Dear All
Setuju dengan pendapat mas Samsul. Maaf bukan maksud menggurui, namun patut 
juga untuk direnungkan. Kadang kita nggak setuju dengan suatu organisasi dan 
ide-ide yang diusung dalam kasus ini JIL dan tokohnya.  Namun disadari atau pun 
tidak kita telah mengadopsi pemikiran dan ide-nya secara mentah-mentah. Satu 
hal misalnya, dengan mengatakan jangan membawa penilaian agama saat mengkritisi 
suatu atau segala hal. Itu adalah ciri khas sekularisasi atau liberalisasi 
agama. Untuk kasus JIL tentu pemisahan agama Islam dengan aturannya. 
 
Atau tanpa ba bi bu kita mengomentari sesuatu yang kadang belum tahu 
pasti/yakin sebenarnya dalam hukum agama bagaimana. Jadi mohon  bersama-sama, 
kita  berhati-hati mengomentari sesuatu. Apapun yang kita lakukan suatu saat 
akan dimintai pertanggung jawabannya. Bisa jadi komentar kita yang mungkin 
keliru, kemudian orang mengikutinya. Siapa tahu? Maka kita yang jadi promotor 
dalam kekeliruan itu. Terima kasih.
 
Salam,
 
A. Solikhah

mohdsyissamsul <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
orang kayak ulil nggak perlu ditanggapin apa yang disampaikannya.
tapi yang menjadi masalah nanti kalo pendengar dan pembacanya malah 
terpengaruh khususnya bagi kalangan awam yang kurang memiliki basic 
islam, mereka akan menerima dengan mudahnya karena kelihatan seperti 
masuk akal. 

--- In [email protected], "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Judulnya rada provok yak ...  :))
> Tapi dibaca aja dech bagian bagian selanjutnya.
> 
> salam,
> Ari Condro
> 
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "assyaukanie" <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> Ulil lagi dapat wahyu. Ide-ide brilian terus muncul dari kepalanya. 
> Sebagai seorang sahabat, saya cuma bisa mengamininya. Qad ja'al haq 
> wa zahaqal bathil......
> 
> Luthfi
> -------
> 
> Mengapa Kita Perlu Meniru Barat?
> Oleh Ulil Abshar-Abdalla
> Kolom | 31/05/2005
> 
> Solusi yang harus ditempuh oleh umat Islam sudah dicontohkan oleh 
> Jepang, yaitu meniru Barat, menerapkan rasionalisasi atas 
kehidupan, 
> dan memodernisir teknik; agama sebaiknya ditempatkan 
> dalam "sanctuary" yang namanya ruang privat. Bahwa Barat harus 
ditiru 
> secara kritis itu sudah merupakan kebenaran dalam dirinya 
(truisme). 
> Jepang pun meniru Barat dengan kritis pula.
> 
> Tantangan umat Islam sekarang ini persis seperti yang dihadapi 
Jepang 
> pada abad 18 dulu. Ketika itu, intelektual Jepang dihadapkan pada 
> pilihan yang sulit: apakah menerima dan meniru Barat atau tetap 
> berpegang pada warisan Tokugawa yang menutup diri total dari 
pengaruh 
> asing. Hashim Saleh pernah menulis mengenai hal ini di harian Al 
> Hayat. Jepang menempuh jalur "nekad" yang ternyata benar: tirulah 
> Barat. Sebagian besar intelektual Muslim selama peralihan abad 20 
> mengusulkan opsi serupa, "tirulah Barat, karena di sana terdapat 
hal-
> hal yang menjadi rahasia kemajuan umat manusia." Kalau kita 
> baca "Arabic Thought in Liberal Age" karya Albert Hourani, akan 
> tampak bahwa semangat rasionalisme dan keinginan meniru Barat 
begitu 
> menonjol dalam kesadaran intelektual Islam pada abad 19 dan awal 
abad 
> 20. 
> 
> Arusnya kemudian berbalik pada tahun 70-an, terutama dimulai dari 
> Timur Tengah, yaitu ketika terjadi pengalaman pahit "Perang Tujuh 
> Hari" (dikenal sebagai "an nakbah") di tahun 1967 di mana negara-
> negara Arab kalah perang terhadap Israel. Rezim-rezim otoriter di 
> Timteng yang kebanyakan mendukung opsi "tirulah Barat" gagal 
memenuhi 
> harapan publik, sehingga datanglah kaum Ikhwan dengan jargon besar 
> yang menipu, "Al Islam huwal badil". Semboyan Ikhwan itu memupus 
> warisan penting yang ditinggalkan oleh orang-orang semacam Rifa'ah 
> Tahtawi, yaitu warisan rasionalisme. Dengan semboyan itu, 
dikesankan 
> seolah-olah Islam adalah sistem alternatif yang sama sekali 
bertolak 
> belakang dengan Barat yang --menurut mereka-- "dekaden" secara 
moral. 
> Islam, dengan demikian, ditampilkan sebagai agama yang memusuhi 
hasil-
> hasil penting dari rasionalisme Barat, seperti sistem demokrasi. 
> Mengusulkan Islam sebagai "al badil" adalah kekalahan kedua setelah 
> kekalahan bangsa Arab terhadap Israel.
> 
> Memang problem besar yang dihadapi oleh bangsa Arab adalah warisan 
> institusi negara di sana yang begitu raksasa. Kekuatan-kekuatan 
> alternatif dalam masyarakat sulit berkembang, seluruh potensi ke 
arah 
> pembangkangan diberangus. Hasilnya: negara yang begitu kuat, tetapi 
> sekaligus tak terkontrol. Korban dari "negara kontrol" ini bukan 
saja 
> kaum oposisi sekuler, tetapi lebih-lebih adalah kaum oposisi Islam. 
> Inilah pengalaman pahit yang dialami oleh kaum Islamis di Mesir, Al 
> Jazair, Siria, Irak, dan lebih parah lagi Saudi Arabia. Paradoks di 
> dunia Arab adalah bahwa keinginan untuk meniru Barat dan 
rasionalisme 
> justru diselenggarakan melalui "negara kontrol" yang represif. 
Sudah 
> bisa diduga jika hasil dari semua ini adalah kekecewan besar 
> masyarakat Arab. Kekecewaan itu makin dalam ketika bangsa Arab 
> melihat kenyataan lain, yaitu berdirinya negara Israel. Masalahnya 
> menjadi lebih parah lagi karena berdirinya negara Isreal itu tejadi 
> karena sokongan negeri-negeri Barat terutama AS. Ujung dari semua 
ini 
> sudah bisa diduga: menolak Barat berikut rasionalisme yang 
terkandung 
> di dalamnya. Manakala Barat ditolak, sudah tentu alternatif harus 
> diajukan. Ditemukanlah "lampu Aladin" baru, yaitu Islam. 
> 
> Perkembangan di Arab itu juga mengimbas ke kawasan-kawasan lain. 
> Jargon "Islam adalah solusi" juga kemudian ditiru di mana-mana. 
Lalu 
> muncullah ilusi bahwa Islam akan dapat menjadi sistem alternatif 
yang 
> bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam. 
> Yang patut disayangkan adalah bahwa kata "Islam" dalam jargon itu 
> dimengerti sebagai suatu sistem tertutup yang seolah-olah khas 
> pemberian Tuhan, sudah lengkap dalam dirinya, sudah siap pakai, 
pasti 
> sesuai untuk segala zaman dan tempat. Islam juga dimengerti dalam 
> tafsiran yang justru berlawanan dengan kehendak zaman itu sendiri, 
> bahkan terkesan anti-rasionalisme dan intelektualisme. Saya dapat 
> mengatakan dari sejak mula, proyek "Islam adalah solusi" 
kemungkinan 
> besar akan menemui kegagalan pula. 
> 
> Solusi yang harus ditempuh oleh umat Islam sudah dicontohkan oleh 
> Jepang, yaitu meniru Barat, menerapkan rasionalisasi atas 
kehidupan, 
> dan memodernisir teknik; agama sebaiknya ditempatkan 
> dalam "sanctuary" yang namanya ruang privat. Bahwa Barat harus 
ditiru 
> secara kritis itu sudah merupakan kebenaran dalam dirinya 
(truisme). 
> Jepang pun meniru Barat dengan kritis pula. Apa yang dibutuhkan 
umat 
> Islam sekarang ini adalah melakukan rasionalisasi atas dua bidang 
> sekaligus. Pertama, rasionalisasi atas pengelolaan kehidupan sosial-
> politik. Wujudnya adalah sistem demokrasi dengan seluruh kerangka 
> kelembagaan dan kebudayaan yang ada di dalamnya: partai yang kuat, 
> parlemen yang berwibawa, lembaga peradilan yang independen, pers 
> bebas, masyarakat sipil yang "vibrant", serta kultur sipil yang 
> mapan. Yang kedua, rasionalisasi atas pengelolaan alam. Wujudnya 
> adalah teknologi. Bagi saya, rasionalisasi dalam dua bidang itu 
> sekaligus merupakan hal niscaya kalau umat Islam hendak meraih 
> kemajuan seperti yang diperoleh Barat. Bangsa-bangsa lain di Asia 
> yang sudah mulai "catch up with the wagon" dan mampu meletakkan 
diri 
> sejajar dengan Barat, kurang lebih menempuah jalur semacam itu.
> 
> Sebagian umat Islam ada yang membuat pembedaan antara sistem sosial 
> dan teknik. Dalam lapangan pertama, umat Islam harus menciptakan 
> sistem sosial sendiri yang "asli" Islam, sementara dalam lapangan 
> kedua Barat bolehlah ditiru. Artinya: rasionalisasi dalam sistem 
> sosial tidak dihindari; rasionalisasi hanya dimungkinkan dalam segi 
> teknik. Taqiyyuddin An Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, membedakan 
> antara "madaniyyah" dan "hadlarah". Madaniyyah adalah peradaban 
yang 
> meliputi teknik; hadlarah adalah kerangka normatif dan sistem 
sosial 
> yang mengatur kehidupan masyarakat.. Barat bisa diterima pada 
> level "madaniyyah", bukan pada level "hadlarah". Bagi saya, 
pembedaan 
> semacam ini adalah pembedaan yang kurang perlu. Bagi saya, 
> rasionalisasi justru lebih mendesak dalam bidang pengelolaan 
> kehidupan sosial. Apa gunanya umat Islam menguasai teknik, kemudian 
> teknik itu diterapkan dalam kerangka sistem sosial yang otoriter. 
> Osama bin Laden menguasai teknologi komunikasi Barat yang paling 
> mutakhir, memanfaatkannya, tetapi dia mengajukan visi tentang 
sistem 
> sosial Islam yang sama sekali tidak rasional, yaitu sistem sosial 
> yang eksklusif, anti-demokrasi.
> 
> Saya tidak mempunyai harapan pada dunia Arab. Sistem sosial di sana 
> begitu busuknya, sehingga amat susah membayangkan adanya perubahan 
> dan reformasi dalam waktu dekat. Halangan terbesar kemajuan Islam 
via 
> jalan rasionalisasi di Timur Tengah adalah kekuasaan dua rezim" 
> sekaligus: rezim politik yang bengis, dan rezim agama yang tak 
kalah 
> bengisnya. Kedua rezim itu saling bergandengan tangan dan menolak 
> segala kemungkinan perubahan. Saya mengharapkan "light at the end 
of 
> tunnel" di kawasan Asia Tenggara, dengan tulang punggungnya 
Malaysia 
> dan Indonesia. Jalan kemajuan Islam sudah terang benderang: 
> modernisasi di bidang sistem sosial dan teknik. Kendala utama 
proyek 
> ini adalah ide-ide irrasional semacam negara Islam, sistem Islam, 
dan 
> yang serupa dengan itu. 
> 
> Kembali pada pokok soal: rasionalisasi dan menempuh kemajuan 
seperti 
> yang pernah ditempuh oleh Barat. Itulah kunci kemajuan dunia Islam 
> Melayu. Yang amat saya sayangkan adalah bahwa "anti-Baratisme" 
> sekarang ini berkembang luas, entah yang atas nama anti-
globalisasi, 
> poskolonialisme, dan sebagainya. Teman-teman saya yang sedang getol 
> menggeluti teor-teori baru dalam "Cultural Studies" begitu terlelap 
> dalam keterpukauan atas segala hal yang bersifat lokal dan 
hibridal: 
> hal-hal yang memang menjanjikan eksotisme. Nasihat saya: tundalah 
> dulu kehendak untuk menikmati eksotisme, dan pikirkan nasib jutaan 
> umat Islam di kawasan Melayu yang terpuruk dalam kemunduran, dan 
> karena itu begitu mudah menjadi santapan "ideologis" bagi kaum 
> Jama'ah Islamiyah. Bagi saya, modernisasi di dunia Islam sekarang 
ini 
> belum tuntas. Solusi atas modernisasi yang setengah hati ini sudah 
> tentu bukan kembali kepada agama, tetapi justru dengan cara 
> menyempurnakan tahap-tahap modernisasi yang sudah tertunda 
(Catatan: 
> harap modernisasi di sini dimengerti bukan dalam pengertian "proyek 
> modernisasi" atau "developmentalisme" tahun 60-an yang digalakkan 
> oleh Amerika untuk menghadapi Komunisme; tetapi modernisasi seperti 
> makna asal kata itu: yaitu proses modernisasi kehidupan sosial dan 
> teknik dengan cara rasionalisasi, pengertian yang lebih dominan di 
> Eropa).





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 



"Bangkitnya manusia, karena pemikirannya"
Kebangkitan ialah perpindahan suatu bangsa,negara, umat dan seorang individu 
dari satu keadaan ke arah yang lebih baik



                
---------------------------------
Discover Yahoo!
 Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke