Pendidikan Yang Membebaskan - 4 Juni 2005
Sabtu, 4 Juni 2005 The Torchbearer kembali menggelar Diskusi
Mahasiswa yang bertema : Pendidikan Yang Membebaskan, menghadirkan 2
pembicara, yaitu :Bapak Lody Paat dari Koalisi Pendidikan & Kelompok
Kajian Studi Kultural (KKSK) dan Bapak Abd. Moqsith Ghazali dari
Jaringan Islam Liberal (JIL).
Diskusi kali ini diharapkan mampu menjawab tantangan bagi dunia
pendidikan Indonesia untuk (1) menghasilkan manusia-manusia Indonesia
tangguh yang mampu mengatasi krisis dan (2) menciptakan manusia-
manusia yang mampu menghargai perbedaan-perbedaan dalam iklim
pluralisme di Indonesia.
Bapak Lody Paat berusaha memetakan `benang kusut' pendidikan di
Indonesia menjadi 3 masalah, yaitu :
1. Kebijakan Pendidikan yang dibuat pemerintah sekarang tidak
berpihak pada guru, murid dan mayoritas masyarakat kecil di Indonesia.
Hal ini bisa dilihat secara jelas mulai dari PP, Pelaksanaan, Rumusan
sampai Kurikulum Pendidikan.
2. Pendidikan lebih mengarah pada pembangunan sekolah sebagai
`industri dagang' dan pengetahuan sebagai `komoditas' yang diperjual-
belikan. Jadi pendidikan dibuat sebagai alat penetrasi pasar dan untuk
menghasilkan `modal sosial' atau `human capital' sebagai konsekwensi
dari paradigma Neoliberalisme yang justru dulu ditentang oleh
Soekarno.
3. Masalah-masalah Guru, seperti :
. Produksi Guru tidak diperhatikan mulai dari sekolah guru yang
tidak didirikan untuk mengatasi masalah-masalah guru, kualitas lulusan
guru yang buruk, kompensasi bagi guru yang rendah, dsbnya.
. Peran Guru, terutama guru-guru sekolah SD s/d SMU, tidak
dimaksudkan sebagai seorang intelektual yang kreatif tapi hanya
dijadikan `tukang/mandor' dari para birokrat pusat untuk menjalankan
kurikulum dan peraturan yang ketat. Apalagi ditambah birokrasi
administrasi yang dibebankan kepada guru sebagai laporan atas
terlaksananya kurikulum kepada birokrat, membuat kreasi mengajar dari
seorang guru mati karena kehabisan energi dan waktu untuk hal-hal yang
tidak berkaitan dengan proses mengajar.
Sebagai pembicara ke-2, Moqsith, yang menyebut One Earth sebagai
padepokan `pencak spiritualitas', berpendapat bahwa pendidikan yang
membebaskan adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia yang
terbebaskan dari belenggu-belenggu yang terdapat pada kehidupannya.
Belenggu-belenggu itu antara lain :
1. Belenggu Agama.
Agama akan menjadi belenggu ketika diletakkan sebagai benteng atau
sekat untuk mengatur jarak dengan orang lain yang berada di luar
agamanya. Hal ini terjadi terutama pada para penganut agama
konservatif dan fundamentalistik yang menganggap orang lain sebagai
ancaman atau musuh atau tidak berada di dalam keselamatan.
Agama berpotensi menjadi penghambat bahkan penyumbat jalur komunikasi
kita dengan orang lain karena didukung oleh kitab sucinya. Pandangan
yang eklusif dan fundamentalistik tercantum demikian jelas di dalam
kitab suci agama, dan manusia yang berada di bawah naungan kitab suci
dan tidak mampu melampauinya secara otomatis akan terbelenggu.
Maka agama yang membebaskan adalah agama yang mampu melampaui
ketentuan huruf dan aksara yang ada di dalam kitab suci itu.
2. Belenggu Lembaga Pendidikan.
Bila desain kurikulum dari kebijaksanaan pemerintah pusat yang
mencantumkan pandangan atau ayat agama yang eklusif dan guru yang juga
cenderung eklusif `bekerja sama', maka akan melahirkan manusia-manusia
yang terbelenggu.
3. Beban Sejarah Masa Lampau.
Trauma permusuhan akibat Perang Salib di masa lalu, misalnya, masih
membekas dan membelenggu orang-orang muslim dan kristen. Beban ini
diharapkan mampu dituntaskan untuk mengatasi rasa permusuhan yang
masih membekas.
Hal ini pun terjadi bukan hanya antar agama, tapi di internal suatu
agama seperti `permusuhan' antara NU dan Muhammadiyah. Kehadiran JIL
dan Jaringan Intelek Muda Muhammadiyah diharapkan mampu memutuskan
benih-benih permusuhan di antara ke-2 organisasi islam terbesar di
Indonesia.
4. Belenggu Keluarga.
Bila terdapat indoktrinisasi yang kuat dalam keluarga terhadap anak-
anak, jangan harap dihasilkan generasi-generasi muda kuat yang mampu
melepaskan diri dari belenggu-belenggu kehidupan.
Menjawab pertanyaan kenapa pendidikan kesenian mendapat porsi
yang kecil dalam kurikulum, Bapak Lody Paat langsung menunjuk pada
kebijakan pemerintah yang cenderung elitis karena didominasi
kepentingan birokat pusat daripada menghargai aspirasi komunitas
pendidikan atau memberikan otonomi kebijakan kepada setiap sekolah
untuk mendidik sebagai biang keladi. Beliau juga mengamini pendapat
Moqsith bahwa pendidikan yang membebaskan akan membantu manusia
terlepas dari ke-4 belenggu itu plus belenggu status sosial dan
ketidakadilan dalam masyarakat.
Sedangkan Bapak Moqsith menjawab pertanyaan dari sdr. Putu
tentang tujuan dari pendidikan yang membebaskan dan sdr. Hakim dari
UIN tentang maraknya penganut fundamentalis agama dari jurusan eksata
dibandingkan jurusan lainnya.
Di jaman pemerintahan Soeharto, tujuan pendidikan adalah
terciptanya manusia Indonesia yang seutuhnya. "Seutuhnya menurut
siapa" tanya Moqsith karena ternyata dari rezim orde baru malah lahir
koruptor, atau orang-orang yang begitu handal dengan kemampuan
teknisnya tapi tidak punya kesadaran.
Hal ini terjadi karena guru selalu diposisikan sebagai subjek
pemberi dan murid diposisikan sebagai objek penerima. Justru metode
pengajaran bagaimana memposisikan anak didik sebagai subjek--seperti
yang diajarkan sekolah-sekolah alternatif atau Romo Mangunwijaya-
mungkin akan menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif.
Pendidikan tentu memerlukan biaya yang besar untuk membangun
infrastruktur seperti gedung, lapangan, laboratorium dan perpustakaan.
Peran swasta dalam hal ini sangat terbatas. Maka peran pemerintah
seperti yang diamanatkan konstitusi sebesar 20 % dari APBN untuk
pendidikan, akan sangat membantu, bila tidak dikorupsi.
Terkait dengan pluralisme, beliau menyayangkan lahirnya para
legistatif yang konservatif-fundamentalis di Indonesia yang berusaha
mengkontrol terhadap keyakinan para pemeluk agama. "Kriminalitas
keyakinan agama seperti yang terjadi di jawa timur, bila berhasil,
secara perlahan tapi pasti, maka pandangan-pandangan agama yang non-
mainstream di luar Jakarta akan diberangus" seru Moqsith.
Diperlukan keberanian dan kebijakan luar biasa dari pemerintah
untuk membalikkan keadaan Indonesia sekarang yang ekslusif menjadi
inklusif, karena arus konservatif & fundamentalis sudah mengakar di
daerah-daerah seperti Perda Mandi Di Sungai di Banjarmasin, Perda
Berjilbab di Padang, Sertifikat Menghafal Al-quran bagi syarat
kenaikan pangkat pegawai negeri di kulukambas, dll.
Beliau pun berpendapat bahwa forum lintas agama seperti yang
dirancang Bapak Anand Krishna ini sangat penting dilakukan sebagai
sarana `perjumpaan', bukan sekedar `pertemuan' antara pemeluk agama
yang berbeda, karena kalau tidak, maka semboyan Bhinneka Tunggal Ika
akan tinggal jargon dan hanya istilah di buku-buku sejarah Indonesia.
Kemudian, atas permintaan Moderator Wandy, Bapak Lody Paat
menjelaskan tentang Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005
sebagai kebijakan pemerintah terhadap Pendidikan Nasional. Dalam PP
No. 19 ini termuat pembagian jalur pendidikan untuk yang masyarakat
kaya dan miskin, serta mengharuskan pemerintah membuat SNP (Standard
Nasional Pendidikan) yang ditangani oleh BSNP (Badan Standard Nasional
Pendidikan) yang menurut Prof Dr. Winarno dari UNJ-seorang tokoh
pendidikan- adalah Badan Raksasa yang Ompong seperti Badan Penilaian
di tahun 1970-an. Menurut Pak Lody Paat, PP ini hanyalah `akal-akalan'
segelintir intelektual untuk mencari uang dan jabatan di BSNP, di mana
hampir semua anggota BSNP tidak punya latar pendidikan sebagai
profesi. PP No. 19 ini bertentangan dengan semangat UU Sisdiknas dan
tidak berpihak pada guru, murid dan masyarakat.
Karena beliau berasal dari dunia guru, jadi Bapak Lody Paat
memilih membenahi masalah pendidikan ini dari sudut pandang guru
seperti pembenahan kualitas dan pemecahan masalah sehari-hari yang
dihadapi para guru. Beliau berpikir bahwa bagaimana memproduksi guru
yang berkualitas, inklusif dan mampu memberdayakan dirinya sendiri,
dan pembenahan kebijakan pemerintah yang berpihak pada guru, murid dan
masyarakat sebagai kunci dari semua permasalahan ini.
Bapak Moqsith melihat pembenahan dari 5 sudut pandang, yaitu :
1. Lembaga Pendidikan mestinya menjadi ruang persalinan bagi
lahirnya orang-orang yang hebat. Idealnya semakin baik infrastruktur,
makin lahir orang-orang hebat, tapi tampaknya tidak begitu bila
dibandingkan jasa kepada bangsa oleh Soekarno, Hatta & Dr. Syahrir
yang lahir dari keadaan di mana infrastruktur pendidikan sangat minim
dengan jasa kebangsaan oleh para professor dan cendikiawan sekarang di
KPU.
2. Desain dari lembaga pendidikan tidak tersebar dengan baik,
sehingga hanya kota-kota besar di jawa saja yang punya lembaga
pendidikan yang baik. Hal ini membuat `common sense' antara siswa di
kota dengan siswa di kampung menjadi tidak nyambung, sehingga Ujian
Akhir Nasional sebagai standard kompetensi kualitas mutu pendidikan
nasional menjadi tidak relevan.
3. Guru-guru sekarang hanya lah `pengisi rekening' tapi perilakunya
tidak diteladani atau bisa dijadikan contoh bagi para siswa.
4. Moral yang baik tapi berada di sistem yang buruk, sehingga moral
seseorang menjadi terpengaruh sistem yang buruk.
5. Pandangan seseorang harusnya bergerak progressif ke depan bukan
malah regresif ke belakang. Tradisi lama seperti `caruk' di Madura
semestinya ditinggalkan. Begitu juga sekat-sekat antar agama seperti
yang dilakukan oleh agama missionaris -Kristen & Islam dalam
mensosialisasikan agamanya yang sangat `norak' dan `vulgar' harusnya
diperbaiki.
Penghancurkan sekat-sekat agama bisa dilakukan dengan menumbuhkan rasa
pluralisme, bukan sekedar toleransi beragama di mana kita yang merasa
lebih baik membiarkan sesuatu yang tidak baik terjadi. Untuk itulah
sebuah organisasi seperti JIL dibentuk untuk menghilangkan ayat-ayat
agama yang ekslusif-diskriminatif atau menafsirkan ulang ayat-ayat
yang ekslusif-diskriminatif itu. Kelak Agama di masa depan adalah
agama yang lahir dengan edisi revisi.
Dalam kata sambutan, Bapak Anand Krishna menyebut ke-2 pembicara
yang hadir sebagai malaikat penyelamat bangsa. Malaikat-malaikat
inilah yang patut dibekali amunisi yang cukup untuk menyelamatkan
Indonesia dari ambang kehancuran karena konflik agama dan pendidikan
yang tidak membebaskan manusia Indonesia dari belenggu-belenggu
kehidupan yang tanpa sadar telah `memenjarakan' jiwanya.
Beliau menjelaskan bahwa tujuan utama FKJ menggelar program MTDS
adalah untuk mengembalikan profesi guru sebagai profesi yang bisa
dibanggakan. Guru yang bisa akrab dengan para murid sehingga proses
pembelajaran menjadi proses pendidikan bukan proses komoditas
pengetahuan semata, seperti yang beliau alami ketika bersekolah di
Lucknow, India.
Beliau pun mengkritik mudahnya perizinan di sektor pendidikan,
seperti pendirian sekolah baru di Indonesia tanpa diteliti latar
belakang pendidikan kelompok atau pribadi yang ingin mendirikan
sekolah, untuk mencegah penyalahgunaan pendirian sekolah menjadi
`lahan mencari nafkah' belaka.
Di Repulik Islam Pakistan, para mahasiswa sudah berani tampil di
depan umum, mengumumkan bahwa biarpun agama mereka Islam, tapi
peradaban dan etika mereka adalah kebudayaan sindhi. Mereka bisa anti-
poligami. Hal ini lah yang harus diteladani oleh bangsa Indonesia
bahwa apapun agama yang dianut, tapi budaya kita adalah budaya
Nusantara.
Masalah pendidikan memang harus dibenahi secara holistik. Tidak
bisa hanya masalah guru dibenahi, tapi infrastruktur atau kurikulum
dilupakan. Semuanya harus dibereskan, terutama kebencian antar agama
yang sekarang ini sudah mulai ditanamkan dari TK dan SD di Indonesia
oleh para guru agama masing-masing. Kebencian dan memori ini akan
membekas pada diri seseorang seumur hidup. Makanya Bapak Anand Krishna
sangat mengagumi teman-teman di JIL yang mampu melampaui `trauma
kebencian' masa kecil ini, untuk menjadi orang beragama yang inklusif.
Hal seperti ini sangat krusial di mana keadaan negeri ini sudah
diambang perpecahan akibat konflik beragama. Di Bali, misalnya, sudah
mulai muncul supermarket dan warteg Hindu sebagai bentuk resistansi
umat hindu kepada warteg muslim, taksi muslim, dll. Apalagi bila SBY
tersudutkan oleh politik `balas jasa' para pendukungnya yang berasal
dari partai yang fundamentalis dan ekslusif, maka kondisi Indonesia
akan lebih parah.
Agama seharusnya membuat diri manusia lebih lembut, bukan
membuat lebih beringas. Ini sangat penting untuk dipahami. Beliau juga
sangat setuju bahwa toleransi beragama bukanlah solusi, tapi apresiasi
seseorang terhadap kepercayaan dan agama orang lain lah yang
terpenting, yang mampu membuat diri melampaui sekat-sekat agama yang
selama ini membelenggu bangsa Indonesia.
Dilaporkan oleh Yohanes-The Torchbearers
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/