Teladan Moral Pimpinan MPR

HIDUP sederhana, yang dilontarkan pejabat publik, umumnya lebih bagus
di bibir daripada kenyataannya. Hebat sebagai slogan, tetapi busuk
dalam kenyataan.

Konsistensi antara omongan dan perbuatan telah menjadi barang langka.
Integritas, sebagai salah satu kualitas pemimpin, telah lama hilang.
Yang menonjol adalah hipokrisi.

Hasilnya, berbagai paradoks. Ketika negeri ini diterkam krisis, justru
semakin banyak mobil mewah yang berseliweran di jalan raya. Reformasi
datang, tetapi korupsi justru semakin menjadi-jadi. Itulah sebabnya,
pejabat publik, terutama anggota DPR, sangat alergis dengan eksistensi
Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara. Komisi ini lahir di
zaman reformasi, dan mati di zaman reformasi pula.

Paradoks lain ialah rakyat semakin miskin, pengangguran meningkat,
tetapi nasib pejabat publik tetap elitis, terutama dalam fasilitas.
Mereka tetap mendapat kemudahan dan kenikmatan luxurious, baik sebagai
privilese maupun sebagai prestise jabatan. Di antaranya, mobil jabatan
maupun hotel dan kamarnya.

Semuanya serbamahal dan berkelas, yang selama ini dipandang sebagai
sebuah 'kewajaran' yang melekat pada jabatan. Kemewahan yang telah
menjadi baku, yang lahir di zaman Orde Baru dan kemudian diteruskan di
masa reformasi. Menteri, pimpinan MPR dan DPR naik mobil merek Volvo,
sebagai contoh, adalah fasilitas standar jabatan yang memang
ditegakkan di masa Orde Baru, yang terus dipertahankan sekalipun
negara dalam krisis dan telah berganti-ganti presiden.

Dan, tiba-tiba, kemewahan yang sudah 'lazim' itu, prestise dan
privilese yang telah menjadi 'standar' itu, sekarang ditolak oleh
pimpinan MPR yang baru. Mereka menolak mobil dinas merek Volvo dan
kamar hotel berkelas royal suite room.

Sebuah keputusan yang mendapat dukungan publik, tetapi sebaliknya,
dinilai tidak efektif oleh Ketua DPR Agung Laksono. Katanya, "Itu
tidak efektif karena tidak akan memberikan dampak yang riil bagi
bangsa. Seharusnya dilakukan dalam skala besar, bukan satu dua orang
saja."

Terobosan, memang mulanya dilakukan oleh satu dua orang saja. Invensi
dan inovasi, biasanya pun dilakukan oleh satu dua orang saja. Yang
memiliki visi, pun biasanya hanya satu dua orang saja, bukan massal.
Yang dilakukan pimpinan MPR adalah sebuah preseden, terobosan moral,
yang biasanya juga diprakarsai oleh satu dua orang saja. Di sinilah
berperan Ketua MPR yang baru, Hidayat Nur Wahid, memberi teladan
sebagai pejabat publik, yaitu menolak kemewahan fasilitas dinas, di
sebuah negeri dengan pengangguran 30 juta orang.

Tidak banyak pejabat publik seperti Hidayat Nur Wahid, yang memiliki
keteguhan hati untuk tetap sederhana, setelah menjadi pejabat publik.
Umumnya justru memanfaatkan jabatan, demi kekayaan pribadi.

Jika sikap itu diikuti semua pejabat publik secara nasional, termasuk
pimpinan DPR, maka dampaknya pasti nyata bagi bangsa. Keteladanan,
memang bukan untuk didebat atau dicemburui, tetapi untuk diikuti.

http://www.mediaindo.co.id/editorial.asp?id=2004101700140205


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke