Republika

Senin, 25 April 2005

Menstabilkan Kembali Perekonomian 

Oleh : Umar Juoro 


Dugaan pemerintah dan banyak pihak bahwa stabilitas ekonomi makro, berkaitan 
dengan tingkat inflasi dan suku bunga serta stabilitas nilai rupiah, tidak 
menjadi permasalahan lagi, sehingga fokus perhatian adalah bagaimana 
meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk menyerap tenaga kerja, ternyata tidak 
demikian kejadiannya. Pemerintah sebenarnya menginginkan suku bunga lebih 
rendah lagi dan aliran kredit lebih besar untuk mendorong kegiatan investasi 
bagi pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Namun, pada saat pertumbuhan ekonomi baru mencapai sekitar 5 persen, inflasi 
sudah meningkat lagi menjadi 8,8 persen (tahun per tahunnya), ditambah lagi 
dengan pelemahan nilai rupiah, membuat BI harus menaikkan SBI menjadi 7,7 
persen. Jika kecenderungan SBI terus meningkat, maka perbankan juga akan 
menaikkan suku bunga pinjamannya yang akan menghambat perkembangan ekonomi. 

Tingginya inflasi, jauh lebih tinggi dari perkiraan banyak pihak, terutama 
disumbangkan oleh kenaikan harga BBM. BI dan pemerintah mengharapkan tingkat 
inflasi ini dapat terkendali, sekalipun demikian kemungkinan inflasi akan cukup 
tinggi antara 7,5 dan 8 persen pada akhir tahun, yang berarti lebih tinggi dari 
asumsi pemerintah sebesar 6 persen. Melemahnya nilai rupiah yang mencapai 
sekitar Rp 9.600 per dolar AS karena besarnya permintaan dolar di dalam negeri, 
terutama dari Pertamina untuk mengimpor minyak seiring dengan tingginya harga 
minyak dunia, dan meningkatnya suku bunga di AS. Pelemahan nilai rupiah ini 
juga berkontribusi terhadap peningkatan inflasi, karena besarnya komponen impor 
dari kegiatan produksi dan konsumsi di dalam negeri (pass through).

Sekarang ini terjadi perbedaan persepsi yang cukup besar antara penentu 
kebijaksanaan moneter (BI) dan pelaku pasar (keuangan). Pelaku pasar 
mengharapkan BI akan menaikkan SBI lebih cepat dan lebih tinggi untuk mengatasi 
inflasi dan mencegah berlanjutnya pelemahan nilai rupiah. Dengan bunga deposito 
sebesar 6 persen, dan inflasi sekitar 9 persen, maka bunga riil menjadi -3 
persen. Dengan kata lain tidak menarik memegang rupiah, dan lebih menguntungkan 
memegang dolar. 

Sedangkan BI menganggap inflasi terjadi karena dorongan harga (cost push) bukan 
fenomena moneter, sehingga menaikkan suku bunga bukanlah cara yang efektif. 
Kenaikan suku bunga dilakukan oleh BI secara bertahap dan dalam tingkatan yang 
relatif rendah agar tidak menghambat pencapaian sasaran pertumbuhan ekonomi. 
Sedangkan pelemahan nilai rupiah dipandang oleh BI sebagai gejala sementara. 
Dengan akan masuknya aliran modal ke Indonesia, diharapkan nilai rupiah akan 
menguat kembali. Perbedaan persepsi ini masih tetap besar, bahkan sudah mulai 
banyak yang memperkirakan inflasi akan mencapai 10 persen dan nilai rupiah 
dapat menyentuh Rp 10 ribu per dolarnya. Tentu saja angka ini tampak terlalu 
pesimistis.

Melemahnya stabilitas ekonomi makro belakangan ini menunjukkan bahwa 
perekonomian yang menghadapi banyak permasalahan struktural tidaklah mudah 
untuk didorong pertumbuhannya dengan menggunakan pendekatan konvensional, dalam 
hal ini penurunan suku bunga. Permasalahan utama ekonomi Indonesia adalah bukan 
tingginya suku bunga, tetapi lebih karena tingginya inflasi dan lemahnya 
struktur keuangan perusahaan Indonesia. Dengan inflasi sekitar 9 persen dan 
suku bunga pinjaman sekitar 12 persen, sebenarnya suku bunga riil hanya 3 
persen, sedikit lebih tinggi dari suku bunga di negara tetangga dan cukup 
kompetitif. Namun secara nominal suku bunga dan inflasi di Indonesia jauh lebih 
tinggi daripada di negara tetangga.

Pada umumnya tingginya inflasi di Indonesia disebabkan rendahnya produktivitas 
dan banyaknya biaya tambahan (pungutan) yang tidak terkait langsung dengan 
kegiatan produksi dan distribusi yang menyebabkan tingginya harga. Lemahnya 
struktur keuangan perusahaan di Indonesia sangat nyata ditunjukkan oleh 
minimnya ekuitas dan lemahnya aliran dana (cash flow) yang menyebabkan 
perbankan cenderung menaikkan premi risiko pada saat mengalirkan kredit. Dengan 
kelemahan struktur keuangan demikian maka aliran kredit yang tinggi ke 
perusahaan akan sangat berisiko menimbulkan kredit macet lagi. Kelemahan 
struktur keuangan di perusahaan ini juga menyebabkan sumber keuangan lainnya 
seperti pasar modal dan pasar obligasi tidak terjangkau oleh sebagian besar 
perusahaan.

Tugas dari pemerintah dan dunia usaha adalah mengatasi hambatan struktural 
tersebut, yaitu mengurangi berbagai macam biaya yang tidak relevan, 
meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki struktur keuangan di tingkat 
perusahaan. Sampai langkah tersebut dapat dilakukan dengan berarti, maka selama 
itu pula stabilitas ekonomi makro masih sangat bergantung pada menaikkan suku 
bunga yang berarti akan menghambat perkembangan ekonomi sendiri. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke