Nice Article dari milis sebelah, buat bapak-bapak petugas bea cukai di bandara
yang sewenang-wenang!

From: "Heri Hendrayana" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon Nov 8, 2004 9:59 am
Subject: marissa/Re: [LayarKata-Network] Re: Mas Sony apa
khabarnya?



marisa haq jadi angota dpr?
kata aa gym, jangan hanya presiden kita aja yang dikritik selama 100

hari.
tapi, kinerja dpr juga mesti disamain. kita lihat kinerjanya selama
100
hari. kalo nggak becus, suuh agnkat kopor saja. Pergantian paruh
waktu kan
bisa dimaksimalkan.

saya pernah liha marisa di tv. saya pikir doi lagi maen sinetron.
wah,
sinetron apa ini? saya lihat settingnya di senayan... hoho...
ternyata dia
jadi saksi untuk pemilihan ketua dpr, ya....

soni, lu coba deh terbang ke bagnkok. lu lagi banyak duit kan.
hehehee... yg
diomongin mia amalia itu benr. pernah gue ngekhayal. moga2 ada yg
ngebom
bandara soekarno-hatta. supaya para pgawai yg kerja disana di
restrukturisasi semua. bangsa kita ini bangsa pendosa. beraninya
mendzholimi
rekannya sendiri. mereka pikir, para tkw itu bodoh semua. mestinya
mia
melakukan tindakan yang kontroversial waktu itu. langsung dikungfu
aja itu
petugas..... sampai hari ini, saya itu masih ogah2an ke bandara
soekarno-hatta. kasihan para proklamator kita itu. namanya yang
harum
dikotori ulah2 korup dan mental cecunguk para petugas di bandara...

astahgfirullah... ini puasa...
kok, marah2 melulu.

ok, selamat berjuang, marissa. jangan kelamaan di ohio.
jangan banyak cuti, ya...
sekarang anda digaji rakyat, bukan dibayar PH, hehehe...

tetap semangat
gg

----- Original Message -----
From: "mia amalia" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, November 06, 2004 9:20 AM
Subject: RE: [LayarKata-Network] Re: Mas Sony apa khabarnya?


>
hmmm ... terminal 8 ...
>
saya punya pengalaman buruk soal itu. ini terjadi maret 2002,
sepulang saya dari bangkok. saking 'terkesannya' saya dengan
kejadian ini saya
sampai menulis sebuah artikel dan berniat mengirimkannya ke sebuah
majalah (which never happen because i love this city so much). ini
artikelnya.

Selamat Datang di Jakarta

Pemimpin Redaksi tempat saya bekerja tahu betapa saya cinta masakan
Thailand dan selalu berharap suatu saat bisa mengunjungi negeri
itu.
Akhirnya sebagai hadiah ulang tahun ia menghadiahi saya tiket pp ke
Bangkok
(sebenarnya bukan hadiah tapi pinjaman lunak yang boleh dicicil
berapa saja dengan
term waktu tidak terbatas). Saya ambil cuti sepuluh hari, lima
malam saya
habiskan di Bangkok, tiga malam di Chiang Mai, dua malam di kereta
dalam
perjalanan Bangkok-Chiang Mai. Kebetulan teman yang saya tumpangi
di Bangkok
adalah seorang editor di sebuah kantor berita asing, hingga ia hanya
bisa
menemani saya pada hari pertama saja. Hari itu ia menemani saya
keliling
Bangkok dengan cara termudah; naik sky train. Dengan modal kartu
langganan
(abodemen) dan peta kecil rute perjalanan kereta, mulai hari kedua
saya menjelajah Bangkok sendirian, aman, tak kurang suatu apa. Tak
ada
sapaan mister atau bule seperti kalau orang asing jalan sendirian
di
Jakarta .
Tadinya saya pikir karena wajah Asia saya, namun ketika saya
bertanya pada teman saya itu (ia berkebangsaan Australia) ia mengaku
tidak
pernah mendapat perlakukan yang aneh selama di Bangkok, tidak ada
harga yang
dimanipulasi atau taksi yang muter-muter.

Hari ketiga saya pergi ke Chiang Mai sendirian. Berangkat dengan
kereta pukul tujuh malam, sampai pagi hari dengan selamat. Selama
di
Chiang Mai saya selalu berjalan kaki dari losmen saya ke pasar
malam yang
letaknya kira-kira 2 km pukul 7 hingga 10 malam, juga tak pernah
kurang
suatu apa.
Sepulang dari Chiang Mai saya sampai di Bangkok pukul 3 pagi dan
naik taksi dengan supir yang tak mengerti bahasa Inggris, sampai
dengan
selamat dengan tarif yang wajar alias tidak dibawa muter-muter.
Sampai di Bangkok
PD saya makin tinggi, saya mulai mencoba naik taxi river. Tak
pernah
nyasar, selalu sampai dengan aman dan selamat di tempat tujuan.
Alhasil saya
makin cinta dengan kota kecil yang semrawutnya hampir seperti
Jakarta tapi
juga teratur dan friendly buat pendatang seperti saya. Akhirnya
cuti sepuluh
hari habis sudah, kalau tahun sebelumnya ketika berkunjung ke
Singapura saya
kembali dengan kerinduan pada semrawut dan bisingnya Jakarta karena
begitu
>steril< kota Singa ini, kali ini saya pulang dengan janji
akan saya kunjungi kembali negara ini.

Tibalah saya di Bandara Internasional Sukarno Hatta. Saya hirup
dalam-dalam udara Jakarta, saya nikmati bising dan semrawutnya, saya
katakan
pada diri saya, Bersiaplah untuk kembali bekerja. Kau sudah
menikmati
masa liburan yang indah, kini saatnya kembali ke kehidupan
nyata! Tiba di pemeriksaan bea cukai seorang petugas menyuruh saya
berdiri di
antrian yang lain. Saya bertanya kenapa, ia menjawab TKW sebelah
sana. Saya
tersentak, sejenak terhina, Apa saya kelihatan seperti TKW?
Tapi lalu saya sadar TKW mungkin lebih mulia dari saya, mereka pergi
ke
negeri orang mencari uang, menghasilkan devisa, sementara saya
justru
> membuang uang. Akhirnya saya katakan saya bukan TKW.
Ia tidak > percaya lalu meminta KTP saya, saya berikan dan saya
katakan saya
hanya pergi sepuluh hari jadi tidak mungkin saya bekerja di sana.
Akhirnya dengan mengerutu ia membiarkan saya melewati pemeriksaan
dan keluar
dengan bebas. Saya hampir saja melupakan insiden kecil yang
mengesalkan itu
ketika seorang pria mendekati saya dan bertanya saya akan pulang
kemana. Saya
katakan, "Maaf, ada yang bisa saya bantu?", ia menjawab dengan
kasar dan galak, "Saya yang mau bantu kamu!"
Tapi saya tidak butuh bantuan Anda, tolong tinggalkan saya!
" Hei, kamu TKW jangan macam-macam ya, saya panggil petugas baru
tahu rasa!"
Oh, jadi ini perkaranya, mereka mengira saya TKW dan mencoba
memeras saya. Saya
melihat sekeliling, ada beberapa orang sejenis pria yang menganggu
saya
memperhatikan sambil tersenyum mengejek, lalu sekilas saya melihat
bapak petugas bea cukai masih memperhatikan saya dan kemudian
menghilang
ketika saya tatap tajam. Darah saya sudah naik ke ubun-ubun,
"Dengar ya, saya bukan TKW, jadi tolong jangan ganggu saya, kalau
memang mau
panggil petugas silakan, saya akan laporkan kalau Anda mengganggu
saya!"
saya tinggalkan dia secepatnya, walau setelah itu saya menyesal,
karena
dengan kalimat itu saya saya seolah setuju bila mereka mengganggu
TKW.

Baru saya duduk dan hendak menghela napas atau ketidaknyamanan
tadi, seorang petugas berseragam mendekati saya dan meminta saya
pergi ke kantor
untuk menghadap atasannya. Saya kembali tersentak,
Untuk apa?, apa saya melakukan kesalahan?
"Bukan, ada laporan kalau anda TKW, jadi Asnda harus melapor ke
kantor!"
" Ini keterlaluan. Dengar ya Pak, saya bukan TKW, saya wartawan, saya
pergi ke Bangkok sepuluh hari
untuk berlibur bukan bekerja!
Lalu ia membentak saya dan meminta saya mengeluarkan KTP dan
paspor, ia meneliti dan sekali lagi saya
tegaskan profesi saya adalah wartawan. Ia menoleh ke belakang,
sekilas saya
lihat petugas bea cukai dan pria yang tadi mengganggu saya
tersenyum
seolah mengejek,Rasain lu!
Petugas berseragam ini ngotot hendak membawa saya ke kantor menemui
atasannya, saya juga ngotot tidak
Tidak mau.
"Untuk apa, Bapak kan sudah lihat KTP dan paspor saya. Sudah
jelaskan saya bukan TKW.?"
"Ya, justru itu, lebih baik Anda ikut saya menemui atasan saya
untuk melapor bahwa Anda
bukan TKW!"
"Kenapa saya yang tidak salah yang harus melapor, kenapa bukan
atasan Anda yang keliling memeriksa mana yang TKW mana yang bukan
kalau
memang itu dirasa perlu. Kalo saya harus menemui atasan Anda,
bagaimana
dengan ratusan orang lain di sini yang bukan TKW, kenapa Bapak tidak
ajak mereka
semua untuk melapor, kenapa hanya saya?"
Si bapak petugas berseragam bengong melihat saya nyerocos, beberapa
orang mulai berkerumun, beberapa
seolah memberi dukungan. Akhirnya saya minta KTP dan Paspor saya.
Ia
ngotot minta saya ikut ke kantornya. Akhirnya saya putuskan untuk
menelpon
pemred saya, saya nyerocos dalam bahasa Inggris (majalah tempat
saya bekerja
adalah majalah bilingual) untuk membuat si petugas ciut nyalinya.
Saya
minta pemred saya bicara pada petugas tadi, saya berharap taktik
ini akan
membuatnya mundur, ternyata berhasil. Petugas menolak bicara di
telpon dengan
pemred saya, ia mengembalikan KTP dan paspor saya sambil
menggerutu.
Penonton bubar
sambil bergumam, beberapa mendekati dan memuji keberanian saya,
mereka mengira saya memang TKW yang melawan petugas yang kerap
meminta
uang pada TKW yang baru pulang.

Saya berusaha menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam.
Sepuluh hari di negeri orang, sendirian, saya pulang tak kurang
suatu apa.
Setengah jam pertama di negeri sendiri, pukul 11 siang, beberapa
orang yang
sebangsa dengan saya mencoba menipu saya, di kota tempat saya lahir
dan
tinggal.
Tiba-tiba saya merasa sangat lelah dan butuh liburan kembali.

Maret 2002

>
>
> ;From: &quot;sinergi_finance&quot; &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt;
> ;Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>;To: [EMAIL PROTECTED]
>;Subject: [LayarKata-Network] Re: Mas Sony apa khabarnya?
>;Date: Sat, 06 Nov 2004 01:30:30 -0000
>;
>;
>;dear,
>;
>;kabar saya baik, baik banget...pemberdayaan perempuan?
hmmm...saya minta tolong ke mbak icha untuk memperjuangkan di Komisi
8,
menghapus sistem jalur khusus penerimaan TKW luar negeri (terminal
8?
atau berapa?). bedanya apa sih TKW sama orang-orang yang balik dari
LN?
kenapa harus masuk terminal khusus? udah capek-capek jadi
pahlawan devisa, diperas dan diperkosa, eh sampai pulang di pintu
bandara ;soekarno hatta pun masih ditipu dan diperas lagi. Bisa kan?
>;
>;berat? nggak lah...kan anda sudah janji?
>;
>salam
>;
>Sony set.
> Janji? kita-kita di layarkata menunggu buktinya...oke?
>
--- In [EMAIL PROTECTED], marissa haque
[EMAIL PROTECTED]&gt; wrote:
> Mas Sony yang baik,
>;
>Saya siap membantu rakyat, saya diletakkan oleh partai
>; di Komisi 8 -- Agama, Sosial, serta Pemberdayaan
> Perempuan. Apa yang saya dapat bantu supaya dekat
> denga rakyat? Tapi saya masih di Ohio sampai dengan
> tgl 22 November ini. Please keep in touch dengan saya.
> semoga saya dapat menjadi jembatan yang baik untuk
> rakyat Indonesia yang saya cintai.
>;
> Merdeka! and...PEACE
>;
> Wass, Icha (www.marissahaque.net)
>
>.
>
>
>



---------------------------------
  Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! 
Download Messenger Now

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke