http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/07/utama/1797487.htm
66.685 Anak Balita di NTT Menderita Gizi Buruk
Kupang, Kompas - Setelah kasus gizi buruk dan busung lapar yang menimpa anak
berusia di bawah lima tahun di Nusa Tenggara Barat muncul ke permukaan,
terakhir diketahui bahwa kondisi di Nusa Tenggara Timur ternyata lebih
memprihatinkan. Menurut catatan Dinas Kesehatan NTT, di provinsi itu anak yang
mengalami gangguan gizi buruk akut dan kronis hingga busung lapar mencapai
66.685 orang.
Pemerintah menyatakan, hingga 5 Juni 2005 di NTB tercatat sebanyak 655 anak
balita mengalami kekurangan gizi atau gizi buruk. Jumlah itu belum termasuk 13
anak yang telah meninggal akibat gizi buruk dan oleh pemerintah sekarang
dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk.
Jumlah anak yang mengalami gizi buruk ini dibandingkan dengan tahun lalu
tercatat masih lebih kecil. Pada tahun lalu gizi buruk yang terjadi di provinsi
yang dikenal sebagai lumbung padi itu mencapai 1.500 anak. Jumlah anak yang
tahun ini mengalami gizi buruk diperkirakan bisa lebih besar lagi jika survei
yang dilakukan Departemen Kesehatan dan pihak dinas kesehatan daerah dilakukan
lebih menyeluruh.
Demikian disebutkan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam keterangan pers
seusai rapat khusus mengenai penanganan busung lapar dan gizi buruk yang
melanda provinsi NTB dan provinsi lainnya, Senin (6/6) di Istana Wakil Presiden
(Wapres). Rapat yang dipimpin oleh Wapres Jusuf Kalla itu juga dihadiri Menteri
Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab dan Gubernur NTB Lalu Serinata.
Kekurangan makanan
Kepala Dinas Kesehatan NTT Stef Bria Seran kemarin di Kupang menjelaskan, dari
463.370 anak balita di provinsi itu, 66.685 orang di antaranya mengalami
gangguan gizi. Rinciannya, anak yang mengalami kurang gizi 55.543 orang, gizi
buruk 11.015 orang, marasmus 122 orang, dan yang menderita kwasiorkor lima
orang.
"Seorang anak balita berusia 14 bulan di salah satu desa di Sumba Timur telah
meninggal karena busung lapar atau marasmus kwasiorkor," ungkap Stef didamping
dua stafnya.
Stef tak keberatan kalau publik mengategorikan kasus marasmus dan kwasiorkor
sebagai busung lapar. Alasannya, marasmus (kekurangan karbohidrat) maupun
kwasiorkor (kekurangan protein), dan marasmus kwasiorkor sama-sama diakibatkan
kekurangan makanan.
Jumlah anak yang mengalami gangguan akibat kekurangan gizi itu meningkat jika
melihat data per 31 Mei 2005. Saat itu, dari 463.370 anak balita di NTT, 52.593
anak di antaranya mengalami gangguan kurang gizi dan gizi buruk, 53 orang sudah
pada taraf marasmus, dan satu orang kwasiorkor.
Dari data tersebut diketahui, kasus busung lapar (termasuk marasmus,
kwasiorkor) meningkat dari 54 orang (53 anak marasmus, satu kwasiorkor) menjadi
127 orang (122 marasmus dan lima kwasiorkor).
Menurut Stef, terus bertambahnya kasus gizi buruk tersebut diakibatkan tidak
beresnya persediaan makanan yang mengandung karbohidrat dan protein. "Anak yang
menderita gangguan gizi itu akan semakin buruk (kondisinya-Red) jika tidak
segera diantisipasi oleh pemerintah," ujarnya.
Makin buruknya kondisi anak balita penderita kurang gizi hingga busung lapar
juga akibat tidak maksimalnya pelayanan di posyandu. Menurut Stef, dari 2.166
posyandu di NTT, saat ini yang beroperasi hanya 40 persen. Ia yakin, jika
seluruh posyandu bekerja maksimal, penemuan anak balita penderita gizi buruk
akan lebih banyak.
Dari Mataram, NTB, dilaporkan, sampai kemarin jumlah penderita gizi buruk dan
busung lapar di wilayah tersebut terus bertambah. Di Rumah Sakit Umum Mataram
selama Januari hingga 6 Juni dirawat 70 penderita atau naik dari 28 kasus
dibandingkan dengan data tahun 2004. Dari 70 orang tersebut, tinggal delapan
orang yang dirawat inap, tujuh anak balita meninggal, dan 17 anak dibawa pulang
paksa orangtua mereka.
Bermunculan
Kasus anak balita gizi buruk juga terus bermunculan di sejumlah daerah lain.
Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Kabupaten Boyolali dr Syamsudin MKes
mengungkapkan, selama tiga bulan terakhir tahun 2005 di wilayah Boyolali, Jawa
Tengah, ditemukan 425 anak balita penderita gizi buruk. Padahal, tahun 2004 di
wilayah itu hanya ditemukan 175 anak balita penderita gizi buruk.
Dari Makassar, Sulawesi Selatan, dilaporkan, dalam sepekan terakhir di kota itu
ditemukan sembilan anak balita penderita gizi buruk yang memerlukan penanganan
secepatnya.
Ketua Palang Merah Indonesia Mar'ie Muhammad di Jakarta kemarin mengemukakan,
penanganan kasus busung lapar di NTB dan daerah lain harus menjadi komitmen
bersama dan melibatkan semua pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah,
secara berkelanjutan. Tanpa langkah nyata, kasus busung lapar akan terus
terjadi di berbagai daerah di Tanah Air. (CAL/RUL/har/EKI/REI/NEL/IRN/EVY)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/