http://www.suarapembaruan.com/News/2005/04/26/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Dialog Dua "Superwoman" di Bank Indonesia
"I'm not your superwoman, I'm not the kind of girl that you can let down ..." 



SEPOTONG tembang lawas dari vokal renyah Karyn Whyte itu menyuarakan semangat 
tegar perempuan. Pada suatu petang, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, 
superwoman menjadi obrolan menarik dalam sebuah dialog antarkaryawati Bank 
Indonesia (BI), Jakarta. 

Meskipun cuma obrolan santai, dialog itu diberi tema cukup serius "Wajah 
Cita-cita Kartini di BI". Dipandu psikolog Eileen Rachman, dua wanita super BI, 
yakni Deputi Senior Gubernur, Miranda S Goeltom dan Direktur Direktorat 
Perizinan dan Informasi Perbankan, Siti Ch Fadjrijah, tampil sebagai pembicara. 
Mulai dari dunia kerja sampai status sebagai ibu rumah tangga, termasuk juga 
superwoman itu. 

Meskipun berlangsung sederhana, dialog bergulir pada topik-topik yang menarik. 
Padahal, konon acara itu tergolong mendadak. Panitia diminta menyiapkan acara 
hanya dalam dua hari. 

Tentu peringatan Hari Kartini kali ini tidak lagi diadakan dengan konsep usang 
seremonial seperti lomba baju kebaya. Alhasil, dipilihlah dua wanita di BI yang 
mewakili wanita-wanita super untuk berbagi cerita. 

"Apakah Ibu percaya adanya superwoman? Tapi, tentu bukan seperti yang kita 
tonton di film-film," kata psikolog Eileen melontarkan pertanyaan itu kepada 
Miranda Gultom di depan hadirin. 

Pertanyaan itu dijawab dengan santai oleh Miranda. Terus terang, ia juga 
mengaku suka menonton kisah pahlawan wanita di televisi. Tetapi, jika harus 
menyebut definisi superwoman, Miranda agak kesulitan. 


Hapal 

"Mendefinisikan superwoman itu sulit. Sebut saja Mbok Misrah, pembantu rumah 
waktu kecil, ia mengurusi delapan orang anak. Ia hapal letak di mana semua 
barang. Ia hapal teman-teman saya. Ia superwoman, jadi saya percaya superwoman 
ada dengan definisi berbeda-beda," kata Miranda. 

Berbicara tentang definisi superwoman, Miranda merasa setiap orang sangat 
subjektif. Superwoman bisa di mana saja. Misalnya seorang ibu yang punya 13 
anak, sementara suami hanya guru sekolah, tetapi semua anak-anaknya jadi 
"orang". Sebutan superwoman bisa dikenakan pada setiap perempuan yang punya 
keistimewaan. 

"Kalau sampai ada yang menyebut saya superwoman, mungkin definisinya ada pada 
level. Saya berbeda dengan yang lain karena ada kelebihan tertentu. Dalam 
pemikiran seperti itulah, superwoman ada. Jangan menganggap superwoman hanya 
pada satu diri seseorang yang kinclong (mengkilap, gemerlap, Red) atau apa," ia 
menambahkan. 

Percakapan tidak hanya pada soal superwoman. Eileen juga melontarkan pertanyaan 
tajam pada Miranda. Apakah ada dampak hasil perjuangan Kartini yang dilihat di 
BI dalam persamaan hak, partisipasi, dan kebebasan wanita? 



Menurut Miranda, kesempatan berkarier wanita di BI sudah mulai berpeluang sama 
besar dengan laki-laki. Bahkan belakangan ini, ada pernyataan formal tentang 
hal itu. 

Jika dulu jumlah wanita berhasil menduduki jabatan tertentu hanya sedikit, 
sekarang mulai bertambah. Bahkan berdasarkan laporan terakhir, pegawai baru 
yang masuk BI lebih banyak perempuan daripada laki- laki. 

"Pendapat saya di BI semakin formal. Dalam peraturan kenaikan pangkat dan 
sebagainya, tidak ada yang menyebutkan perempuan atau laki-laki. Semua 
penilaian berdasarkan performance yang distandarkan. Perempuan atau laki-laki 
sama saja. Bergantung perempuan untuk menunjukkan seperti apa dirinya, yakni 
kemampuan profesional," katanya. 

Di sisi lain, Miranda mengakui kadang-kadang perempuan lebih emosional 
dibandingkan laki-laki. Hal itu kerap kali terlihat ketika perempuan cepat 
merajuk atau marah. Tetapi, para atasan umumnya tidak melihat perempuan 
emosional dalam mengambil keputusan. 

"Itu adalah sesuatu yang menggembirakan. Mungkin sekarang atau nanti akan 
bertambah lagi. Kita tidak pernah tahu, apa pun itu kesempatan selalu ada dan 
terbuka. Seperti halnya Bu Siti Fadjrijah. Jangan dilihat baru satu. Sebentar 
lagi ada banyak 'Kartini' yang naik dan banyak kesempatan. Jangan-jangan nanti 
mesti ada kuota, supaya laki-laki bisa punya kesempatan," ia berkelakar. 


Ibu yang Bekerja 

Hal yang sama juga diakui Siti Fadjrijah yang mulai bekerja di BI sejak tahun 
1979. Ia merasa tidak pernah merasakan perbedaan sebagai karyawati atau 
karyawan dalam berprestasi. 

"Menurut hemat saya, kedudukan perempuan dan laki-laki di mata Tuhan itu sama. 
Sementara di mata masyarakat bergantung pada individu yang bersangkutan. Apakah 
kita mau diinjak-injak? 

Apakah kita mau mengeksistensikan diri dengan menunjukkan kemampuan dan 
kepribadian? Siapa tahu gubernur dan deputi gubernurnya nanti adalah perempuan. 
Anda- anda ada yang mau ditantang atau tidak? Jadi kesempatan itu harus 
digunakan sebaik-baiknya," ia menambahkan. 

Sebagai wanita dan manusia biasa, Fadjrijah mengaku juga pernah dihinggapi 
tekanan kerja dan stres. Apalagi beberapa tahun lalu, ia memang bertugas 
mengawasi bank-bank dan memberikan sanksi. Terkadang tugas itu membawa dilema 
bagi Fadjrijah, karena ia harus menyampaikan keputusan untuk menutup sebuah 
bank kepada para pengawai bank yang bersangkutan. 

"Dulu saya sering nutupin bank. Kalau mau beritahu, yang terbayang adalah 
pegawainya yang punya anak istri. Kasihan sekali. Tetapi, kalau lihat 
owner-nya, saya gemas sekali. Saya lantas berpikir, kalau saya tidak bertugas 
baik, lembaga yang rugi. Kita harus bisa memisahkan mana pertemanan, mana 
insitusi. Kita sama-sama lembaga, dan lembaga tidak punya perasaan," ujarnya. 

Mengenai soal keseimbangan hidup, Fadjrijah percaya hal itu dapat diraih semua 
orang dengan kerja keras. Tetapi, secara pribadi, ia berprinsip teguh. Ada 
karier dan rumah tangga yang dapat dijalankan bersama-sama. 

"Saya bukan wanita karier, tapi ibu rumah tangga yang bekerja. Dua-duanya saya 
kerjakan serius. Saya ingin balance hidup di dunia dan bekal di akhirat. Saya 
berusaha menyeimbangkan keduanya. Di rumah, saya kental dengan agama. Dari dulu 
orang tahu, saya seperti ini. Saya hanya ingin balance dunia-akhirat, rumah 
tangga-karier," Fadjrijah menambahkannya dengan yakin. 


Pembaruan/Unggul Wirawan 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 26/4/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke