Yang mbunuh Yesus pokoke dudu aku. Messias gaknya yo tergantung awake 
dewe. Nuruti Mulah2 ning Roma ya malah ngawur...

Hati nurani? Hatiku pada si Nurani...Si Mel Gibson kuwi rak wong 
gendeng...fanatikun no 1.




--- In [EMAIL PROTECTED], dicky riyadi <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> memang Anda mungkin benar, atau ngalah saja..
>  
> lha itu Yesus yg mbunuh siapa, hayoooo?
>  
> di filmnya Mel Gibson itu, yg menolak kemessiahan Yeus siapa, 
hayoooooo...?
>  
> lha iku kan mbahe....
> 
> Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Lho mas, hati nurani saya termaktub dalam kalimat romo Magnis 
dibawah ini:
> 
> >>>>Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita sendiri harus 
menjadi rendah hati dan berhenti membenci......"<<<<<
> 
> Saya kira, Yassir tak membenci siapa2, dia adalah politician. 
Perjanjian Camp David menunjukkan, kebencian bukanlah suatu hal yang 
patut diikuti nurani, namun nalar.
> 
> Saya juga condong untuk tak terlalu mudah memakai kata "teroris", 
sebab muatan kata ini sudah amburadul. Tak ada kriterium hukum yang 
jelas. Bagi A, B adalah teroris, bagi B, A adalah teroris. Mungkin 
kita lebih baik mencari kata lain. 
> 
> Salam
> 
> RM D Hadinoto
> 
> 
> dicky riyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Yasser Arafat berhenti mebenci..., tetapi anak-anak Palestine 
dihujani mesiu...
> 
> Hamas hanya mau tanahnya saja... tanahnya sendiri.... tapi mereka 
dirudal dan dibuldozer...
> 
> haruskah kita berdiam diri dan menyatakan seakan semuanya hanya 
ilusi?
> 
> mereka betul-betul sdg ditindas dan dianiaya...
> 
> lalu dimana nurani Anda, Pak Danardono?
> 
> Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> ------>   "Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari 
kekerasan hati dan dari kemunafikan yang menganggap diri lebih baik 
daripada orang lain. Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita 
sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti membenci......"
> 
> 
> SUARA PEMBARUAN DAILY 
> ---------------------------------
> Akar-akar Terorisme
> 
> Franz Magnis-Suseno SJ 
> DUA minggu sesudah bom bunuh diri di depan Kedutaan Australia 
rasanya seperti kembali ke mimpi buruk. Betapa kasihan para korban, 
sembilan saudara-saudara yang mati, lebih dari 150 cedera. 
> Para kurban itu rakyat biasa? Di antara mereka yang mati ada 
seorang Satpam, ada ibu yang mengurus visa anaknya berumur lima tahun 
yang luka parah, di Singapura, belum tahu ibunya sudah tidak ada, 
empat penumpang dari dua sepeda motor yang kebetulan lewat dengan 
urusan masing-masing. Mengapa orang-orang itu harus mati, harus luka-
luka? 
> Yang jelas, mereka orang yang tidak peduli. Orang-orang yang 
hatinya sudah gelap karena rasa marah, dendam, benci. Ada korban, 
korban banyak, penderitaan, kehancuran banyak. Mereka tidak peduli. 
Collateral damage! dalam bahasa perang. Rasa kemanusiaan biasa saja, 
kesadaran yang dimiliki setiap orang biasa dari suku, golongan dan 
umat mana pun tentang apa yang baik dan apa yang jahat sudah mati di 
hati mereka menjadi keras, tidak manusiawi, sombong. 
> Sombong, karena Anda mengangkat diri menjadi hakim atas hidup mati 
orang lain. Sombong karena Anda mengangkat diri menjadi algojo Tuhan! 
Ngeri kalau manusia sampai berani begitu! Apakah Tuhan pernah 
manyatakan perlu algojo? Apakah Tuhan pernah mengangkat Anda? Tidak 
takutkah Anda terhadap Allah! 
> Dan dua kali Pfuil terhadap para pembina teroris-teroris pembunuh 
diri itu. Para pembina yang duduk di belakang meja dan menghasut 
orang lain, sering anak muda yang masih mudah dipengaruhi, bersedia 
membuang hidup yang hanya Tuhanlah yang boleh merenggutnya-demi 
melakukan kejahatan. Setan mengindoktrinasi anak muda menjadi setan 
juga, lalu dikirim ke kematiannya. 
> Tentu kita semua mengharapkan dari presiden terpilih agar ia 
mempergunakan segala upaya untuk melindungi masyarakat, ya kita, 
untuk menumpas rawa yang melahirkan terorisme itu. 
> 
> Harus Bertanya 
> Tetapi kita tidak boleh melemparkan tanggung jawab hanya pada pihak 
lain. Kita juga harus bertanya bagaimana mungkin ada orang-orang bisa 
sedemikian tersesat, sedemikian teracuni hatinya sehingga melakukan 
tindakan-tindakan teror yang sekarang sudah menjadi gejala global. 
> Kaum teroris sendiri adalah urusan polisi. Umum-nya mereka sudah 
tidak bisa dibantu kemungkinannya, wawasan mereka adalah menyempit, 
kemanusiaan di hati sudah mati dan kesombongan membuat mereka tidak 
bisa sadar kembali. 
> Tetapi bagaimana lingkungan asal mereka? Para simpatisan? Yang 
pernah menjadi kawan secita-cita dengan mereka yang 
kemudian ''menyeberang''? Apa dalam cita -cita bersama itu dulu yang 
bisa menjadi pijakan orang kehilangan segala naluri kemanusiaan? 
Adakah lingkungan-lingkunan yang sedemikian diliputi rasa marah, 
benci, dendam sehingga ada yang akhirnya erossing the line? 
> Tentu saja, alasan untuk menjadi marah, untuk mau balas dendam, 
barangkali disertai perasaan tidak berdaya, tidak diperhatikan, 
berlimpah. Tetapi bagaimana kita menangani perasaan-perasaan itu? Apa 
kita boleh larut di dalamnya? 
> Apalagi kalau kita orang beragama: Kita percaya bahwa Allah, 
Penguasa sejarah yang dari perhatianNya tak ada kejahatan apa pun, 
tak ada tangisan orang terhina dan tertindas di mana pun, bisa luput. 
Justru kalau begitu, kita seharusnya rendah hati, seharusnya tidak 
menyerahkan hati kita kepada perasaan-perasaan gelap. Bukankah yang 
menjamin bahwa keadilan dan kebaikan akan menang adalah Allah! Kalau 
kita sendiri mau memajukan keadilan dan kebaikan dengan melakukan 
kejahatan, itu sebuah perversi tragis. 
> Orang beragama mesti tahu bahwa rasa dendam tidak pernah dapat 
dibenarkan melainkan merupakan racun paling berbahaya kalau kita 
memberi ruang kepadanya. Orang beragama, pun pula dalam 
memperjuangkan kebenaran dan keadilan dengan gigih, harus tetap 
rendah hati. Ia tak pernah akan lupa bahwa di hadapan Allah ia belum 
tentu lebih baik daripada mereka yang dikutuknya. 
> 
> Mulai dari Diri 
> Maka melawan terorisme kita juga harus mulai pada diri kita 
sendiri. Terorisme mulai di hati kita. Setiap kali kita memberi ruang 
kepada kebencian dan rasa dendam, atau merasa diri satu-satunya yang 
benar, benih-benih terorisme sudah timbul. Yang berat, tetapi perlu 
adalah: Memperjuangkan kebenaran dan keadilan tanpa memakai rasa 
benci, tanpa merasa diri sendiri lebih baik. Kekerasan dan 
kesombongan hati akan merusak perjuangan demi keadilan dari dalam. 
> Di sini orang beragama berada dalam bahaya kemunafikan lebih besar 
daripada orang tidak beragama. Terlalu mudah ia mengatasnamakan 
Tuhan, lalu mengangkat diri menjadi hakim. Dosa para agamawan adalah 
eksklusivisme mereka: Mereka begitu gampang ''mengirim orang lain ke 
dalam neraka''! 
> Dan itu suatu dosa. Sebagai contoh saja saya mau mengacu kepada 
Yesus: tak pernah Ia mengatakan bahwa ada orang tertentu masuk ke 
dalam neraka. Yang terus diperingatkan Yesus adalah: Apabila kalian 
tidak berubah - metanoeite - kalian tidak bisa masuk ke dalam 
kerajaan Allah! Berubah dari apa? Di sini Yesus sangat jelas: Dari 
kekerasan hati dan dari kemunafikan yang menganggap diri lebih baik 
daripada orang lain. Agar kita berhak mengutuk para teroris, kita 
sendiri harus menjadi rendah hati dan berhenti membenci. 
> 
> Harus Bersatu 
> Berhadapan dengan terorisme kita, --melintas semua golongan dan 
umat--, harus bersatu dan menarik sebuah garis tegas. Apa pun masalah 
yang kita hadapi, apa pun perselisihan dan konflik yang memang sudah 
biasa selalu akan muncul, kita akan memecahkannya bersama, secara 
beradab, dan tidak pernah memakai kekerasan. 
> Rasanya bahwa masyarakat sangat siap untuk bersatu dalam sikap 
positif beradab itu. Kami mengharapkan bahwa pemerintah baru 
sepenuhnya akan mendukung usaha ini. 
> 
> Penulis adalah rohaniawan, guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat 
Driyarkara, Jakarta
> 
>             
> ---------------------------------
> Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
www.ppiindia.shyper.com
> 
**********************************************************************
*****
> 
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
>    To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>   
>    To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>   
>    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke