Padang Express

Nasionalisme Dalam Rumah Kaca
*Refleksi Harkitnas Ke-97
Oleh Abdullah Azwar Anas
Oleh admin padek 1
Sabtu, 21-Mei-2005, 11:41:592 klik


Dalam roman sejarahnya, Rumah Kaca (1988), Pramoedya Ananta Toer menggambarkan 
pergulatan kebangkitan nasional kita. Sejak zaman pemerintahan kolonial 
Belanda, gerakan nasionalisme dimasukkan ke dalam rumah kaca. Sebuah kontrol, 
baik melalui militer maupun manipulasi politik, terhadap term nasionalisme 
tersebut. 

Ketika itu, 1912, pohon nasionalisme Indonesia awal tumbuh. Alkisah, lahirlah 
seorang pribumi didikan Barat, Pangemanann, yang dijadikan Belanda sebagai 
aparat elite untuk mengisi birokrasi beamtenstaat. Tugasnya satu, yakni 
mengontrol saudara pribumi: Minke, si pitung-pitung modern yang memberontak dan 
mengobarkan api nasionalisme melalui pembentukan sarikat-sarikat. 

Para sejarahwan pun tahu bahwa tokoh Minke itu tak lain adalah personifikasi 
dari Raden Mas Tirto Adhisoerjo, seorang pelopor nasionalisme terlupakan, yang 
telah mendirikan Sarekat Priyayi, suatu organ gerakan modern yang lebih tua 
daripada Budi Utomo (BU) dan Sarekat Dagang Islam. 

"Rumah Kaca" di sini berarti segala macam gerakan nasional saat itu, mulai 
Sarekat Islam, Budi Utomo, Indische Parti, dan gerakan feminis awal Hindia, 
Sitti Soendari, tak akan lepas dari jerat kontrol pemerintahan kolonial. Selain 
militer, Belanda ternyata mengungkung kesadaran rakyat melalui pembentukan 
kodrat kolonial bahwa rakyat adalah kaum terbelakang, mitos Timur malas, dan 
karena itu harus "dijaga" oleh kekuasaan imperial. 


Rekonstruksi Sejarah 

Apa yang bisa kita dapatkan dari roman sejarah itu? Warning bahwa kebangkitan 
nasional atau nasionalisme itu tidak bebas nilai. Inilah yang mengakibatkan, 
selama Orde Baru, terjadinya manipulasi sejarah yang membuat nasionalisme 
terkungkung dalam "rumah kaca" peringatan-peringatan seremonial dengan cerita 
pengkhianatan politiknya. 

Satu rekonstruksi sejarah yang harus dilakukan adalah soal Budi Utomo sebagai 
pelopor gerakan nasionalisme. Sudah taken for granted bahwa setiap 20 Mei kita 
menjadikan kelahiran BU (20 Mei 1908) sebagai pemicu kebangkitan nasional. 

Padahal, jika kita melihat paradigma serta jangkauan gerakan, BU dilahirkan 
para priyayi Jawa jebolan sekolah elite Belanda seperti STOVIA (sekolah dokter 
Jawa), OSVIA, Sekolah Pertanian, dan Sekolah Guru. 
Elitisme itulah yang mengakibatkan konflik internal. 

Sehingga, seorang priyayi radikal, Dr Cipto Mangunkusumo, mengundurkan diri 
dari BU karena tokoh-tokoh semacam Dr Wahidin Sudirohusodo tetap mengungkung BU 
ke dalam Jawanisme, priyayiisme, dan tidak mau keluar pada lintasan gerakan 
yang lebih nasional serta populis. Menurut Dr Hj Nina Lubis, hingga BU bubar 
(1935), organisasi priyayi tersebut malah lebih cenderung menjadi partai resmi 
pemerintah kolonial. 

Hal itu berarti perujukan BU sebagai pelopor kebangkitan nasional ternyata 
tidak lepas dari proyek hegemoni Jawa. Padahal, para sejarawan melihat, ketika 
orang Jawa dan Sunda sudah dijajah Belanda, pada 1907, Aceh, Sulawesi Selatan, 
Bali, bahkan Nusa Tenggara masih menjadi kerajaan merdeka. 

Akibatnya, proyek nasionalisme melahirkan gerakan separatis. Sebab, yang 
dinamakan loyalitas kepada bangsa adalah melalui penyatuan wilayah, kultur, 
ideologi, kekayaan alam, dan SDM yang berbeda-beda ke dalam Negara Kesatuan 
Republik Indonesia yang notabene dikuasai rezim Jawa (Jakarta). Sehingga, 
terjadilah yang diramalkan Bung Hatta bahwa "persatoean nasional" melahirkan 
etno-nasionalisme atau new tribalism. 

Pudarnya Nasionalisme 

Masih meyakinkankah nasionalisme kini? Pertanyaan tersebut sering menjadi 
sinisme ketika melihat berbagai penyimpangan kehidupan berbangsa. Gelombang 
kebangkitan nasional awal melahirkan BU, Sumpah Pemuda (1928), dan Proklamasi 
Kemerdekaan 1945. 

Demikian juga dengan momen pelengseran rezim totaliter Orde Lama (1966) hingga 
peruntuhan Soeharto pada 20 Mei 1998. Karena itu, masih ampuhkah nasionalisme 
pada era pascareformasi ini? 

Setidaknya ada beberapa masalah di sini. Pertama, pudarnya nasionalisme 
kebangsaan. Ketika Sumpah Pemuda, nasionalisme mempersatukan berbagai gerakan 
etnis ke dalam kesatuan perjuangan bangsa. 

Tapi, pasca kemerdekaan, terjadi monopoli kekuasaan yang mengakibatkan 
terlukanya hati berbagai komponen perjuangan tersebut. Era Seokarno dan 
Soeharto menjadi momen pemberangusan berbagai ideologi Islam dan komunisme 
sebagai lawan politiknya. 

Juga, ketidakadilan antara pusat dan daerah yang hingga sekarang belum 
terpenuhi, meski otonomi daerah sudah dicanangkan. Banyak wilayah yang ingin 
lepas dari kebangsaan Indonesia karena merasa dijadikan "sapi perahan" oleh 
negara pusat. 

Kedua, pudarnya nasionalisme politik. Pada masa transisi demokrasi, negara 
sudah tidak otoriter. Bahkan, semua pihak kini bisa berkompetisi untuk 
menduduki parlemen dan eksekutif. Sayangnya, hal itu malah melahirkan 
pragmatisme politik. 

Sangat jarang kita menemukan partai seidealis Sarekat Islam, PNI, Partai 
Sosialis Indonesia, dst. Sangat jarang kita menemukan perbedatan tentang 
nasionalisme layaknya adu konsep antara Tjipto Mangunkoesoemo versus Soetatmo 
Soerjokoesoemo yang membenturkan format nasionalisme Jawa dengan nasionalisme 
Hindia di Volksraad 1918. 

Para pemimpin kita hanya sibuk berkonflik dalam kongres partai, pencalonan 
kepala daerah, dan korupsi. Kasus korupsi oleh KPU membuktikan bahwa lembaga 
civil society pun ternyata sudah kehilangan kenegarawanannya. 

Ketiga, pudarnya nasionalisme ekonomi. Hal itu terjadi sejak Soeharto 
menerapkan ideologi pembangunanisme yang lebih berorientasi pada ekonomi 
kapitalis. Akibatnya, nasionalisme yang pada era Soekarno dijadikan api 
perlawanan dari negara Asia Afrika kepada kapitalisme global (KAA 1961) telah 
terhapus. 

Indonesia sejak Soeharto hingga sekarang menganut kebijakan ekonomi-politik 
yang propasar bebas. Sebuah format baru kolonialisme yang meruntuhkan 
batas-batas kebangsaan. Penyunatan subsidi BBM yang menjadi langganan setiap 
presiden merupakan bukti pudarnya nasionalisme negara karena tidak lagi 
berpihak pada kepentingan kerakyatan, tetapi pada donatur global. 

Akhirnya, berbicara soal kebangkitan nasional, yang kita perlukan adalah 
kembali kepada spirit perjuangan nasionalisme. Sayangnya, kaum kolonial saat 
ini bukan lagi sebatas wong Londo, tetapi proses kekuasaan yang korup. Itu bisa 
dari negara, partai politik, kepala daerah, hingga masyarakat. 

*Penulis adalah pengamat sosial dan anggota DPR RI. 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke