Tapi, apa salahnya datang sebagai simbol pergantian kuasa yang mulus? Lagipula, semua 
orang sudah tahu Mega sudah keok, reformasi ekonomi gagal.

antonhartomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

waspada waskita
jangan gila kuasa
salam



--- wrote:
Pojokkan Mega dengan isu "rekonsiliasi"
Kelihatannya didalam masyarakat semakin timbul kesan tak
sedap bahwa sedang ada pemojokan dan pelecehan terus menerus
oleh mereka yang menang pilpres 2004 terhadap perempuan yang
kalah, yaitu Megawati Soekarnoputri. Dengan memakai isu
"rekonsiliasi" yang sangat dipelintir, perbuatan ini tentu saja sangat
tak terpuji didalam upaya bangsa kita kearah kemapanan demokrasi.
Rekonsiliasi politik yang berdimensi nasional, apalagi untuk bangsa
yang jumlahnya melebihi 200 juta dalam negara yang sebesar ini,
selalu diyakini sebagai upaya berbaik-baik setelah terjadinya mala-
petaka dibidang HAM yang mahaberat.
Kita sering menengok kearah Afrika Selatan dengan Pahlawannya
Nelson Mandela yang telah berhasil meraih rekonsiliasi serta
mencapai sesuatu kebenaran setelah tragedi sangat berkepanjangan
sekait dengan perbudakan, kolonialisme serta apartheid disana.

Kembali ke Indonesia, khusus selama pemilu legislatif serta pilpres
tahun ini segala situasinya dinyatakan oleh semua pihak, dalam dan
luar negeri sebagai aman damai dan demokratis. Juga oleh James
Carter! Dan Mega diakui oleh semuanya telah sangat berjasa dalam
meletakan dasar-dasar demokrasi dan dalam penyelenggaran
pemilu-pemilu tahun ini, juga melalui kata-katanya Jenderal (Pur)
Dr. Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), pesaingnya yang lalu
menang dalam pilpres itu.
Jadi apa pasal sebetulnya lalu kini ditebarkan isu "rekonsiliasi" 
antara
kubu SBY dan kubu Mega? Presiden perempuan pertama di
Indonesia ini jauh-jauh hari sekitar dua tahun yang silam telah dengan
jelas mengatakan bahwa pemilu 2004 harus berjalan secara
demokratis, aman, semuanya harus "siap menang dan juga siap
kalah". Tentunya kita ingat kan? Sangat tidak etis bahwa kini pihak
yang menang lalu memojok-mojokan pihak yang kalah, padahal
dalam kampanyenya merekapun terikut menekankan azas "fairplay".

Adalah pelecehan besar terhadap makna rekonsiliasi ketika misalnya
seorang tokoh mengatakan setelah menang pilpress "saya akan
tersenyum pada Bu Mega pada pelantikan nanti". Juga penebaran
isu ini melalui TV-TV dan media lainnya. Bukankah pilpres I dan II
berjalan sangat demokratis? Telah dihembuskan bahwa masa
pendukung Mega akan mengamuk bila ia kalah. Buktinya?
Inipun upaya pelecehan pada rakyat kecil yang dikatakan akan
berkelakuan primitif, mengamuk, tak tahu cara menanggung nasib
kalah pemilu atau pilpres. Mereka lupakan bahwa wong cilik pun
mempunyai budaya santun.
Nyatanya banyak sekali warga bangsa ini yang telah menghirup
hawa segar demokrasi mengartikan rekonsiliasi sebagai penyelesaian
tuntas bagi bermacam-macam pelanggaran HAM dan ulah korupsi,
kolusi dan nepotisme selama beberapa puluh tahun yang silam.
Kejadian-kejadian itulah yang telah membenamkan bangsa kedalam
keterpurukan multidimensi serta mengakibatkan trauma berat
pada jutaan korban yang sampai kinipun masih belum dipulihkan
semua hak warganya.

Tak pelak lagi isu "rekonsiliasi" yang mengada-ada ini sasaran 
utamanya
ialah Mega, jadi untuk mengikis perempuan ini dari segala jasa serta
keberhasilannya dalam memimpin Indonesia melalui keadaan yang
penuh dengan warisan buruk rezim yang sebelum reformasi,
perempuan yang masih saja didengungkan tak layak jadi Presiden
karena gendernya.
Sangat logis bahwa Mega, PDI-P maupun sebagian masyarakat mulai
bangkit bahwa "rekonsiliasi" semu itu tentu saja tak ada maknanya.
Mungkin ada pihak yang berkeinginan supaya dihidupkan tradisi feodal
dibumi Indonesia yaitu pihak yang kalah pemilu harusnya "sowan" ter-
isak-isak minta ampun seperti yang kalah perang pada abad pertengahan,
lalu menyatakan akan loyal pada pemenang, dan akan selalu mengirim
upeti (yang kini dapat berarti dukungan politik).
Wakil Sekjen DPP PDI-P Pramono Anung menyatakan bahwa
"rekonsiliasi" semacam itu tak perlu karena pilpres berjalan mulus,
dan memang tak ada peraturan apapun yang mengatur hubungan antara
pihak-pihak yang berpilpres. Jadi wajar saja kan, bahwa Mega tetap
menjalankan tugas sehari-hari sebagai Presiden RI dan SBY siap-siap
masuk ke Istana Negara? Dan tanggal 20 Oktober nanti SBY jadi
presiden, dan Mega jadi warga biasa.

Gigihnya upaya pemojokan terhadap Mega dan PDI-P, dan seterusnya
pada kelompok besar nasionalis sekarang ini tak pelak lagi sangat ada
kaitannya dengan suara-suara dikalangan pendukung pemerintah yang
akan datang bahwa mereka ingin sekali supaya SBY menang lagi
pada pilpres 2009 nanti. Jadi tentunya pesaing-pesaing beratnya,
yaitu dalam dunia politik tentunya PDI-P dan juga Partai Golkar harus
terus menerus dipojokan. Sekaligus juga Koalisi Kebangsaan.
Dininya gerakan "kampanye pemilu 2009" ini seharusnya cepat di-
cermati oleh kelompok-kelompok demokratis di perpolitikan maupun
dikalangan LSM, karena sangat mungkin pada tahun 2009 nanti bangsa
kita akan membutuhkan "perubahan" lagi. Karena kalau hanya 10%
saja dari segudang janji yang telah terhambur itu akan dipenuhi, maka
tentunya akan harus diupayakan perubahan dari "perubahan" ini.

--- End forwarded message ---







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links









                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
vote.yahoo.com - Register online to vote today!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke