Kekalahan Gus Dur
MEMBUAT organisasi baru atau pengurus tandingan, setelah kalah bertarung, bukan
perkara baru. Hal ini terjadi di masa Orde Baru dan diteruskan sampai ke zaman
sekarang, ketika presiden pun telah dipilih secara langsung oleh rakyat.
Sikap seperti itu terakhir dilontarkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia
menyatakan akan mendirikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tandingan
apabila Hasyim Muzadi terpilih kembali sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU.
Semula, orang mengira itu hanya ancaman belaka dari Gus Dur, sebagai tekanan
agar Hasyim Muzadi mengundurkan diri dari pencalonan.
Hasyim rupanya tak mempan digertak oleh Gus Dur. Ia maju terus dan ternyata
menang dengan suara yang signifikan. Hasyim kembali terpilih dengan meraih 346
suara, mengalahkah Masdar F Mas'udi yang hanya meraih 99 suara. Padahal, Masdar
adalah calon yang dijagokan Dus Dur.
Bukan hanya itu kekalahan Gus Dur. Ia pun kalah bertarung dengan KH Sahal
Mahfudz untuk menjadi Rois Aam Syuriah PBNU. Perbandingannya, dari 452 suara
sah yang dihitung, Sahal memperoleh 363 suara, sedangkan Gus Dur cuma mendapat
75 suara. Singkatnya, Gus Dur dan jagonya, Masdar, kalah telak.
Sebuah kekalahan yang wajar dan terhormat karena itulah, memang, pilihan
peserta muktamar. Kalah dalam sebuah pemilihan yang demokratis adalah urusan
yang sangat normal. Sebab, berani maju dalam sebuah pemilihan memang hanya
punya dua konsekuensi, yaitu menang atau kalah.
Konsekuensi yang sudah pasti sangat dipahami seorang Gus Dur, yang di masa Orde
Baru dulu memperjuangkan demokrasi dengan melawan arus kekuasaan. Karena itu,
setelah Muktamar NU selesai, publik berharap bahwa Gus Dur pun kembali reda dan
menghormati hasil muktamar.
Gus Dur memang seorang tokoh yang mbalelo. Ia sering omong seenaknya. Orang pun
berharap bahwa ia cuma omong seenaknya hendak membentuk PBNU tandingan. Namun,
bukankah Gus Dur pun bisa bertindak sesukanya? Sebagai presiden, Gus Dur
mengeluarkan dekrit presiden, yang isinya antara lain membubarkan DPR.
Akibatnya sangat pahit, dekrit itu menjadi alasan sangat kuat bagi
diselenggarakannya Sidang Istimewa MPR, yang kemudian menjatuhkan Gus Dur dari
kursi presiden RI. Tindakan Gus Dur yang seenaknya justru telah merugikan
dirinya sendiri.
Hal serupa kembali terulang jika Gus Dur benar-benar nekat hendak mendirikan
PBNU tandingan. Gus Dur yang semula dihormati sebagai guru bangsa, merosot
wibawanya setelah dijatuhkan dari kursi presiden, akan semakin melorot lagi
nilainya, jika tetap mengikuti emosinya mendirikan PBNU tandingan.
Gambarannya ialah Gus Dur pernah menilai DPR masih di tingkat taman
kanak-kanak. Ia, bahkan, menurunkan DPR di level kelompok bermain atau play
group. Bersikap 'mutung' terhadap hasil muktamar, lalu mendirikan PBNU
tandingan, menyebabkan Gus Dur pun bahkan tak layak masuk play group.
Muktamar atau kongres merupakan wahana yang paling konstitusional dalam
menyelesaikan perbedaan. Termasuk, perbedaan dalam memilih pemimpin organisasi.
Maka, keputusan muktamar mestinya keputusan yang paling layak dihormati,
terlebih dari seorang Gus Dur.
Dari seorang Gus Dur, selayaknya publik tetap berharap keteladanan menjunjung
demokrasi. Dan, tetap memelihara keutuhan NU sebagai organisasi Islam terbesar
di negeri ini.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
The all-new My Yahoo! � Get yours free!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/