http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=174589
Senin, 06 Juni 2005, Berubah Mainstream Warga Australia tentang Terorisme Bubuk di Kedubes RI di Canberra Pascatragedi bom di Bali 12 Oktober 2004 yang menewaskan 186 jiwa (sebagian besar warga Australia) menjadi periode yang berat bagi warga Indonesia yang tinggal di Australia. Pada waktu itu, penulis sering ditodong pertanyaan yang amat menusuk setiap bertemu orang Aussie, "If you were one of the parents or the relatives, what would you be thinking? Are you still aproud of your country?" (Seandainya Anda salah seorangtua atau keluarga korban (bom Bali), apa yang Anda pikirkan? Apa Anda masih bangga dengan negara Anda?). Apalagi, hari-hari pascaledakan bom itu, kalau membaca koran di negeri asing, rasanya kita makin sedih saja. Ketika Amrozi dipotret dengan bibir penuh senyuman, koran The West Australian menulis: "It's unbelievable. It's beyond comprehension. Is this the face of evil? The simpleton smile appears to mock basic human decency. For the moment, his face become the face of terrorism in our region" (edisi 15/11/2002). Pertanyaan-pertanyaan kian menyudutkan terus dilontarkan kepada WNI ketika terjadi ledakan bom Kuningan, di depan Kedubes Australia 9 September 2004. Pokoknya, sungguh tidak nyaman bagi WNI di Australia jika ada bom meledak di tanah air, apalagi yang terkait dengan kepentingan Australia. Kini setelah ada kiriman bubuk (entah beracun atau tidak) yang meneror Kedubes RI di Canberra seperti diberitakan koran ini (2/6) -headline koran ini sama dengan bunyi headline The West Australian, koran bertiras terbanyak di Australia Barat- penulis balik ganti bertanya kepada teman-teman Australia yang dulu suka memojokkan: "Are you proud of your country?" Mereka hanya tertawa, padahal dulu pertanyaan mereka yang menyudutkan itu kadang sempat menusuk hati siapa pun warga RI di negeri itu. Kejadian di Kedubes kita di Canberra, menurut hemat penulis, justru membawa blessing in disguise tersendiri. Ternyata penulis merasakan ada perubahan sikap yang agak mendasar dari sebagian warga Australia yang patut dicatat dan diketahui di Indonesia. Pertama, dahulu pascabom Bali, sebagian warga Australia suka menggeneralisasi. Islam, misalnya, sering hanya dilihat dengan kacamata hitam sebagai agama teroris. Cuma, untungnya, polisi Australia cukup sigap sehingga tak terjadi, misalnya, sweeping terhadap WNI di negeri itu (lihat opini Isu Sweeping di Australia koran ini 11/9/2004). Kini pandangan yang menilai miring Indonesia dan Islam itu mulai mengecil. Jadi, mainstream warga Australia makin tahu bahwa terorisme juga bisa muncul di negeri mereka sendiri, dengan kasus kiriman bubuk yang menghebohkan itu. Pemerintah Australia juga dari waktu ke waktu kian bijak dalam menyikapi isu terorisme ini. Bahkan, Menlu Australia Alexander Downer sempat menulis juga bahwa memerangi terorisme menuntut pula perlunya memenangi pertempuran ide. Keberhasilan jangka panjang perjuangan melawan radikalisme ditentukan oleh keberhasilan memberdayakan mayoritas umat beragama yang moderat di masyarakat dan kerelaan mereka untuk melakukan kerja sama guna menolak ajaran kebencian dan kekerasan yang menyimpang. Tokoh agama dan masyarakat merupakan bagian penting dari usaha mengembangkan saling pengertian dan kerukunan antarkomunitas (opini Inklusivisme untuk Perdamaian, Alexander Downer, koran ini 4/12/2004). Opini itu ditulis menjelang dialog internasional antaragama dan kerja sama untuk memberantas terorisme di Jogjakarta (6-7 Des 2004). Kedua, kini makin banyak warga Australia yang bersikap proporsional dalam memandang pasang surut hubungan RI-Australia. Memang kasus Schapelle Leigh Corby, warga negara Australia yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan Denpasar, terkesan agak mengganggu. Tetapi, Corby sendiri juga tampak bijak ketika mengatakan bahwa aksi teror di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra tidak membantu proses hukum yang tengah dijalaninya. Bahkan, Corby mengaku, teror itu menyebabkan keadaan yang dialaminya semakin sulit dan rumit. Dengan kata lain, Corby atau banyak orang Ausralia juga tak senang dengan cara-cara teror yang diambil sebagian kecil warga Australia untuk mendesakkan kemauannya kepada pemerintah kita (kedubes kita di Canberra). Akhirnya, hikmah terbesar dari kasus kiriman bubuk di kedubes itu adalah makin tumbuhnya awareness bahwa bagaimanapun RI dan Australia itu sebagai tetangga. Jadi, walaupun hubungan politik dan diplomatik antara Australia dan Indonesia terus mengalami fluktuasi, sesungguhnya kedua bangsa ini memiliki hubungan kekeluargaan, seperti pernah diungkapkan Dr Brandley Amstrong dari Kedubes Australia di Jakarta. Sebagai keluarga bangsa yang mendiami kawasan yang berdekatan, tentu tidak lepas dari masalah atau konflik. Yang terpenting, dalam hal ini, adalah kemauan untuk terus mengedepankan sikap dialog. Sebagai orang yang cinta tanah air, kita tentu marah ketika ada nelayan kita ditangkap atau dipenjara. Bahkan, ada yang meninggal di Darwin. Tetapi, kita tentu tak akan lupa pada jasa-jasa relawan dari Australia sewaktu terjadi bencana tsunami di Aceh. Bahkan, sewaktu hendak membantu korban gempa di Nias, juga ada relawan Australia yang mati dalam kecelakaan helikopter. Kalau kita menerapkan sikap adil dan objektif dalam menyikapi persoalan yang muncul dalam hubungan RI-Australia, hal itu akan menjadi jembatan positif untuk mendekatkan kedua bangsa yang berlatar belakang budaya berbeda ini. * Tomy Su, koordinator Masyarakat Pelangi Pecinta Indonesia, tinggal di Perth +++++ http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=174586 Senin, 06 Juni 2005, Teror terhadap Peradilan Kita Oleh Imam Muhlis * Australia sering menuduh Indonesia sebagai sarang teroris. Bahkan, PM John Howard sering mengeluarkan travel warning bagi warganya yang akan ke Indonesia. Namun ternyata, negeri yang mengklaim sebagai salah satu negara paling "suci" dari terorisme itu sama saja dengan Indonesia yang selalu dituding miring sebagai negara yang sarat ancaman teror serta terorisme. Seperti diberitakan koran ini, Kedubes Indonesia di Canberra menerima kiriman amplop mencurigakan yang diduga berisi serbuk bakteri antraks, Rabu (1/6) pukul 10.30 waktu setempat (pukul 08.30 WIB). Amplop tersebut dikirimkan melalui pos biasa dan ditujukan kepada Dubes Indonesia Imron Cotan. Itu menunjukkan bahwa Australia tak bisa lagi mengaku sebagai negara yang bebas terorisme. Bagi Australia, aksi teror tersebut memberi pukulan ganda. Pertama, dengan aksi teror itu, praktis tidak ada wilayah di dunia ini yang terbebas dari ancaman teror. Sebelumnya, Australia menjadi satu-satunya wilayah yang tidak terganggu masalah teror. Sejak aksi teror merebak di seluruh dunia, terutama setelah teror terhadap Pentagon dan World Trade Center, Australia tidak pernah dihadapkan langsung pada persoalan itu. Kedua, teror dengan bahan biologi, apalagi kalau benar itu bakteri antraks, bahayanya jauh lebih besar. Dugaan sementara, tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang tersebut sebagai akibat ketidakpuasan atas putusan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, yang pekan lalu menjatuhkan vonis 20 tahun penjara kepada Schapelle Leigh Corby, wanita asal Australia yang didakwa menyelundupkan 4,2 mariyuana ke Bali. Pelaku teror jelas terdorong oleh sentimen, perasaan, atau pandangan yang dilihat atas sisi kepentingan sepihak, kepentingan mereka sendiri. Teror yang diarahkan kepada Kedubes RI di Canberra membuktikan bahwa teror bukan merupakan sikap mendasar suatu kelompok, suatu suku, apalagi ajaran atau anjuran suatu agama. Perbuatan teror dapat menghinggapi siapa saja, suku mana saja, tidak bergantung pada asal bangsa dan agama mereka. Jadi, tak ada alasan menuding bahwa suatu agama tertentu harus selalu diwaspadai dengan alasan mereka memiliki sikap jahat, perusak, atau selalu memiliki sikap bermusuhan terhadap negara atau bangsa tertentu. Teror dapat lahir dan muncul pada diri siapa saja serta hanya berdasar alasan kecil, seperti ketidakpuasan terhadap pihak tertentu. Sasaran teror itu pun tak selalu orang asing dan masyarakat agama tertentu. Salah satu contohnya, teror bom di Tentena, Poso, Sulteng, baru-baru ini yang seluruh korbannya justru merupakan masyarakat Indonesia. Jadi, terkait dengan ancaman yang diterima Kedubes RI di Australia, itu dapat diartikan teror terhadap negara dan seluruh bangsa Indonesia, terutama terhadap sistem peradilan kita yang dianggap rendah karena banyak praktik korup di dalamnya, termasuk bisa diintervensi kekuasaan lain. Karena itu, sepantasnya pemerintah Indonesia menuntut pemerintah Australia untuk segera menangkap pelaku aksi terorisme tersebut. Indonesia tak perlu sungkan, tak harus merasa kecil. Sebab, semua bangsa dan negara di dunia ini memang selayaknya melawan terorisme, bersama-sama menentang pelaku kekerasan di muka bumi. Di mana pun atau di negara mana pun, terorisme harus dilawan karena aksi-aksi terorisme itu sebagai extra-ordinary crime (kejahatan luar biasa). Tak ada alasan yang bisa dijadikan pembenar bahwa teroris dapat dilindungi. Apalagi, tindakan teror tersebut dilakukan dengan alasan pihak pelaku tidak dapat menerima hukum yang diterapkan negara tertentu, seperti yang dialami Corby yang dihukum di Indonesia karena penyelundupan barang haram. Bangsa mana pun seharusnya menghormati hukum negara lain, termasuk hukum yang berlaku di Indonesia. Vonis hukuman bagi Corby tentu sudah menjadi sebuah putusan bulat para hakim yang mengadili dengan penuh pertimbangan. Ukuran dalam menilai kasus hukum adalah ada atau tidak diskriminasi dan apakah vonis yang diambil dapat memenuhi rasa keadilan tanpa memandang apakah itu warga negara Indonesia atau luar negeri, khususnya Australia. Dalam konteks tersebut, jelas tidak ada alasan untuk mempersoalkan, apalagi sampai meneror dan mengintimidasi. Imam Muhlis, aktif di LPM ADVOKASIA UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta (e-mail: [EMAIL PROTECTED] ) [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

