http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/5/19/o1.htm


Tujuh Tahun setelah 1998 

PADA 21 Mei nanti, tidak terasa tujuh tahun sudah lambang supremasi Orde Baru 
jatuh. Saat itu Soeharto di hadapan para petinggi negara di Istana Negara 
mengatakan dirinya berhenti sebagai Presiden Indonesia tahun 1998. Ia tidak 
mampu menahan laju demonstrasi mahasiswa besar-besaran yang berhari-hari 
terjadi selama bulan Mei itu.

Tetapi, cita-cita demokrasi dalam sistem kenegaraan Indonesia tampaknya masih 
menemui tantangan yang berat. Malah  keinginan lanjutan dari penerapan 
demokrasi itu, boleh dikatakan tidak berhasil. Di bidang sosial ekonomi, 
tingkat kesejahteraan dan kesehatan masyarakat masih belum  beranjak, keamanan 
juga belum begitu terjamin. Secara politis, praktik kekuasaan cenderung tetap 
meniru pola lama. Siapa yang mempunyai "otot" kuat, siapa yang tebal muka dan 
siapa yang dekat dengan kekuasaan, dialah yang berhasil menentukan kebijakan 
publik. Waktu tujuh tahun itu, kelihatannya terlalu lama bagi Indonesia yang 
masih juga belum mampu bangkit dari krisis politik-ekonomi, terutama apabila 
dibandingkan dengan negara lain, katakanlah dengan Malaysia yang sama-sama 
ambruk tahun 1998.

Secara sosial budaya, ada pandangan menarik yang mengungkap kegagalan Indonesia 
untuk bangkit itu, yaitu masyarakat Indonesia terlalu lama dihinggapi oleh 
mental kebersamaan.  Pandangan ini mengasumsikan bahwa secara sosial masyarakat 
 baru berani bergerak jika itu dilakukan bersama-sama. Mereka takut bertindak 
mandiri karena takut gagal dan dikomentari. Ini yang membuat kemampuan mandiri 
yang sesungguhnya dimiliki menjadi terkubur "hidup-hidup". Akibatnya  negara 
pun menjadi macet.

Bila dirunut ke belakang, sejarah kelihatannya mendukung pendapat ini. 
Kemerdekaan berhasil diproklamasikan karena dilakukan perjuangan bersama-sama. 
Kemudian budaya Indonesia juga mengenal terminologi, gotong-royong yang 
memaknai setiap pekerjaan akan lebih mudah diselesaikan jika dilakukan secara 
bersama-sama. Praktik politik kita juga menekankan pada etos kesamaan, seperti 
terlihat dalam demokrasi terpimpin di masa Orde Lama, demokrasi Pancasila di 
zaman Orde Baru. Upaya indoktrinasi seperti Penataran P4, Bapak Pembangunan 
atau bahkan penerapan pakaian seragam di segala sektor (termasuk pakaian adat), 
bisa dimaknai sebagai upaya paksa penyamaan sikap dan dengan demikian   
pendangkalan pemikiran karena tidak memberi ruang gerak kepada sebuah 
pencerahan baru.

Bentuk mental "berkesamaan" inilah yang kemudian  mendominasi ranah masyarakat 
Indonesia ketika Orde Baru tumbang, baik di bidang politik, sosial, ekonomi, 
budaya dan sebagainya. Kebersamaan sebagai sebuah tindakan kolektif jelas 
mempunyai manfaat besar. Tetapi, makna etos kebersamaan tindak itu, tidak 
selalu positif dalam praktik. Bersama membela negara, tentu positif tetapi 
bersama dalam melakukan  korupsi jelas negatif.

Pada masa reformasi, nilai-nilai kebersamaan itu bercampur baur dengan perilaku 
latah (sikap dan tindakan meniru) tanpa ada medium yang berupaya menjelaskan. 
Kesulitan ekonomi dan lapangan pekerjaan membuat simbiosis antara sikap 
kebersamaan dengan latah itu berbaur.

Karena itu, ketika ada kebebasan membentuk partai politik, fenomena yang muncul 
adalah kesamaan dan kelatahan  mendirikan partai politik. Tahun 1999 terbentuk 
148 partai politik sebelum kemudian dipangkas menjadi 48. Pada saat  Lembaga 
Swadaya Masyarakat mempunyai kebebasan bergerak di Indonesia, muncullah 
kemudian puluhan LSM dengan ratusan cabangnya di berbagai propinsi. Korupsi 
yang melanda berbagai lembaga keuangan negara saat ini bisa dilihat dari 
konteks kebersamaan dan kelatahan itu, termasuk korupsi di Komisi Pemilihan 
Umum. Dalam skala daerah, ritual penjualan tanah, ritual penyewaan balai banjar 
di Bali, tidak bisa dilepaskan dari budaya kelatahan tersebut.

Reformasi Indonesia berhasil membentuk struktur negara demokrasi. Pembaruan 
konstitusi yang memunculkan berbagai lembaga baru penopang demokrasi (seperti 
Mahkamah Konstitusi), adalah bukti keberhasilan tersebut. Tetapi, reformasi 
kita gagal merombak mental budaya masyarakat. Padahal, tujuan demokrasi bukan 
sekadar pembentukan struktur-struktur baru tersebut. Struktur ini dibentuk 
sebagai instrumen pembantu untuk menciptakan masyarakat yang lebih makmur, 
lebih berkesadaran, dan lebih berkeadilan. Mencapai masyarakat seperti ini 
mesti juga dibarengi dengan  perombakan mental budaya yang selalu menampilkan 
kesamaan dan kelatahan itu.

Di sinilah diperlukan keberanian bersikap untuk tampil beda, memberikan 
kesempatan kepada kreativitas individual itu muncul karena setiap individu 
mempunyai kelebihan tersendiri. Masa reformasi harus mengagungkan mental  
seperti ini. Satu media yang diperlukan untuk menciptakan itu adalah "struktur 
tengah" yang bisa memelopori pembaruan budaya. Itu sesungguhnya cukup tersedia 
di Indonesia.  Seorang bupati, mestinya secara sukarela mundur dari pencalonan 
kembali dan beraktivitas di sektor lain demi memberikan contoh kepada generasi 
lainnya. Masyarakat tidak perlu memaksa diri menjadi seorang pegawai dan 
harusnya berkreasi dengan keterampilan yang dimiliki.

Seorang politisi senior tidak perlu ngotot duduk di jajaran partai. Jika sudah 
diinginkan mundur, sebaiknya mundur dan pilih peran lain.

Mudah-mudahan tindakan Amien Rais yang kembali menjadi dosen dan Akbar Tandjung 
yang mendirikan lembaga kajian politik, mampu memberikan inspirasi pembaruan di 
jalan reformasi ini.  


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Does he tell you he loves you when he's hitting you?
Abuse. Narrated by Halle Berry.
http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke