dear all
saya paling demen nontoni tv-tv korea, india, pakistan, cina. tadi 
siang malah acara peform-arts arirang-tv dengan redstar redarmy 
chorus menghentakku buat bekoar tenor sampai bass dan dansen peluh 
bercucuran, istri pun ketawa-ketiwi.
lihatlah betapa tv-tv negeri tetangga mengutamakan siaran budaya dan 
pendidikan. tv india pada siaran sains bagi remaja, eh tvri tioada 
lagi hasta karya ala kak tik zaman dulu, tpi bukannya masalah 
pendidikan tapi kdi dutduuut. inilah MALING media massa, meracuni 
rakyat, lebih keji daripada seribu dajjal.
menkoninfo sampai mendikbud (zaman SBY?) kerja dan mikir apa sih ?
hahahaha


--- In [EMAIL PROTECTED], "Khairur Razi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Memanfaatkan teknologi informasi (IT/TI) dalam dunia pendidikan 
merupakan ide menarik seperti yg dikemukakan Yulianto Mohsin, mantan 
ketua ppi (permias) Amerika di bawah ini. Termasuk hasil rekomendasi 
KPP-PPI (komite kamanusiaan dan pendidikan - perhimpunan pelajar 
indonesia se-Dunia). silahkan disimak. artikel lama (oktober) tapi 
masih relevan. (razi)
> 
> Republika: Senin, 18 Oktober 2004
> 
> Pendidikan Nasional Menanti Perubahan 
> (Pesan untuk SBY-Kalla dari Luar Negeri) 
> Oleh : Yulianto Mohsin 
> 
> Dunia pendidikan Indonesia belakangan ini tertinggal di bandingkan 
negara lain, bahkan dengan negara-negara Asia Tenggara. Tapi, 
yakinlah bahwa sebenarnya bangsa Indonesia memiliki banyak anak 
berbakat. Pada tanggal 17 Agustus kemarin, tiga remaja asal Papua 
(Arnold Akobiarek, Ronny Bubuy, dan Ayu Mukti Satya Merahabia) 
menerima kehormatan ikut merayakan detik-detik Proklamasi HUT ke-59 
RI di Istana Negara. Prestasi yang membawa mereka ke Ibu Kota adalah 
sebagai pemenang pertama Lomba Penelitiaan Ilmiah Remaja (LPIR) 
2004. 
> 
> Pertengahan Juli lalu, di Pohang, Korea Selatan, Tim Olimpiade 
Fisika Indonesia berhasil meraih sebuah emas, perak, dua perunggu, 
dan sebuah honourable mention. Yudistira Virgus, sang peraih emas, 
adalah siswa SMU Xavarius 1 Palembang. Satu lagi putra bangsa asal 
Papua, Septinus George Saa, juga berhasil meraih juara pertama dalam 
kompetisi riset fisika internasional, First Step to Nobel Prize in 
Physics, April lalu. Terbayang kelak seorang putra bangsa Indonesia 
meraih hadiah Nobel. Tetapi, bayangan indah ini segera pupus ketika 
ada berita mengenai Ni Komang Darmiasty. Remaja putri asal Bali ini 
merupakan salah satu pemenang Olimpiade Biologi Internasional, di 
Brisbane, Australia, Juli lalu. Keinginannya untuk melanjutkan 
pendidikan ke Fakultas Kedokteran Unud sempat terhalang biaya masuk 
Rp 13 juta. Padahal orangtuanya hanya seorang pegawai negeri sipil 
(PNS). 
> 
> Begitu juga ketika mendapat berita mengenai seorang guru di Garut 
yang berprestasi diundang ke Jerman untuk berkompetisi hasil 
penelitian di bidang biologi, tapi terhalang karena tidak punya 
biaya. Yang paling menyedihkan adalah berita seorang ibu di Bekasi 
yang bunuh diri karena frustrasi tidak punya uang untuk membiayai 
anaknya sekolah. Padahal tragedi Heryanto tahun lalu belum lepas 
meninggalkan benak kita. Anak SD ini juga frustrasi karena tidak 
mampu membayar uang ketrampilan sebesar Rp 2.500 ketika ditagih 
gurunya, sehingga dia mencoba bunuh diri. Kondisi memprihantinkan 
ini diperburuk lagi oleh hasil temuan Tim Kelompok Kerja 
Pemberantasan dan Penyalahgunaan Narkoba Depdiknas baru-baru ini. 
Sebanyak 70 persen pengguna narkoba merupakan anak usia sekolah.
> 
> Bangsa Indonesia baru saja memasuki tahap yang sangat penting 
dalam proses transisi menuju demokrasi, yaitu terpilihnya peresiden 
dan wakil presiden untuk pertama kali dalam sejarah secara langsung 
oleh rakyat. Suara rakyat yang menginginkan perubahan sebagaimana 
yang dijanjikan oleh SBY-Kalla merupakan mandat dan amanah tertinggi 
yang tidak boleh disia-siakan, karena akan senantiasa ditagih oleh 
rakyat.
> 
> Dalam kaitannya dengan masalah dan tantangan yang akan dihadapi 
oleh pemerintahan yang akan datang (khususnya dalam bidang 
pendidikan) inilah saya tuangkan pesan dan harapan dari kami yang 
berkesempatan menuntut ilmu di luar negeri kepada SBY-Kalla (jika 
sudah resmi dilantik) beserta jajaran para profesional anggota 
kabinet yang akan dibentuk. Empat tahun lalu para mahasiswa dan 
pelajar Indonesia di Amerika Serikat mengelar pertemuan puncak dalam 
bentuk Seminar Internasional Permias (SIP 2000) I dan Pertemuan 
Mahasiswa Indonesia se-Dunia (PMIS) I. Ajang pertemuan terbesar 
dalam sejarah Permias itu diadakan di Northwestern University, 
Evanston, Chicago, Amerika Serikat, pada tanggal 27- 29 Oktober 
2000. 
> 
> Pertemuan akbar tersebut dimaksudkan untuk melakukan konsolidasi 
potensi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang tersebar di luar negeri 
untuk dapat melakukan sinergi dalam membantu memecahkan masalah yang 
dihadapi oleh bangsa Indonesia setelah dihantam oleh krisis 
multidimensi yang berkepanjangan. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 
sekitar 417 mahasiswa dan pelajar Indonesia dari hampir seluruh 
dunia. Mereka terdiri dari 26 perwakilan mahasiswa/pelajar dari 
Amerika Serikat, Australia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Tunisia, 
serta beberapa peninjau dan undangan dari Tanah Air. 
> 
> Setidaknya ada enam hal pokok yang kerap disampaikan berulang-
ulang oleh hampir setiap delegasi yaitu masalah pendidikan dan 
kemanusiaan, krisis ekonomi, penerapan otonomi daerah, penegakan 
hukum, penyelesaian konflik-konflik horizontal dan vertikal, dan 
perlunya pembentukan jaringan kerjasama dan informasi. Dari keenam 
hal tersebut, sidang pertemuan memutuskan membentuk tiga komisi yang 
akan mendalami dan menindaklanjuti masalah-masalah pendidikan, 
kemanusiaan dan persatuan nasional dengan rencana aksi (action plan) 
di Tanah Air. Untuk tujuan tersebut dibentuklah Komisi Kemanusiaan 
dan Pendidikan-Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia di Luar Negeri 
(KKP-PPI).
> 
> Melalui berbagai koneksi dan jaringan, KKP-PPI berhasil meyakinkan 
para anggota legilatif dan pemerintah untuk meningkatkan anggaran 
pendidikan nasional pada level agar Indonesia bisa keluar dari 
ketertinggalan. Di bidang kemanusiaan, KKP-PPI berhasil meyakinkan 
mantan Menko Kesra Jusuf Kalla akan bahaya penyalahgunaan narkoba di 
kalangan generasi muda/pelajar serta pentingnya upaya healing 
process terhadap para korban konflik horizontal, terutama anak-anak, 
sehingga dapat meminimalkan dampak trauma yang berpotensi melahirkan 
rasa dendam di masa akan datang. 
> 
> Setelah mempelajari sukses Korsel, Malaysia, Singapura, dan 
Thailand dalam pemanfaatan Information and Communcation Technology 
(ICT) untuk memperbaiki kualitas pendidikan dari SD sampai SLTA, 
serta sadar akan ketertinggalan penguasaan teknologi informasi dan 
komunikasi di Tanah Air, KKP-PPI berinisiatif dan berusaha keras 
mendatangkan komputer-komputer layak pakai dari luar negeri (Amerika 
Serikat) untuk disalurkan ke sekolah-sekolah di seluruh penjuru 
tanah air. KKP-PPI juga menggunakan komputer tersebut sebagai sarana 
kampanye interaktif (multimedia) kepada para pelajar terhadap bahaya 
penyalahgunaan narkoba.
> 
> Adalah sangat ironis sekali, dengan jumlah sekolah-sekolah SD 
sampai SMA sebanyak 219.207 buah dan jumlah siswa K-12 (taman kanak-
kanak sampai SMU) yang hampir 43 juta orang, rasio komputer dan 
siswa di Tanah Air saat ini hanya 1:800 untuk pulau Jawa dan sekitar 
1:1.600 untuk di luar Jawa. Setidaknya, dalam satu tahun, KKP-PPI 
yang berkerjasama dengan asosiasi pemerintah daerah (APKASI dan 
APEKSI) telah mendistribusikan hampir 10.000 komputer untuk 1.768 
sekolah di seluruh pelosok Tanah Air.
> 
> Dalam rangka mendidik generasi bangsa terhadap hak cipta (Hak 
Kekayaan Intelektual) yang sudah diundangkan (UU No 19 tahun 2002), 
KKP-PPI mengajak Microsoft Indonesia untuk memberikan lisensi 
penggunaan peranti lunak Windows ke sekolah-sekolah di seluruh 
Indonesia secara gratis dan aplikasi Microsoft Office dengan biaya 
yang sangat rendah (2.50 dolar AS), harga ini bahkan lebih murah 
dari yang bajakan sekalipun. Berkaitan dengan program bantuan PC 
layak pakai tersebut dan dengan dukungan penuh dari Microsoft 
Indonesia, KKP-PPI memberikan program pelatihan bersertifikat untuk 
guru-guru di setiap kabupaten dan kota. Hal ini penting untuk 
menunjang program penguasaan ICT tersebut. KKP-PPI juga telah 
mencetak 20.000 kopi buku panduan komputer untuk para siswa dan guru-
guru yang dibagikan secara gratis.
> 
> Disamping itu, KKP-PPI juga telah melakukan kerjasama 
mengembangkan software pembelajaran Kimia, Fisika, Biologi, dan 
Matematika yang akan digunakan oleh para guru dalam rangka 
memperbaiki efektivitas dan efisiensi penyampaian materi ajar kepada 
siswa. KKP-PPI juga sedang terlibat penuh dalam penyusunan Cetak 
Biru ICT Pendidikan Nasional bersama Depdiknas, Depag, dan 
Kementrian Kominfo RI, termasuk di antaranya mengadakan Lomba 
Pembuatan Software Pembelajaran SMU Tingkat Nasional yang 
pemenangnya akan di umumkan pada 28 Oktober 2004 yang akan datang. 
> 
> KKP-PPI juga berhasil melakukan sinergi untuk mendorong program 
OSOL (One School One Computer's Lab) yang digagas oleh kantor 
Kementerian Kominfo RI. Ditengah besarnya tuntutan kepada pemerintah 
untuk memperbaiki kualitas pendidikan nasional kita, terutama dalam 
menghadapi persaingan yang semakin bebas dan ketat, sayang sekali 
Departemen Perindustrian dan Perdagangan selama ini tidak mau 
memberikan dukungan terhadap inisiatif tersebut. Banyak pihak yang 
sudah menyurati Menperindag untuk memberikan kemudahan kepada KKP-
PPI atau pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya untuk dapat 
mendatangkan PC layak pakai dari luar negeri untuk meringankan beban 
berat pemerintah dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan 
nasional. 
> 
> Jika pada SIP 2000 dan PMIS I ada motto dan komitmen ''dari 
Chicago kita melangkah membantu putra-putri bangsa meraih hari depan 
yang lebih baik'' maka tidak ada salahnya bila SBY-Kalla memantapkan 
janji dan komitmennya ''dari Cikeas kita memulainya bersama'' untuk 
menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya narkoba dan ketertinggalan 
dalam bidang pendidikan. 
> 
> Mantan Ketua Pemias New York; Bekerja di General Electric Co., New 
York
> 
>  
> 
> 
> Khairurrazi
> Aligarh Muslim University
> Uttar Pradesh, India
> 
> -- 
> India.com free e-mail - www.india.com. 
> Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB 
for mail storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!
> 
> Powered by Outblaze





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke