Memanfaatkan teknologi informasi (IT/TI) dalam dunia pendidikan merupakan ide 
menarik seperti yg dikemukakan Yulianto Mohsin, mantan ketua ppi (permias) 
Amerika di bawah ini. Termasuk hasil rekomendasi KPP-PPI (komite kamanusiaan 
dan pendidikan - perhimpunan pelajar indonesia se-Dunia). silahkan disimak. 
artikel lama (oktober) tapi masih relevan. (razi)

Republika: Senin, 18 Oktober 2004

Pendidikan Nasional Menanti Perubahan 
(Pesan untuk SBY-Kalla dari Luar Negeri) 
Oleh : Yulianto Mohsin 

Dunia pendidikan Indonesia belakangan ini tertinggal di bandingkan negara lain, 
bahkan dengan negara-negara Asia Tenggara. Tapi, yakinlah bahwa sebenarnya 
bangsa Indonesia memiliki banyak anak berbakat. Pada tanggal 17 Agustus 
kemarin, tiga remaja asal Papua (Arnold Akobiarek, Ronny Bubuy, dan Ayu Mukti 
Satya Merahabia) menerima kehormatan ikut merayakan detik-detik Proklamasi HUT 
ke-59 RI di Istana Negara. Prestasi yang membawa mereka ke Ibu Kota adalah 
sebagai pemenang pertama Lomba Penelitiaan Ilmiah Remaja (LPIR) 2004. 

Pertengahan Juli lalu, di Pohang, Korea Selatan, Tim Olimpiade Fisika Indonesia 
berhasil meraih sebuah emas, perak, dua perunggu, dan sebuah honourable 
mention. Yudistira Virgus, sang peraih emas, adalah siswa SMU Xavarius 1 
Palembang. Satu lagi putra bangsa asal Papua, Septinus George Saa, juga 
berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi riset fisika internasional, First 
Step to Nobel Prize in Physics, April lalu. Terbayang kelak seorang putra 
bangsa Indonesia meraih hadiah Nobel. Tetapi, bayangan indah ini segera pupus 
ketika ada berita mengenai Ni Komang Darmiasty. Remaja putri asal Bali ini 
merupakan salah satu pemenang Olimpiade Biologi Internasional, di Brisbane, 
Australia, Juli lalu. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke Fakultas 
Kedokteran Unud sempat terhalang biaya masuk Rp 13 juta. Padahal orangtuanya 
hanya seorang pegawai negeri sipil (PNS). 

Begitu juga ketika mendapat berita mengenai seorang guru di Garut yang 
berprestasi diundang ke Jerman untuk berkompetisi hasil penelitian di bidang 
biologi, tapi terhalang karena tidak punya biaya. Yang paling menyedihkan 
adalah berita seorang ibu di Bekasi yang bunuh diri karena frustrasi tidak 
punya uang untuk membiayai anaknya sekolah. Padahal tragedi Heryanto tahun lalu 
belum lepas meninggalkan benak kita. Anak SD ini juga frustrasi karena tidak 
mampu membayar uang ketrampilan sebesar Rp 2.500 ketika ditagih gurunya, 
sehingga dia mencoba bunuh diri. Kondisi memprihantinkan ini diperburuk lagi 
oleh hasil temuan Tim Kelompok Kerja Pemberantasan dan Penyalahgunaan Narkoba 
Depdiknas baru-baru ini. Sebanyak 70 persen pengguna narkoba merupakan anak 
usia sekolah.

Bangsa Indonesia baru saja memasuki tahap yang sangat penting dalam proses 
transisi menuju demokrasi, yaitu terpilihnya peresiden dan wakil presiden untuk 
pertama kali dalam sejarah secara langsung oleh rakyat. Suara rakyat yang 
menginginkan perubahan sebagaimana yang dijanjikan oleh SBY-Kalla merupakan 
mandat dan amanah tertinggi yang tidak boleh disia-siakan, karena akan 
senantiasa ditagih oleh rakyat.

Dalam kaitannya dengan masalah dan tantangan yang akan dihadapi oleh 
pemerintahan yang akan datang (khususnya dalam bidang pendidikan) inilah saya 
tuangkan pesan dan harapan dari kami yang berkesempatan menuntut ilmu di luar 
negeri kepada SBY-Kalla (jika sudah resmi dilantik) beserta jajaran para 
profesional anggota kabinet yang akan dibentuk. Empat tahun lalu para mahasiswa 
dan pelajar Indonesia di Amerika Serikat mengelar pertemuan puncak dalam bentuk 
Seminar Internasional Permias (SIP 2000) I dan Pertemuan Mahasiswa Indonesia 
se-Dunia (PMIS) I. Ajang pertemuan terbesar dalam sejarah Permias itu diadakan 
di Northwestern University, Evanston, Chicago, Amerika Serikat, pada tanggal 
27- 29 Oktober 2000. 

Pertemuan akbar tersebut dimaksudkan untuk melakukan konsolidasi potensi 
mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang tersebar di luar negeri untuk dapat 
melakukan sinergi dalam membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh bangsa 
Indonesia setelah dihantam oleh krisis multidimensi yang berkepanjangan. 
Pertemuan tersebut dihadiri oleh sekitar 417 mahasiswa dan pelajar Indonesia 
dari hampir seluruh dunia. Mereka terdiri dari 26 perwakilan mahasiswa/pelajar 
dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Tunisia, serta 
beberapa peninjau dan undangan dari Tanah Air. 

Setidaknya ada enam hal pokok yang kerap disampaikan berulang-ulang oleh hampir 
setiap delegasi yaitu masalah pendidikan dan kemanusiaan, krisis ekonomi, 
penerapan otonomi daerah, penegakan hukum, penyelesaian konflik-konflik 
horizontal dan vertikal, dan perlunya pembentukan jaringan kerjasama dan 
informasi. Dari keenam hal tersebut, sidang pertemuan memutuskan membentuk tiga 
komisi yang akan mendalami dan menindaklanjuti masalah-masalah pendidikan, 
kemanusiaan dan persatuan nasional dengan rencana aksi (action plan) di Tanah 
Air. Untuk tujuan tersebut dibentuklah Komisi Kemanusiaan dan 
Pendidikan-Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia di Luar Negeri (KKP-PPI).

Melalui berbagai koneksi dan jaringan, KKP-PPI berhasil meyakinkan para anggota 
legilatif dan pemerintah untuk meningkatkan anggaran pendidikan nasional pada 
level agar Indonesia bisa keluar dari ketertinggalan. Di bidang kemanusiaan, 
KKP-PPI berhasil meyakinkan mantan Menko Kesra Jusuf Kalla akan bahaya 
penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda/pelajar serta pentingnya upaya 
healing process terhadap para korban konflik horizontal, terutama anak-anak, 
sehingga dapat meminimalkan dampak trauma yang berpotensi melahirkan rasa 
dendam di masa akan datang. 

Setelah mempelajari sukses Korsel, Malaysia, Singapura, dan Thailand dalam 
pemanfaatan Information and Communcation Technology (ICT) untuk memperbaiki 
kualitas pendidikan dari SD sampai SLTA, serta sadar akan ketertinggalan 
penguasaan teknologi informasi dan komunikasi di Tanah Air, KKP-PPI 
berinisiatif dan berusaha keras mendatangkan komputer-komputer layak pakai dari 
luar negeri (Amerika Serikat) untuk disalurkan ke sekolah-sekolah di seluruh 
penjuru tanah air. KKP-PPI juga menggunakan komputer tersebut sebagai sarana 
kampanye interaktif (multimedia) kepada para pelajar terhadap bahaya 
penyalahgunaan narkoba.

Adalah sangat ironis sekali, dengan jumlah sekolah-sekolah SD sampai SMA 
sebanyak 219.207 buah dan jumlah siswa K-12 (taman kanak-kanak sampai SMU) yang 
hampir 43 juta orang, rasio komputer dan siswa di Tanah Air saat ini hanya 
1:800 untuk pulau Jawa dan sekitar 1:1.600 untuk di luar Jawa. Setidaknya, 
dalam satu tahun, KKP-PPI yang berkerjasama dengan asosiasi pemerintah daerah 
(APKASI dan APEKSI) telah mendistribusikan hampir 10.000 komputer untuk 1.768 
sekolah di seluruh pelosok Tanah Air.

Dalam rangka mendidik generasi bangsa terhadap hak cipta (Hak Kekayaan 
Intelektual) yang sudah diundangkan (UU No 19 tahun 2002), KKP-PPI mengajak 
Microsoft Indonesia untuk memberikan lisensi penggunaan peranti lunak Windows 
ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia secara gratis dan aplikasi Microsoft 
Office dengan biaya yang sangat rendah (2.50 dolar AS), harga ini bahkan lebih 
murah dari yang bajakan sekalipun. Berkaitan dengan program bantuan PC layak 
pakai tersebut dan dengan dukungan penuh dari Microsoft Indonesia, KKP-PPI 
memberikan program pelatihan bersertifikat untuk guru-guru di setiap kabupaten 
dan kota. Hal ini penting untuk menunjang program penguasaan ICT tersebut. 
KKP-PPI juga telah mencetak 20.000 kopi buku panduan komputer untuk para siswa 
dan guru-guru yang dibagikan secara gratis.

Disamping itu, KKP-PPI juga telah melakukan kerjasama mengembangkan software 
pembelajaran Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika yang akan digunakan oleh 
para guru dalam rangka memperbaiki efektivitas dan efisiensi penyampaian materi 
ajar kepada siswa. KKP-PPI juga sedang terlibat penuh dalam penyusunan Cetak 
Biru ICT Pendidikan Nasional bersama Depdiknas, Depag, dan Kementrian Kominfo 
RI, termasuk di antaranya mengadakan Lomba Pembuatan Software Pembelajaran SMU 
Tingkat Nasional yang pemenangnya akan di umumkan pada 28 Oktober 2004 yang 
akan datang. 

KKP-PPI juga berhasil melakukan sinergi untuk mendorong program OSOL (One 
School One Computer's Lab) yang digagas oleh kantor Kementerian Kominfo RI. 
Ditengah besarnya tuntutan kepada pemerintah untuk memperbaiki kualitas 
pendidikan nasional kita, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin 
bebas dan ketat, sayang sekali Departemen Perindustrian dan Perdagangan selama 
ini tidak mau memberikan dukungan terhadap inisiatif tersebut. Banyak pihak 
yang sudah menyurati Menperindag untuk memberikan kemudahan kepada KKP-PPI atau 
pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya untuk dapat mendatangkan PC 
layak pakai dari luar negeri untuk meringankan beban berat pemerintah dalam 
upaya memperbaiki kualitas pendidikan nasional. 

Jika pada SIP 2000 dan PMIS I ada motto dan komitmen ''dari Chicago kita 
melangkah membantu putra-putri bangsa meraih hari depan yang lebih baik'' maka 
tidak ada salahnya bila SBY-Kalla memantapkan janji dan komitmennya ''dari 
Cikeas kita memulainya bersama'' untuk menyelamatkan generasi bangsa dari 
bahaya narkoba dan ketertinggalan dalam bidang pendidikan. 

Mantan Ketua Pemias New York; Bekerja di General Electric Co., New York

 


Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India

-- 
India.com free e-mail - www.india.com. 
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail 
storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke