sepertinya jelas banget deh, untuk MENEGAKKAN KEBENARAN, n menurut laporan 
pandangan mata dr rekan� lainnya, emang benar yg terjadi adalah seperti yg 
dilaporkan oleh penulis itu, makasih infonya penulis, sy emang pengen banget 
hadir disono pada hari kejadian, tp sayang jarak ini terlalu jauh..kebenaran 
itu emang pahit melaksanakannya, tp Insya Allah dengan pertolongan Allah, 
hasilnya akan menjadi manis..teruskan perjuanganmu akhi..


Nur Rochman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Sepertinya tulisan dibawah ini nggak banyak diberitakan karena memang tidak
ada unsur beritanya atau kalaupun diberitakan pasti akan timpang sesuai
dengan siapa yang memberitakan.

Seperti tulisan ini, kita pasti semua tahulah siapa yang nulis dan tujuannya
apa??? jadi apa mau seperti ini ditulis dikoran, pasti paling hanya majalah
sabili yang mau beritakan.......

Bagi saya sich, dengan mengirimkan email ini saja sipengirim itu sudah
melakukan provokasi dan penghasutan yang tidak fair karena mereka mengirim
berita yang belum diklarifikasi oleh yang diberitakan terutama dari pihak
JIL dan UIN Ciputat.

Best regards,

Oman

Biasanya seseorang ribut itu karena eksistensinya terganggu dan menurut saya
sekarang ini banyak yang sudah mulai jarang dipanggil oleh UIN untuk mengisi
kuliah umum atau pengajian karena orang-orang UIN lebih interest
mengembangkan pemikiran Islam Liberal, sehingga orang dengan mainstream
diluar itu mulai tersingkir ya akhirnya kasak kusuk dech........
Biasa kalau sudah nggak laku ya begitu nich.....

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of meg4pro
Sent: Wednesday, April 20, 2005 1:08 PM
To: [email protected]
Subject: [ppiindia] Re: Melawan "Setan JIL" di Sarangnya




Yup setuju.
Kayaknya yg nulis mungkin memang bukan seorang jurnalis.
Tapi lumayan..., jadi dapat info mengenai apa yang terjadi di sana.
Maklum, kayaknya beritanya gak ada diberitain sama temen2 jurnalis
sejati. Halo jurnalis sejati..?. Atau ada yang punya link lainnya..?.

Tapi kalau anda bilang Di tangan orang-orang seperti inilah Islam
justru akan balik ke kubangan kegelapan....., apakah berarti ditangan
orang2 JIL & partners Islam akan kembali menemui kejayaannya..?.
Kayaknya enggak juga. Jadi di tangan siapa ya..?. Kita tunggu aja
nanti ya. Sabar.

salam.

--- In [email protected], ". Pradana Boy Ztf" 
wrote:
> Di samping tidak memahami prinsip Islam tentang perbedaan pendapat,
> penulis laporan ini sama sekali tidak memahami kaidah-kaidah
jurnalistik.
> Tulisan ini sungguh disgusting...
>
> Islam tidak mengenal kebenaran tunggal. Sepertinya Hartono Ahmad
Jaiz
> sudah menjadi malaikat dan sebentar lagi menjadi tuhan, sehingga
dia bisa
> menjudge seseorang/sekelompok orang telah murtad... Di tangan orang-
orang
> seperti inilah Islam justru akan balik ke kubangan kegelapan...
>
> >
> > http://swaramuslim.net/EBOOK/more.php?id=1293_0_11_0_M
> >
> > Melawan "Setan JIL" di Sarangnya
> > Oleh : Erros Jafar 20 Apr, 05 - 7:21 am
> >
> > Pengantar Redaksi:
> > Pada tanggal 16 April 2005 lalu, berlangsung acara
> > bedah buku di UIN (alias IAIN) Jakarta. Buku yang
> > dibedah berjudul "Ada Pemurtadan di IAIN" karya
> > Hartono Ahmad Jaiz. Pemrakarsa acara tersebut adalah
> > anak-anak JIL.
> >
> > Hartono Ahmad Jaiz, sempat terkejut dengan banyaknya
> > audiens yang menghadiri acara ini. Jumlahnya seribu
> > lebih. Dan yang lebih mengagetkan lagi, massa yang
> > banyak itu justru berasal dari luar UIN, yaitu mereka
> > yang kontra JIL. Tentu saja kehadiran mereka itu
> > membuat komunitas JIL (dan anak-anak UIN pro JIL)
> > menjadi ciut.
> >
> > Sayangnya, atau culasnya, moderator yang pro JIL tidak
> > memberi kesempatan kepada audiens untuk terlibat dalam
> > tanya jawab. Meski demikian, kedua 'pakar' JIL
> > kedodoran menghadapi Hartono Ahmad Jaiz dan Muhammad
> > At-Tamimi.
> >
> > Kehadiran audiens yang kontra JIL dengan jumlah yang
> > tak terduga itu, nampaknya menunjukkan bahwa generasi
> > muda Islam kita memang masih banyak yang waras. Kedua,
> > menunjukkan bahwa kontribusi para aktivis Islam di
> > internet (terutama komunitas PKS dan SHT) yang turut
> > mensosialisasikan adanya acara tersebut, ternyata
> > cukup efektif. Ketiga, ini merupakan pertolongan Allah
> > SWT.
> >
> > Sayangnya, ketika 'cendekiawan dan misionaris JIL' ini
> > keok -bahkan di sarangnya sendiri- tidak ada satu pun
> > media massa yang mempublikasikannya. Oleh karena itu,
> > merupakan kewajiban kita untuk mempublikasikan laporan
> > pandangan mata di bawah ini yang disusun oleh akh Abu
> > Qori.
> >
> > Mau Menyanggah Malah Kejeblos
> >
> > Maksud hati mau menepis dan menyanggah isi buku Ada
> > Pemurtadan di IAIN, tetapi yang terjadi justru
> > sebaliknya. Para misionaris JIL itu malah terperosok
> > ke dalam kubangan yang mereka sediakan sendiri. Forum
> > bedah buku yang semula diharapkan dapat 'membantai'
> > Hartono Ahmad Jaiz malah menjadi ajang pembuktian
> > bahwa di IAIN memang ada pemurtadan. Hujjah-hujjah
> > yang diajukan para misionaris JIL itu justru secara
> > tidak langsung malah meneguhkan adanya proses
> > pemurtadan di IAIN.
> >
> > Acara bedah buku karya Hartono Ahmad Jaiz itu
> > berlangsung di Masjid Kampus UIN (Universitas Islam
> > Negeri) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, Sabtu 16
> > April 2005 bertepatan dengan tanggal 7 Rabi'ul Awwal
> > 1426 Hijriah.
> >
> > Tak dinyana, acara yang sepi promosi ini ternyata
> > dihadiri 1000-an peserta, sebagian besar justru
> > berasal dari luar kampus UIN. Sehingga, perhelatan
> > yang semula dirancang bertempat di Fak Ushuluddin dan
> > Filsafat, karena tidak mampu menampung audiens,
> > dipindahkan ke Masjid, khususnya di lantai 2 dan 3.
> >
> > Pembicara empat orang. Dua pembicara yang membuktikan
> > adanya pemurtadan di IAIN adalah Hartono Ahmad Jaiz
> > (penulis buku yang dibedah) dan Muhammad At-Tamimi
> > dari Purwakarta Jawa Barat. Sedangkan dua pembicara
> > lainnya -yang tampaknya membawa misi untuk menepis
> > adanya pemurtadan di IAIN namun justru
> > hujjah-hujjahnya menggunakan pemahaman, materi, dan
> > metode orang murtad- adalah Ulil Abshar Abdalla
> > kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul
> > Muqsith Ghazali MA dosen/alumni UIN Jakarta yang juga
> > termasuk penyusun CDL KHI (Counter Draft Legal
> > Kompilasi Hukum Islam) pimpinan Dr Musdah Mulia yang
> > telah dicabut Menteri Agama karena isinya meresahkan
> > dan bertentangan dengan Islam.
> >
> > Acara berlangsung seru, ada pekik Allahu Akbar dan
> > tepuk tangan bertalu-talu, meski moderator sudah
> > mengingatkan agar tidak bertepuk tangan di dalam
> > masjid.
> >
> > Materi, pemahaman, dan metode yang ditempuh Muqsith
> > dan Ulil justru menambah bukti bahwa apa-apa yang
> > ditulis di dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN terbitan
> > Pustaka Al-Kautsar Jakarta setebal 280 halaman itu,
> > memang benar adanya. Karena, hujjah-hujjah dan metode
> > dua pembicara yang pro IAIN dalam membantah buku itu
> > memang diambil dari materi dan pemahaman kelompok
> > ataupun tokoh yang sudah dinyatakan kekufurannya oleh
> > para ulama.
> >
> > Atau, mereka menggunakan pemahaman mereka sendiri yang
> > tanpa dasar, lalu sampai berani menolak hadits yang
> > shahih, dan hukum Allah swt dalam Al-Qur'an. Di
> > samping itu masih disertai dengan
> > kebohongan-kebohongan untuk memberikan cap-cap sangat
> > buruk kepada penulis buku. Akibatnya, ketika
> > kebohongan-kebohongan itu dibalikkan oleh penulis
> > buku, maka terkuaklah kesempurnaan bahwa produk dan
> > bahkan dosen IAIN yang dijagokan untuk membela IAIN
> > justru lebih buruk dari yang telah ditulis di buku
> > itu.
> >
> > Artinya, isi buku Ada Pemurtadan di IAIN tidak lebih
> > seram dibanding dengan kenyataan yang ditemukan di
> > lapangan, melalui forum bedah buku tersebut.
> >
> > Membela pemurtadan dengan pemahaman kufur
> >
> > Jalan yang ditempuh Muqsith dan Ulil dalam membela
> > IAIN ketika bedah buku itu adalah:
> >
> > 1. Berbohong dalam rangka memberikan stigma sangat
> > buruk kepada penulis buku.
> >
> >
> > 2. Membela kemurtadan atau kekufuran dengan faham
> > kekufuran, dan justru ditawarkan kepada penulis buku
> > agar mempelajarinya. Bahkan mereka meng-klaim bahwa di
> > IAIN tidak ada pemurtadan, yang terjadi sesungguhnya
> > dalah proses adalah pluralisasi penafsiran. Dan yang
> > dijadikan hujjah adalah penafsiran orang-orang yang
> > sudah divonis oleh para ulama sebagai kafir ataupun
> > zindiq yaitu Ikhwanus Shofa' dan Ibnu 'Arabi tokoh
> > tasawuf sesat berfaham wihdatul adyan (menyamakan
> > semua agama) dan wihdatul wujud (satunya alam dengan
> > Tuhan).
> >
> >
> > 3. Melecehkan penulis -yang banyak mengutip
> > ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi- dengan tuduhan
> > terlalu 'memberhalakan' huruf-huruf Al-Qur'an. Tuduhan
> > itu didibalikkan oleh penulis: karena penulis
> > mengikuti Al-Qur'an, maka pada hari Jum'at ia pun
> > melaksanakan shalat Jum'at; sedangkan Ulil, justru
> > leha-leha berseminar dengan orang Kristen membahas
> > tentang Tuhan di hari Jum'at dari jam 10 hingga 13 dan
> > tidak shalat Jum'at, tandas Hartono Ahmad Jaiz sambil
> > mengangkat Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005 yang
> > memberitakan bahwa Ulil tidak Shalat Jum'at.
> >
> >
> > 4. Memberi cap buruk kepada penulis sebagai orang
> > yang melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena
> > penulis tak membolehkan nikah beda agama. Penulis
> > menguraikan tentang dosen-dosen IAIN, Dr Zainun Kamal
> > dan Dr Kautsar Azhari Noer, yang menikahkan wanita
> > muslimah dengan lelaki Nasrani, dan lelaki muslim
> > dengan wanita Konghucu. Pernikahan itu bertentangan
> > dengan Al-Qur'an surat Al-Mumtahanah (60) ayat 10 dan
> > Al-Baqarah (2) ayat 221. Muqsith yang alumni dan dosen
> > UIN Jakarta justru membela dosen-dosen IAIN yang
> > melanggar ayat-ayat itu dan malahan memberi cap buruk
> > kepada penulis buku. Maka, Muhammad At-Tamimi dengan
> > tegas menyatakan penolakan terhadap ayat itu sebagai
> > sikap orang gila yang berbicara agama tetapi dengan
> > dalih "menurut saya".
> >
> >
> > 5. Gagal memberikan cap buruk tentang akhlaq
> > penulis dan isi buku, karena tuduhan-tuduhan Muqsith
> > dan Ulil itu tak sesuai fakta, maka lebih drastis
> > lagi, Muqsith membela ajakan dzikir dengan lafal
> > anjing hu akbar, dengan mengemukakan bahwa dzikir
> > dengan lafal anjing hu akbar pun kalau niatnya...
> > (tidak
> > jelas suara Muqsith karena suara hadirin gemuruh) maka
> > bisa meninggikan maqamnya. Ungkapan itu menjadikan
> > para hadirin berteriak gemuruh, menyiratkan
> > kejengkelan karena justru keluar betul keaslian produk
> > IAIN yang diangkat jadi dosen ternyata seburuk itu
> > pemikirannya dan keyakinannya. Bagaimana lagi para
> > mahasiswa asuhannya nanti.
> >
> >
> > 6. Ulil berani menolak hadits shohih, walaupun
> > dirinya mengakui bahwa hadits itu shohih, hanya karena
> > keberanian menurut dirinya. Ulil juga mengakui bahwa
> > dirinya menulis di Kompas, tidak ada hukum Tuhan. Maka
> > Muhammad At-Tamimi menyebut Ulil sebagai orang gila
> > pertama dan Muqsith orang gila kedua. Karena Allah swt
> > telah menurunkan wahyu tetapi ditolak dan disebut
> > tidak ada hukum Tuhan. Ini jelas murtad, kufur.
> >
> >
> >
> > Berbohong atau memutar balikkan
> >
> > Kebohongan yang dilontarkan, di antaranya Muqsith
> > mengemukakan bahwa penulis buku ini sampai menulis: Si
> > jompo Sinta Nuriyah. "Penulis ini akhlaqnya masih
> > akhlaq orang beriman atau tidak. Kalau orang beriman
> > tentunya tidak menulis seperti itu," kata Muqsith.
> >
> > Kebohongan itu dijawab oleh Hartono Ahmad Jaiz
> > (penulis), bahwa di buku Ada Pemurtadan di IAIN ini
> > tidak ada tulisan yang bunyinya si jompo. Yang ada
> > hanyalah penjelasan tentang keadaan, yaitu yang sudah
> > jompo. Lantas, lanjut Hartono, "yang tidak berakhlaq
> > itu yang mengubah perkataan ini atau siapa?" Dan juga,
> > "orang yang mengajak berdzikir dengan lafal anjing hu
> > akbar (di IAIN Bandung) malah dibela. Kemudian orang
> > yang tidak menulis si jompo dikatakan menulis si jompo
> > dan dianggap tidak berakhlaq. Ini yang tak berakhlaq
> > dan imannya perlu dipertanyakan itu siapa."
> >
> > Kebohongan yang kedua namun tidak sempat dibantah
> > karena sempitnya waktu, adalah perkataan Muqsith bahwa
> > Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro (karangan
> > As-Sya'roni) disebutkan, menurut pendapat Imam Ahmad,
> > aurat wanita itu hanyalah qubul dan dubur (kemaluan
> > depan dan belakang).
> >
> > Perlu dikemukakan dalam tulisan ini, Muqsith yang
> > dosen dan alumni UIN Jakarta itu apakah ingin
> > mengkampanyekan agar wanita-wanita di bumi ini
> > bertelanjang atau bagaimana, yang jelas dia dalam
> > membela IAIN itu telah menyembunyikan sesuatu.
> >
> > Dalam kitab Mizanul Kubro itu ada wanita merdeka
> > (al-hurroh) dan wanita budak (al-ammah). Aurat wanita
> > merdeka adalah seluruh tubuhnya, kecuali mukanya dan
> > kedua telapak tangannya, menurut pendapat Malik,
> > Syafi'i, dan Ahmad dalam salah satu dari dua
> > riwayatnya. Menurut Abu Hanifah, seluruh tubuh wanita
> > adalah aurat kecuali mukanya, dua telapak tangannya,
> > dan dua telapak kakinya. Riwayat lain dari Ahmad,
> > (seluruh tubuh wanita adalah aurat) kecuali mukanya
> > saja. (Al-Mizanul Kubro Juz 1, halaman 170, cetakan I,
> > Darul Fikr Beirut, dalam hal syarat sahnya sholat
> > tentang menutup aurat).
> >
> > Aurat wanita budak (al-ammah) dalam sholat adalah
> > antara pusarnya dan lututnya seperti aurat laki-laki.
> > Ini menurut pendapat Malik, Syafi'i, dan salah satu
> > riwayat dari Ahmad; dan riwayat yang lain bahwa
> > auratnya (wanita budak/al-ammah) adalah qubul dan
> > dubur saja. (ibid). Dalam Kitab Mizanul Kubro itu
> > dijelaskan, yang diamalkan oleh salafus sholih adalah
> > yang pertama (aurat budak wanita, antara pusar dan
> > lutut) karena tidak adanya syahwat untuk melihat budak
> > wanita di luar sholat, lebih-lebih ketika sholat.
> > (ibid).
> >
> > Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro bab shalat itu
> > dikutip pendapatnya bahwa aurat wanita merdeka
> > (al-hurrah) adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan
> > dua telapak tangannya atau bahkan seluruh tubuh
> > kecuali muka saja.
> >
> > Perlu dijelaskan kebohongan Muqsith dengan kenyataan,
> > bahwa wanita sekarang, pengertiannya ya wanita yang
> > disebut al-hurroh itu. Lalu kok bisa-bisanya Muqsith
> > Ghozali dosen dan alumni UIN Jakarta ini mengatakan
> > bahwa Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kibro,
> > berpendapat bahwa aurat wanita itu hanyalah qubul dan
> > dubur. Itulah cara berbohong untuk mengkampanyekan
> > agar wanita sekarang yang sebagian mereka sudah
> > memperlihatkan pusarnya itu agar lebih bertelanjang
> > lagi.
> >
> > Kebohongan ketiga, Muqsith menganggap Hartono Amad
> > Jaiz melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena
> > Hartono mengharamkan nikah beda agama.
> >
> > Perkataan itu sendiri sudah menyembunyikan sesuatu.
> > Dalam buku itu sudah ditulis, yang dipersoalkan adalah
> > wanita muslimah dinikahi lelaki kafir, Non
> > Islam,Yahudi-Nasrani dan lainnya. Juga lelaki Muslim
> > menikahi wanita Konghucu. Lalu Muqsith mengatakan
> > bahwa tidak ada ayat yang mengharamkan nikah beda
> > agama. Itu juga menyembunyikan ayat, hingga dibantah
> > dengan seru oleh seorang pemuda/mahasiswa secara
> > spontan dengan mengacungkan Al-Qur'an.
> >
> > Kalau Muqsith tidak menolak Al-Qur'an, tentunya mau
> > mengakui, Ayatnya sudah jelas, QS 60: 10, QS 2: 221,
> > dan tentang kafirnya Ahli Kitab dalam Surat
> > Al-Bayyinah ayat 6. Dengan cara menyembunyikan ayat,
> > hingga justru menghalalkan nikah beda agama (seperti
> > yang telah disebutkan itu) adalah satu bukti justru
> > adanya faham yang dihembuskan dari UIN Jakarta adalah
> > yang menentang ayat Al-Qur'an itu.
> >
> > Membela kekufuran dengan kekufuran
> >
> >
> > Lebih nyata lagi ketika Muqsith membela IAIN dengan
> > faham kekufuran. Yaitu kilah bahwa IAIN tidak
> > mengadakan pemurtadan tetapi pluralisasi penafsiran.
> > Lalu yang diangkat sebagai contoh adalah faham
> > Ikhwanus Shofa' yang tidak perlu melaksanakan yang
> > fardhu-fardhu/wajib-wajib dan cukup dengan bertasbih.
> >
> > Hartono Ahmad Jaiz membalikkan kepada Muqsith, justru
> > faham yang tidak perlu mengerjakan yang
> > fardhu-fardhu/wajib-wajib itulah yang sebenar-benarnya
> > kekafiran. Dan itu sudah dikemukakan kekafirannya
> > dalam Kitab Tafsir Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Taimiyyah
> > dalam Majmu' Al-Fatawa.
> >
> > Yang dimaksud Hartono itu adalah apa yang ditulis Imam
> > Al-Qurthubi yang dimulai dengan menukil ulasan
> > gurunya, al-Imam Abu al-'Abbas, mengenai golongan ahli
> > kebatinan yang dihukumi sebagai zindiq yaitu: "Mereka
> > itu berkata: Hukum-hukum syara' yang umum adalah untuk
> > para nabi dan orang awam. Adapun para wali dan
> > golongan khusus tidak memerlukan nas-nas (agama),
> > sebaliknya mereka hanya dituntut dengan apa yang
> > terdapat dalam hati mereka. Mereka berhukum
> > berdasarkan apa yang terlintas dalam fikiran mereka."
> > Golongan ini juga berkata: "Ini disebabkan kesucian
> > hati mereka dari kekotoran dan keteguhannya maka
> > terjelmalah kepada mereka ilmu-ilmu ilahi,
> > hakikat-hakikat ketuhanan, mereka mengikuti
> > rahasia-rahasia alam, mereka mengetahui hukum-hukum
> > yang detil, maka mereka tidak memerlukan hukum-hukum
> > yang bersifat umum, seperti yang berlaku kepada
> > Khidir. Mencukupi baginya (Khidir) ilmu-ilmu yang
> > terbuka (tajalla) kepadanya dan tidak memerlukan apa
> > yang ada pada kefahaman Musa." Golongan ini juga
> > menyebut: "Mintalah fatwa dari hatimu sekalipun engkau
> > telah diberikan fatwa oleh para penfatwa."
> >
> > Selanjutnya al-Qurtubi mengulas dakwaan-dakwaan ini
> > dengan berkata: "Kata guru kami r.a.: Ini adalah
> > perkataan zindiq dan kufur, dibunuhlah siapa pun yang
> > mengucapkannya dan dia tidak diminta taubatnya, karena
> > dia telah ingkar terhadap apa yang diketahui dari
> > syariat. Sesungguhnya Allah telah menetapkan jalan-Nya
> > dan melaksanakan hikmah-Nya bahwa hukum-hukum-Nya
> > tidak diketahui melainkan melalui perantaraan
> > rasul-rasul yang menjadi para utusan antara Allah dan
> > makhluk-Nya. Mereka adalah penyampai risalah dan
> > perkataan-Nya serta pengurai syariat dan hukum-hukum.
> > Allah memilih mereka untuk itu dan mengkhususkan
> > urusan ini hanya untuk mereka."
> >
> > �������
> > �����
> > ������
> > ��� �� ��
> > ����
> > ������
> > �����
> > ����
> > �����
> > ���� ��
> > �����
> > ��� ����
> > �����
> > ��� ����
> > ��� ����
> > ��� ��
> > ���
> > �����
> > ��� ���
> > �� ����
> > �����
> > ��� ����
> > ��� ����
> > �����
> > ���
> > �����
> > ����
> > ������
> > �� �����
> > ��� ����
> > ���� ���
> > ������
> > ���
> > �����
> > ��� ���
> > ���� ���
> > ����
> >
> > "Telah menjadi ijma' salaf dan khalaf bahwa tidak ada
> > jalan mengetahui hukum-hukum Allah yang berhubungan
> > dengan suruhan dan larangan-Nya walaupun sedikit,
> > melainkan melalui para Rasul. Maka siapa yang berkata
> > "Disana ada cara lain untuk mengetahui suruhan dan
> > larangan Allah tanpa melalui para rasul atau tidak
> > memerlukan para rasul" maka dia adalah kafir, dihukum
> > bunuh tidak diminta bertaubat, dan tidak diperlukan
> > untuk tanya jawab dengannya (al-Jami' li Ahkam
> > al-Quran jilid 11, halaman 40-41, cetakan Dar al-Fikr,
> > Beirut).
> >
> > Gejala Pemurtadan di IAIN
> >
> > Hartono Ahmad Jaiz menguraikan gejala-gejala
> > pemurtadan di AIN, di antaranya buku Harun Nasution

=== message truncated ===
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke