----- Original Message -----
From: marko_mahin
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, March 01, 2005 7:57 AM
Subject: [dayak] TEKS-TEKS KOLONIAL: SURAT TERBUKA UNTUK DR. MUHAMAD HISYAM
TEKS-TEKS KOLONIAL:
SURAT TERBUKA UNTUK DR. MUHAMAD HISYAM
(Oleh: Marko Mahin)
Kepada Yth.
Dr. Muhamad Hisyam
Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan - LIPI
Di Jakarta
Kata demi kata, dan kalimat demi kalimat surat Bapak saya baca
dengan teliti. Bagi saya surat Bapak adalah perwakilan diri Bapak
yang secara fisik tidak bisa hadir di Kalimantan. Seandainya saja,
secara fisik Bapak bisa datang, maka amak dare dengan motif kambang
munduk akan saya gelar untuk menjamu Bapak. Karena bapak pengikut
Nabi Besar Muhammad SAW maka saya tidak akan menghidangkan anggur-
tuak pambuka kutak, sebagai gantinya adalah danum baputi pangejau
kasingi. Sebagaimana layaknya oloh bahadat, saya lakukan itu
semua dalam ketulusan dan cinta-kasih.
Maka perkenankan saya bertutur tentang lika-liku kehidupan kami
penduduk pribumi Kalimantan yang disebut sebagai orang Dayak.
Jauh hari sebelum peneliti LIPI datang ke Kalimantan, beratus tahun
sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, ada begitu
banyak petualang, peneliti, pencari kekayaan, penyebar agama dan
pegawai kolonial datang ke tanah air kami yang kini dikenal dengan
Kalimantan atau Borneo. Mereka datang dengan niat dan tujuan masing-
masing. Namun ada satu hal yang sama dari mereka yaitu mereka
berceritera atau menulis tentang kami. Sejujurnya, kami sangat tidak
keberatan kalau ada orang lain atau orang dari pulau dan negeri lain
berceritera atau menulis tentang kami. Itu adalah satu kehormatan
bagi kami. Namun lidah memang tidak bertulang, dan kami tak punya
kuasa untuk mengontrol mereka yang mungkin ketika di tanah-air kami
sangat santun dan baik. Akibatnya di luar tanah-air kami beredarlah
berita, gossip, dan rumor bahwa orang Dayak itu buas, kejam,
primitif, tidak beragama, pemakan daging manusia, bodoh, dan berekor
seperti monyet. Sehubungan dengan hal ini, Tjilik Riwut, Gubernur
pertama Kalimantan Tengah, pada tahun 1958 menulis:
"Masih banjak bangsa kita terutama diluar Kalimantan , mengira bahwa
penduduk Kalimantan itu orang liar, orang biadab, orang Dajak jang
makan orang, hitam seperti orang berekor d.l.l. sebagainja jang
kesemuanja menakutkan dan mengerikan. Anggapan ini tidak sadja
terdapat pada rakjat umum, akan tetapi sangat disesalkan pula ada
dikalangan para kaum terpeladjar masih banjak jang berpendapatan
sedemikian. Malahan beberapa kali selagi berkenalan dengan beberapa
kaum terpeladjar, bahkan bertitel pernah menanjakan: "Apakah di
Kalimantan sudah tidak ada lagi orang jang makan orang?"
.djuga tidak kurang pertundjukan2 di Djakarta, waktu sekaten di
Jogjakarta, ada pertundjukan orang jang badannja dilumuri dengan
arang, makan ajam mentah-mentah, mengaku dirinja orang Dajak dari
Kalimantan". (Tjilik Riwut 1958: 3)
Hal yang demikian bisa saja digolongkan kepada black campaign atau
character assassination, yang mengakibatkan ada banyak orang Dayak
malu menyandang dan mengaku sebagai Dayak. Menjadi Dayak itu sama
dengan menyandang kehinaan hal itu terjadi karena citra buruk yang
terlanjur tersebar dengan tanpa dapat dicegah oleh orang Dayak
sendiri, sebagaimana dituturkan oleh J.J. Kusni, putera Dayak
penyandang gelar doktor dari l'Ecole des Hautes Etudes en
Sciences Sociales (l'EHESS), Paris, Perancis:
"Di luar Tanah Dayak, citra suku ini bisa dikatakan sama dengan
kebiadaban. Di Jawa misalnya ada istilah "ndayak" antau
"ndayak-ndayak" untuk menggambarkan seorang hitam-legam makan atau
daging mentah dan hanya bercawat. Di daerah pedesaan Jawa tengah
yang disebut Pangeran Dayak [atau Patih Dayak--MM] tidak lebih
daripada seekor kelelawar." (Kusni 1994: 39)
Darimanakah citra orang Dayak yang kelam dan jahat itu muncul? Di
sini tampaklah betapa dahsyatnya "produk kultural kolonialisme",
seperti yang diistilahkan oleh Benedict Anderson dalam bukunya
Imagined Communities (1991: 37-46), dalam merepresentasikan orang
Dayak. Dalam "bungkusan indah" yang bernama buku pelajaran, hasil
penelitian ilmiah, ajaran agama dsb., orang Dayak dicitrakan begitu
negatif. Teks-teks kolonial ini dengan begitu halus menyeludup
dalam pikiran para pembacanya, sehingga terciptalah Dayak imajiner
yang buas, kejam, primitif, tidak beragama, pemakan daging manusia,
bodoh, dan berekor seperti monyet.
Mungkin ada yang mengatakan "Itukan dulu dan hanya ada pada zaman
kolonial". Pada tahun 1996, seorang teman yang berhati tulus
dan tertarik dengan budaya Dayak, mengajukan satu pertanyaan
aneh "Apakah betul dalam upacara Tiwah orang Dayak menari dan
menyanyi sambil mengelilingi jenazah?" Sebodoh-bodohnya saya
pada waktu itu dalam hal Tiwah , tidak pernah sekalipun saya pernah
mendengar atau melihat orang-orang kami mengelilingi jenazah sambil
menari dan menyanyi. Karena penasaran saya bertanya kepada sang
kawan itu untuk mengetahui darimana ia mendapat informasi yang
begitu aneh. Dengan polos sang kawan memperlihatkan satu buku
terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980/1981 yang
ditulis oleh L. Dyson dan Asharini.M dengan judul "Tiwah Upacara
Kematian Pada masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah". Pada
halaman 56 dari buku itu ditulis demikian:
"Selama upacara tiwah berlangsung, setiap malam hari dilakukan
upacara
nganjang [sic. nganjan] yaitu orang menyanyi sambil menari
mengelilingi jenazah. Para penyanyi dan penari terdiri dari pria
dan wanita baik tua maupun muda. Jadi selain mantera-mantera yang
diucapkan oleh pemimpin upacara, para pengunjung atau sanak-keluarga
yang menyelenggarakan pesta tiwah ikut terlibat langsung dengan
adanya upacara nganjang ini". (L. Dyson dan Asharini.M 1980/1981: 56)
Bisa dibayangkan betapa biadabnya orang-orang yang mengelilingi
jenazah sambil menari dan menyanyi. Dari situ sangat mungkin
berkembang pendapat-pendapat lain, misalnya "Pantas saja mereka
kan tidak beragama". Padahal dalam kenyataan yang sebenarnya,
yang dikelilingi dalam upacara nganjan adalah sangkaraya yaitu
sejumlah batang bambu yang tersusun rapi melingkar dan pada ruas-
ruasnya diraut sehingga membentuk bulu-bulu (sambabulu). Pada ujung
bambu-bambu yang panjangnya kira-kira dua meter itu dipasang
bendera. Di tengah potongan bambu yang disusun melingkar itu
dididrikan sepotong bambu besar yang juga telah diraut ruas-ruasnya.
Bagian atas bambu itu dibelah kemudian dijalin sedemikian rupa
sehingga membentuk semacam keranjang yang disebut kalangkang.
Saya tidak meremehkan betapa kuatnya teks dalam mempengaruhi pikiran
dan tindakan seseorang. Dalam dunia antropologi ada ceritera konyol
yang dilakukan oleh Carl Bock seorang peneliti Norwegia yang telah
bersusah-payah datang ke Kalimantan karena begitu percaya akan
legenda manusia kanibal dan yang berekor. Ia memang tidak pernah
bertemu dengan manusia berekor namun bukunya yang berjudul The Head-
Hunters of Borneo telah sukses menghantar imaji banyak orang bahwa
Kalimantan adalah negeri para pemburu kepala.
Ada banyak ceritera sedih yang dialami oleh anak-anak Dayak ketika
bertemu dengan teks-teks kolonial yang tidak hanya berceritera
tentang diri mereka, tetapi juga mendefenisi, merepresentasi, memberi
nilai dan ukuran. Teks-teks itu menjadi teks-teks teror atas
kehidupan mereka. Salah satunya adalah sbb.:
"It was during my early school-days that I experienced the bitter
implication of being a Dayak. This bitterness left a very deep wound
which never healed in my mind. The sad occasion happened when I
studied in a Dutch school for the bright children of the Dayak. The
school was a private school run by a Christian Educational
Foundation. In that school one day my class got a lesson on
geography. The lesson presented BORNEO, the old name of Kalimantan
and it was dealing with the southern part of the island. My
teacher, a Dutch told the class that Borneo had been inhabited by
DAYAKS. These Dayaks are headhunters and man-eaters; they were bad
people and enjoy killing people without cause. They were heathens
and therefore they were savage.
I had no knowledge of the word DAYAK, and I had never heard my
parents or anyone I knew use these strange word. As inhabitant of
Kuala Kapuas we called ourselves as "OLOH KAPUAS", the people
of Kapuas.
When night feel, and it was dark outside, I was completely possessed
by fear. The geography lesson suddenly popped out my mind. The dark
picture of the hideous Dayaks with their killing habit overwhelmed
me. Unable to hold myself from fear, I timidly went to my mother. I
told her the story of the of the heathen Dayaks I heard from my
teacher. I repeatedly asked her whether she know where those Dayaks
lived. She shook her head to indicate that she did know either.
When I pushed on she said that these bad people might be somewhere in
the dark forest far away in the hinterland. She said that it would
be impossible that those bad people lived in Kuala Kapuas. And as
it was quite late at night, my mother and I prayed together. I could
still remember my mother's prayer, "Lord Jesus our Saviour,
keep us from the evil Dayak".
Cerita di atas saya kutip dari tulisan seorang Dayak Ngaju, yaitu
Prof. Drs. M. Lambut seorang guru besar di jurusan Sastra Inggris di
FKIP - Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin-Kalimantan
Selatan (Lambut 1992/1993: 1-3). Buku pelajaran geograpi yang
dimaksud adalah buku "Matahari Terbit" bacaan pegangan untuk
murid-murid Sekolah Rakjat yang menggambarkan orang Dayak itu hitam-
legam bersenjata panah. Tampak bagaimana hebatnya kekuatan teks dan
narasi dalam membentuk imaji sehingga ia dan ibunya harus berdoa
agar dijauhkan dari orang-orang Dayak yang jahat, padahal mereka
sendiri adalah orang Dayak.
Teks-teks pelajaran telah menjelma menjadi teks-teks teror yang
menyiksa batin dan perasaan. Celakanya tidak ada seorangpun yang
mencoba menetralisir teks-teks teror itu sehingga terjadilah
peristiwa memilukan sebagai berikut:
"When morning broke, I felt highly relieved. Without difficulty I
was ready for school. On the way to school, I made up my mind that I
should ask my teacher where those headhunting Dayaks lived. When I
managed to ask the question, my teacher smiled cinically and
retorted, "You are one among them. You are a Dayak; why do you
ask?" I protested and cried, "You must be wrong. I am not
a Dayak, I am not a heathen. I am a good Christian, and I never miss
my Sundayy school".
A ran home deeply hurt and tormented by shame. How could I be such
bad human being. Why did my teacher call me a Dayak? I was sure
that I was one of the best pupil in my class. How could it possible
to put me among those bad people? These questions got no answer. I
was left tormented by the experience".
Dengan demikian tampak bagaimana teks-teks kolonial tidak hanya
menghina dan merendahkan tetapi juga merusak mental, dan menyiksa
batin. Sehubungan dengan itu saya bisa bayangkan pada 20 tahun yang
akan datang anak saya akan melongo dan diam dalam amarah yang
terpendam ketika teman-temannya memperlihatkan teks-teks yang
terdapat dalam buku terbitan LIPI sebagai berikut:
"Nampaknya pengaruh agama Kaharingan tidak dapat membendung dan
mengatasi persoalan tersebut di atas. Upacara Tiwah justru
dimohonkan agar arwah leluhur turut datang dan berperan serta dalam
mengenali suku Madura dengan cara merasuk dalam diri kelompok Dayak
yang sedang marah (amuk). Etnik Dayak yang keserupan (dimasuki roh
nenek moyang-nya) benar-benar mencari satu persatu orang Madura di
mana saja mereka berada. Di kota Palangka Raya diinstruksikan semua
etnik Madura yang mau selamat dipersilakan meninggalkan kota itu,
namun ada beberapa yang bertahan dengan dalih tidak mau meninggalkan
harta bendanya dan merasa tidak bersalah. Oleh karena sudah
terlanjur secara kolektif suku Madura akan dibantai, maka yang
bertahan di kota tersebut mengalami nasib yang sama di Sampit.
Pelampiasan kepedihan yang dimanifestasikan dalam bentuk amuk massa
itu tidak lagi memperhatikan Agama Kaharingan sebagai sumber
kehidupan, justru diwujudnyatakan sebagai sumber kekuatan. Bukannya
memelihara kerukunan dan menjaga sikap moral, melainkan seratus
delapanpuluh derajat menjadi amoral dan tak berbelas kasihan lagi.
Bahkan ada yang mengucapkan sebagai tak berprikemanusiaan atas
pembantaian ribuan sesama manusia hamba Allah". (Buchari 2003: 89)
"Umumnya manusia yang memegang teguh agamanya baik Kaharingan,
Kristen Protestan , Katolik, Hindu, Budha dan agama Islam senantiasa
bermusyawarah terlebih dahulu bila hendak melaksanakan hajat besar
dan sejenisnya. Dalam peristiwa tersebut di atas, hampir semuanya
suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah sebelum melakukan amuk massa
mengadakan musyawarah ritual secara utuh dan mereka memanggil
leluhurnya dengan upacara sacral disebut Tiwah. Upacara ini biasanya
digunakan mengantar roh bersemayam ke alam baqa. Namun justru
memanggilnya roh tersebut untuk membantu menyelesaikan persoalannya
dengan kelompok yang dianggapnya lawan. Roh tersebut merasuk dalam
diri orang dayak tertentu dan mampu menemu kenali individu yang
dicarinya. Setelah selesai melaksanakan tugas yang diembannya itu,
maka diantar roh tadi kembali ke asalnya dengan upacara pemotongan
kerbau atau sapi sebagai ucapan terimakasih kepada sang leluhur
(itulah bahagian dari upacara Tiwah bagi suku dayak" (Buchari
2003:90)
"Tercermin di bulan Januari - Maret tahun 2002 [sic. 2001] ketika
terjadi amuk massa di kalangan komunitas Dayak terhadap suku Madura
di kota Sampit dan Palangka Raya. Suku Dayak secara tidak
serampangan melakukan pembantaian , melainkan terlebih dahulu
melakukan upacara ritual yang mereka sebut "Tiwah" untuk
meminta kepada leluhur agar aksi yang dijalankan dapat diijinkan oleh
pihak leluhur. Ternyata setelah selesai ritual roh leluhur mereka
menyertainya melakukan seleksi dan dideteksi bahwa yang dibantai
adalah benar suku Madura dan bukan suku bangsa lainnya. Meskipun
yang dilakukan menyimpang dari kebiasaan dari prilaku sehari-hari,
tetapi roh leluhurnya menyertai perbuatannya sehingga tidak ada
penyesalan melakukan tindakan yang tidak selayaknya dilakukan itu."
(Buchari 2003: 102)
Dari teks-teks itu ada satu pesan kuat yang mau disampaikan yaitu:
orang Dayak melakukan upacara Tiwah dalam rangka mengumpulkan masa
sebelum melakukan aksi kekerasan komunal dan juga media untuk
mencetak para preman kultural yang mendapat "izin membunuh"
dari para leluhur. Dengan kata "merasuk dan amuk" sangat
tergambarkan betapa irrasionalnya orang-orang Dayak itu. Padahal
Tiwah menurut orang Ngaju tidaklah demikian.
Teks-teks yang demikian tentu saja tidak jatuh dari langit dengan
begitu saja. Ada latar belakang pengetahuan kognitif yang
berpengaruh sangat kuat sehingga idea menjadi teks. Bagi saya tek-
teks yang demikian, entah dihasilkan oleh peneliti senior atau yunior
atau oleh peneliti yang pintar atau yang bodoh, adalah virus
penghancur mental yang sengaja diseludupkan ke otak para pembaca
agar berpendapat negatif terhadap Tiwah dan orang-orang Dayak.
Lebih jauh lagi, teks-teks yang demikian punya efek bom waktu yang
dapat menghancurkan orang Dayak di masa depan. Memang bagi para
peneliti LIPI yang hidup mapan di Jakarta dan jauh dari pergumulan
batin orang-orang Dayak yang sedang resah dengan identitas dirinya,
hal yang demikian dapat dilihat biasa-biasa saja. Namun tidak
demikian bagi orang Dayak yang hidup di dunia nyata yang penuh dengan
persaingan dan pertarungan. Dengan mengacu pada kajian LIPI, yang
adalah satu lembaga penelitian resmi pemerintah RI seseorang atau
banyak orang dapat saja merendahkan orang Dayak dan upacara
Tiwahnya. Biasanya, bagi orang-orang yang demikian tidak peduli
apakah itu sekedar pertanggungjawaban administratif, atau dilakukan
oleh peneliti yunior yang bodoh atau tidak, yang penting ada amunisi
untuk menyerang orang Dayak. Amunisi itu sangat ampuh dan credible
karena diproduk oleh LIPI. Kemudian tidakkah bisa kita bayangkan
ketika ada seorang wartawan, penulis atau mahasiswa yang ingin
menulis mengenai Tiwah. Namun karena terbatasnya waktu dan dana ia
tidak dapat datang ke Kalimantan Tengah. Ia hanya bisa pergi ke
perpustakaan untuk mencari buku-buku mengenai Kaharingan dan Tiwah.
Mungkin saja, ia bertemu dengan buku yang ditulis oleh Saleh Buchari
ini. Karena itu hasil penelitian terbaru (tahun 2003) dan
dilakukan oleh orang-orang LIPI, sangat mungkin akan muncul kutipan-
kutipan yang demikian:
- Menurut Buchari, peneliti LIPI, "Upacara Tiwah dimohonkan agar
arwah leluhur turut datang dan berperan serta dalam mengenali suku
Madura dengan cara merasuk dalam diri kelompok Dayak yang sedang
marah (amuk)" (Bucahri 2003: 89).
Tidakkah bapak-bapak peneliti LIPI menyadari apa arti kata-kata itu,
apalagi kalau itu dibaca oleh orang-orang yang pengetahuannya sedikit
mengenai Kaharingan, Tiwah dan Dayak. Tidakkah mungkin pendapat yang
demikian direproduksi oleh orang-orang tertentu, yang memang tidak
menyukai Dayak, untuk menyudutkan dan menghina orang Dayak Dalam hal
ini justru tulisan saudara Saleh Buchari ini yang bisa ditunggangi
dan bukan diskusi yang sedang kita adakan sekarang. Diskusi ini
justru untuk ingin membuat jernih permasalahan dan ingin mengatakan
bahwa tidak ada upacara Tiwah seperti yang digambarkan oleh Saleh
Buchari. Kecuali kalau memang ada yang ingin membuat versi Tiwah
yang baru.
Sehubungan dengan buku-buku lain yang diterbitkan LIPI yang dapat
dikategorikan baik, kami sangat berterimakasih dan kami yakin hal itu
wajar saja terjadi mengingat nama besar LIPI yang adalah markas
besar para peneliti di Indonesia dan tersedianya dana untuk
penelitian. Mohon maaf, hingga surat ini ditulis kami belum bisa
mengapresiasi buku-buku seperti yang Bapak inginkan karena buku-buku
itu hanya ada di Jakarta dan belum ada di perpustakaan daerah
Kalimantan Tengah atau perpustakaan Universitas Palangka Raya. Kami
sangat senang , kalau buku-buku yang sumber penulisannya di dapat
dari daerah Kalimantan Tengah, dikirim kembali ke Kalimantan Tengah,
sehingga kami tidak merasa dirampok atau dijadikan objek penelitian
saja.
Hingga surat ini ditulis kami belum mendapat berita apa-apa dari
saudara Saleh Buchari. Kalu memang dunia penelitian itu sifat
soliter, secara jantan ia secara pribadi dapat mengirimkan
tanggapannya ke saya atau ke milis Dayak. Kami sangat mengharapkan
adanya dialog dan klarifikasi-klarifikasi dari saudara Saleh
Buchari. Kalau memang ada kesalahan pada waktu penelitian, mari
kita perbaiki bersama. Apalagi kalau itu mau diterbitkan dalam satu
ensiklopedia agama-agama lokal. Saya pribadi hanya ada menerima
surat dari Irene yang sekarang sedang belajar di Swedia, dan surat
dari Bapak John Haba di milis alumni STT-Jakarta.
Mengenai seorang pakar kebudayaan Dayak, seorang Dayak, dosen di
salah satu universitas di Kalimantan, yang mungkin hingga kini belum
memenuhi janjinya kepada Bapak, tentu saja ia bisa dituntut secara
hukum adat atau hukum resmi yang ada di negara ini. Hal itu tentu
saja bukan kami yang melakukan tetapi Bapak selaku pihak yang merasa
dirugikan.
Kami juga sadar bahwa semua manusia bisa khilaf dan salah. Menyadari
hal itu maka kami bereaksi ketika ada satu tulisan yang kami anggap
aneh dan tidak sesuai dengan fakta. Reaksi itu bertujuan tidak hanya
untuk memaafkan kesalahan tetapi juga untuk memperbaikinya.
Saya juga sangat menyadari bahwa ada banyak peneliti hebat di LIPI.
Ketika menuntut ilmu saya pernah satu rumah dengan seorang peneliti
LIPI yang bagi saya sangat pintar dan cerdas, darinya saya banyak
belajar dan menyerap ilmu. Tetapi haruskah karena begitu banyak
peneliti hebat di LIPI, saya diam saja ketika ada tulisan aneh
mengenai Dayak
Bagi saya, inilah proses pembelajaran tidak hanya bagi kami tapi juga
bagi semua orang yang manenulis dan berminat meneliti mengenai
Dayak.. Sama seperti Bapak, saya juga lelah dengan pertikaian dan
hinaan. Karena itu. sebagai putera Dayak, pada akhir surat ini saya
ingin menantang LIPI untuk melakukan penelitian ulang terhadap Tiwah
untuk membuktikan bahwa Tiwah diadakan dalam rangka mengumpulkan
massa agar dirasuki roh leluhur dan kemudian mengadakan pembantaian.
Jikalau itu terbukti benar, SAYA RELA MENYERAHKAN KEPALA SAYA
SEBAGAI GANTI RASA MALU YANG DITANGGUNG LIPI AKIBAT PERBUATAN SAYA.
Namun sebaliknya, jikalau itu terbukti tidak benar, SAYA TIDAK AKAN
MEMINTA SATU PUN KEPALA ORANG LIPI SEBAGAI GANTI RASA MALU SAYA.
Cukup beberapa perwakilan kalian datang untuk duduk bersama melakukan
upacara perdamaian yang dikenal dengan Tampung Tawar dan Hatunding
Daha - Hangkat Hampari.
Salam hormat,
Marko Mahin.
Catatan:
*Amak dare Tikar rotan yang dianyam dengan berbagai macam motif.
*Kambang Munduk secara hurufiah berarti "kembang duduk",
motif bungan
mahkota atau bungai sarunai yang terdapat dalam anayaman tikar.
*Anggur tuak pambuka kutak maksudnya tuak yang biasanya disajikan
untuk menghangatkan pembicaraan
*Danum Baputi Pangejau Kasingi maksudnya air putih yang sejuk
*Oloh Bahadat maksudnya orang yang memegang teguh adat-istiadat
nenek moyang.
Daftar Buku:
Anderson, Benedict
1991 Imagined Community, London: Verso
Bock, Carl
1985 The Head Hunter, New York: Oxford University Press.
Buchari, Saleh M.
2003 "Pendukung Agama Kaharingan di Palangka Raya Kalimantan
Tengah", dalam Ibnu Qoyim (editor), Agama dan Pandangan Hidup:
Studi
Tentang "Local Religion" Di Beberapa Wilayah Indonesia (Studi
Tentang
Kaharingan di Masyarakat Dayak Kalimantan dan Sunda Wiwitan di
Masyarakat Badui Banten), Jakarta: PMB LIPI.
Kusni, J.J.
1994 Dayak Membangun: Masalah Etnisitas dan Pembangunan - Kasus
Dayak Ngaju, Jakarta: Paragon, 1994
Lambut, M.P.
1992'93 The Origin of Grain - Bearing Rice Plant, Academic
Research
Paper di FKIP Unlam Banjarmasin - Kalimantan Selatan
Riwut, Tjilik,
1958 Kalimantan Memanggil, Djakarta: Penerbit Endang
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Mailing List Dayak Group adalah sebagai media informasi atau tempat saling
curhat antara netter Dayak (lintas agama dan lintas provinsi) dimana saja
berada.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
To Post a message, send it to: [EMAIL PROTECTED]
To Unsubscribe, send a blank message to: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
--------------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links
a.. To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dayak/
b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/