http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/21/opini/1763999.htm

 TAJUK RENCANA 

Kongres Partai Demokrat di Panggung Tinggi

KONGRES Partai Demokrat dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari 
Jumat kemarin di Bali. Kongres itu menarik perhatian karena, sebagai partai, ia 
fenomenal.

Partai baru, kecil, dan belum dikenal luas, tetapi calonnya, Susilo Bambang 
Yudhoyono, memenangi pemilihan presiden tahun 2004. Pemilihan itu pemilihan 
presiden secara langsung untuk pertama kali.

Kecuali peranan Partai Demokrat, ada faktor lain yang menyebabkan kemenangan 
calon presiden dari Partai Demokrat. Yakni faktor sistem pemilihan langsung dan 
maraknya peranan media massa, khususnya televisi.

PEMILIHAN langsung menempatkan sang calon bertatap langsung dengan rakyat 
pemilih. Hubungan langsung antara kandidat dan rakyat sangat dibantu oleh 
panggung dan jaringan media massa.

Lewat panggung televisi, rakyat pemilih secara serentak dan terus-menerus 
melihat sang kandidat, menatap, berinteraksi, dan mengenal.

Secara kebetulan, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon memiliki wajah, sosok, 
gerak, warna suara yang mendukung pembentukan citra, image, di atas panggung 
media.

Sementara itu, kondisi psikologis politik rakyat pemilih pun mendambakan 
perbaikan lewat perubahan. Dalam pemilihan umum, apalagi pemilu langsung, 
perubahan adalah pergantian.

Di samping image, citra, yang positif untuk panggung media, pandangan dan sosok 
kepribadian Susilo Bambang Yudhoyono yang tenang, teratur tutur katanya, ikut 
membangkitkan kepercayaan.

DALAM pemilu langsung itu, calon Partai Demokrat tumbuh menjadi calon publik di 
luar partai. Tentu saja Partai Demokrat adalah yang pertama mengangkatnya ke 
atas panggung dan yang mengusungnya. Namun, pemilih tidak hanya datang dari 
lingkungan partai, tetapi juga massa di luar partai.

Dengan latar belakang itu, tantangan dan kesempatan apa yang sebaiknya 
dicermati oleh Kongres Partai Demokrat di Bali?

Perlu merumuskan kembali visi, misi, dan orientasi partai yang sejauh mungkin 
membuat para pemilih Susilo Bambang Yudhoyono bertahan, betah, mendukung, dan 
berpartisipasi.

Apakah misalnya? Penyegaran faham kemanusiaan, kebangsaan, dan keadilan sosial. 
Semuanya perlu disampaikan kepada rakyat dan generasi muda dengan memerhatikan 
kondisi sekarang, yakni kondisi keterbukaan, perubahan, serta kebutuhan akan 
pengeratan pedoman dan pegangan.

UPAYA menjaga hubungan dan kontak dengan para pemilih sangatlah penting. Sering 
disinggung, partai dan kaum politisi melakukan kontak dan menyapa rakyat ketika 
pemilu.

Rakyat didekati dan disapa untuk kepentingan mendapat dukungan suara. Setelah 
hiruk-pikuk pesta demokrasi itu berakhir, interaksi antara politisi dan partai 
dengan rakyat pemilih seolah berakhir pula. Rakyat pemilih merasa tidak disapa 
dan didekati lagi. Bahkan terkesan rakyat tidak dipedulikan.

Persoalan ini perlu dikemukakan karena juga menjadi tantangan Partai Demokrat. 
Hubungan yang sudah terbentuk dengan baik pada pemilu lalu perlu dipertahankan 
dan ditingkatkan. Partai Demokrat dan partai-partai lain mempunyai tanggung 
jawab melakukan pendidikan politik sebagai bagian dari upaya mematangkan 
kehidupan demokrasi.

ADALAH benar dan tepat hadirnya kesadaran sejarah dan warisan masa lampau. 
Namun, kesadaran sejarah dan warisan itu diambil jiwa, semangat, dan apinya 
untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya dalam menjawab tantangan dan perubahan yang 
kita hadapi.

Pembangunan karakter dan kultur bangsa yang harus mau dan mampu mengembangkan 
ilmu, teknologi, dan industri. Yang semakin siap menghadapi dan memanfaatkan 
globalisasi.

Muncullah dari sana suatu konsekuensi lanjutan, antara lain kebutuhan kehadiran 
pemimpin partai. Pimpinan partai yang mampu memahami dan menangkap perubahan 
zaman berikut tantangan dan kesempatannya.

Perkembangan, perubahan, dan inspirasi yang harus ditangkap terutama yang 
langsung mengekspresikan hasrat dan harapan rakyat.

Oleh sirkumstansi, keterbatasan dan intensitas waktu ketika Partai Demokrat 
didirikan, segala sesuatu berpusat pada Susilo Bambang Yudhoyono itu sendiri.

Figur-figur lain dalam kepemimpinan partai tidak tampak dan belum sempat 
tampak. Hal itu diperkuat oleh kultur kepartaian di Indonesia yang tetap masih 
mengacu kepada pimpinan yang adalah sosok figur.

MASUK akal jika dalam Partai Demokrat, figur sentral pun masih berlaku, dan 
figur itu ialah Susilo Bambang Yudhoyono.

Karena SBY menjabat presiden, lebih membuka edukasi dan pencerahan, jika 
kepemimpinan dalam struktur kepengurusan harian diserahkan kepada orang lain.

Hampir semua kongres atau semua muktamar partai dalam periode sekarang ini 
ricuh, kacau, dan pecah. Pecah dalam proses kongresnya dan pecah dalam hasil 
kepengurusan yang baru.

Jika dalam Kongres Partai Demokrat segala sesuatu berlangsung demokratis, hal 
itu merupakan suatu prestasi.

Secara demokratis artinya setiap peserta dihormati hak dan kewajibannya sesuai 
dengan aturan yang disepakati bersama. Karena itu, kongres diharapkan 
berlangsung damai. Pemilihan kepengurusan dilakukan sesuai dengan pertimbangan 
akal sehat dan suara hati nurani.

PP Standar Nasional Pendidikan yang Diributkan Itu

MENTERI Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dan aparatnya boleh gembira. 
Beberapa hari menjelang ujian akhir nasional SLTA tanggal 30-31 Mei, Presiden 
menandatangani Peraturan Pemerintah Standar Nasional Pendidikan. Itulah 
peraturan resmi yang mengesahkan pelaksanaan ujian akhir nasional SLTP dan SLTA.

Sebaliknya kalangan pemerhati dan peminat masalah pendidikan kecewa. Pelaksana 
kegiatan pendidikan, aparat diknas, orangtua, guru, dan murid bingung.

Kekecewaan dan kebingungan dipicu oleh beberapa hal, di antaranya dari segi 
materi Peraturan Pemerintah Standar Nasional Pendidikan (PP SNP). Ada beberapa 
pasal PP bertentangan dengan pasal-pasal dalam Undang-Undang tentang Sistem 
Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 2 Tahun 2000. Di antaranya Pasal 76 
Ayat 3 PP menegaskan Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai penyelenggara 
ujian nasional. Padahal, Pasal 35 UU Sisdiknas menyebutkan ujian nasional 
diselenggarakan sebuah badan standardisasi.

Kebingungan bertambah lagi dalam soal mengartikan independensi atau kemandirian 
Badan Standar Nasional seperti yang disebut Pasal 58 PP. Menurut menteri, 
seperti dikutip Sekjen Depdiknas Dodi Nandika (Kompas, 20/5), independensi itu 
dalam konteks akademik. Proses pemilihan dan perihal administrasi kegiatan 
tidak terlepas dari kewenangan Mendiknas.

Posisi 15 anggota Badan Standar Nasional dipersoalkan. Di antaranya ada yang 
memperkirakan sulit bagi mereka menjadi mitra. Badan ini hanya akan mengambil 
alih kewenangan yang sudah ada dalam badan lain.

Pendek kata-pokoknya-paradigma baru birokrat pendidikan saat ini jalan terus. 
Sebaliknya tidak bisa dianggap remeh ancaman LSM-LSM. Di antaranya LSM Koalisi 
Pendidikan akan mengajukan uji materiil kalau Depdiknas tidak merevisi PP SNP 
No 19/2005 itu.

KEKECEWAAN dan kebingungan kita tangkap sebagai sikap peduli. Sudah bosan kita 
kemukakan pentingnya pendidikan. Tidak hanya masalah fasilitas, katakan 
realisasi anggaran minimal 20 persen, tetapi penyediaan gedung sekolah sebagai 
sarana paling sederhana pun tidak memperoleh perhatian.

Ambruknya gedung-gedung sekolah pernah disampaikan media secara massif, tetapi 
tidak juga membuat aparat pemerintah tergerak. Sikapnya terkesan bergeming 
dengan keyakinan menang sendiri, sikap yang bertentangan dengan jati diri 
kegiatan pendidikan yang liberatif terbuka.

Mengenai PP, jauh sebelum diajukan sudah ada persoalan dengan isi. Kehadirannya 
berbarengan dengan kehadiran Rancangan Strategis Depdiknas 2005-2009. Keduanya, 
dari segi materi sudah bermasalah. Menyangkut Rencana Strategis, sudah 
dipermasalahkan pola pengembangan pendidikan dua jalur: jalur untuk yang kuat 
secara akademis dan materi, dan jalur mereka yang lemah dan miskin.

PP sebagai turunan UU dan terjemahan dari rencana strategis praktis menjadi 
masalah, termasuk ujian nasional dengan standar 4,26 untuk kelas III SLTA tahun 
ajaran 2004/2005.

ADALAH hak pemerintah memberlakukan peraturan yang dibuatnya, tetapi adalah hak 
masyarakat pula untuk ikut serta memperbaiki peraturan sebelum diterapkan.

RUU Sisdiknas yang berlarut-larut dipersoalkan akhirnya disetujui sebagai UU. 
RPP Badan Standar Nasional Pendidikan akhirnya diparaf. Pro-kontra UAN, dua 
kali- Juni dan Oktober-yang dipersoalkan juga "jalan terus". Upaya wakil-wakil 
rakyat sudah maksimal, lewat DPR maupun lembaga advokasi masyarakat sudah 
maksimal.

Dalam situasi sebagian besar masyarakat mempersoalkan, lewat DPR, apalagi lewat 
saluran masyarakat seperti LSM dan media, seyogianya opini publik diberi 
perhatian. Masyarakat yang sudah pelo-bisu-apatis adalah akibat dari perasaan 
tidak digubrisnya pendapat.

Maka yang diperlukan adalah semangat terbuka. Terbuka terhadap masukan, terbuka 
sebagai bagian inheren sikap aparat pendidikan, sekaligus jati diri sebuah 
kegiatan pendidikan, termasuk misalnya menyangkut masalah kontradiksi PP SNP 
dan UU Sisdiknas.

Apa yang diinginkan masyarakat sebaiknya ditanggapi dengan sikap terbuka, 
dengan tetap kritis atas keinginan-keinginan politis yang terkandung di 
dalamnya. Terlalu riskan dan tidak seimbang kegiatan ini dinodai 
keinginan-keinginan politik praktis.

Keinginan politis kegiatan pendidikan seharusnya dibersihkan dari keinginan 
politik golongan. Teori pendidikan dan praksis pendidikan yang menempatkan 
kemajuan hasil-ingat perguruan tinggi Indonesia tidak termasuk 500 besar di 
dunia-dilepas dari keinginan politik.

REAKSI, protes, tanggapan terhadap kebijakan pemerintah soal pendidikan tidak 
hanya sekarang. Sepanjang sejarah negeri ini, tak satu menteri pendidikan pun 
tidak menuai protes. Akan tetapi protes itu, sekali lagi sebagai bagian dari 
kepedulian masyarakat, ditempatkan sebagai masukan berharga.

Sikap pokoke kita lihat sebagai cara menyikapi yang kurang mendidik, dan 
bertentangan dengan jati diri kegiatan pendidikan yang terbuka. Protes, kritik, 
dan tanggapan mesti ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkaya, dan tidak 
dicurigai sebagai asal beda.

Konkretnya, berikan penjelasan dan lakukan sosialisasi, terutama yang 
menyangkut UU Sisdiknas-yang membingungkan itu! Masyarakat semakin kritis. Oleh 
karena itu, mengadopsi kepedulian mereka, bukankah lebih produktif kalau semua 
disikapi dengan terbuka, landung, tanpa prasangka buruk?


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Dying to be thin?
Anorexia. Narrated by Julianne Moore .
http://us.click.yahoo.com/FLQ_sC/gsnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke