http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/27/utama/1714369.htm


Sim Salabim Ekonomi Petani 


LIMA ditambah lima dalam hitungan paling sederhana hasilnya 10. Akan tetapi, 
dalam hitungan banyak petani, hasilnya bisa minus. Dengan hitungan seperti itu, 
hanya sedikit keluarga petani bisa bertahan tak hanya supaya dapurnya berasap, 
tak hanya supaya anak-anaknya memenuhi standar baca-tulis kalau disekolahkan.

JANGANKAN petani maro kayak saya, petani pemilik tanah pun susah hidup," kata 
Ja'far Shodik (43) dari Kampung Cimerta, Desa Pejaten, Kecamatan Cibuaya, 
sekitar 28 kilometer ke arah utara dari pusat kota Karawang. Di kampung itu, 
kata Kepala Dusun M Saleh, hanya 10 orang dari 174 kepala keluarga yang 
memiliki sawah sendiri dengan luas keseluruhan 15 hektar.

Selain maro, pilihan lain di sektor pertanian di desa itu adalah menyewa tanah 
untuk digarap dan menjadi buruh tani dari desa satu ke desa lain, berebut upah 
Rp 6.000-Rp 7.000 per hari. Kata Dedi Mulyadi Salaf (37), petani pemilik 0,3 
hektar sawah yang mengorganisasikan komunitas petani di daerah tersebut, hanya 
yang dapat "kontrak" dengan penggarap bisa dipekerjakan.

Ketika ditemui siang itu Ja'far baru selesai menyemprot sawahnya seluas 0,4 
hektar. "Ini yang kelima. Masih satu- dua kali lagi," katanya. Sekali 
menyemprot, biayanya Rp 100.000. Hama ulat penggerek batang padi banyak 
menyerang tanaman padi di situ, membuat hasil panen turun, dari tujuh ton 
menjadi lima ton per hektar.

Sistem maro mengharuskan Ja'far menyediakan benih, pestisida, dan pupuk 
sendiri. Ongkos produksinya Rp 2,5 juta per hektar karena semuanya harus 
dibeli. "Dulu ari benihna punya sendiri, pupukna kandang, teu semahal itu," 
kata Wirja (50-an), petani penyewa tanah dari Desa Kertamulya, Kampung 
Sukmajaya, Kecamatan Pedes, sekitar 25 kilometer ke arah utara dari kota 
Karawang.

Dalam hitungan Pak Sarjiyo (37), petani maro 0,3 hektar yang juga aktivis tani 
dari Desa Karangwuni, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, dalam 
ongkos produksi itu tidak ada hitungan upah tenaga kerja (dirinya sendiri).

Bila satu hektar sawah menghasilkan lima ton gabah kering dan harga gabah-kata 
Ja'far-rata-rata Rp 1.100 per kilogram, akan diperoleh pendapatan kotor sekitar 
Rp 5,5 juta per hektar atau Rp 2,2 juta untuk 0,4 hektar. Dikurangi ongkos 
produksi Rp 1 juta untuk 0,4 hektar, maka penghasilan bersihnya Rp 1,2 juta, 
atau Rp 600.000 (per pihak)- karena ia maro. Itulah biaya hidup keluarga dengan 
dua anak dan satu cucu selama 3,5 bulan. "Kalau punya utang bisa malah minus," 
kata Ja'far.

Menurut Dedi, kalau pemaro tidak punya modal, mereka bisa pinjam ke pemilik 
sawah. "Bunganya rata-rata 30 persen dalam semusim," kata Ja'far menambahkan. 
Pendapatan bersih Sarjiyo Rp 500.000 untuk hidup tiga bulan atau sekitar Rp 
5.500 per hari.

PENGHASILAN Pak Wirja sedikit lebih besar karena bersama tiga kepala keluarga 
sanaknya dengan 10 anggota keluarga menyewa delapan hektar sawah dari 
pemiliknya, orang Tasikmalaya. Sewanya dua ton gabah per hektar saat panen atau 
Rp 2 juta bayar di muka. "Dapet bersihnya Rp 700.000 per bulan per keluarga," 
kata Wirja. Dengan tanah garapan lebih luas, penghasilannya agak lumayan meski 
pas-pasan untuk hidup dengan tiga anak.

Karena itu, Wirja memelihara bebek, entok, dan kambing, yang membuat 
penghasilannya mencapai Rp 1,2 juta per bulan. Sarjiyo menanam cabai, pisang, 
kacang panjang, punya 20 ayam kampung yang telurnya dikonsumsi sendiri atau 
dijual, serta dua kambing. Penghasilan seluruhnya Rp 600.000 per bulan. Ja'far 
membuka warung kecil, menambah penghasilan bersih Rp 10.000 per hari.

Jumlah petani seperti Ja'far, Sarjiyo, dan Wirja, menurut Francis Wahono dari 
Cindelaras, organisasi nonpemerintah yang bekerja bersama petani di Yogyakarta, 
mencapai 60 persen dari jumlah petani di Jawa, yang sekitar 40 juta jiwa.

Kepemilikan tanah rata-rata di Jawa tinggal 0,3 hektar. Penyempitan ini tak 
hanya disebabkan serbuan "pembangunan" yang merampas sedikitnya 3 persen dari 
luas sawah di Jawa 3,34 juta hektar (BPS, 2000) untuk pembangunan pabrik 
industri, perumahan, jalan, dan lain-lain, tetapi juga akibat sistem pembagian 
warisan yang membuat kepemilikan tanah semakin sempit sehingga produktivitasnya 
menurun.

Para ahli menghitung, setiap petani membutuhkan sedikitnya dua hektar lahan 
sawah supaya produksinya memenuhi hitungan ekonomi. Padahal, orang yang 
memiliki lahan seluas seperti yang dimiliki Pak Mihar di Kampung Cimerta, di 
Jawa, jumlahnya hanya sekitar tujuh juta.

Untuk mencapai kedaulatan pangan (bukan "ketahanan" pangan), program 
ekstensifikasi dan intensifikasi saja tidak cukup. Kata Wahono, kedaulatan 
pangan berarti kedaulatan sumber daya; tanah, air, tenaga, pupuk, benih, modul, 
yang sudah dihilangkan dari petani. Pada awal pemerintahan Orde Baru, antara 
tahun 1971-1973, harga gabah per kilogram masih setara dengan satu (1) gram 
emas.

Pengurangan subsidi di bidang pertanian di Indonesia merupakan salah satu 
prasyarat dari lembaga-lembaga internasional pemberi utang. Syarat itu 
merupakan bagian rancangan global menuju liberalisasi perdagangan pangan, 
seperti tercantum dalam tiga perjanjian pokok Organisasi Perdagangan Dunia 
(WTO) yang terkait dengan persoalan pangan dan pertanian di negara-negara 
berkembang.

Dengan demikian, terpenuhilah kepentingan korporasi- korporasi multinasional di 
bidang agrokimia, farmasi, bioteknologi, dan eksportir produk pertanian, 
seperti Uni Eropa yang mengalokasikan subsidi 40 miliar dollar AS per tahun. 
Sejak tahun 2002 Amerika Serikat menyubsidi 19 miliar dollar AS untuk petaninya 
atau dua kali dana bantuan internasional. Situasi ini menyebabkan petani di 
berbagai negara menjerit. Ongkos produksi yang sekitar 850 dollar AS per hektar 
di Filipina, misalnya, menyebabkan beras petani tak bisa bersaing dengan beras 
impor berkualitas bagus dan murah harganya.

Akan tetapi, soal-soal besar ini tidak sepenuhnya terkait dengan gizi petani 
yang digolongkan "miskin". Masalah itu lebih banyak terkait dengan budaya, 
kekritisan menyeleksi informasi, dan cara hidup.

Sarjiyo menyatakan, ia berusaha hidup sehat dengan makanan sederhana dan murah 
dari apa yang dihasilkan sendiri. Makanan pokoknya tak hanya beras, tetapi juga 
umbi- umbian. "Anak saya selalu juara di kelasnya," ujarnya tentang anak semata 
wayangnya yang kini duduk di kelas VI SD.

Sementara Pak Wirja menghabiskan tiga pak rokok keretek per hari dan kopi lima 
sampai enam cangkir sehari. Cucunya banyak jajan di luar. Yang balita makan 
bubur bikinan Nestle! (maria hartiningsih)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke