Kalau masalah bagi hasil yang dikurangi lagi dgn
production cost dan akhirnya pemerintah dapat kurang,
yang salah siapa? Kenapa pemerintah tidak mengelola
sendiri, sehingga pemerintah benar2 dapat untung dari
penjualan tsb?

Kalau saya sudah menghitung jumlah produksi Indonesia,
jumlah ekspor dan jumlah ekspor. Dari situ juga sudah
dihitung harga jual dan juga biaya produksi.

Kalau ada yang salah, coba berikan perhitungan yang
benar.

Masalahnya banyak argumen pemerintah yang keliru.
Misalnya alasan kenaikan harga BBM karena yang
menerima subsidi BBM adalah pemilik kendaraan, sedang
yang tidak punya tidak dapat. Kesannya subsidi BBM
cuma dinikmati orang kaya. Padahal jumlah bis dan
angkutan umum ada 700 ribu. Mayoritas buruh dan
karyawan menengah bawah rata2 ke tempat kerja naik
angkutan umum, bukan jalan kaki. Para petani yg tak
punya kendaraan juga menikmati dgn harga pupuk,
pestisida yang murah karena biaya transportasi murah.
Begitu pula ketika mereka harus menjual panennya.

--- fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> Catatan:
> Ada komponen bagi hasil dalam produksi minyak. Dalam
> UU adalah 85-15 
> dg 85% adalah bagian pemerintah. Tetapi itu adalah
> harga sesudah 
> cost; yang pernah saya intip bagi hasil dari suatu
> PSC besar 
> (Production Sharing Contractor) adalah hanya sekitar
> 50% bagiannya 
> pemerintah dan sebagian akan jatuh pada posting PPh
> (bukan 
> penerimaan dari minyak/non tax). Nah kalo harga
> minyak diekspor pada 
> harga 50 USD/barrel, maka bagiannya pemerintah
> bukanlah bulat 50 USD 
> ini. Ini penting karena produksi Pertamina sendiri
> hanya sekitar 10% 
> dari total produksi domestik. 
> Dan jangan lupa, ada bagian daerah dari uang tsb
> sebagai implikasi 
> dari UU Otonomi daerah (sedangkan subsidi minyak
> sepenuhnya dihitung 
> dari APBN bukan dari APBD).
> Catatan tambahan juga, coba anda amati dimana dijual
> minyak produksi 
> Indonesia? karena ada 3 pasar minyak dunia, Brent,
> Nymex, dan Dubai. 
> Dan dari mana kita mengimpor minyak? ada perbedaan
> harga disini.
> 
> Hitung2an minyak ini nggak sesimpel yang
> dibayangkan. Ada banyak 
> peraturan dan kondisi market, yang sayangnya tidak
> diketahui publik. 
> Saya bukan membela pemerintah, wong saya bukan PNS.
> Tapi cuma ingin 
> berhati2 dalam memandang persoalan ini. Ada banyak
> informasi yang 
> susah dikomunikasikan disini. Ada sentimen juga
> karena percampuran 
> dg kesalahan2 pemerintah dibidang lain (lemahnya
> pemberantasan 
> korupsi, dll), tapi mungkin lebih baik memilah2nya
> dulu spy bisa 
> diaddress lebih baik.
> Maaf kalau ada yg tidak berkenan.
> 
> salam,
> 
> fau
> 
> 
> --- In [email protected], A Nizami
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Total produksi minyak kita= 328,5 juta barrel
> setahun
> > Biaya produksi domestik=328,5 juta x US$
> > 9,1/barrel=US$ 3 milyar
> > 
> > Diekspor dgn harga USD 50 (harga sementara)
> sebanyak=
> > 234 juta barrel, senilai = US$ 11,7 milyar dollar
> > 
> > Dijual di dalam negeri seharga USD 30,6 (dgn harga
> Rp
> > 1810/liter) sebanyak= 94,5 juta barrel,
> senilai=US$
> > 2,9 milyar.
> > 
> > Total pendapatan=US$14,6 milyar dollar
> > Untung bersih=US$ 14,6 M - US$ 3 M= US$ 11,5
> Milyar
> > 
> > Impor dari luar negeri sebanyak 278 juta barrel
> dgn
> > harga USD 50, dan dijual seharga USD 30,6 di dalam
> > negeri. Rugi sebesar=US$ 5,4 milyar
> > 
> > Total untung masih=US$ 11,5 milyar - US$ 5,4
> milyar=
> > US$ 6,1 milyar dollar.
> > 
> > Pemerintah masih untung Rp 57,3 trilyun rupiah per
> > tahun.
> > 
> > Jadi argumen orang2 neoliberal bahwa pemerintah
> nombok
> > Rp 100 trilyun setahun itu adalah bohong dan
> > menakut-nakuti rakyat. Padahal dengan harga
> sebesar Rp
> > 1810/liter pun sudah untung. Apalagi Pertamax kan
> > sudah Rp 4.000-an.
> > 
> > Jadi sebetulnya tidak ada subsidi rakyat dan harga
> BBM
> > tidak bisa 100% harus sama dengan harga
> Internasional,
> > karena kita TIDAK 100% IMPOR.
> > 
> > Naiknya harga BBM ini mengakibatkan naiknya harga2
> > barang lain. PLN sebentar lagi akan menaikan
> tarifnya,
> > karena BBM naik, biaya operasional mereka
> bertambah,
> > demikian pula PAM, dsb. Biasanya kalau naik,
> mereka
> > selalu membandingkan dgn harga2 barang di luar
> negeri,
> > tak peduli jika penghasilan rakyat kita paling
> rendah.
> > 
> > Banyak alternatif lain untuk mengurangi beban
> > anggaran, seperti yang diungkap rekan kita
> misalnya:
> > 1. Menghentikan illegal loggin
> > 2. Menaikan cukai rokok hingga 300%
> > 3. Menarik kembali KLBI/BLBI hingga Rp 600
> trilyun.
> > Mungkin anda bilang sudah kasep. Tapi ada ekonom
> yang
> > bilang (kalau tak salah KKG), jika ternyata aset
> yang
> > diserahkan dimark-up (nilainya tak sesuai dgn
> harga
> > sebenarnya), konglomerat tsb bisa ditagih ulang
> dan
> > diajukan ke pengadilan. Ternyata nilai jualnya tak
> > sampai 1/3. Sementara konglomerat tsb tetap hidup
> kaya
> > raya bahkan ada yang jadi menteri. Menurut anda
> adil
> > apa tidak?
> > 4. Menghentikan subsidi pemerintah lewat rekap
> > obligasi sebesar Rp 48 trilyun (Rizal Ramli)
> > 5. Menghentikan kebocoran di pajak (nilai pajak
> kita
> > lebih dari Rp 200 trilyun per tahun)
> > 
> > Masih banyak jalan lain menuju Roma yang tidak
> > menyengsarakan rakyat.
> > 
> > Sekarang terserah pada pemerintah: mau
> mensejahterakan
> > rakyat atau menyengsarakan rakyat?
> > 
> > --- Budi Sudarsono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > 
> > > >Date: Wed, 9 Mar 2005 02:20:18 -0800 (PST)
> > > >From: A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>
> > > >Subject: Re: Re: Kalau Banyak Jalan Menuju
> > > Roma...(kenapa harus
> > > >subsidi BBM yang dicabut ???)
> > > 
> > > >Pak Budi, saya ingin bertanya, apakah "Harga
> > > Rasional"
> > > >itu harus sama dengan harga Internasional?
> > > 
> > > >Kalau mayoritas pendapatan rakyat kita sama
> dengan
> > > >rakyat internasional, mungkin tidak masalah
> jika
> > > harga
> > > >barang sama dgn harga internasional. Tapi
> seperti
> > > >email saya terdahulu, UMR di AS sekitar Rp 8
> juta
> > > per
> > > >bulan, upah buruh pabrik di Singapura sekitar
> Rp 15
> > > >juta per bulan, sedang UMR kita rata2 hanya
> sekitar
> > > Rp
> > > >500 ribu per bulan.
> > > 
> > > >Nah, jika harga rasional harus sama dgn harga
> > > >internasional, bisa jadi biaya hidup minimal di
> > > negara
> > > >kita akan sama dgn di AS atau Singapura. Jika
> di
> > > >AS/Singapura biaya hidup minimal (tempat
> tinggal,
> > > >transportasi, makan, sandang) adalah Rp 5 juta
> per
> > > >bulan, maka bagi rakyat AS dan Singapura tidak
> > > >masalah, mereka masih bisa menabung antara Rp 3
> > > juta
> > > >hingga Rp 10 juta per bulannya.
> > > 
> > > >Sebaliknya, mayoritas rakyat Indonesia yang
> > > >penghasilannya rp 500 ribu per bulan, terpaksa
> > > harus
> > > >berhutang Rp 4,5 juta per bulan agar bisa tetap
> > > hidup.
> > > >Kalau tidak ada yang mau menghutangi, mereka
> akan
> > > jadi
> > > >gembel atau mati kelaparan.
> > > 
> > > >Itukah rasionalisasi harga yang anda maksud?
> > > 
> 
=== message truncated ===


Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke