
jalan
darat.

Para penyandera menamakan dirinya Tentara Islam di Irak. Kelompok ini
hingga kini masih menyandera dua wartawan Perancis, Christian Chesnot 
dan
Georges Malbrunot.

Sejauh pengamatan Kompas yang mengunjungi Irak Juli lalu, hanya ada 
12 WNI
di Irak yang terdiri dari sembilan mahasiswa, dua mantan pegawai staf 
lokal KBRI
Baghdad, dan seorang putra mahasiswa Indonesia yang menikah dengan 
wanita Irak.
Memang ada desas-desus di Baghdad bahwa terdapat 40 tenaga kerja 
wanita (TKW)
asal Indonesia di Irak, tetapi belum ada konfirmasi tentang kebenaran 
berita
tersebut.

Pihak KBRI Amman, yang selama ini menjadi pintu utama keluar masuk 
warga
Indonesia dari dan ke Irak, mengaku tidak mendapat informasi tentang 
40 TKW itu.
"Mereka tidak melapor ke KBRI Amman," ungkap salah seorang pejabat 
KBRI Amman.

Dalam rekaman video itu tampak empat sandera laki-laki sedang 
berlutut. Di
belakangnya berjejer beberapa orang bertopeng yang mengacungkan 
senjata
otomatisnya ke para sandera. Beberapa saat kemudian bergantian muncul 
dua
perempuan berjilbab.

Menurut Al-Jazeera, para penyandera belum membuat pernyataan atau 
tuntutan
apa pun saat ini.

Menurut kantor Kedutaan Besar Lebanon di Baghdad, pihak Kementerian 
Luar
Negeri Lebanon membenarkan ada dua warganya yang disandera di Irak. 
Bahkan,
menurut kabar terakhir, salah seorang dari dua warga Lebanon yang 
disandera
-bernama Imad Bassila-telah dibebaskan.

Lebih dari 140 warga asing telah diculik di Irak oleh berbagai 
kelompok
bersenjata. Beberapa di antara mereka menyandera dengan alasan untuk 
mendapatkan
uang tebusan. Namun, ada beberapa korban disandera dengan alasan 
politis. Hingga
kini tercatat 26 warga asing telah dieksekusi.

Korban anak-anak

Di Baghdad ledakan bom mobil kembali terjadi. Kali ini sebagian besar
korbannya adalah anak-anak. Menurut catatan Rumah Sakit (RS) Yarmuk, 
sedikitnya
45 warga sipil tewas dan 200 orang luka-luka setelah ledakan bom 
mobil terjadi
di sebelah barat Baghdad, Kamis.

Menurut Direktur Rumah Duka RS Yarmuk Naji Shitshan, dari sekitar 45
korban tewas, 41 korban di antaranya anak-anak, sementara dua korban 
tewas
lainnya laki-laki dan seorang lagi perempuan.

Ledakan bom mobil itu terjadi ketika puluhan anak-anak tengah 
berkumpul
untuk menyaksikan upacara pengguntingan pita, dalam rangka meresmikan 
sebuah
instalasi pengolahan air bersih.

Beberapa jam sebelumnya satu ledakan bom bunuh diri yang terjadi di 
suatu
persimpangan padat di Abu Ghraib menewaskan dua personel polisi Irak 
dan seorang
tentara AS, serta melukai sekitar 60 orang. Sebuah bom mobil juga 
meledak di
dekat konvoi polisi Irak di Tall Afar, sebelah utara Baghdad dan 
menewaskan
empat orang serta melukai 16 orang.

AS obrak-abrik Fallujah

Pasukan keamanan AS kembali mengobrak-abrik kota Fallujah dengan
menghancurkan rumah-rumah yang diduga menjadi tempat pertemuan dan 
persembunyian
kelompok bersenjata yang termasuk jaringan Abu Mussab al-Zarqawi. 
Operasi
militer AS ini bertujuan menghabisi jaringan Al-Zarqawi, yang mengaku
bertanggung jawab atas serangkaian ledakan bom dan pembunuhan 
beberapa sandera
warga asing.

Kemarin sandera asal Inggris, Kenneth Bigley (62), kembali memohon 
bantuan
untuk segera dibebaskan. Permohonan itu disampaikannya melalui 
rekaman video
baru yang ditayangkan Rabu malam. Dalam rekaman video itu tampak 
Bigley tengah
berada di balik terali besi dan berpakaian ala tahanan penjara 
Guantanamo Bay
berwarna oranye.

Dengan suara lirih Bigley menuding Perdana Menteri Inggris Tony Blair
tidak sepenuh hati membantu membebaskannya. Sebelumnya Tony Blair 
telah
menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan kelompok penyandera Bigley. 
Lagi pula,
kata Blair, kelompok itu sama sekali tidak berupaya menghubungi 
pihaknya.
(AFP/REUTERS/MTH/ RIE/OKI/LUK)





--- In [EMAIL PROTECTED], Suhiro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> UUD45 katanya mengatakan NKRi = bekas hindia belanda
> timtim=hindia portugis bukan hindia belanda
> 
> jadi meski menyakitkan, habibie sudah tepat, membuang kerikil di 
sepatu.
> 
> timtim juga rame karena diketemukan minyak di celah timor to?
> 
> 
> On Fri, 1 Oct 2004, Danardono HADINOTO wrote:
> 
> > Ya, yang berpendapat demikian memang tidak sedikit. saya juga 
berdiri dibelakan NKRI yang diproklamasikan dengan darah dan nyawa 
itu. Tetapi, saya berpendapat, bahwa in the long run, ketidak mampuan 
pimpinan kita, memahami aspirasi bangsa secara keseluruhan, akan 
selalu membawa guncangan. Ini terjadi di Amerika Latin, dimana 
pembrontakan latent terjadi disana.
> >  
> > Negara, pada dasrnya harus dicintai warganya, bukan ditakuti.
> >  
> > Salam
> >  
> > RM D Hadinoto 
> > 
> > Sandy Dwiyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > (Maaf kalau judulnya kurang sesuai, karen judul yg
> > sesuai scr nggak sengaja telah terhapus. Saya hanya
> > ingin mengomentari secara singkat pernyataan Mr. RMDH
> > ttg Timtim) 
> > 
> > 
> > Bagi saya lepasnya TimTim hanya satu sebab, yaitu
> > kebodohan  Mr. Habibie. Betapapun hebatnya dukungan
> > Internasional thd sesuatu, namun jika kita tetap
> > kukuh, tidak akan pernah terjadi apapun yang namanya,
> > jajak pendapat (tolol) entah apa namanya. Tidak peduli
> > anda berdiri dibelakang siapa, saya akan tetap berdiri
> > di belakang NKRI. Hanya satu cara mempertahankan NKRI,
> > yaitu dengan Senjata dan Tangan Besi. Tidak ada
> > kompromi, tidak ada dialog jika sudah menyangkut
> > dengan Keutuhan Negara. Dialog dengan separatis,
> > berarti menaikkan derajat mereka dari yang tadinya
> > hanya berstatus gerombolan bersenjata menjadi kelompok
> > yang berkekuatan politik. Tidak ada kompromi dengan
> > separatis. Dialog hanya Tipu Muslihat.
> > --- Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > 
> > > Lho mas, hati nurani saya termaktub dalam kalimat
> > > romo Magnis dibawah ini:
> > >  
> > > >>>>Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita
> > > sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti
> > > membenci......"<<<<<
> > > 
> > > Saya kira, Yassir tak membenci siapa2, dia adalah
> > > politician. Perjanjian Camp David menunjukkan,
> > > kebencian bukanlah suatu hal yang patut diikuti
> > > nurani, namun nalar.
> > >  
> > > Saya juga condong untuk tak terlalu mudah memakai
> > > kata "teroris", sebab muatan kata ini sudah
> > > amburadul. Tak ada kriterium hukum yang jelas. Bagi
> > > A, B adalah teroris, bagi B, A adalah teroris.
> > > Mungkin kita lebih baik mencari kata lain. 
> > >  
> > > Salam
> > >  
> > > RM D Hadinoto
> > > 
> > > 
> > 
> > 
> > 
> >             
> > __________________________________
> > Do you Yahoo!?
> > Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
> > http://promotions.yahoo.com/new_mail
> > 
> > 
> > 
**********************************************************************
*****
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
www.ppiindia.shyper.com
> > 
**********************************************************************
*****
> > 
______________________________________________________________________
____
> > Mohon Perhatian:
> > 
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
dikomentari.
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> > 
> > 
> > 
> > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> > 
> > 
> > ---------------------------------
> > Yahoo! Groups Links
> > 
> >    To visit your group on the web, go to:
> > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
> >   
> >    To unsubscribe from this group, send an email to:
> > [EMAIL PROTECTED]
> >   
> >    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> > 
> > 
> >             
> > ---------------------------------
> > Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
**********************************************************************
*****
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
www.ppiindia.shyper.com
> > 
**********************************************************************
*****
> > 
______________________________________________________________________
____
> > Mohon Perhatian:
> > 
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
dikomentari.
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >  
> > Yahoo! Groups Links
> > 
> > 
> > 
> >  
> > 
> >



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]



Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT


---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke