--- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Lina:
> Karena manusia BELUM mampu menentukannya sendiri, tentu saja dia 
> menjadi TIDAK bisa berkehendak lain. Dia disebut anak pemulung, 
> karena memang bapaknya seorang pemulung. Itu memang tak bisa diubah 
> bukan? meski kemudian dia menjadi seorang Presiden kemudian, tetap 
> saja bapaknya pemulung.

DH: manusia terdiri dari roh dan jasad. Dalam kombinasi dengan jasad, 
memang si jabang bayi itu masih belum berkehendak. Namun, roh itu, 
menurut pandangan sebagian  falsafah (Auguste Compte, dll) sudah ada, 
dan sudah selalu dewasa. Roh disini tidaklah just created waktu 
dikandungan. memang, dalam Kreistiani juga diimani, bahwa dengan 
kehamilan, hidup yang baru, muncul. Tetapi ini dimaksudkan pasti 
hidup dari roh + jasad yang bernama si Aminah atau Jalaludin. 
kematian juga mengakhiri hayat si manusia tertentu itu, namun tak 
mengkahiri existensi sang roh.

Kalau kita berangkat dari titik tolak, bahwa sang Pencipta 
menghendaki nasib yang sama dari semua makhlukNya yang dikasihiNya, 
maka seharusnya semua manusia ber-kans yang sama.

> 
> Saya teringat ada hadist yang mengatakan,"semua manusia terlahir 
> suci, namun ortunya lah yang menjadikannya Islam, Kafir, atau 
> Majusi" (cmiiw)...Sangat berat ya menjadi ortu itu ya?
> > 

DH: Seberapa besarkah pengaruh ortu dalam hal ini? Ingatlah, sampai 
akhir abad ke XV leluhur kita, anda dan saya dan teman teman disini, 
ortu bin ortu bin ortu, adalah Buddha. Tetapi dengan perkembangan 
sejarah, sebagian memeluk agama baru yakni Islam, yang lain menjadi 
Katholik. Jadi, pasti bukan sang ortu yang mempengaruhinya.


> Lina: Mati sudah ditakdirkan: artinya kadar hidupnya udah sampe 
situ 
> saja. Sunatullah mengatakan kalo kamu perampok, kamu akan mati:
> a) dipenjara, b) digantung, c)... d)...Kalo kamu mau merubah, rubah 
> lah jangan jadi perampok...

DH: Bagaimana dengan manusia yang masih muda, kemudian bunuh diri. 
Sudah sampai ajalnya? Bukankah kemauannya sendiri yang memperpendek 
ajal ini? Sebaliknya, manusia yang bertahun dalam keadaan koma, 
praktis sudah mati suri. Bilamanakah ajal itu? Ketika dia benar benar 
mati, atau sejak dia tak lagi hidup normal?
Bagaimana dengan kematian yang ditunda dengan obat obatan dan mesin 
mesin pernapasan dll?

> Lina:
> Takdir yang bisa dirubah...:-) karena sunatullah mengatakan kamu 
dah 
> diberi otak untuk berfikir dan memilih. Seperti pengalaman Umar bin 
> Khattab itu,"aku menghindari takdir yang ini dan memilih takdir 
yang 
> itu"...:-)

DH: lalu siapa yang mampu mengubah takdir itu? lalu apakah exactly 
defini takdir menurut pak Umar bin Khattab?
 
> Lina:
> he..he...ini kembali ke soal jodoh (sayangnya cak huttaqi gak bisa 
> terima imil dari ppindia). Menghindari takdir yang A memilih takdir 
> yang B. Dahulunya sudah tertulis disono bahwa takdir kamu, kalo 
kamu 
> kawin sama A kamu..akan begini. kalo kamu kawin ama si B..kamu akan 
> begono. Sayangnya kita tak bisa ngintip takdir kita yang dah 
ditulis 
> disono.

DH: ada paranormal yang sudah dapat meramal jauh jauh hari, bahwa 
pernikahan seseorang akan berakhir dini. Apakah paranormal ini 
telah "membaca" buku takdir?

> 
> Kalau orang bercerai, sering dikatakan begini,"memang cuma sampe 
> disini jodoh sampeyan sama dia"...:-)

DH: Bagaimana dengan pasangan bercerai yang kembali lagi? Sampai 
kemana parameter dapat dihindari, agar perceraian tak terjadi? Kalau 
perceraian itu takdir, alangkah angkuhnya ajaran Katholik yang 
melarang perceraian. Melarang takdir?

> 
> Eyang Shihab cuma bilang gini:
> 
> Yang jelas, Nabi dan  sahabat-sahabat  utama  beliau,  tidak
> pernah  mempersoalkan takdir sebagaimana dilakukan oleh para
> teolog itu. Mereka sepenuhnya  yakin  tentang  takdir  Allah
> yang   menyentuh  semua  makhluk  termasuk  manusia,  tetapi
> sedikit  pun  keyakinan   ini   tidak   menghalangi   mereka
> menyingsingkan   lengan  baju,  berjuang,  dan  kalau  kalah
> sedikit pun mereka tidak menimpakan kesalahan kepada  Allah.
> Sikap  Nabi  dan  para sahabat tersebut lahir, karena mereka
> tidak memahami ayat-ayat Al-Quran secara parsial: ayat  demi
> ayat,   atau  sepotong-sepotong  terlepas  dari  konteksnya,
> tetapi memahaminya secara utuh, sebagaimana  diajarkan  oleh
> Rasulullah Saw.
>  
DH: penjelasan sang eyang ini masih belum menjelaskan, apakah takdir 
itu sebenarnya. tak membahasnya tak berarti fenomena ini tidak exist. 

Sebenarnya, hanya ada dua opsi: percaya bahwa semua telah ditentukan 
sebelumnya, macam pagar yang tak boleh dilangkahi. Atau kita yakin, 
bahwa kesemuanya itu adalah variabel, dapat diubah.

Setengah ini, setengah itu, hanya menandakan kebingungan.

Saya sendiri percaya, setelah mendekati kepala enam beberapa saat 
yang lalu, bahwa sang Pencipta telah menciptakan kita dengan 
kemampuan memilih apa yang akan terjadi dengan kita, dimana, apapun 
kita pilih, kita menanggung 100% konsewensinya. Juga dimana kita 
lahir, sebagai apa, dan bagaimana kita menemui ajal, adalah rangkaian 
rantai sebab akibat, yang tak terlepas dari apa yang kita lakukan.

Salam

Danardono





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke