http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/15/utama/1501270.htm
Sabtu, 15 Januari 2005 Telanjang di Lereng Gunung Merapi BENCANA tsunami tiba-tiba menguakkan bahwa Bumi ini sungguh suatu misteri. Bumi tempat manusia berpijak ternyata tak sekokoh seperti biasa dibayangkan. Bumi adalah planet yang senantiasa gelisah, bergerak, dan mudah terbelah di dasarnya. SEWAKTU-waktu, misteri kegelisahan di perut Bumi bisa mengancam lagi. Kali ini wujudnya bencana tsunami. Lain kali, entah apa lagi. Pendeknya, tsunami ini sungguh mengingatkan manusia untuk mawas diri. Pesan ini ternyata juga sampai pada manusia-manusia sederhana di lereng Gunung Merapi. "Kono duwe banyu, kene duwe geni. Kono wis dilep, sopo weruh, mengko kene diudani geni?" kata Mbah Prawiro, sesepuh Dusun Candi Tengah, yang terletak di lereng Gunung Merapi. Maksud kata-kata itu adalah di Aceh sana orang mempunyai air, di lereng Merapi sini orang mempunyai api. Aceh sudah diterjang banjir, siapa tahu lereng Merapi ini nanti dihujani api? Karena alasan tersebut, sebagian penduduk Candi Tengah memutuskan untuk mengadakan upacara ritual mohon keselamatan. Ritual tersebut dijatuhkan persis di saat pergantian tahun 2004 ke 2005. MENJELANG Tahun Baru 2005, Candi Tengah dan sekitarnya diguyur hujan deras. Hujan perlahan-lahan berhenti ketika bende, kenong, dan terbang mulai ditabuh mengiringi seni Gangsir Ngenthir yang dipentaskan untuk mengawali ritual malam itu. Gangsir Ngenthir adalah seni semacam jatilan atau kuda lumping. Salah seorang pemainnya bernama Mbah Niti, lelaki berusia 70-an. Malam itu Mbah Niti masuk ke kalangan dengan naik kuda lumping dan berpakaian raja. Lebih dari satu jam ia menari-nari dan berperang-perangan dengan pasangannya. Ia tampak gagah walau tubuhnya sudah renta. Tiba-tiba ia mengejang. Sebelum ia rebah, orang-orang datang menyangganya. Mbah Niti ndadi, trance. Inilah saat di mana penguasa keraton Merapi menyusup masuk ke dalam dirinya. Mbah Niti dituntun masuk ke rumah. Ia duduk seperti raja. Mbah Prawiro bertanya, siapa gerangan Paduka? Mbah Niti menjawab bahwa ia adalah Mbah Petruk, yang menguasai Gunung Merapi. Lalu, dengan penuh wibawa, Mbah Petruk menyapa anak- anaknya dan memberikan wejangan. Ia bilang, sekarang banyak bencana terjadi sebab jaman wis teka titi wanci tuwa (zaman sudah sampai pada usianya yang tua). Zaman sudah tua, Bumi sudah rapuh, wajar jika di mana-mana lalu meledak bencana. Pada zaman seperti ini, manusia harus sering meminta kepada Bapa Allah dan Ibu Pertiwi karena mereka berdua inilah yang memapankan raga kita, meluruskan pikiran kita, dan menghidupi kita sehari-harinya. Lalu Mbah Petruk meminta agar anak-anaknya memasang bendera putih, janur kuning, dan sebatang rokok cap Jeruk. Setelah itu, ada suara atau tidak ada suara, mereka harus njawab (meminta) kepada Mbah Petruk. Dengan demikian, jika nanti lahar datang, lahar itu akan menjauhi tempat-tempat yang ditandai dengan benda-benda di atas. Mbah Petruk kemudian menganjurkan agar anak-anaknya rajin menjalankan tirakat dan prihatin karena itulah jalan yang menuntun mereka menuju keselamatan. Setelah menyalami anak-anaknya, Mbah Petruk pamit. Tak lama kemudian, kelihatan badan Mbah Niti kejang-kejang. Ia rebah. Mbah Petruk telah meninggalkan raganya, dan ia telah menjadi Mbah Niti lagi. SETELAH itu, selepas jam 12 malam, dipimpin Mbah Prawiro, sekitar 25 lelaki berjalan kaki menuju Candi Lumbung. Lebih kurang dalam 45 menit mereka sampai di candi yang tua dan kecil itu. Mbah Prawiro membakar kemenyan dan berdoa di kaki candi. Lalu dimulailah ritual ini. Semua peserta mencopot pakaiannya. Tak ada sehelai kain pun yang boleh melekat di badan. Mereka harus telanjang bulat. Bahkan, wartawan yang kebetulan hadir pun harus telanjang. Lalu semuanya berprosesi mengelilingi candi. Langit sedang gelap ketika prosesi telanjang ini dimulai. Paling depan adalah Mbah Prawiro, membawa obor dan dupa wangi. Di belakangnya mengekor kelompok orang-orang tua, diikuti mereka-mereka yang muda. Sambil mengelilingi candi, semua peserta mendoakan rapal pring-pring petung. Rapal ini bernada sangat syahwati. Namun, intinya adalah doa yang mengajak orang untuk tak tergoda oleh apa pun, benar-benar memusatkan pikiran hanya kepada Yang Maha Kuasa. Ibaratnya, lelaki tak boleh tergoda nafsunya akan wanita, syahwatnya harus lumpuh, tak menoleh ke mana-mana, justru ketika ada kemaluan wanita gomblah-gambleh (menganga dan menggoda) di hadapannya. Dipercaya, apabila diucapkan bersama-sama dengan telanjang, rapal itu bisa mengusir kekuatan jahat apa pun. Memang, dulu rapal dan ritual telanjang tersebut biasa dilakukan penduduk desa bila mereka sedang diterjang pageblug (bencana penyakit) dan merasa diancam oleh era-eruning jaman (huru-hara zaman). Suara sungai yang deras di bawah candi makin membuat suasana menjadi sakral ketika para lelaki telanjang itu makin larut dalam rapal pring-pring petung. Rapal tersebut serasa menghangatkan badan sehingga mereka tak kedinginan kendati udara dingin menerpa tubuh mereka yang telanjang. Di malam Tahun Baru yang sunyi itu, bertelanjang sambil memohon kepada Tuhan serasa mendatangkan hikmah yang dalam. Di satu pihak, dengan telanjang, serasa manusia diajak untuk mengakui di hadapan Yang Maha Kuasa bahwa dirinya sungguh-sungguh tak berdaya untuk mengatasi nasib dan penderitaan yang menimpanya. Namun, di lain pihak, dengan telanjang pula ia diminta untuk menerima bahwa semua yang terjadi adalah akibat dari kesalahannya. Dengan telanjang lahir batin, manusia didorong untuk maneges (memohon jawaban yang pasti), apa salahnya, sampai ia harus menanggung kemalangan. Namun, dengan telanjang lahir batin pula ia didorong untuk mertobat (bertobat) bahwa karena kesalahannya, layak jika ia menanggung cobaan itu. Dengan telanjang, manusia dibantu untuk menerima kemalangan tanpa menyalahkan siapa pun, termasuk Tuhan. Namun, dengan telanjang pula, ia dipaksa untuk menyatakan bahwa ia sungguh membutuhkan pengampunan dan pertolongan Tuhan. Telanjang lahir batin itu kiranya adalah sikap yang pas untuk diambil ketika manusia berada dalam zaman Kalabendu, zaman yang penuh dengan hukuman dan malapetaka, seperti yang sekarang sedang terjadi. Sebab, seperti dianjurkan dalam Serat Kalatidha, pada saat ini manusia harus mesu cipta mati raga, meluruskan pikiran, tak hanya mengikuti hasrat badani. Hanya dengan cara itu manusia bisa mudhar warananing gaib (menyingkapkan tabir gaib). Dengan pandai menyingkapkan tabir gaib, manusia akan mengerti bahwa ia tak boleh mengutuk atau mengeluh. Laut memberi air yang bisa menimbulkan banjir. Namun, dari laut pula manusia memperoleh rezekinya. Gunung Merapi bisa memuntahkan api yang menggosongkan manusia. Namun, Gunung Merapi pula yang memberinya hidup dan rezeki berupa pasir dan tanah subur. Dalam air dan api, ada berkah sekaligus juga malapetaka. Manusia tak boleh hanya mau menerima yang satu tanpa yang lain. Kalau manusia mau menerima rezeki yang diberikan oleh air dan api, ia harus pula sanggup hidup dalam risiko karena air dan api. Menolak hidup dalam risiko membuat manusia menjadi pemarah, pengeluh, dan pengutuk, yang tak mau bertanggung jawab. Dengan menerima bahwa hidup adalah risiko, manusia akan mawas diri. Artinya, ia tak takut akan bahaya, tetapi juga tak sembrono serta hati-hati terhadap bahaya. Itulah hikmah yang tersingkap ketika manusia mau telanjang di depan tabir gaib. Hikmah tersebut menghunjam dengan dalam ketika ritual telanjang itu sudah 11 kali mengelilingi candi. Mbah Prawiro bilang, tak cukup bila malam itu mereka hanya mengelilingi candi ping pitu (tujuh kali) sebab dengan begitu, mereka hanya akan memperoleh pitutur (petuah). Mereka harus mengelilingi candi ping sewelas (11 kali) supaya mendapat kawelasan (belas kasih) dari Tuhan. Memang, di saat penuh bencana ini, manusia lebih membutuhkan pengampunan dan belas kasih daripada petuah. Gelap menghilang ketika lelaki-lelaki itu menuruni candi setelah mereka berputar 11 kali. Bulan kelihatan mulai menguak awan dan suasana malam Tahun Baru di Candi Lumbung itu menjadi terang. Mbah Prawiro tiba-tiba berteriak memecahkan keheningan, "Nguyuh (Kencing)!" Lelaki-lelaki telanjang itu menyahut serentak, "Nguyuh, nguyuh." Lalu mereka menepi dan bersama-sama kencing. Rupanya dari tadi mereka menahan kencing karena udara yang amat dingin. Rasanya lega ketika sekarang mereka boleh buang hajat kecil. Tetapi, lebih dari rasa lega, buang hajat kecil yang dilakukan setelah ritual telanjang itu rasanya seperti membuang segala beban dan cela yang melekat pada diri manusia. Begitulah pembebasan dan penyucian yang terasa pada akhir ritual telanjang di Candi Lumbung di malam Tahun Baru. (Sindhunata) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/ 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

