Rencana Kenaikan harga BBM di masa 100 hari Pemerintahan KIB
Oleh: Irwan.K (*)

Pola lama - penyebaran isu
--------------------------

Kelihatannya hingga saat ini pemerintah masih menggunakan pola yang
masih sama dalam mengeluarkan kebijakan. Mereka mengeluarkan isu
jauh" hari sebelum dikeluarkannya kebijakan yang asli - dalam hal ini
rencana Kenaikan harga BBM. 
Teoritisnya, ini (seolah-olah) untuk mempersiapkan masyarakat lebih
lama. Jadi supaya masyarakat tidak kaget, katanya. 

Namun kenyataannya, keluarnya isu tadi justru menambah beban
masyarakat karena malah harus menanggung dampak kenaikan harga
barang" dalam 2 tahap. Tahap ke-1 persis setelah isu mulai berkembang
dan tahap ke-2 terjadi setelah kenaikan harga yang sebenarnya.

Dalam masa 100 hari pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono kita dapatkan kabar akan diberlakukannya kenaikan tarif BBM
hingga 40%. Mendadak sontak hal ini mengundang reaksi cukup keras
dari berbagai kalangan masyarakat. Demo digelar di berbagai tempat
dengan tujuan yang relatif sama; meminta pemerintah membatalkan
kenaikan harga BBM. 

Bahkan ada pandangan agar pemerintah hendaknya lebih meng-efisien-kan
pengeluaran" yang ada terlebih dahulu baru memikirkan kenaikan harga
BBM sebagai opsi terakhir untuk menghemat keuangan negara.

Tentunya berbagai argumen telah dipersiapkan untuk menjelaskan alasan
kepada rakyat, yang konon katanya merupakan pemilik kedaulatan sejati
dan sebagian darinya telah mempercayakan SBY memimpin negara ini
karena janji perubahan yang dilontarkannnya. 
Bahkan Meneg KomInfo, Sofyan Djalil bertanggung-jawab memimpin
tim untuk mensosialisasikan kebijakan 'baru' ini.

Analisa
-------

Namun ada hal menarik yang bisa kita lihat dari munculnya isu
kenaikan kali ini. Pertama, saya yakin banyak dari kita yang tidak
mengharapkan munculnya kabar kenaikan tarif BBM, minimal dalam masa
100 hari pertama masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu.
Kedua, besarnya prosentase kenaikan yang disebutkan bukanlah angka
yang kecil. 

Lantas kira" apa yang menjadikan pemerintahan KIB (seolah-olah)
mengambil langkah berani semacam ini? Analisa saya, hal ini mungkin
dapat dijelaskan dalam beberapa uraian berikut ini:

1. Penyebaran isu jauh" hari sebelum pelaksanaannya sangat mungkin
dilakukan untuk melihat reaksi masyarakat. 
Kalau tidak ada yang protes, berarti rencananya aman. 
Kalau ada protes, pemerintah tentu tidak akan tinggal diam.
Entah itu memberikan penjelasan", bahkan kalau diperlukan tinggal
menjalankan rencana lain yang ada. 
Logikanya pemerintah pasti memiliki beberapa rencana (plan a, b, c, dst).

2. Kalau benar kabar bahwa kenaikan harga BBM ini untuk perhitungan
APBN 2005, berarti pelaksanaannya paling cepat 1 Januari 2005.
Sementara tanggal itu masih merupakan masa kritis pantauan masyarakat
(100 hari pertama). Mengapa pemerintah berani menjalankannya dalam
masa kritis ini? Dengan karakter SBY yang (katanya) sangat berhati-
hati dalam mengambil keputusan (seperti yang terlihat dalam proses
pengumuman susunan KIB), rasanya hampir mustahil kalau keputusan yang
dianggap 'tidak populis' seperti ini akan dijalankan. 
Bukankah ini dapat menjadi poin negatif atas kinerja pemerintahan KIB?

3. Besaran prosentase kenaikan harga BBM yang mencapai 40% jelas akan
memberi 'kesan pertama' yang begitu mengejutkan. Koq besar sekali?
Lantas kalau begitu besar, kenapa pemerintah berani menyebut angka ini?
Bukankah ini, lagi" dapat menjadi poin negatif?

-------
Tanpa bermaksud mendahului taqdir, atau 'sok tahu' membaca jalan
pikiran pemerintah, berikut ini jawaban yang mungkin bisa didapat
dari pertanyaan yang terbetik di atas:

Bahwa pemerintah memiliki banyak rencana, itu tidak perlu dibahas lagi. :D

Kita lihat pertanyaan dari uraian ke-2.
Mengapa pemerintah berani menjalankan itu dalam masa pantauan 100 hari?

Menurut saya, pemerintah belum tentu akan menjalankannya persis pada
saat pergantian tahun ke 2005. Dengan melihat respon dari masyarakat
yang menolak rencana kenaikan harga BBM tersebut, pemerintah bisa
mengambil kesempatan membalikkan situasi sulit menjadi situasi yang
menguntungkan.

Di detik" terakhir menjelang akhir tahun, pemerintah bisa saja
mengatakan akan MENUNDA penerapan rencana kenaikan harga BBM.
Bagi sebagian masyarakat, penundaan dianggap cukup bijaksana.
Padahal hakikatnya, keadaan tidaklah menjadi lebih baik karena bisa
jadi masyarakat telah menanggung kenaikan harga barang" lain 
tahap ke-1, seperti yang saya sebut di awal tulisan ini.

Lalu untuk pertanyaan dari uraian ke-3.
Mengapa pemerintah berani menyebut angka sebesar 40%?

Menurut saya, pemerintah belum tentu akan mengambil angka itu.
Pelemparan isu sekali lagi bisa jadi merupakan sebuah 'test case'.
Kalau tidak ada respon negatif, berarti rencana dapat berjalan mulus.
Namun kalau ada respon negatif, berarti adakan revisi (seperlunya).

Hal serupa pernah terjadi di jaman pemerintahan ORBA. 
Persisnya saya tidak begitu ingat, namun kurang lebih waktu itu harga
Premium (bensin) awalnya adalah Rp 850 per liter.
Pemerintah menaikkan harga menjadi Rp 1150 per liter.
Namun karena masyarakat melakukan penolakan (demo) maka pemerintah
berkenan memberikan 'discount' menjadi Rp 1000 per liter. 

Kesan sepintas di sebagian masyarakat, pemerintah telah mendengarkan
aspirasi masyarakat dengan menurunkan harga dari Rp 1150 menjadi
Rp 1000 per liter. Padahal kenyataannya pemerintah telah mendapat
'keuntungan' dari kenaikan harga Rp 850 menjadi Rp 1000 (per liter)
yang terjadi. Dan masyarakat tetap menanggung kenaikan harga BBM
(dan barang" lain).

Untuk kasus kali ini, saya menduga kenaikan harga 'proyeksi'
pemerintah adalah pada kisaran 20%-30%. Kisaran ini saya prediksikan
dengan melihat contoh kasus pada jaman ORBA tadi. 
Pemerintah rasanya tidak mampu (atau tidak mau) melihat alternatif
lain perbaikan APBN khususnya dalam urusan BBM, kecuali menaikkan
harga BBM.

Lagipula penyebutan angka kenaikan harga BBM, menurut saya mirip
dengan pola penjual di pasar tradisional. Sebut saja harga tinggi"
dahulu, sehingga kalaupun ditawar pembeli, penjual tadi tinggal
memberi harga yang lebih rendah.
Agar dianggap sebagai penjual yang 'baik'.

Analisa saya di atas bisa saja salah. Namun yang pasti, kalau
pemerintah sudah mengumumkan rencana kenaikan harga BBM (dan barang"
lain), kita tidak mungkin akan mendapatkan penurunan harga.

Kesimpulan
----------
Saat ini yang diperlukan adalah upaya pencerdasan bangsa sehingga
rakyat atau masyarakat dapat memberikan penilaian yang lebih cerdas.
Tidak mudah tertipu oleh penampilan luar semata.

Masyarakat tetap harus memberikan apresiasi terhadap prestasi yang
dicapai pemerintah. Namun jangan sampai mudah terbuai dengan 
'lips service' semata yang terlihat baik namun kenyataannya
tidak memberi manfaat, malahan mungkin sudah memberatkan.
 
Jakarta, 12 Desember 2004

(*) Penulis adalah anggota masyarakat biasa yang kebetulan memiliki 
perhatian kepada kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke