Kalau boleh, ikutan nimbrung biar anget. Kebetulan saya di Manila 4 tahun, jadi sedikit banyak tahu mondar mandirnya pejabat PLN ke ADB untuk cari utangan. Kesan saya, pejabat-pejabat itu tidak sadar bahwa utang harus dibayar. Direktur PLN dengan bangga bernegosiasi dan teken utang, bagaikan orang menang perang, sampai perlu membawa wartawan segala. Merekapun tahu, bahwa ada commitment fee segala macam. Sayapun mbatin, sampai kapan kesombongan ini akan berlanjut.
Mas Danar benar, bahwa bank ada aturannya. Salah besar mengatakan ADB menjerumuskan kita. Yang salah adalah kita sendiri. Saya jamin kalau kita mampu mengelola proyek yang didanai utangan dengan semestinya sesuai dengan tahap dan perhitungan yang disetujui, proyek bakalan jalan dan kitapun akan mampu membayar cililan hutang pokok ditambah bunga yang terhitung kecil. Saya tidak paham dengan makian "antek IMF" dsb itu, mengapa bisa begitu? Yang salah adalah kita (Orba adalah bagian kita juga). Stop menyalahkan orang lain. Marilah kita kerja yang baik dibidang kita masing-masing, agar bangsa kita yang lagi sakit ini cepat sembuh. Salam, RM --- rm_danardono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- In [EMAIL PROTECTED], A Nizami > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > ADB, World Bank, dan IMF cukup pintar. Mereka > cukup > > meminjamkan sekitar Rp 35 trilyun yang nanti akan > > dikembalikan negara RI berikut bunganya. > > Mas, mereka adalah perusahaan bank, jadi meminta > bunga. Kalau bank > meminta bunga ini bukan karena pintar, namun karena > memang demikian > dasar kerjanya. kalau bukan pinjamana itu namanya > "grant", juga dapat > kita peroleh dari negara2 barat. > > > > > > Di sisi lain, mereka mendapat jaminan berupa UU > > Privatisasi PLN yang memungkinkan mereka menguasai > > PLN. Dengan sekitar 50 juta pelanggan, maka mereka > > menguasai omset senilai Rp 60 trilyun per tahunnya > > (jika setiap bulan pelanggan PLN membayar Rp 100 > > ribu). > > Undang nasional adalah buatan kita, jadi seharusnya > kita yang > tentukan, apa yang baik bagi perekonomian kita. > > > > Pinjaman mereka kembali berikut interest, di sisi > lain > > mereka menguasai PLN dan mereguk keuntungan > sekitar Rp > > 12 trilyun per tahun. > > Malaysia tidak meminta bantuan IMF, dan sangat > sellektif dalam > meminjam dana LN. bagaimana kalau kita ikuti ini? > > > > > Mudah2an pemerintah menyadari hal ini. > > Betul,mas. Lembaga2 international, dimana kita juga > menjadi > anggautanya, mempunya aturan dasar dalam memberikan > pinjaman, > janganlah kita terlalu mudah meminjam, kalau ini > kelak membebani > nasib rakyat. Kita jangan terlalu cepat menyalahkan > orang lain, kalau > kita sendiri masih amburadul, mas. Saya yakin, kalau > kabinet ini > bekerja keras secara rational, maka kita tak perlu > tergantung bantuan > LN. Lihat Korea selatan, Singapura, bahkan India > apalagi RRT. > > > Salam > > RM D Hadinoto > > > > > > --- Firdaus Ibrahim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Tidak dapat dibantah Yusuf Anwar -- yang > sekarang > > > Menteri Keuangan -- adalah > > > salah satu kepanjangan tangan Lembaga Keuangan > Dunia > > > (bisa digolongkan > > > sebagai antek IMF). Pada waktu menjabat sebagai > > > Direktur Eksekutif ADB > > > pernah memaksa Indonesia untuk menyusun UU > > > Kelistrikan baru untuk > > > kepentingan para BARON STROOM. NKRI disuruh > pinjem > > > uang untuk biaya bikin UU > > > Kelistrikan baru yang akan menyengsarakan > rakyat. > > > Yusuf Anwar tak ubahnya > > > seperti wakil rentenir internasional yang > memberikan > > > pinjaman uang kepada > > > bangsanya sendiri. Kemudian bangsanya itu > sendiri > > > diperintahkan membuat > > > aturan-aturan yang menguntungkan kapitalis > global > > > (PARA BARON STROOM). Yusuf > > > Anwar tidak peduli walaupun persyaratan pinjaman > > > tersebut akan > > > menyengsarakan masyarakat karena akan > meningkatnya > > > tarip listrik seperti > > > halnya kejadian diberbagai negara yang melakukan > > > liberlisasi sektor listrik > > > di negara2 tersebut. Dan juga sangat aneh > sekali, > > > masak kita disuruh pinjam > > > uang untuk buat undang-undang. Apa dia maksud > agar > > > resistensi DPR dan > > > berbagai pihak perlu diminimalisir dengan cara > > > memberikan suap/sogok yang > > > nantinya harus dibayar oleh anak cucu kita. > > > > > > > > > > > > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0111/09/UTAMA/cgis01.htm > > > > > > <http://www.kompas.com/kompas-cetak/0111/09/UTAMA/cgis01.htm> > > > > > > > > > Jumat, 9 November 2001 > > > > > > > > > > > > > > > > > > CGI Setujui Pinjaman 3,14 Milyar Dollar AS > > > > > > Jakarta, Kompas > > > > > > Negara-negara yang tergabung dalam Consultative > > > Group on Indonesia (CGI) > > > menyetujui pemberian komitmen pinjaman senilai > 3,14 > > > milyar dollar Amerika > > > Serikat (AS) kepada Indonesia untuk menutup > defisit > > > Anggaran Pendapatan dan > > > Belanja Negara (APBN) Tahun 2002, termasuk > berbagai > > > program untuk memerangi > > > kemiskinan. Untuk memerangi kemiskinan, > pemerintah > > > juga berencana membuat > > > sebuah tim nasional yang didasarkan pada > keputusan > > > presiden (Keppres). > > > Jumlah 3,14 milyar dollar AS yang diperoleh dari > CGI > > > ini tak jauh dari > > > target yang diharapkan pemerintah, yakni Rp 35,4 > > > trilyun dan perkiraan > > > kebutuhan Indonesia sebagaimana disampaikan Bank > > > Dunia, yakni antara 3-3,5 > > > milyar dollar AS. > > > > > > > > > "Komitmen pinjaman (pledging) yang diberikan > memang > > > lebih rendah dari tahun > > > lalu sebesar 4,84 milyar dollar AS. Ini > mencerminkan > > > komitmen pemerintah > > > untuk secara bertahap dan bertanggung jawab > mulai > > > mengurangi ketergantungan > > > pinjaman luar negeri," kata Menko Perekonomian > > > Dorodjatun Kuntjoro-Jakti > > > dalam jumpa pers, di Jakarta, Kamis (8/11). > > > > > > > > > Jumpa pers juga dihadiri Wakil Presiden Bank > Dunia > > > untuk Kawasan Asia Timur > > > dan Pasi-fik Jemaluddin Kassum, Kepala > Perwakilan > > > Bank Dunia untuk Indonesia > > > Mark Baird, dan Menteri Keuangan (Menkeu) > Boediono. > > > > > > > > > Dijelaskan oleh Dorodjatun, dari komitmen 3,14 > > > milyar dollar AS yang > > > diberikan CGI, kontribusi terbesar diberikan > oleh > > > Bank Pembangunan Asia > > > (ADB), yakni 1,15 milyar dollar AS, disusul Bank > > > Dunia 1 milyar dollar AS, > > > dan Jepang 720 juta dollar AS. Ini pertama > kalinya > > > Jepang tidak memberikan > > > kontribusi terbesar pada sidang CGI. > > > > > > > > > Selain komitmen pinjaman sebesar 3,14 milyar > dollar > > > AS, menurut Dorodjatun, > > > negara-negara donor juga menyetujui memberikan > > > bantuan teknis dan hibah. > > > "Totalnya, sekitar 586 juta dollar AS," katanya. > > > Dari 586 juta dollar AS > > > itu, 113,8 dollar AS berasal dari sumber > > > multilateral dan 472,2 juta dollar > === message truncated === ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

