http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/29/opini/1717308.htm

 
Rakyat Bukan Keledai! 

Oleh Indra J Piliang

DALAM sejumlah kesempatan sosialisasi pemilihan langsung kepala daerah yang 
penulis lakukan di Pacitan, Serang, Semarang, Jambi, Mataram, Merauke, Palu, 
Solok, dan lainnya, kekhawatiran terbesar publik mengarah kepada ketidaksiapan 
partai- partai politik, pencurian start kampanye, dan money politics.

Masyarakat sudah menginginkan adanya hasil pilkada yang berkualitas meski ada 
sejumlah kekurangan dalam teknis pelaksanaan. Ekspektasi publik yang luar biasa 
itu bisa jadi akan berakhir dengan kekecewaan jika tidak mengikuti dengan rinci 
paradigma baru pemerintahan daerah yang diatur dalam UU No 32/2004.

Salah satu parameter penting dalam penyelenggaraan pilkada adalah seberapa jauh 
masing-masing kandidat dikenali dan mengenali daerahnya. Seorang calon kepala 
daerah bukan hanya dituntut mempunyai perhatian kepada partai politik 
pendukungnya, juga kalangan anggota DPRD yang meloloskannya, tetapi juga 
memiliki minat tinggi terhadap kondisi masyarakat di daerah pemilihannya. 
Rata-rata daerah kaya kelebihan peminat kepala daerah, sementara daerah miskin 
dihindari. Besarnya uang yang harus dibelanjakan dalam pilkada ini, baik untuk 
kegiatan resmi sampai "upeti" terselubung, membuat tiap kandidat berpikir 
berkali-kali sebelum memutuskan maju.

Keruwetan awal banyak dijumpai sejak tiket pencalonan. Tiket ini dipegang 
partai politik. Pesta pora dan panen raya partai politik sudah dimulai dari 
tahap penjaringan calon, baik dilakukan elite politik daerah maupun pusat. 
Terlihat sejumlah partai politik memberi kewenangan besar kepada pimpinan pusat 
untuk memutuskan pasangan calon. Intervensi tidak hanya terjadi dari segi 
penyelenggaraan yang didominasi pemerintah pusat, tetapi juga oleh pimpinan 
partai politik dalam menentukan calon. Daerah sama sekali tidak diberi hak 
otonom untuk menentukan karena desain politik nasional ada di tangan pusat.

Dalam proses pencalonan ini terasa kian pragmatisnya partai-partai politik. 
Perseteruan politik di tingkat nasional terasa hablur dan lenyap saat kerja 
sama dan koalisi politik ditempuh di tingkat lokal. Gamawan Fauzy dan Marlis 
Rahman, misalnya, didukung sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur 
Sumatera Barat oleh PDIP dan Partai Bulan Bintang. Sementara Zulkifly Nurdin 
dan Antony Zeidra Abidin didukung koalisi PAN dan Partai Golkar sebagai 
pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jambi.

DINAMIKA politik jangka panjang tentu akan berubah. Kepala-kepala daerah 
beserta wakilnya akan berasal dari banyak partai, termasuk dari kalangan 
populer yang diusung oleh beragam partai politik yang berseteru di Senayan. 
Kesulitan akan terasa ketika tiap kepala daerah dituntut komitmen dan 
loyalitasnya kepada partai politik pendukungnya jika terjadi kampanye menjelang 
Pemilu 2009 atau saat krisis melanda pemerintahan, disertai konflik politik 
baru. Dengan identitas dan afiliasi kepartaian yang berbeda ini, aneka 
kebijakan publik akan berlangsung lamban karena negosiasi politik akan alot.

Indonesia sedang di ambang pemerintahan demokratis, bahkan ultraliberal, dalam 
beberapa bulan ke depan. Namun, pertanyaan kunci yang harus dijawab adalah 
apakah sistem yang demokratis itu justru mengarah kepada efisiensi dan 
efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. Jangan-jangan, publik hanya melongo 
saat terjadi saling lempar tanggung-jawab di antara pemerintahan di level 
eksekutif, yakni eksekutif pusat dengan eksekutif daerah, saat masyarakat 
menanyakan hak-hak konstitusional mereka sebagai warga negara. Legitimasi yang 
makin kuat lewat pilkada akan menyebabkan eksekutif daerah merasa mempunyai 
power lebih ketimbang eksekutif sebelumnya yang dipilih oleh DPRD. Akan tetapi, 
dalam sistem negara kesatuan yang kita anut, eksekutif daerah hanyalah anak 
cabang dari eksekutif pusat. Tidak mungkin kekuasaan seorang bupati atau 
gubernur akan melebihi kekuasaan seorang presiden.

Sehingga, siapa pun yang menjadi kepala daerah nantinya harus bersiap-siap 
menghadapi empat bentuk tekanan. Pertama, tekanan dari pemerintah pusat yang 
menjadikan pemerintah daerah sebagai bawahan. Kedua, tekanan dari pimpinan 
partai-partai politik, baik di level nasional atau lokal. Ketiga, tekanan dari 
kalangan anggota DPRD yang melakukan fungsinya sebagai legislatif daerah. 
Keempat, tekanan dari konstituen yang ingin langsung merasakan perubahan sesuai 
isi kampanye masing-masing calon kepala daerah. Apabila pemerintah pusat masih 
sulit dijangkau, dan bisa berlindung di balik persoalan yang menumpuk, 
pemerintahan daerah langsung berhadapan dengan konstituen politik yang kian 
sadar akan hak-haknya.

MUMPUNG penyelesaian aneka masalah ekonomi belum mengalami perbaikan, 
pelaksanaan pilkada akan menambah panjang napas politik pemerintahan pusat. 
Masyarakat akan terninabobokan dengan persoalan-persoalan politik paling nyata 
di tingkat lokal. Pilkada yang bukan pemilu, sehingga bisa dikatakan hanya 
bagian dari kebaikan dan pertolongan rakyat terhadap proses pemilihan kepala 
daerah dengan meminjam Komisi Pemilihan Umum daerah sebagai penyelenggara, 
dipastikan memberi hiburan politik berikutnya bagi rakyat.

Namun, terlepas dari perdebatan teoretis soal pemilu dan sistem demokrasi yang 
kita anut, satu hal yang pasti terjadi adalah pencerdasan politik rakyat terus- 
menerus mengalami kemajuan. Sejumlah petani, nelayan, atau orang-orang yang 
hanya bisa mendapatkan berita dari radio yang mengikuti dialog interaktif 
bersama kami di sejumlah daerah itu, untuk pertama kali ikut memikirkan 
nasibnya lewat pilkada. Jikalau Pemilu 2004 hanya diikuti secara sekelebat, 
lewat panggung hiburan dan pembagian kaus, pilkada ini mendapatkan perhatian 
yang khusus. Rakyat yang makin terdidik dan mengerti hak-haknya sebagai warga 
negara, minimal sebanyak 45 butir yang diberikan oleh UUD, adalah modal besar 
untuk kemajuan bangsa ini.

Efek sampingan yang seperti itu kurang diperhitungkan oleh elite-elite yang 
masih berpikir dalam paradigma lama. Seorang nenek tua di Kabupaten Agam dengan 
bijak mengatakan kepada penulis, "Kami tidak ingin kehilangan tongkat kedua 
kalinya dalam pilkada ini!" Ungkapan itu menunjukkan nada skeptis atas 
keberadaan pemimpin formal pemerintahan dan politik yang selama ini jarang 
memerhatikan nasib publik yang dipungut suara mereka satu demi satu.

Kita berharap, dengan pilkada yang bukan pemilu ini, kehidupan demokrasi kian 
tumbuh. Minimal, dengan demokrasi publik tidak lagi menjadi lapar dan 
kelaparan, apabila pemimpin yang mereka pilih betul-betul memerhatikan nasib 
kesejahteraan umum dan keadilan sosial dalam bingkai humanisme universal. 
Alangkah bodohnya bangsa ini apabila dengan biaya yang begitu besar dengan 
penyelenggaraan pilkada justru hanya menghasilkan para pemimpin yang sibuk 
mengukur dasi dan jas dengan menggunakan anggaran publik. Kita tentu bukan 
keledai!

Indra J Piliang Analis Politik CSIS, Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke