http://www.suaramerdeka.com/harian/0506/09/nas06.htm
Dari Kontes Miss Universe (2-Habis)
Sebagai Ajang Promosi Baju Renang
SM/Sosetyowati DUKUNG ARTIKA: Penonton mengangkat tinggi merah putih dan
spanduk bertuliskan Indonesia saat nama Artika diumumkan, di antarannya
Wardiman Djojonegoro, Adnan Buyung, Dewi Motik, Kusumadewi, dan Lies Sugondo.
(57t)
KONTES Miss Universe Thailand 2005 merupakan kegiatan yang ke-53. Tahun 1952
berdiri Miss Universe Peagent Co Ltd di Los Angeles, California. Ide pendirian
sebuah yayasan yang mengurus ratu kecantikan ini, sebagai tindak lanjut adanya
Miss Amerika yang sudah berlangsung dari tahun 1920. Munculnya sponsor tunggal
perusahaan baju renang Catalina Sportwear menjadi awal keharusan kontestan
mengenakan pakaian swimsuit, baik saat wawancara di depan juri maupun pada
acara peragaan dan penobatan di atas panggung.
Dengan demikian, tidak salah jika Nurdiati Akmal, pimpinan Aisyiah yang juga
anggota DPR RI dari PAN prihatin. Sebab harkat perempuan dieksploitasi oleh
kaum kapitalis lewat ajang yang disebut kontes Miss Universe.
"Sejarah membuktikan, ajang kecantikan itu sebagai alat promosi perusahaan baju
renang. Wanita dikomersialkan untuk kaum kapitalis".
Sejarah memang tidak bisa dihilangkan, perubahan kepentingan atau kemajuan
zaman juga tidak bisa dihentikan. Yayasan yang pada dekade berikutnya sudah
berganti pemilik, menyempurnakan program, mencari format terbaik untuk para
kontestan.
Yayasan di bawah Donald Trump bersama jaringan televisi NBC, yang tahun-tahun
terakhir menjadi penyelenggara, membuat kegiatan menjadi ajang bergengsi. Tidak
hanya kecantikan, mereka dituntut cerdas, pintar, berbudi bahasa, dan
bertingkah laku baik.
Jika pada awal berdiri, penilaian hanya dilakukan beberapa hari, di tahun-tahun
terakhir kontestan dikarantina selama tiga minggu.
Selama waktu itu mereka tidak diperkenankan menerima tamu, berhubungan dengan
pihak lain. Untuk berkomunikasi, misalnya lewat SMS atau telepon dengan dunia
luar, kontestan diwajibkan melapor ke panitia. Mereka harus pandai berhias,
memilih pakaian atau perlengkapan tanpa dibantu orang lain.
"Tidak ada bantuan penata rias atau busana. Semua kami lakukan sendiri . Itu
berlangsung sejak awal kedatangan, hingga acara grand final," terang Artika,
Putri Indonesa 2004, kontestan asal Indonesia.
Acara disusun sangat ketat, kegiatan mempromosikan objek wisata mungkin yang
paling menonjol. Namun kontestan juga mendapat ujian. Mereka ditanya berbagai
permasalahan yang muncul di dunia, baik sosial, politik, maupun kebudayaan.
"Masalah bencana tsunami termasuk yang ditanyakan."
Ketat
Ketatnya aturan tidak hanya dirasakan para kontestan. Para wartawan atau
pengunjung atau mereka yang ingin menyaksikan acara, pun tidak bisa sesuka hati
duduk di dalam arena.
Suara Merdeka yang mengikuti empat kegiatan di Impact Arena, masing-masing
acara pemilihan busana nasional terbaik, gladi kotor, gladi bersih, dan grand
final, memiliki pengalaman yang cukup menegangkan.
Sehari sebelum kontes kostum nasional terbaik, Suara Merdeka mencoba mencari
informasi apa bisa mengambil gambar. Menurut panitia, siapa pun wartawan yang
masuk dengan membawa kamera harus memiliki ID card. Kartu tanda pengenal kami
peroleh dengan menunjukkan surat tugas dan tanda pengenal dari perusahaan media
massa.
Barangkali yang berbeda jika acara tersebut berlangsung di Indonesia adalah
ketatnya pengaturan tempat. Mengantongi kartu pengenal bukan berarti secara
leluasa memilih tempat dan mengambil gambar kontestan yang sedang beraksi di
panggung.
Hal ini terkait dengan hak siar dan hak pengambilan gambar yang dimonopoli grup
NBC . Masing-masing fotografer akan mendapat pembagian tempat. Seorang
fotografer atau reporter yang sudah ditentukan posisinya, tidak boleh sesuka
hati duduk dan mengambil tempat yang bukan haknya.
Ketika kontes kostum busana nasional, gladi bersih, dan gladi kotor, banyak
tempat duduk yang kosong, Ananta Kanapi dan Henry Susilo yang memiliki ID card
atas nama Suara Merdeka harus berurusan dengan FBI. Petugas keamanan tersebut
memang diminta bantuannya oleh pihak penyelenggara untuk mengamankan acara yang
sedang berlangsung di Bangkok.
Fotografer kita dengan santainya memilih tempat strategis agar bisa leluasa
mengambil gambar kontestan. Posisi yang sebenarnya cukup jauh dari panggung.
Seorang petugas FBI, bertubuh besar tanpa senyum, langsung menarik dan sedikit
menginterogasinya.
Tanda pengenal tidak berlaku, dia harus meminta tambahan tanda penempatan
tempat duduk. Begitu pula bagi seorang reporter, tidak boleh secara leluasa
memilih, meski dia melihat ada kursi kosong. Posisi reporter dan fotografer
dibedakan. Fotografer ada di lantai bawah, sementara reporter ditempatkan di
kursi tribune paling atas. Kalau dihitung, barangkali ada di tingkat empat
sebuah gedung.
Pengambilan foto hanya boleh dilakukan saat kontes busana nasional. Ketika
gladi kotor dan gladi bersih masing-masing fotografer hanya diizinkan mengambil
gambar tidak lebih dari 3 menit. Kalau ingin mendapat banyak gambar, sebagian
fotografer dan juru kamera menyiasatinya dengan mengambil dari layar lebar
televisi yang terpasang di press room.
Acara grand final merupakan arena bebas bagi fotografer dan reporter. Mereka
dipersilakan menonton dari televisi di ruangan tersebut. Sebagian wartawan
memilih masuk ke gedung olahraga yang telah disulap menjadi tempat perhelatan
mewah itu. Meski harus mengeluarkan uang untuk membeli tiket, namun suasana
dalam gedung ingin dirasakan pula.
Harga tiket masuk acara kontes kostum nasional, gladi kotor, dan gladi bersih
antara 500 dan 2.000 bath. Tiket grand final dijual antara 800 dan 5.000 bath.
Harga 3.000 bath atau sekitar Rp 750.000 yang kami pilih memang berada di
lantai bawah, tetapi ada di urutan paling belakang.
Sistem keamanan yang baik menjadi salah satu syarat sebuah negara ketika
mengajukan diri menjadi tuan rumah. Thailand mengerahkan petugas dalam jumlah
cukup banyak. Mereka berjaga dengan mengenakan stelan warna hitam. Pihak
penyelenggara masih membawa petugas FBI. Petugas sangat ketat mengatur acara.
Tidak ada kompromi, semua orang diperlakukan sama. Perhelatan Miss Universe
2005 berjalan lancar, teratur, dan sukses. Sawasdee ka Miss Universe, selamat
untuk Miss Universe. (Soesetyowati-14t)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/