Ada tulisan menarik tentang busung lapar yang melindas bangsa kita, saya
dapatkan dari Kompas:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/09/opini/1801331.htm
Jadi, kalau mau dapatkan yang lengkap, silahkan diklik alamat di atas. Saya
akan mengirimkan yang singkatnya saja, agar ada yang mau membacanya. sebab,
nyatanya kalau berpanjang-panjang, umumnya tidak dibaca, kan? Saya menyadari
hal itu. Jadi, bagian yang terpenting saja yang saya kutipkan di bawah ini.
Ikra.-
BUSUNG LAPAR DAN AMNESIA MASSAL
Oleh Sri Palupi
"... Sebagai gambaran, pada tahun 1998 tercatat 1.201.450 anak Indonesia umur
0-4 tahun terancam kurang gizi. Tahun 1999, masalah kurang gizi menjadi ancaman
serius dengan meningkatnya jumlah anak balita penderita, dari 1.201.450 menjadi
empat juta anak. Bahkan anak balita yang meninggal akibat gizi buruk meningkat
50 persen, dari 59 anak balita menjadi 101 anak balita hanya dalam waktu
sepekan (17-24/5/1999). Diperkirakan, jumlah anak balita yang terancam kurang
gizi terus meningkat, mengingat ada 5-6 juta bayi lahir di Indonesia, dan dari
jumlah itu 75 persen-85 persen berasal dari keluarga miskin.
Jangankan di daerah miskin seperti NTB atau NTT, di Jakarta saja pada tahun
1999 ditemukan 12.130 anak balita kurang gizi dan 1.319 anak balita penderita
busung lapar. Di Sumatera Barat, pada tahun yang sama, korban busung lapar dan
kurang gizi melonjak 300 persen dari tahun sebelumnya. Semula 2.825 orang,
meningkat menjadi 8.598 anak balita dan 33 di antaranya meninggal. Di Jawa
Barat, tahun 1999 ada 7.726 anak balita yang menderita busung lapar. Di Jawa
Timur, terdapat 244.000 anak balita menderita gizi buruk dan 400 busung lapar.
Di Lampung, 15 anak balita terkena busung lapar. Di Kalimantan Selatan, 146
anak balita menderita busung lapar dan 2.546 anak dirawat di rumah sakit akibat
gizi buruk. Kasus yang sama ditemukan di daerah-daerah lain. Angka kasus busung
lapar yang dilansir media dapat digambarkan seperti gunung es dengan rasio
1:10. Jika hanya satu anak yang dilaporkan meninggal, sebenarnya ada 10 anak
dengan kondisi sama. ..."
"... Kematian satu demi satu, perlahan dan diam akibat kemiskinan, dianggap
wajar dan tak pernah dicatat secara sistematis. Akibatnya, tak pernah ada data
yang menunjukkan adanya kematian massal akibat kemiskinan dalam satuan waktu.
Konsekuensinya, penderitaan dan kematian semacam itu tak pernah dilihat sebagai
akibat pelanggaran hak asasi. ..."
"... Pemahaman kita tentang apa yang disebut tragedi menunjukkan, masih ada
jurang yang memisahkan antara wilayah hak asasi dan wilayah ekonomi. Pemisahan
ini menjadikan pelanggaran berat hak asasi lebih terfokus pada pelanggaran oleh
negara terhadap hak sipil politik dan mengabaikan pelanggaran berat hak asasi
akibat ketidakadilan di wilayah ekonomi. Sebagaimana telah diperingatkan
Amartya Sen, peraih Nobel 1998 bidang ekonomi, kelaparan lebih banyak terjadi
di negara nondemokratis. Meski negara semacam itu, lanjut Sen, memiliki sumber
daya alam berlimpah, kekurangan pangan acap terjadi. Sebab negara nondemokratis
senantiasa mengeluarkan kebijakan yang menindas rakyat kecil. Teori Sen berlaku
untuk Indonesia.
Meski rezim Soeharto yang represif telah jatuh dan digantikan pemerintahan yang
lebih demokratis, integrasi negara ke dalam tata ekonomi global dan tingginya
beban utang, selalu berarti, yang paling miskin tetap saja ditelanjangi
hak-haknya, sama seperti saat berada di bawah rezim paling otoriter. Sebab hak
asasi yang dilanggar penguasa otoriter yang tampak merupakan satu hal,
sementara para pencipta kemiskinan dan kelaparan abadi yang tersembunyi dalam
kekuatan ekonomi merupakan hal lain. Upaya melawan kekuatan ekonomi yang tidak
memperhitungkan keberadaan kaum miskin, dan yang terus mendesakkan penghapusan
subsidi atas kebutuhan pokok, lebih banyak swastanisasi, pembayaran utang
dengan bunga tinggi, jauh lebih sulit daripada menggulingkan penguasa politik
yang otoriter.
Dengan memahami kelaparan dan kematian akibat kemiskinan sebagai pelanggaran
berat hak asasi, kita bisa menyikapi kasus busung lapar sebagai peringatan,
keadilan sosial tidak bisa lagi diremehkan dan dikeluarkan dari indikator
ekonomi global yang makin lama makin terasa kecil pengaruhnya terhadap
kesejahteraan mayoritas warga. Penghambaan kita pada "pertumbuhan ekonomi" yang
dibangun di atas tumpukan utang menjadi sia-sia karena munculnya kelaparan
massal dan kematian anak-anak.
Pembangunan selama ini lebih berarti mereduksi berbagai bentuk kekayaan alam
menjadi uang, yang akhirnya lebih banyak raib di tangan koruptor. Sudah
waktunya kita menghitung biaya tersembunyi yang tak pernah bisa diukur oleh
indikator-indikator ekonomi global, namun terus ditanggung demikian banyak
orang miskin. Bila tidak, kasus busung lapar akan segera terhapus dari memori
publik dan tergusur dari realitas politik elite yang sarat dengan skandal. ..."
Sri Palupi Mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara, Ketua Institute for Ecosoc
Rights
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/