-----Original Message-----
 
 
Senin, 14 Mar 2005,
Di Kalbar, Wilayah RI Jadi Terminal Bus Malaysia 

PONTIANAK - Persoalan garis batas negara dengan Malaysia tak hanya terjadi di 
Perairan Ambalat. Tapal batas negara di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, 
juga diperkirakan telah bergeser sejauh 20 kilometer masuk ke wilayah 
Indonesia. 

Warga Malaysia yang berbatasan langsung dengan tapal batas itu sudah 
memanfaatkan wilayah Indonesia yang telah dicaplok tersebut. Negeri tetangga 
itu telah membangun terminal bus antar pedesaan di wilayah yang diklaimnya 
tersebut. 

Titik patok tapal batas kedua negara itu dibangun pada 1976 di Desa Siding, 
Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Kini, wilayah Indonesia di perbatasan 
itu menjadi bagian dari Kampung Gumbang, Distrik Serikin, Negara Bagian 
Sarawak, Federasi Malaysia. 

Camat Siding Petrus Dias menjelaskan, terminal bus angkutan pedesaan itu 
beroperasi sejak 2000. "Di seputar terminal telah dibangun fasilitas pasar yang 
menjual berbagai kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat," jelasnya kepada 
wartawan koran ini. 

Warga Kampung Gumbang, Distrik Serikin, yang berpenduduk 2.000-an jiwa itu kini 
sudah membangun patok baru perbatasan yang berkonstruksi beton secara sepihak. 
Patok tersebut memanjang memasuki daerah Bengkayang sepanjang satu kilometer. 
"Diperkirakan wilayah Indonesia yang sudah dicaplok mencapai 20-an kilometer," 
tegasnya.

Dias menyatakan, laporan pencaplokan wilayah RI tersebut sudah disampaikan 
kepada bupati Bengkayang dengan No 300/24/Trantib tertanggal 7 Februari 2005. 
Bupati Bengkayang Jacobus Luna juga telah menindaklanjuti laporan camat Siding 
itu dengan mengirimkan surat kepada Gubernur Kalimantan Barat H Usman Jafar 
bernomor 100/0375/Pem tertanggal 7 Maret 2005. 

Dias yakin wilayah tersebut masih merupakan kawasan RI. Hal itu berdasarkan 
keterangan masyarakat di Desa Siding yang dilibatkan Tim Pusat Survei dan 
Pemetaan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Pussurta TNI-AD) dalam 
pembangunan patok tapal batas pada 1976. "Lokasi itu dulu dijadikan lapangan 
tempat mendarat helikopter TNI-AD," ujarnya.

Dalam kesepakatan selanjutnya, persis di tengah bekas helipad dibangun titik 
patok kedua negara bertulisan Malaysia Indonesia (Malindo) dengan melibatkan 
masyarakat Desa Siding sebagai tenaga kerja.

Setelah mencuatnya kasus tersebut, masyarakat Kampung Gumbang, Distrik Serikin, 
Sarawak, lantas mencabut patok batas resmi itu. Patok tersebut dipindahkan ke 
wilayah Indonesia sesuai kebutuhan kawasan permukiman serta lahan pertanian 
mereka. 

Kecamatan Siding merupakan pemekaran dari Kecamatan Jagoibabang pada 2003. 
Jumlah penduduknya 1.423 kepala keluarga (KK) yang mencakup 6.795 jiwa. 
Sementara itu, Desa Siding sekarang dihuni 148 KK mencakup 880 jiwa. Sebagian 
besar mata pencaharian masyarakat adalah petani kakao, lada, dan sawah.

Interaksi sosial antarmasyarakat Kampung Gumbang dengan orang Indonesia di Desa 
Siding berjalan baik karena sama-sama berasal dari Suku Dayak Bidayuh. Malah 
sebagian besar masyarakat kedua negara itu masih memiliki hubungan kekeluargaan 
akibat perkawinan.

Kondisi sarana infrastruktur perbatasan kedua negara tersebut terlihat sangat 
kontras. Jika masyarakat Kampung Gumbang sudah dilengkapi jalan akses ke 
kawasan distrik terdekat dengan kondisi beraspal, sarana infrastruktur 
transportasi darat Desa Siding ke kawasan terdekat hanya mengandalkan jalan 
setapak dan transportasi sungai. 

Desa Siding itu sendiri berjarak 150 km dari Bengkayang, ibu kota Kabupaten 
Bengkayang. Untuk mencapainya, belum ada jalan aspal yang langsung ke lokasi. 
"Kawasan titik patok batas menjadi lebih leluasa dipindahkan (Malaysia, Red) ke 
wilayah Indonesia karena secara fisik wilayah Kalbar masih dalam kondisi hutan 
belantara," kata Dias.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, L.H. Kadir membantah bahwa Pemprov Kalbar 
tidak becus mengurus perbatasan darat Indonesia-Malaysia. "Pemerintah daerah 
tidak berwenang mengurus pembangunan di sepanjang perbatasan dengan negara lain 
karena hubungan luar negeri tetap merupakan kewenangan yang melekat di tangan 
pemerintah pusat," tegasnya. 

Menurut Kadir, Tim Biro Pemerintahan Umum Kantor Gubernur Kalimantan Barat 
tengah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bengkayang untuk melakukan 
pengecekan di lapangan. "Hasilnya segera dilaporkan kepada seluruh instansi 
teknis pemerintah pusat dari Kodam VI/Tanjungpura di Balikpapan, Kaltim. Secara 
jujur mesti disadari, lebih dari tiga dasawarsa terakhir, kawasan perbatasan 
bagaikan wilayah tidak bertuan sebagai akibat ketidakjelasan konsep pembangunan 
yang berpihak kepada rasa keadilan masyarakat dari pemerintah pusat," jelas 
Kadir.

Dia mengatakan, pemindahan patok tapal batas tidak akan terjadi seandainya 
pemerintah pusat secara berkelanjutan membangun jalan darat sepanjang 1.857 km 
membujur lurus dari Provinsi Kalimantan Timur ke Kalimantan Barat dengan radius 
maksimal satu kilometer dari titik patok tapal batas.

Kadir menuturkan, selama ini pihaknya hanya bisa memaparkan kondisi sebenarnya 
di sepanjang perbatasan darat dengan Malaysia setiap kali ada kunjungan pejabat 
pemerintah pusat dan kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

Tapi hasilnya, ujar Kadir, pemerintah pusat dan kalangan DPR hanya pandai 
mengumbar janji. Buktinya, rancangan peraturan pemerintah (PP) tentang 
penanganan kawasan perbatasan, yang pada 2004 lalu sudah sampai di Kantor 
Sekretariat Negara, kini malah dikembalikan lagi ke Sekretariat Kantor 
Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timor Indonesia (sekarang, 
Kementerian Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal). (lev)
 
 






 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke