Wah, anda pake ngomoning Yaumul Hisab segala, dalam Al-Qur'an saja ada panduan 
untuk berpakaian yang diridhoi Tuhan kalau ngomong soal Islam, berarti anda 
kenal apa itu aurat, ini bukan lagi ngomong soal budaya lho, sebab budaya itu 
kan relatif.

Koteka di Papua bisa menjadi lambang kelelakian tapi kalau pakai di Jakarta 
atau bahkan di Eropa, anda bisa ditangkap minimal disuruh keluar.

Ging <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


-----Original message-----
From: Satrio Arismunandar [EMAIL PROTECTED]
Date: Fri, 24 Dec 2004 22:32:46 +0700
To: [email protected]
Subject: RE: [ppiindia] Gadis Arivia: Pusar SBY Memang Tidak Menarik Untuk 
Dipertontonkan


> 
> Kalau yang menyerukan itu bukan SBY, tapi seorang
> tukang becak atau seorang gelandangan, apa juga akan
> dicap otoriter? Adalah hak rakyat juga untuk
> menyatakan sikapnya.
> 

Tukang becak dan gelandangan, pemain band, pemanjat kelapa, penabu beduk, 
silakan bicara. Tuntutan atas pemberangusannya tetap saja merupakan tuntutan 
otoriter, memaksakan nilai sendiri --bahkan ketika mayoritas terhadap orang 
lain. Tetapi kalau datang dari pemilik rental komputer, manajer toko dsb, tentu 
efek politiknya beda. Berbeda dengan mereka, SBY itu suatu institusi: ia 
presiden. Yang memiliki perangkat. Dan aparatnya itu. akui dong, masih pada 
bolot-bolot, bisa melakukan eksekusi sendiri, akrena merasa diperintah SBY. 


> > 
> > 2. Lontaran Sirikit tentang "Kalau pusar diobral
> > sambil pantat
> > dan pinggul digoyang seperti adegan bersenggama",
> > mengingatkan saya pada
> > Oma Irama yang menyerukan "pertobatan" Inul.
> 
> Kenapa harus dibandingkan dengan Oma Irama?
> Perbandingan yang tak proporsional. 
> 

Memang terbanding kok. Dulu, tentang Inul, Oma Irama bilang, " goyangan ranjang 
dibawa ke panggung". Kan paralel. Dan proporsional.


> Bukankah yang sebaliknya juga terjadi? Mereka yang
> menentang pornografi dituding sebagai orang tolol,
> picik, munafik, sok moralis, otoriter, tidak tahu HAM,
> tidak berpikir bebas, dsb...dst...
> 

Mohon: ini bukan soal pro pornografi vs anti pornografi. 
Melainkan pengambil-alihan otoritas untuk menentukan nilai.
Pornografi jelas harus diatur. jelas. tapi kalau orang kelihatan pusar dibilang 
pornografi, waduh.
Orang berciuman bibir di sebuah taman dibilang pornoaksi? Tolong!
(Di negera bebas sekalipun, melakukan seks di tempat umum, telanjang di tempat 
umum, dilarang. Tapi ada aturan yang jelas, otoritas yang jeals, yang dasarnya 
jelas --bukan cuma hukum agama)

> 
> Kalau manusia hidup sendiri-sendiri di dalam hutan
> belantara, semua boleh suka-suka semaunya. Tetapi
> dalam hubungan sosial bermasyarakat, tidak ada yang
> mutlak-mutlakan...
> 
Justru itu: Tidak ada dan tidak boleh mutlak-mutlakan. Makanya tidak bisa 
melarang orang lain pakai pakaian menurut selera mereka sendiri, sepanjang 
tidak telanjang. Tidak bisa menuduh orang lain mempromosikan pornografi, hanya 
karena sedikit terbuka, hanya karena sensual dan seksi --sensual dan seksi 
berbeda dengan pornografi. 


> 
> > 5. Kalau soal ranah publik TV dan sebagainya, sudah
> > puluhan tahun kita
> > punya TVRI, belasan tahun TV swasta, dengan baju
> > macam-macam. Dan sejauh
> > ini, semuanya normal-normal saja. Moral bangsa tak
> > lebih baik dari tanpa
> > pakaian itu, tapi tak lebih buruk. Kejahatan seks
> > juga --kalau ini yang
> > mau dijadikan argumentasi. 
> 
> Normal menurut siapa? Bagaimana mengukurnya?
> 

Sederhana saja, kehidupan kita berlangsung biasa saja kok. 


> 
> Sayang sekali. Justru KPI yang keras mengecam
> tayangan-tayangan vulgar, yang mengeksploitasi seks
> dan kekerasan. Dalam kasus ini, KPI satu suara dengan
> SBY. 

Betul, justru itu. Biarkan KPI berkerja berdasarkan akal sehat. Karena memang 
sudah pekerjaannya. Dan KPI satu suara dengan SBY? KPI tak bicara soal pusar 
perempuan, Satrio. SBY fokus ke pusar perempuan. Beda lho. Beda. Kemudian, 
bahkan ketika KPI satu suara dengan SBY, apakah SBY satu suara dengan KPI? 
Tentang tayangan lain yang selama ini jadi kepedulian berbagai kalangan? Ah, 
itu soal lain.



> > Soal penting-tidak penting, biarlah masyarakat
> sendiri yang menilai. 

Saya anggota masayarakat.

> 
> Perbandingan yang tidak proporsional dan tidak fair.
> Menolak pornografi diidentikan dengan Din Syamsudin
> dan Orde Baru. Lebih jauh lagi, dikaitkan dengan
> Taliban! Entah, siapa lagi yang dituduh "gemar
> mengkafirkan" dan "penjaga kunci surga." 
> 

Sekali lagi, bukan soal pro dan anti pornografi.
tetapi bahwa ada kalangan yang menaruh semua urusan dalam kotak pornografi, 
dengan mengambil alih kekuasaaan untuk menentukan baik dan buruk.
O, maaf tentang Din Syamsudin. 

> > 
> > 8. Jangan kuatir tentang anak muda berpakaian
> > terbuka. Mereka tak lebih
> > buruk moralnya dari kita semua. 
> 
> Bagaimana bisa tahu? 
> 

Itu persoalannya: bagaimana bisa tahu bahwa mereka moralnya lebih buruk dari 
kita dan kita lebih baik dari mereka, hanya karena kita tak berpakaian seperti 
mereka, dan kita lebih intelektual sementara mereka tampak lebih hedonis? 
Bagaimana kita bisa tahu kita bermoral lebih baik dari mereka?
Saya tidak mengganggap mereka lebih buruk dari kita semua.
Dan biarlah otoritas lain, pada waktunya berbicara. dalam pengertian Agama, itu 
adalah Tuhan, yang menyimpulkannya di Yaumul Hisab nanti. Apalah artinya kita, 
mengambil alih otoritas itu? 




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [email protected]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links








                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Meet the all-new My Yahoo! � Try it today! 

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [email protected]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke