Ya, benar, kita memang berbeda pandangan. Tidak apalah!

Jadi, dari sudut pandang saya, Anda sebenarnya penganut sejarah 
linier.

Pendekatan sebab-akibat tidak seharusnya melahirkan pandangan 
sejarah linier. Bisa justeru diskontinyu juga, kalau kita runut ke 
belakang genelogically ketika sampai pada titik awalnya. Hal ini 
juga berlaku pada sejarah evolusi makhluk hidup. Ada makhluk-makhluk 
yang menjadi batang, lalu lahir dari batang ini beberapa cabang yang 
satu dengan lainnya berjalan sejajar. Itu artinya si batang berhenti 
sampai di sana. Sedangkan cabang-cabang baru bisa saja berkembang 
menjadi ranting-ranting baru yang satu dengan lainnya berjalan 
sejajar. Demikianlah, maka makhluk manusia berjalan sejajar dengan 
kera besar dan monyet, misalnya. Nah, kalau kedua makhluk ini 
dirunut ke belkang genelogically, maka ketemu dengan nenakmoyang 
mereka. Dan nenekmoyang mereka ini bukanlah lagi spesies yang bisa 
disebut manusia dan bukan pula kera besar dan bukan pula monyet. 
Perjalanan evolusi memerlukan jutaan tahun untuk terjadinya 
perobahan atau lahirnya satu jenis spesies baru. Tapi juga ada 
spesies-spesies baru yang lahir dalam waktu singkat, misalnya 
spesies makhluk yang kita sebut sebagai penyait, virus, kuman, dsb --
- evolusi bisa diamati di laboratorium!

Persoalannya di dalam mengamati sejarah sosial/politik/ekonomi yang 
dilakoni manusia memang tidak se-eksak mengamati segi 
biologinya/evolusinya. Jadi, tanpa saya menerima fikiran Anda, saya 
tetap menghormati pendapat aNDA ITU. Dulu juga saya berfikir seperti 
Anda itu, jadi saya bisa menghormati pandangan Anda itu.

Kalaulah boleh saya sekedar mengusulkan di sini, saya ingin sekali 
Anda membaca beberapa bukunya Derrida. Atau, kalau tidak sempat, 
karena buku-buku itu tebal-tebal semua, saya kira buku-buku tipis 
introduksi tentang dekonstruksi, termasuk genealogy, yang ada di 
dalam kepustakaan Postmodern dan Post-Strukturalisme lumayan sebagai 
perkenalan. Tentu, membaca buku "An Introduction Guide to Post-
Structuralism and Postmodernism" (Madan Sarup) saja, misalnya, hanya 
memberikan pengetahuan sekitar 50% saja, atau mungkin bisa sampai 
75%. Yang afdhol kalau mau menguqasai secara 100% ya memang membaca 
buku Derrida langsung. Tapi ini kalau Anda tidak keberatan lho. Mau 
tidaknya tentulah berpulang kepada Anda.

Salam,
Ikra.-




--- In [EMAIL PROTECTED], "RM Danardono HADINOTO" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> Terimakasih untuk uraiannya. 
> 
> Saya mengadakan approach dari sisi yang berbeda dari anda, dan tak 
> terlalu memfokus pada struktur pemikiran seperti yang anda ulas, 
> namun, melihat sejarah sebagai suatu untaian peristiwa yang saling 
> terkait secara kausal. Simple.
> 
> Kita ambil contoh yang sangat sederhana. Perkembangan angkatan 
perang 
> kita. Dizaman revolusi, uniform perwira kita masih mengandung 
unsur 
> uniform Jepang, kemudian setelah kemerdekaan memakai system 
> kepangkatan Belanda, juga dalam doktrin organisasi. Mengapa? 
Simply, 
> karena dalam membangun kedepan angkatan tempur kita, perwira2 
pemikir 
> kita, dari jendral Urip, pak Dirman sampai TB Simatupang, 
Kawilarang 
> dan Nasution, berorientasi pada apa yang mereka alami dan terjadi 
> selama ini. Organisasi ketentaraan Belanda. Kita pakai kesatuan 
yang 
> masih memakai bahasa Jerman, karena nama ini dipakai tentara 
Belanda, 
> yakni "WK alias Wehrkreis", pada serangan umum 1 Maret 1949. 
Suharto 
> adalah komandan salah satu Wehrkreis, yang bahasa Indonesia adalah 
> Lingkaran Pertahanan. 
> 
> Contoh ini, dapat kita lanjutkan dengan organisasi2 pemerintahan, 
> perusahaan2 negara, organisasi departmental pemerintah, lembaga2 
> peradilan dst.
> 
> Lihat perkembangan bahasa Indonesia. Waktu kecil di Sekolah Rakyat 
> (volksschool, kini SD) tahun 50an awal, kami masih memakai pustaka 
> berdasar ejaan van Ophuizen. Kemudian diganti ejaan kita yang 
tahun 
> 1950, tidak lagi oe sebagai u (sebelum 1950 "umum" 
ditulis "oemoem"), 
> dsb. Memakai tj sekarang c, dj sekarang j, dst. kemudian datang 
ejaan 
> yang kita pakai sekarang.
> 
> Apa yang ingin saya katakan? Juga dalam memulai budaya bernegara 
> baru, kita TAK mungkin mulai dari 0 seperti yang anda usulkan.
> 
> Apakah sejarah itu melingkar, persegi, segitiga atau bujursangkar, 
> tetaplah proses sejarah itu kontinue. Anak didik dari keluarga 
Muslim 
> yang berbusana Muslim misalnya dari Minangkabau, tak mungkin 
tiba2, 
> beragama Protestant, berbusana ala orang Jerman, dan berfikir 
seperti 
> orang Jerman. melepas diri total dari generasi sebelumnya. 
> 
> Tak mungkin.
> 
> Seorang remaja yang berasal dari keluarga yang berbeda, 
> berlatarbelakang pendidikan berbeda, berbahasa daerah beda, 
apalagi 
> berlatarbelakang finansial beda, walau mengunjungi universitas 
yang 
> exactly sama, akan mengembangkan pola hidup yang tetap berbeda. 
> masing2 mengikuti pola pokok keluarganya, latarbelakang budayanya.
> 
> Saya perhatikan, keluarga anggauta korps diplomatik kita disini. 
> Hidup beberapa tahun diantara budaya yang samasekali asing. Namun 
> mereka tetap meneruskan warisan budaya pada anak didik mereka. 
Yang 
> berjilbab ya berjilbab, yang sekular ya sekular, yang Tionghoa 
tetap 
> berbudaya Tionghoa, yang Jawa ya berbahasa Jawa, yang Arab tetap 
> seperti Arab, yang Padang tetap hidup seperti orang Padang di 
Tanah 
> Air.
> 
> Kalaupun ada generasi ketiga, yang sudah tak menguasai lagi bahasa 
> Indonesia, atau bercampur darah dengan orang kulit putih, tetap 
saja, 
> budaya orang tua diteruskan. Seorang wanita setengah Jawa setengah 
> Austria, tetap beragama Islam, mengaji, walaupun suaminya orang 
> Austria yang Kristen, dan dia tak kuasai bahasa Indonesia dengan 
> fasih. beberapa anak2 turunan Jawa, walau bengkak bengkok bahasa 
> Indonesia, tetap keluar "medok"nya kalau bicara. Juga lafal bahasa 
> Jermannya ada lagu Jawanya..Aneh.
> 
> Mengapa kita dan Malaysia demikian berbeda dalam menengelola 
bangsa 
> dan negara? mengembangkan bahasa berumpun Melayu yang begitu 
berbeda? 
> 
> Karena sejarah kita berbeda. 
> 
> Kita katakan "polisi", yang berasal dari bahasa Belanda "politie" 
> (bunyinya sama), dan Malaysia mengatakan "polis" dari bahasa 
> Inggris "police" (bunyinya sama). Kita katakan "pos" dari bahasa 
> Belanda "post", dan Malaysia "mel" dari bahasa Inggris "mail" 
> (bunyinya sama). Kita katakan kamar dari bahasa Belanda "kammer", 
> Malaysia pakai kata Melayu "bilik". 
> 
> Kita punya kesatuan polisi bernama Brigade Mobil disingkat Brimob, 
> yang dahulunya berasal dari kesatuan berbahasa Belanda "mobile 
> brigade", disingkat "Mobrig" (diawal tahun 50an).
> 
> Mengapa Malaysia dan Indonesia tak mulai dengan 0 seperti usul 
anda? 
> Karena tak mungkin.  Mas, apa yang diskontinue?
> 
> Salam 
> 
> RM D Hadinoto
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], "Ikranagara" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > 
> > Wacana kita memang beda rupanya. Anda penganut Sejarah yang 
linier 
> > dan sekali gus kadangkala sejarah yang sirkuler. Biasanya 
seoarang 
> > penganut yang linier akan menentang yang sirkuler. Jadi, 
sebenarnya 
> > yang rancu (munggkin lho, tapi! --- maaf) adalah Anda saja. 
> > Yang kita percakapkan di sini adalah pertanyaan klasik pemikir 
> > Modernis, apakah sejarah itu linier atau sirkuler?
> > 
> > Untuk menjawabnya, tentu saja kita harus mempelajari sejarah. 
> > Jawaban saya juga dasarnya dari membaca sejarah, seperti Anda 
> > temukan dalam tulisan singkat saya itu.
> > 
> > Jadi, sebenarnya, antara penganut linier dengan yang sirkuler 
itu, 
> > ada persamaannya, bahwa sejarah memang berkesinambungan, hanya 
saja 
> > yang linier kalau digambarkan grafisnya maka satu garis lurus 
yang 
> > berkelanjutan. Sedangkan yang sirkuler adalah sebuah garis yang 
> > membentuk sebuah liongkaran, jadi ada kecenderungan terjadi 
> > pengulangan terhadap apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya.
> > 
> > Selain itu, dari kalangan Modernis ini masih ada satu lagi, 
yaitu 
> > bukan penganur linier dan bukan pula penganut sirkuler, 
melainkan 
> > penganut dialektika. Bagaimana gambaran grafisnya, yang 
> > membedakannya dari yang dua sebelumnya? Gambarnya adalah garis 
yang 
> > tidak lurus melain melengkung tetapi tidak membentuk lingkaran, 
> > melain menaik, jadi mirip dengan per, yang cenderung mengkrucut, 
> > maka akan ada puncaknya di ujung itu nanti yang merupakan titik 
> > mutlak. Penganut Idelaisme Hegel menyebut itulah "Idea Absolut," 
> > atau seringkali ditafsirkan "Tuhan." Bagi penganut dialektika 
> > Materiliasme seperti Marx, maka titik di puncak itu adalah 
> > Masyarakat ideal Komunis seperti yang digambarkannya di dalam 
> > Dialektika Sejarah Materilaisme-nya maupun program "Manifesto 
> > Komunisme"-nya.
> > 
> > Tapi dialektika itu hanyalah merupakan dongeng rasionalitas buah 
> > fikiran belaka, artinya itu merupakan hasil sebuah konstruksi 
> > belaka. Kesimpulan yang diungkapakam oleh Aleksander Kojeve 
dalam 
> > kuliahnya tentang Hegel, dan kesimpulannya ini sempat 
mengejutkan 
> > para pemikir di Perancis. Maka muncullah pemikiran baru di luar 
> > penganut Modernisme itu, yakni Post-Strukturalisme dan 
> > Postmodernisme.
> > 
> > Nah, tentang adanya diskontinuitas yang saya pakai sebagai dasar 
> > analisa saya itu, beasal dari wacana baru ini, terutama dari 
wacana 
> > Dekonstruksi yang ada bab genealoginya itu, terutama yang 
> > diungkapkan oleh Derrida.
> > 
> > Itulah sebabnya kesimpulan saya, kita memang beda wacana, Mas 
> > Danardono.
> > 
> > 
> > Ikra.-
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED], "rm_danardono" 
<[EMAIL PROTECTED]> 
> > wrote:
> > > 
> > > 
> > > IKRA:
> > > 
> > > Diskontinyitas sejarah itu dengan mudah bisa kita lihat dalam
> > > perjalanan sejarah itu sendiri. Di zaman modern kita sekarang 
ini
> > > saja telah terjadi diskontinyuitas yang global ketika Tembok 
> Berlin
> > > runtuh dan rezim komunis menyatakan dirinya bangkrut di man-
mana
> > > lalu membuang sejarah pembangunan ekonomi yang berdasarkan 
> > pandangan
> > > Dialektika Materialisme Histories itu. Jadi, Runtuhnya Tembok 
> > Berlin
> > > itu sebuah tonggak simbolis berakhirnya sebuah perjalanan 
sejarah 
> > di
> > > Uni Soviet, Eropah Timur, dan kemudian disusul oleh RRC --- 
> > terutama
> > > di bidang sejarah politik ekonomi Marxis/Komunis.
> > > 
> > > 
> > > RMDH: ah ini namanya bukan diskontuinitas! Runtuhnya tembok 
> > Berlin, 
> > > diikuti oleh pembangunan system kapitalistis di seluruh 
negara2 
> ex 
> > > komunis, adalah justeru KONTINUITAS hitoria! Ini adalah hukum 
> > > dialektika. Yang anda maksudkan adalah pemutusan ideologi 
> > > sebbelumnya, TETAPi bukan diskontinuitas historia. Ini tak 
> > mungkin. 
> > > Sebab, justeru pergantian system politis ekonomis ini adalah 
> > > SAMBUNGAN y<a reaksi dariupada apa yang terjadi sebelumnya. 
Tanpa 
> > ada 
> > > sambungan, takkan ada reaksi seperti ini.
> > > 
> > > IKRA:
> > > 
> > > Cuma, ironisnya, mereka yang melakukan diskontinyuitas itu 
semua 
> > kok
> > > malah kembali ke sistem yang mereka putus dahulu itu, yaitu 
> kembali
> > > kepada politik ekonomi kapitqalis. Mestinya mereka mencari
> > > alternatif baru di luar Marxisme/Komunis maupun Kapitalis, 
> bukannya
> > > melanjutkan apa yang dulu sudah diskontinyuitasi ketika memilih
> > > sistem atau politik Ekonomi Marzis/Komunis.
> > > 
> > > RMDH: Nah inilah, apa yang anda paparkan, BUKTI, bahwa 
historia 
> > itu, 
> > > dalam long run episode, adalah sebuah KESATUAN. Jaringan 
kejadian 
> > > yang saling terkait.
> > > 
> > > IKRA:
> > > 
> > > Jadi, memang, Manifesto Komunis-nya Karl Marx dulu itu ditulis 
> > untuk
> > > melakukan diskontinyuitas terhadap perjalanan sejarah 
sebelumnya,
> > > artinya mereka memasuki zaman baru, dunia baru. Cuma selakanya 
di
> > > dunia baru dan zaman baru itu mereka bangkrut --- pemerataan 
bukan
> > > berupa pemerataan kemakmuran melainkan pemerataan kemiskinan, 
juga
> > > tidak ada demokrasi dan tidak ada HAM; itulah pangkal 
kebangkrutan
> > > mereka. Maka itu tidak bisa diteruskan.Diskontinyuitas!
> > > 
> > > Timbulnya Manifesto Komunis juga adalah reaksi logis dari 
> > kejadian2 
> > > sebelumnya, jadi merupakan matarantai bersambung historia. 
takj 
> > ada 
> > > diskontinuitas disini.
> > > 
> > > IKRA:
> > > 
> > > Demikian juga halnya ketika kita memproklamasikan Kemerdekaan 
kita
> > > dari penjajahan Belanda, kita melakukan diskontinyuitas 
terhadap
> > > perjalanan sejarah sebelumnya --- dari menjalani sejarah 
sebagai
> > > bvangsa terjajah akhirnya menjalani sejarah sebagai bangsa yang
> > > merdeka. Untungnya kita tidak kembali ke sistem kerajaan-
kerajaan
> > > yang jumlahnya banyak seperti dahulu kala itu, melainkan kita
> > > melakukan diskontinyuitas terhadap sejarah nenekmoyang kita 
itu,
> > > kita tidak mau mewarisi sistem pemerintah modelk nenekmyang 
kita
> > > itu, karenanyalah kita memasuki dunia baru dan zaman baru yaitu
> > > dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
> > > 
> > > RMDH:
> > > Juga kemerdekaan Indonesia 1945 adalah reaksi kesinambungan 
dari 
> > > nasib bangsa Indonesia dijajah Belanda dan Jepang. Indonesia 
tak 
> > > memulai sejarahnya dari 0! Lihatlah, istana kepresidenan kita 
> > adalah 
> > > bangunan yang dibuat untuk pera gubernur jendral Belanda. Bank 
> > > Indonesia adalah sambungan dari de Javasche Bank, dll.
> > > 
> > > Pimpinan TNI banyak yang berasal dari KNIL dan memakai pada 
> walyna 
> > > system kemiliteran KNIL, juga kepangkatan.. apanya yang 
> > diskontinue?
> > > 
> > > Kedudukan Jakarta dipusat negara, adalah sambungan dari peran 
> > > Batavia. Dominasi TNI di Jawa adalah sambungan dari system 
> > > kemiliteran KNIL yang berkomando di Batavia!
> > > 
> > > Gubernur2 sudah ada dizaman Belanda. System perbankan kita, 
> > > perusahaan2 negara, Kereta Api, semua sambungan dari zaman 
> > Belanda. 
> > > Apa yang diskontinue?
> > > 
> > > IKRA:
> > > 
> > > Sejarah memang penuh dengan penggalan-penggalan yang ada 
pangkal
> > > awalnmya tapi juga akan ada ujung akhirnya. Maka, perjalanan 
> > sejarah
> > > tidaklah merupakan sebuah garus linear yang tunggal, melainkan 
> > garis-
> > > 0garis yang terputus-putus berjajar menjadi jalur-jalur yang 
punya
> > > pangkal awal dan punya ujung akhir.
> > > 
> > > RMDH: Tak ada garis putus dalam sejarah. Semuanya 
bersambungan. 
> > Dari 
> > > Majapahit ke negara2 Islam di Jawa, dari sana ke masa 
> kolonialisme 
> > > VOC, lalu ke Hindia Belanda. Datang zaman Jepang yang juga 
> > sambungan 
> > > dari politik internasional kala itu (coba pelajari, mengapa 
> Jepang 
> > > menyerang AS danb sekutu? mengapa Jepang ingin kuasai kawasan 
> > > Pacific). Kalau anda analitis dalam mempelajari sejarah anda 
akan 
> > > ketemukan, bahwa tak ada garis putus dalam hiostoria, kecuali 
> > missing 
> > > link mengenai asalmuasal Manusia.
> > > 
> > > IKRA:
> > > Tadinya saya berharap dengan tumbangnya Suharto maka itulah 
ujung
> > > akhir politik ekonomi Kapitalisme Neoliberal di Indonesia. Tapi
> > > nyatanya Habibie, Gus Dur, Mega dan bahkan SBY masih meneruskan
> > > politik ekonomi yang sama. Maka kita akan menjalanan jalur 
yang 
> > sama
> > > dengan yang pernah dijalani oleh Suharto dulu itu: adanya 
proses
> > > konglomeratisasi yang melahirkan segelintir orang kaya-raya, 
tapi
> > > juga di lain fihak akan tetap ada yang hidup di bawah garis
> > > kemiskinan dan dalam tindihan pengangguran yang tercatat 
maupun 
> > yang
> > > terselubung. Sebalian lainnya lagi hidup di antara kedua 
> > ekstrimitas
> > > itu. Persis di zaman Suharto dulu, jadi kita meneruskan apa 
yang
> > > sudah dimulai oleh Suharto ketika dia menerima sistem dan 
bantuan
> > > yang ditawarkan oleh "Berkeley Mafia" dari AS itu. Ilmu 
ekonomi 
> > yang
> > > dipakai di zaman SBY ini juga sama: Kapitlasime Neoliberal. 
Tidak
> > > terjadi diskontinyuitas, meskipun sudah sempat memutuskan 
hubungan
> > > dengan IMF.
> > > 
> > > RMDH: perkembangan politik sosial ekonomi Indonesia, seperti 
juga 
> > > TIAP negara, adalah matarantai proses yang berkesinambunagn, 
> > takkan 
> > > ada titik akhir, tanpa sambungan. Neo liberalisme atau system 
> > pasar 
> > > bebas adalah system yang juga berkuasa di Indonesia dizaman 
> Hindia 
> > > belanda. Ekonomi dunia adalah ekonomi pasar, yang terutama 
> > menentukan 
> > > harga commodities kita, kopi, teh, karet, dlsb.
> > > 
> > > IKRA:
> > > 
> > > Contoh-contoh lainnya dalam perjalanan sejarah bisa Anda cari
> > > sendiri.
> > > 
> > > RMDH: Tapi kajilah secara ilmiah.
> > > 
> > > IKRA:
> > > Kalau pada tingkatan perorangan, sudah saya contohkan apa yang
> > > terjadi pada kedua putera saya itu. Juga apa yang terjadi pada 
> diri
> > > saya, saya akhirnya sampai kepada keputusan (sekian puluh 
tahun 
> > yang
> > > lalu!) bahwa saya dibebani oleh cita-cita orang tua saya, 
> sedangkan
> > > ideal saya sama sekali lain, maka sejak menyadari itu saya
> > > menyatakan "putus" dengan orang tua saya dan membina diri 
pribadi
> > > saya sesuai dengan ideal saya yang tidak sesuai lagi dengan 
ideal
> > > yang dicangkokkan ke dalam diri saya oleh orang tua orangtua 
saya.
> > > Ini juga sebuah perjalanan "sejarah hidup" seorang individu 
yang 
> di
> > > dalamnya ada diskontinyuitas! Memang, berat dan tidak mudah, 
> tetapi
> > > harus saya lakukan, dan saya berhasil melakukannya. Dibutuhkan
> > > ketegaran jiwa untuk semua ini!
> > > 
> > > RMDH: Nonsense, kalau anda katakan anak2 anda berkembang fully 
> > > terlepas dari perkembangan sejarah anda. Anak2 anda akan 
> > berkembang 
> > > lain daripada perkembangan anak2 lain dengan background lain. 
> > Anak2 
> > > kulit putih di US akan berkembang lain daripada anak2 Black 
> > Amerivan, 
> > > Hispanics, Asian dll.
> > > 
> > > Anak2 anda mewarisi bahasa yang anda pakai, budaya anda, cara 
> anda 
> > > makan dan minum, tata perilaku anda, dll. Bahwa sang ayah 
petani, 
> > > tetapi anaknya dokter atau insinyur ini BUKAN bukti 
> diskontinuitas.
> > > 
> > > Bush adalah contoh terbaik kontinuitas hiostorai sebuah 
keluarga.
> > > 
> > > Mas, jangan bikin bingung pakde Riadi.
> > > 
> > > Salam
> > > 
> > > RM D Hadinoto
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > --- In [EMAIL PROTECTED], "Ikranagara" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> > > > 
> > > > Diskontinyitas sejarah itu dengan mudah bisa kita lihat 
dalam 
> > > > perjalanan sejarah itu sendiri. Di zaman modern kita 
sekarang 
> > ini 
> > > > saja telah terjadi diskontinyuitas yang global ketika Tembok 
> > Berlin 
> > > > runtuh dan rezim komunis menyatakan dirinya bangkrut di man-
> mana 
> > > > lalu membuang sejarah pembangunan ekonomi yang berdasarkan 
> > > pandangan 
> > > > Dialektika Materialisme Histories itu. Jadi, Runtuhnya 
Tembok 
> > > Berlin 
> > > > itu sebuah tonggak simbolis berakhirnya sebuah perjalanan 
> > sejarah 
> > > di 
> > > > Uni Soviet, Eropah Timur, dan kemudian disusul oleh RRC --- 
> > > terutama 
> > > > di bidang sejarah politik ekonomi Marxis/Komunis. 
> > > > 
> > > > Cuma, ironisnya, mereka yang melakukan diskontinyuitas itu 
> semua 
> > > kok 
> > > > malah kembali ke sistem yang mereka putus dahulu itu, yaitu 
> > kembali 
> > > > kepada politik ekonomi kapitqalis. Mestinya mereka mencari 
> > > > alternatif baru di luar Marxisme/Komunis maupun Kapitalis, 
> > bukannya 
> > > > melanjutkan apa yang dulu sudah diskontinyuitasi ketika 
memilih 
> > > > sistem atau politik Ekonomi Marzis/Komunis.
> > > > 
> > > > Jadi, memang, Manifesto Komunis-nya Karl Marx dulu itu 
ditulis 
> > > untuk 
> > > > melakukan diskontinyuitas terhadap perjalanan sejarah 
> > sebelumnya, 
> > > > artinya mereka memasuki zaman baru, dunia baru. Cuma 
selakanya 
> > di 
> > > > dunia baru dan zaman baru itu mereka bangkrut --- pemerataan 
> > bukan 
> > > > berupa pemerataan kemakmuran melainkan pemerataan 
kemiskinan, 
> > juga 
> > > > tidak ada demokrasi dan tidak ada HAM; itulah pangkal 
> > kebangkrutan 
> > > > mereka. Maka itu tidak bisa diteruskan.Diskontinyuitas!
> > > > 
> > > > Demikian juga halnya ketika kita memproklamasikan 
Kemerdekaan 
> > kita 
> > > > dari penjajahan Belanda, kita melakukan diskontinyuitas 
> terhadap 
> > > > perjalanan sejarah sebelumnya --- dari menjalani sejarah 
> sebagai 
> > > > bvangsa terjajah akhirnya menjalani sejarah sebagai bangsa 
yang 
> > > > merdeka. Untungnya kita tidak kembali ke sistem kerajaan-
> > kerajaan 
> > > > yang jumlahnya banyak seperti dahulu kala itu, melainkan 
kita 
> > > > melakukan diskontinyuitas terhadap sejarah nenekmoyang kita 
> itu, 
> > > > kita tidak mau mewarisi sistem pemerintah modelk nenekmyang 
> kita 
> > > > itu, karenanyalah kita memasuki dunia baru dan zaman baru 
yaitu 
> > > > dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
> > > > 
> > > > Sejarah memang penuh dengan penggalan-penggalan yang ada 
> pangkal 
> > > > awalnmya tapi juga akan ada ujung akhirnya. Maka, perjalanan 
> > > sejarah 
> > > > tidaklah merupakan sebuah garus linear yang tunggal, 
melainkan 
> > > garis-
> > > > 0garis yang terputus-putus berjajar menjadi jalur-jalur yang 
> > punya 
> > > > pangkal awal dan punya ujung akhir.
> > > > 
> > > > Tadinya saya berharap dengan tumbangnya Suharto maka itulah 
> > ujung 
> > > > akhir politik ekonomi Kapitalisme Neoliberal di Indonesia. 
Tapi 
> > > > nyatanya Habibie, Gus Dur, Mega dan bahkan SBY masih 
meneruskan 
> > > > politik ekonomi yang sama. Maka kita akan menjalanan jalur 
yang 
> > > sama 
> > > > dengan yang pernah dijalani oleh Suharto dulu itu: adanya 
> proses 
> > > > konglomeratisasi yang melahirkan segelintir orang kaya-raya, 
> > tapi 
> > > > juga di lain fihak akan tetap ada yang hidup di bawah garis 
> > > > kemiskinan dan dalam tindihan pengangguran yang tercatat 
maupun 
> > > yang 
> > > > terselubung. Sebalian lainnya lagi hidup di antara kedua 
> > > ekstrimitas 
> > > > itu. Persis di zaman Suharto dulu, jadi kita meneruskan apa 
> yang 
> > > > sudah dimulai oleh Suharto ketika dia menerima sistem dan 
> > bantuan 
> > > > yang ditawarkan oleh "Berkeley Mafia" dari AS itu. Ilmu 
ekonomi 
> > > yang 
> > > > dipakai di zaman SBY ini juga sama: Kapitlasime Neoliberal. 
> > Tidak 
> > > > terjadi diskontinyuitas, meskipun sudah sempat memutuskan 
> > hubungan 
> > > > dengan IMF.
> > > > 
> > > > Contoh-contoh lainnya dalam perjalanan sejarah bisa Anda 
cari 
> > > > sendiri.
> > > > 
> > > > Kalau pada tingkatan perorangan, sudah saya contohkan apa 
yang 
> > > > terjadi pada kedua putera saya itu. Juga apa yang terjadi 
pada 
> > diri 
> > > > saya, saya akhirnya sampai kepada keputusan (sekian puluh 
tahun 
> > > yang 
> > > > lalu!) bahwa saya dibebani oleh cita-cita orang tua saya, 
> > sedangkan 
> > > > ideal saya sama sekali lain, maka sejak menyadari itu saya 
> > > > menyatakan "putus" dengan orang tua saya dan membina diri 
> > pribadi 
> > > > saya sesuai dengan ideal saya yang tidak sesuai lagi dengan 
> > ideal 
> > > > yang dicangkokkan ke dalam diri saya oleh orang tua orangtua 
> > saya. 
> > > > Ini juga sebuah perjalanan "sejarah hidup" seorang individu 
> yang 
> > di 
> > > > dalamnya ada diskontinyuitas! Memang, berat dan tidak mudah, 
> > tetapi 
> > > > harus saya lakukan, dan saya berhasil melakukannya. 
Dibutuhkan 
> > > > ketegaran jiwa untuk semua ini!
> > > > 
> > > > Ikra.-
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > --- In [EMAIL PROTECTED], dicky riyadi 
> <[EMAIL PROTECTED]> 
> > > > wrote:
> > > > > 
> > > > > Pak Ikranagara..... mohon maaf, saya mendukung Anda... 
> > > > diskontinuitas itu perlu, sangat perlu...
> > > > >  
> > > > > munkin Anda perlu menjelaskan buat Pak RM Danardhono, biar 
> > tidak 
> > > > menganalogikan sejarah dengan menabrak pohon segala...
> > > > >  
> > > > > masak kita harus mengingat-ingat pohonnya,...., kan yg 
> penting 
> > > > kita hati-hati saja.... bukan mengingat pohonnya an 
sich......, 
> > > > sebab masih banyak pohon lagi.........
> > > > >  
> > > > > sejarah tdk perlu menyalahkan pada pribadi soeharto, 
> melainkan 
> > > > bahwa setiap presiden terbuka peluang menjadi sosok  jahat 
> > maupun 
> > > > baik...
> > > > >  
> > > > >  
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > > > 
> > > > > Bagaimana membangun masa depan kalau tidak tahu masa lalu?
> > > > > 
> > > > > Bisa saja! Dengan melakukan diskontinuiti terhadap masa 
lalu!
> > > > > 
> > > > > Generasi baru jangan mau dibebani masa lalu orangtuanya, 
agar 
> > > bisa 
> > > > > bebas dalam membangun masa depannya sesuai dengan idelnya 
> > > sendiri, 
> > > > > dan bukan ideal orang tuanya. Itulah sebabnya manusia 
punya 
> > otak 
> > > > > yang tergolong yahut di bandingkan makhluk lainnya.
> > > > > 
> > > > > Pendidikan orang tua itu baik, tetapi untuk batas tertentu 
> > kita 
> > > > > harus berani menyetopnya, kalau tidak maka kita akan 
dibebani 
> > > > hasil 
> > > > > brainwashed orang tua itu. Ya, pendidikan itu banyak 
sekali 
> > unsur 
> > > > > brain washednya.
> > > > > 
> > > > > Kata kunci: DISKONTINYUITAS! ini juga saya berikan kepada 
> > kedua 
> > > > > putera saya, dan mereka masing-masing menjsadi dirinya 
> sendiri 
> > > > yang 
> > > > > bebas dari orang tuanya --- alangkah bahagianya saya 
sebagai 
> > > orang 
> > > > > tua!
> > > > > 
> > > > > Tapi apa yang dilakukan presiden-presiden kita sesudah 
> Suharto 
> > di 
> > > > > bidang ekonomi? Tidak berani melakukan diskontinyuitas, 
> > akibatnya 
> > > > > kita akan mengulang jalan yang sudah pernah dilalui oleh 
> > Suharto 
> > > > di 
> > > > > bidang ekonomi. Kesenjangan ekonomi, kemiskinan dan 
> > pengangguran 
> > > > > akan menjadi hantu yang kalau suidah tiba saatnya maka 
> > menjelma 
> > > > jadi 
> > > > > momok amuk-amukan lagi!
> > > > > 
> > > > > Ikra.-
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > --- In [EMAIL PROTECTED], "rm_danardono" 
> > > > <[EMAIL PROTECTED]> 
> > > > > wrote:
> > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > > >>>>kalo ada apa-apa, dulu selalu menyalahkah bung 
karno, 
> > nah 
> > > > > > sekarang gantian nyalahkan semuanya pada pak harto.
> > > > > > >  
> > > > > > > emang gampang sih menyalahkan..<<<<<<
> > > > > > 
> > > > > > RMDH: lha iya too..bung Karno juga nyalahkan Belanda! 
Gus 
> > Dur 
> > > > > > nyalahkan Megawati..Suharto nyalahkan bung Karno..
> > > > > > Lha anda kira siapa yang salah? Jan Pieterzoon Coen?
> > > > > > 
> > > > > > Mas Rahmat ya betul dong, belajar dari sejarah. Gimana 
mau 
> > > > bangun 
> > > > > > masa depan, kalau masa lalu aja gak tahu? Lha ilmu alam 
itu 
> > > > gimana 
> > > > > > menggenmangkannya? kan juga dengan experiment2? Secara 
> > ilmiah 
> > > > > namanya 
> > > > > > empirik. kalau anda nabrak pohon kemarin dulu, masa mau 
> > lupain, 
> > > > > lalu 
> > > > > > besok nabrak lagi?
> > > > > > 
> > > > > > Piyee to?
> > > > > > 
> > > > > > RMDH 
> > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED], dicky riyadi 
> > > <[EMAIL PROTECTED]> 
> > > > > > wrote:
> > > > > > > 
> > > > > > > memang paling mudah menengok masa lalu, daripada 
bersiap 
> > ke 
> > > > masa 
> > > > > > depan.
> > > > > > >  
> > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > > > > RG Nur Rahmat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > > > > > 
> > > > > > > Untungnya, anak cucu kita tahu apa itu kebenaran. 
Kenapa 
> > kita 
> > > > > bisa 
> > > > > > tengkurap begini. Sejarah itu sangat penting. Kalau 
tidak 
> > pasti 
> > > > > dia 
> > > > > > akan dimakamkan di TMP Kalibata. 
> > > > > > > 
> > > > > > > fatur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > > > > > Adakah kita pernah peduli atas korban-korban setelah 
> > tanggal 
> > > > > > KERAMAT itu?
> > > > > > > Apakah anda pernah mengakui ada berjuta umat manusia 
tak 
> > > > berdosa 
> > > > > > mati
> > > > > > > sia-sia atas nama kemanusian?
> > > > > > > Apakah pemerintah pernah mengakui? Pembantaian, 
> intimidasi,
> > > > > > > penghancuran..suharto tetap pahlawan.
> > > > > > > Apa utungnya andai suharto terlibat? Para korban sudah 
> > > > terlanjur 
> > > > > > menderita
> > > > > > > mas.
> > > > > > > 
> > > > > > > _____ 
> > > > > > > 
> > > > > > > From: Ambon [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> > > > > > > Sent: Tuesday, October 26, 2004 5:14 AM
> > > > > > > To: Undisclosed-Recipient:;
> > > > > > > Subject: [ppiindia] G30S, Terlibatkah Soeharto?
> > > > > > > 
> > > > > > > * http://www.kompas.com/kompas-
> > cetak/0410/27/opini/1350653.htm
> > > > > > > Rabu, 27 Oktober 2004
> > > > > > > 
> > > > > > > G30S, Terlibatkah Soeharto?
> > > > > > > 
> > > > > > > SETIAP kali memasuki bulan September dan Oktober, 
ingatan 
> > > > selalu 
> > > > > > menerawang 
> > > > > > > jauh ke belakang, tepatnya ke peristiwa Gerakan 30 
> > September 
> > > > > (G30S) 
> > > > > > tahun 
> > > > > > > 1965 yang sampai kini masih tetap menyimpan misteri.
> > > > > > > Ada pepatah yang menyatakan bahwa orang yang menguasai 
> > > > > informasi, 
> > > > > > akan 
> > > > > > > menguasai dunia. Pepatah itu tidak mengada-ada, karena 
> > > > kenyataan 
> > > > > > itulah yang
> > > > > > > 
> > > > > > > terjadi pada Panglima Komando Cadangan Strategis 
Angkatan 
> > > > Darat 
> > > > > > (Kostrad) 
> > > > > > > Mayor Jenderal Soeharto sewaktu Peristiwa G30S terjadi.
> > > > > > > Ia adalah satu-satunya perwira tinggi Angkatan 
Bersenjata 
> > > > > Republik 
> > > > > > Indonesia
> > > > > > > 
> > > > > > > (ABRI) yang tahu persis tentang apa yang terjadi pada 
> > tanggal 
> > > > 1 
> > > > > > Oktober 1965
> > > > > > > 
> > > > > > > dini hari itu. Data yang telah dipublikasikan selama 
ini 
> > > > > > menyebutkan, pada 
> > > > > > > tanggal 30 September 1965 malam, Soeharto telah diberi 
> > > > informasi 
> > > > > > oleh 
> > > > > > > Kolonel Infanteri Abdul Latief, Komandan Brigade 
> Infanteri 
> > I 
> > > > > > Jayasakti Kodam
> > > > > > > 
> > > > > > > V Jaya, bahwa akan dilakukan penjemputan paksa 
terhadap 
> > para 
> > > > > > jenderal 
> > > > > > > pimpinan teras Angkatan Darat, termasuk Panglima 
Angkatan 
> > > > Darat 
> > > > > > Jenderal 
> > > > > > > Ahmad Yani, untuk dihadapkan kepada Presiden Soekarno.
> > > > > > > =========================== 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > 
> > > > 
> > > 
> > 
> 
*********************************************************************
> > > > > *
> > > > > > *****
> > > > > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat 
Persahabatan. 
> > > Menuju 
> > > > > > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared 
Destiny. 
> > > > www.ppi-
> > > > > > india.uni.cc
> > > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > 
> > > > 
> > > 
> > 
> 
*********************************************************************
> > > > > *
> > > > > > *****
> > > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > 
> > > > 
> > > 
> > 
> 
_____________________________________________________________________
> > > > > _
> > > > > > ____
> > > > > > > Mohon Perhatian:
> > > > > > > 
> > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA 
> > (kecuali 
> > > > sbg 
> > > > > > otokritik)
> > > > > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg 
akan 
> > > > > dikomentari.
> > > > > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> > > > > > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > > > 7. kembali menerima email: ppiindia-
[EMAIL PROTECTED]
> > > > > > > 
> > > > > > > Yahoo! Groups Links
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > >             
> > > > > > > ---------------------------------
> > > > > > > Do you Yahoo!?
> > > > > > > Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We 
finish.
> > > > > > > 
> > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > 
> > > > 
> > > 
> > 
> 
*********************************************************************
> > > > > *
> > > > > > *****
> > > > > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat 
Persahabatan. 
> > > Menuju 
> > > > > > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared 
Destiny. 
> > > > www.ppi-
> > > > > > india.uni.cc
> > > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > 
> > > > 
> > > 
> > 
> 
*********************************************************************
> > > > > *
> > > > > > *****
> > > > > > > 
> > > > > > 
> > > > > 
> > > > 
> > > 
> > 
> 
_____________________________________________________________________
> > > > > _
> > > > > > ____
> > > > > > > Mohon Perhatian:
> > > > > > > 
> > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA 
> > (kecuali 
> > > > sbg 
> > > > > > otokritik)
> > > > > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg 
akan 
> > > > > dikomentari.
> > > > > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> > > > > > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > > > 7. kembali menerima email: ppiindia-
[EMAIL PROTECTED]
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > Yahoo! Groups Sponsor 
> > > > > > > Get unlimited calls to
> > > > > > > 
> > > > > > > U.S./Canada
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > ---------------------------------
> > > > > > > Yahoo! Groups Links
> > > > > > > 
> > > > > > >    To visit your group on the web, go to:
> > > > > > > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
> > > > > > >   
> > > > > > >    To unsubscribe from this group, send an email to:
> > > > > > > [EMAIL PROTECTED]
> > > > > > >   
> > > > > > >    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! 
> > Terms 
> > > of 
> > > > > > Service. 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > 
> > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > 
> > > 
> > 
> 
*********************************************************************
> > > > ******
> > > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. 
> Menuju 
> > > > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
> > www.ppi-
> > > > india.uni.cc
> > > > > 
> > > > 
> > > 
> > 
> 
*********************************************************************
> > > > ******
> > > > > 
> > > > 
> > > 
> > 
> 
_____________________________________________________________________
> > > > _____
> > > > > Mohon Perhatian:
> > > > > 
> > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA 
(kecuali 
> > sbg 
> > > > otokritik)
> > > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
> > > > dikomentari.
> > > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> > > > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > ---------------------------------
> > > > > Yahoo! Groups Links
> > > > > 
> > > > >    To visit your group on the web, go to:
> > > > > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
> > > > >   
> > > > >    To unsubscribe from this group, send an email to:
> > > > > [EMAIL PROTECTED]
> > > > >   
> > > > >    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! 
Terms 
> of 
> > > > Service. 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke